
Bab 37.
1 tahun kemudian.
Satu tahun sudah Aruna dan Akram menjalani biduk ruah tangga, rumah atngga mereka pun penuh dengan keharmonisan, tapi tfidak ada rumah tangga yang sempurna begitu pula rumah tangga mereka yang kini mengalami kesulitan ekonomi, Satu tahun juga Akram vakum dari dunia entertaiment, meskipun skandal tentang dirinya sudah cukup lama tapi itu tetap tak merubah citra buruknya di mata publik, yang membuat dirinya tak lagi mendapat tawaran perkerjaan di dunia entertaiment.
“Di minum sayang,” Aruna meletakan secangkir kopi di meja.
“Makasih ya,” Akram tersenyum.
“Kamu kenapa?” tanya Aruna yang memperhatikan Akram sedari tadi hanya melamun di runag keluarga. Akram hanya terdiam.“Ada yang kamu fikirkan?”
“Usaha papa ku sedang tidak bagus,” keluh Akram dengan wajah murungnya.“Aku sudah mencari perkerjaan tapi tak juga membuahkan hasil.”
Aruna meraih tangan Akram.“Aku yakin nanti kamu akan dapat perkerjaan,” Aruna menggengam lembut tangan Akram ia tau Akram saat ini sedang berada di titik terendahnya, Akram yang dulu di puja dan dikagumi banyak orang kini hanya dipandang sebelah mata.
“Keadaan ekonomi kita sedang tidak baik, aku.. rasa aku ingin menjual rumah ini, apa kamu mau tinggal dengan orang tuaku?” Akram menatap ragu Aruna, ia tau Aruna pastilah tidak akan nyaman tinggal dengan orang tuanya terlebih ibunya yang sanpai kini masih tidak menyukai Aruna.
Aruna tak menjawab, seketika wajahnya menjadi sedikit sendu.“Kalau kamu tidak mau tidak apa apa, kita bisa..”
“Aku mau..” jawab Aruna cepat.“Aku tidak keberatan tinggal di sana.” lanjutnya seraya tersenyum tipis.
“Terima kasih ya,” balas Akram mencium hangat kening Aruna.
Beberapa minggu kemudian Akram pun mantap menjual rumahnya, walau ada sedikit kesedihan dihatinya karena terpaksa menjual rumah besar yang selama ini ia beli dengan susah payah dari hasil kerjanya menjadi aktor. Tapi ini tetap harus dilakukanya untuk membantu usaha kuliner papanya juga yang sedang meredup.
“Asalamualaikum,” ujar Akram dan Aruna saat baru memasuki rumah orang tua Akram.
“Walaikumsalam, Akram, Aruna kalian sudah datang, ayo sini masuk,” pak Setya menyambut hangat kedatangan putra dan menantunya sore itu.
“Kalian sudah datang,” ibu Risna pun menghampiri.“Akram, mama benar benar menyangkan kamu menjual rumah besarmu itu, kalau saja kamu tidak menikah dengan Aruna pasti semua tidak akan seperti ini,”
Sontak saja perkataan ibu Risna membuat perasaan Aruna sedih, kedatanganya ternyata di sambut perkataan yang tidak mengenakan.
“Kamu ini bicara apa?” pak Setya menatap kesal istrinya itu.
“Mah, ini semua tidak ada hubunganya dengan pernikahanku, aku justru bersyukur mempunyai istri sebaik Aruna,” ujar Akram yang langsung membela sang isri.“Sudah sayang, kita ke kamr saja,” Akram meraih tangan Aruna menuju kamar, meninggalkan ibu Risna yang berdecih kesal. Akram meletakan koper besar yang dibwanya di sudut kamar.“Jangan terlalu difikrkan perkataanya,” Akram menghampiri Aruna yang tampak murung di sudut ranjang.
__ADS_1
“Iya, aku enggak apa apa kok,” Aruna kembali mencoba tersenyum, menutupi kesedihan hatinya karena sampai saat ini ibu Risna tak juga menerima kehadiranya.
***
“Kamu sudah siap?” tanya Akram melihat Aruna yang sudah berpaikan rapih untuk berangkat berkerja, Aruna tetap memilih berkerja di toko pakainan meskipun Akram kerap menyuruhnya untuk berhenti saja, tapi Aruna tetap ingin membantu perekonomian keluarganya meski tak seberapa.
“Sudah, ayo kita pergi,” balas Aruna mengambil tasnya dinakas, Aruna terdiam sesaat merasakan kepalanya yang tiba tiba terasa pusing.
“Kamu kenapa?” tanya Akram melihat Aruna yang memegangi pelepisnya dengan wajah yang sedikit pucat.
“Aku enggak apa apa kok,” Aruna memilih untuk tak mengiraukan pusing yang dirasakanya dan tetap pergi ke tempat kerja.
Sore harinya Akram menjemput Aruna di tempat kerjanya, Akram tersenyum tipis dan bergegas keluar dari mobil melihat Aruna yang baru keluar dari tokonya.“Sudah lama?” Aruna menghampiri dan mencium sopan punggung tangan suaminya itu.
“Belum, aku ingin mengajak mu makan diluar, kamu mau?”
“Aku mau,” balas Aruna dengan senyum sumringahnya, Akram pun segera membukaan pintu mobilnya, baru saja Aruna hendak masuk kedalam mobil tiba tiba saja pusing di kepalanya kembali terasa.“Kenapa pusing sekali,” batin Aruna yang merasakan pandanganya mulai kabur dan perlahan menjadi gelap.
“Sayang, kamu kenapa?!” seru Akram saat tubuh Aruna hampir jatuh pingsan, dengan rasa panik yang memuncak Akram pun segera memasukan Aruna yang sudah tak sadarkan diri ke dalam mobil, Akram bergegas memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
“Istri anda tidak apa apa, ini memang umum terjadi,”
“Umum terjadi?” Akram mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Umum terjadi pada ibu hamil, selamat ya pak istri anda sedang mengandung,” jelas sang dokter dengan senyum ramahnya.
“Hamil?” Akram menatap sang dokter tak percaya.
“Iya, usia kandunganya sudah empat minggu, tunggu sebentar saya akan membuatkan resep obat dan vitamin,”ujar dokter tersebut, Akram pun bergegas menghampiri Aruna kedalam ruangan, terlihat Aruna yang masih memajamkan matanya, Akram memandangi wajah istrinya tiu dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya, perasaan senangnya saat ini benar benar tak bisa di gambarkan.
Tak lama terlihat Aruna yang tampak perlahan membuka kedua matanya, pusing di kepalanya masih sedikit terasa.“Dimana aku?” Aruna menatap bingung dirinya yang sudah terbaring di ranjang rumah sakit.
“Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan,” jelas Akram.
“Pingsan?” ucapnya tak percaya seingatnya tadi dia hendak pulang dan makan malam dengan Akram.
“Ya, setelah ini kamu tak boleh lagi berkerja,” tegas Akram kemudian.
__ADS_1
Aruna mengerutkan keningnya tak mengerti.“Tidak boleh berkerja kenapa?”
“Kalau aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!” Akram meninggikan suaranya yang sontak saja membuat Aruna tertunduk seraya mengucutrutkan bibirnya, ia tak mengerti kenapa Akram kini justru melarangnya berkerja.“Aku tak ingin kau kelelahan dan terjadi sesuatu dengan janinmu,” jelas Akram kemudian.
Aruna mendongkakan wajanhnya.“Janin?”
Akram mengangguk.“Ya, kamu sedang mengandung, aku tak ingin lagi kehilangan calon bayi kita.”
Seyum pun seketika terlukis di wajah Aruna dengan mata yang berkaca kaca ia memeluk Akram.“Aku pasti akan menjaganya dengan baik,” seru Aruna dengan air mata kebahagian di pipinya, sudah lama ia menanti kehamilanya, ini seperti mimpi untuknya.
“Aku pun akan menjaganya, aku tak ingin kehilangan lagi.” balas Akram mengecup hangat kening dan pipi sang istri.
Setelah mendapatkan obat dan vitamin mereka pun kembali ke rumah.“Kalian sudah pulang? tumben pulang terlambat? ayo makan malam dulu,” ujar pak Setya yang hendak makan malam melihat Akram dan Aruna yang baru masuk ke rumah.
“Ya sayang, setelah ini kamu harus makan, mulai saat ini Aruna tak boleh telat makan karena itu tidak baik untuk janininya,” ujar Akram yang langsung memberitahukan kabar bahagia tersebut seraya mengusap pelan perut sang istri.
“Janin? jangan bercanda kamu? papa akan segera punya cucu?” balas pak Setya dengan mata berbinar bahagia mendengar kabar tersebut.
“Ya papa akan segera punya cucu,”balas Aruna dengan senyum mengembang, pak Setya pun merespon dengan wajah bahagia.
“Hamil? kenapa kamu hamil di saat seperti ini?” ujar bi Risna yang terlihat tak senang.
“Memangnya kenapa kalau Aruna hamil?” Akram tak mengerti dengan ucapan ibunya itu, bahkan tak ada raut bahagia di wajahnya.
“Kamu tau kan, keadaan ekonomi kita itu sedang tidak baik, tapi Aruna justru hamil bukankah itu akan menjadi beban?”
Lagi lagi ucapan bu Risna kembali membuat Aruna seketika menjadi sedih, berharap kehamilanya akan membuat bu Risna berubah menjadi lebih menyayanginya tapi tetap penolakan yang diterimanya.“Aku..aku ke kamar dulu,” lirih Aruna yang langsung bergegas ke kamarnya.
“Mama benar benar keterlaluan!” Akram menatap kesal sang mama dan segera mengejar Aruna ke kamarnya.“Sayang,” Akram mengehampiri Aruna yang sudah duduk di sudut ranjang dengan air matan membasahi pipinya.“Aku minta maaf atas ucapan mamaku,” Akram duduk di sisi Aruna merengkuh tubuh sang istri yang semakin menangis terisak.“Jangan di fikirkan ucapanya, itu tidak baik untuk kandunganmu,” Akram melepas peluknya menyeka air mata Aruna dengan jemarinya.
Aruna hanya mengangguk pelan, walaupun hatinya terasa sakit tapi yang bisa dilakuaknya saat ini hanya bersabar yang terpenting untuknya saat ini hanya janin dan Akram yang selalu menyayanginya, Akram mengenggam lembut telapak tangan Aruna.“Bagaimana jika kita ke rumah ibumu?” ujar Akram yang takut Aruna akan stres dengan sikap mamanya di rumah terlebih dengan usia kandunganya yang masih sangat muda.
“Ke rumah ibu?”
“Ya, ke rumah ibumu, aku akan mengatakan tentang pernikahan kita dan juga kandunganmu,”
“Apa?” Aruna tampak terkejut, beberapa kali memang terlintas di fikiranya untuk mengatakan semua itu pada ibunya ada perasaan takut jika ibunya akan sedih dan menerima semuanya yang sudah terlanjur di balut kebohongan sebelumnya.
__ADS_1