
Bab 18.
Aruna membeku saat dua manik tajam itu menatapnya. Bibir lembabnya kembali mnyentuh kulit tipis leher Aruna, deisesapnya dengan sangat lembut, jemarinya menjalar naik meremas bagian dada Aruna yang sangat kenyal dan pas seukuran genggaman tanganya. Aruna memejakan matanya sekuat tenaga menahan desahan yang ingin sekali keluar dari bibirnya. Jemari Akram masih disana, meremas dadanya sedikit gemas, ia tersenyum samar merasakan pucuk berwarna pink yang dipilinya sudah menegang, tak menunggu waktu lama ia segera beralih ke bagian dada Aruna, memainkan dengan liar lidahnya disana.
“Aaahh,” Aruna refleks mendesah, tak kuat lagi menahan desiran ditubuhnya yang semakin menjalar panas.
Akram tersenyum puas, Aruna mulai terpancing dengan permainanya.“Kenapa? apa nikmat?” godanya pada Aruna yang langsung membuang pandanganya dengan wajah yang bersenmu malu.“Aku akan memberikan yang lebih nikmat,” bisiknya lembut, dengan hembusan nafas yang semakin memburu.
Jemari Akaram turun kebawah mengusap bagian sensitif Aruna, memasukan jemarinya bagian tubuh yang sudah basah dan berkedut, megerakan jarinya dengan perahan.“Euumm,” Aruna refleks mengangkat pinggulnya, meraskan jari Akram yang memaksa masuk kedalam tubuhnya yang sempit.“Sudah,” uajr Aruna sedikit bergetar saat Akram memainkan jarinya semakin liar, Akram segera mencium bibir Aruna, meumatnya selembut mungkin, Aruna tak lagi pasif, ia membuka mulutnya membiarkan Akram memangutnya dengan lebih leluasa.
Aruna terbuai, Akram melakukanya dengan sangat lembut, tak menciumnya sekasar dulu, pangutan keduanya semakin panas, Aruna bakhan tak menyadari Akram hendak melakuakan penyatuanya.“Aahh,” lagi lagi refleks Aruna mendesah, mendorong sedikit tubuh kekar Akram.“Tenanglah, aku akan melakukanya dengan lembut,” ucapnya meyakinkan. Menautkan jemarinya dengan tangan Aruna, mengenggamnya lembut dan kembali mencium bibir ranumnya.
Akram mengerakan pinggulnya dengan berirama, membiarkan Aruna menikmatinya dengan nyaman, suara desahan keduanya memenuhi isi kamar, sampai Akram mencapai pelepasanya yang sempurna. Akram berbaring disamping Aruna, tanganya merengkuh tengkuk Aruna yang membelakanginya. Aruna membeku ini kali pertama Akram memeluknya.“Apa sakit?” tanyanya, memastikan jika Aruna menikmati permainanya. Aruna hanya mengeleng pelan tanpa mampu berucap.
***
“Kau sudah mandi?” Akram yang baru membuka matanya melihat Aruna yang sudah melilit rambut basahnya dengan handuk.
“Sudah, aku siapakan sarapan dulu,”
“Tidak usah, aku buru buru.” Akram segera turun dari ranjangnya menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan tubuhnya Akram dengan cepat mengenakan pakianya, suara ponselnya berkali kali berdering, memintanya untuk cepat tiba dilokasi syuting. Aruna yang baru masuk kamar hanya memandangi Akram yang terlihat tergesa gesa.“Ini makanlah disana,” Aruna menghampiri dan memberikan kotak makan pada Akram.
“Oh, letakan saja disitu,” menujuk nakas disebelahya sedang dirinya sibuk merapihkan rambutnya yang masih sedikit basah.“Ada apa lagi?” melihat Aruna yang masih memandanginya.
__ADS_1
“Boleh aku ikut kelokasi syutingmu? aku bosan dirumah,” keluh Aruna yang selalu merasa jenuh dirumah sedang Akram pasti tak mengijinkanya keluar.
“Aku sudah ada menager baru, aku harus mengakui kau siapa jika kau ikut lagi, ” tolak Akram yang langsung keluar kamar tanpa membawa bekal yang sudah dibuat Aruna.
Aruna mengehela nafas kecewa, ia duduk termenung disisi ranjang, ia kembali terkurung dalam rumah mewah itu. Tak lama Aruna menoleh, mendengar suara pintu kamar yang kembali terbuka.“Akram? ” melihat Akram kembali masuk kekamar dan mengambil bekal yang sempat tertinggal.
“Yasudah kalau mau ikut,” ucap Akram kemudian. Aruna tertengun tak percaya.“Mau ikut tidak?” sentaknya melihat Aruna yang hanya diam mematung.
“I, iya aku ganti pakaian dulu,”
“Tidak usah, aku buru buru,” Akram meraih tangan Aruna, membawanya kedalam mobil yang langsung dikemudikan supir pribadinya, sepanjang perjalan Aruna hanya terdiam, memperhatikan Akram yang tampak sibuk menelepon seseorang.
Sampai mobil itu terhenti dilokasi syuting, tampak beberapa kru yang menyapa atau mengeluh pada Akram kerana terlambat.“Akram,” panggil pak Reno menghampirinya.
“Maaf saya terlambat,” uacapnya sebelum pak Reno marah.
“Maafkan saya,” Akram tau ini konsekuensi yang harus diterimanya karena beberapa hari mengabaikan perkerjaanya saat berada dikampung Aruna.
“Mana managermu?” pak Reno melirik Aruna yang berdiri disisi Akram.
“Ia sedang sakit, jadi dia yang akan mengantikanya,” jawabnya berbohong padahal Akramya yang menyuruh managernya tidak datang hari ini.
“Oh begitu cepat lakukan perkerjaanmu,” titah pak Reno.
“Kamu tunggu disini saja,” bisik Akram pada Aruna yang langsung berlalu pergi bergabung dengan para pemain lainya.
__ADS_1
“Oia letakan barang barangnya di dalam saja,” titah pak Reno menujuk beberapa barang Akram yang dipegang Aruna.
Aruna mengangguk patuh ia segera masuk kedalam rumah besar menuju suatu runagan meletaka barang barang yang diperlukan Akram disana. Aruna terlonjak kaget saat mendegar suara langkah kaki masuk kedalam ruangan tersebut.“Pak Reno?” gumamnya pelan melihat pria bertubuh tambun itu masuk keruangan secara tiba tiba.
“Kalau kamu capek istrahat saja,” uajr pakn Reno dengan memnadangi Aruna degan mata nakalnya.
Aruna mengegeleng.“Tidak, saya mau keluar saja,” Aruana sedikit menunduk hendak keluar dari runagan tersebut tapi pak Reno menhan lenganya.“Dimana Akram menemukanmu?” tanyanya menatap lekat Aruna. Jantung Aruna berdegup, bingung harus menjawab apa.
“Sebenarnya kamu cantik,” pak Reno menegelus lembut lengan Aruna yang masih dipegangya.“Saya bisa menjadikanmu Artis yang lebih terkenal dari Akram.. tapi..” Jemari pak Reeno kini beralih pada bokong sintal Aruna yang terlihat jelas dibalik dress tipisnya, meremasnya lembut.
PLAAKK
Sontak Aruna mengayunkan tanganya menerima perlakuan itu.“Jaga tanganmu tuan Reno,” sentak Aruan yang langsung bergegas pergi meninggalkan ruaangan tersebut. Aruna melihat Akram yang tengah membaca naskah di taman, ia segera berlari memeluk lengan Akram dengan erat.
“Aruna? kamu kenapa?” Akram terkejut melihat Aruna yang memeluk lenganya semakin erat dengan wajah menunduk takut.“Aruana, lepaskan, nanti ada yang memperhatikan kita,” Akram mencoba melepaskan lenganya tapi Aruna semakin memeluknya erat.
“Aku takut, dia melakukan hal yang tidak pantas padaku,” ucap Aruna dengan nada bergetar.
“Melakukan apa? siapa yang melakukanya?” Akram menatap Aruna tak mengerti.
Aruna melepaskan lengan Akram.“Pak Reno, dia melakukan hal yang tidak pantas padaku,”
Akram terdiam, tampak terkejut sesaat kemudain ia justru tertawa lucu.“Aruna apa yang kau katakan? pak Reno bukan orang seperti itu,” Mata Aruna seketika mulai berkaca kaca jantungnya masih berdegup takut, tapi Akram justru tak mempercayainya.
“Aku tidak berbohong..pak..”
__ADS_1
“Stop!!” sentak Akram cepat.“Jangan menganggu perkerjaanku dengan ucapanmu.” tegas Akram yang langsung berlalu pergi meninggalkan Aruna begitu saja.