
Bab 52.
Satu hari setelah pemakaman Aruna memutuskan untuk kembali ke rumah Akram, ia tak ingin berlama lama berada dikampung terlebih dirumah yang masih terbanyang wajah sang ibu disana. Sepanjang perjalan pulang Aruna hanya terdiam dan masih terlihat murung. Akram mencoba mengerti dan tak banyak bicara padanya.
“Ayo masuk,” Akram meraih tangan Aruna untuk masuk kedalam rumah bersamanya.
“Kalian sudah pulang?” sapa ibu Risna menghampiri mereka.
“Sudah,” balas Akram datar.
“Yasudah Akram lebih baik kamu istirahat, kamu kan harus tetap syuting, oia Aruna masih banyak perkerjaan rumah yang kamu tinggalkan,” perintah ibu Risna dengan wajah masamnya.
“Mah, Aruna bukan pembantu!” sentak Akram yang sontak saja tampak geram, bukanya memberi ucapan belasungkawa dan mencoba mengerti pada Aruna yang baru saja kehilangan, ibu Risna justru bersikap demikian.
“Dia itu memang bukan pembantu tapi mengerjakan perkerjaan rumah itu tetap saja tugas seorang istri,” balas bu Risna tak mau kalah.
Akram hendak kembali berucap.“Nanti akan aku kerjakan,” potong Aruna lebih cepat sebelum perdebatan ibu dan anak itu semakin panas.
“Jangan dengarkan Aruna, kamu istirahat saja dikamar,” sahut pak Setya melarai. Aruna pun menganggauk pelan dan masuk kedalam kamar bersama Akram.
Aruna duduk disudut ranjang, tanpa terasa air matanya kembali terjatuh.“Maafkan ibuku,” untuk yang kesekian kalinya Akram meminta maaf atas sikap ibunya itu seraya mengusap air mata Aruna dengan jemarinya.
Aruna menggeleng pelan.“Aku tidak apa apa.
“Akram,” panggil ibu Risna seraya mengetuk pintu.“Ada tamu untukmu,” sambung ibu Risna kemudian.
Akram mengerutkan keningnya.“Tamu?”
“Lebih baik kita temui saja,” ajak Aruna yang juga penasaran dengan tamu tersebut, Akram mengangguk dan segera keluar kamar bersama Aruna.
“Akram, lihatlah siapa yang datang,” ujar ibu Risna yang sudah berada diruang tamu.
__ADS_1
Akram dan Aruna memutar pandangan mereka, tampak seoarang gadis cantik yang tengah duduk disofa.“Akram,” sapa Hellena yang berdiri dari duduknya.
“Hellena, ada apa kesini?” Akram tampak bingung dengan kedangan gadis itu dan duduk bersama disofa.
“Ini, aku mau memberikan ini,” Hellena mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya.“Ini sumbangan dari pihak agensi mereka turut berduka atas meninggalnya mertuamu,” jelas Hellena.
“Terima kasih,” Akranm bersyukur karena agensi yang menaunginya saat ini sangat perduli padanya.
“Wah terima kasih ya, kamu ini cantik sekali,” puji ibu Risna menelis paras Hellena seraya tersenyum ramah.
“Tante bisa saja,” balas Hellena tersipu.
“Benar kamu itu cantik sekali, coba saja kalau Akram belum menikah pasti sudah tante jodohkan denganmu,” sambung ibu Risna.
“Mah !!” sontak Akram meninggikan suaranya mendengar ucapan mamanya barusan, itu pasti menyinggup perasaan Aruna yang hanya terdiam seraya menundukan kepalanya.
Aruna berdiri dari duduknya.“Maaf saya, kekamar dulu,” Aruna bergegas menunju kamarnya.
“Mama benar benar benar keterlaluan!”desis Akram menatap tajam sang mama yang sama sekali tidak menujukan rasa bersalah, Akram pun bergegas menyusul Aruna kedalam kamar.
Didalam kamar Akram melihat Aruna yang sudah duduk ditepi ranjang dengan air mata yang lagi lagi menetes di wajah cantiknya. Akram duduk disisinya, ia tak tau harus berkata apa, Aruna pun pastilah sudah bosan mendengar ia yang lagi lagi harus meminta maaf atas sikap ibunya yang tak pernah berubah sejak awal menikah.
“Lebih baik kita tinggal terpisah saja dari orang tuaku,”
Ucapan Akram membuat Aruna spontan menoleh kearahnya.“Terpisah?” Aruna menantap tak percaya.
Akram meraih telapak tangan Aruna.“Ya terpisah, aku tidak ingin kau stress karena kelakuan ibu ku, itu tidak baik untuk kandunganmu,” Akram manatap khawatir Aruna, ibunya selalu saja sukses membuat istrinya itu bersedih.
“Tapi..”
“Kita akan pindah secapatnya dari sini, lagi pula aku sudah punya perkerjaan mungkin kita bisa mengontrak kerumah yang lebih besar, kamu mau kan?”
__ADS_1
Mata Aruna yang semula berembun kerena air mata seketika berbinar mendengar tawaran Akram, Aruna pun tak memungkiri jika dirinya sangat ingin tinggal berdua saja dengan suaminya itu.“Ya, aku mau,” Aruna mengangguk seraya tersenyum sumringah. Akram pun memeluk hangat Aruna, kebahigianya saat ini yang terpenting untuk Akram.
1 minggu kemudian.
Akram dan Aruna pun akhirnya memutuskan untuk pindah hari ini, Akram meyewakan rumah yang lebih besar dari sebelumnya tujuanya tak lain hanya ingin Aruna semakin nyaman dan bahagia. Pak Setya dan ibu Risna pun sempat mengantar mereka kerumah baru tersebut tapi hanya sebentar, ibu Risna seakan enggan berlama lama disana ia pun masih terlihat tak terima dengan keputusan Akram yang memilih untuk tinggal terpisah denganya.
“Aku sudah menyiapakan air hangat untukmu, dilanjut besok saja beres beresnya,” ujar Aruna menghampiri Akram yang masih sibuk merapihkan rumah mereka yang sedikit berantakan.
“Yasudah, aku mandi dulu ya,” Akram pun segera mandi sore itu.
Sedang Aruna menunggu seraya bersandar diranjang, tak lama suara pesan masuk terdengar dari ponsel Akram, tertera nama Hellena disana. Aruna refleks mengecrutkan bibirnya, rasa cemburu pun menyergapi perasaanya, Aruna yang penasaran pun berusah membuka kunci ponsel Akram untuk membaca pesan tersebut. beberapa kali Aruna mencoba membukanya tapi gagal.
“Apa sih kata kuncinya?” gumamnya kesal.
Ia sudah memakai nama, tanggal lahir dan segala yang berhubungan dengan Akram tapi tetap saja salah, iseng Aruna pun membuka dengan tanggal pernikahan mereka dan kunci ponsel itu terbuka.
“Jadi dia memakai tanggal pernikahan?” gumam Aruna tak percaya namun tersenyum senang.
Aruna segara membaca pesan dari Hellena, tak ada yang berarti dari pesan tersebut, Hellena hanya menayakan perihal perkerjaan, Aruna merasa lega sepertinya Akram benar benar tak lagi menyukai gadis itu, begitu pula sebaliknya. Aruna kembali tersenyum tipis saat Akram menggunakan foto dirinya sebagai wallpaper ponselnya.“Apa dia banyak menyimpan fotoku?” Aruna mecoba mengintip isi galeri ponsel Akram, benar banyak fotonya disana membuat senyum Aruna semakin mengembang.
Tiba jemarinya tak sengaja membuka folder yang berisi video disana.“Video apa ini?” Aruna mengerutkan keningnya melihat video yang manampilkan pemain berparas cantik dan tampan bak artis korea di video tersebut.“Apa ini video drama korea? sejak kapan dia suka menontonya?” gumam Aruna dengan polosnya yang tetap melanjutkan menonton. Sekian menit Aruna menonton tapi video tersebut semakin menampilkan adegan panas yang tergolong mesum.“Astaga, video apa ini?!” Aruna berdecak tak percaya, seketika ia bergidik ngeri, ini kali pertama ia menonton video seperti itu.
“Kenapa dia menyimpan video seperti itu,” Aruna kembali bergumam tapi masih tetap melajutkan menonton.
“Ah, segar sekali,” Aruna yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka buru buru meletakan kembali ponsel Akram dinakas.“Kamu belum tidur?” tanya Akram menghampiri Aruna yang diam mematung.
“Be..belum,” Aruna yang gugup segera merebhkan tubuhnya diranjang.
“Aku lelah sekali hari ini,” Akram pun merebhkan tubuhnya diranjang , ia marasa sangat lelah karena seharian merapihkan rumah.
Aruan masih termenung, entah kenapa adegan panas didalam video itu terus terniang dibenaknya, hal itu membuat hasrat Aruna seketika meninggkat entah kenapa ia ingin disentuh oleh Akram malam ini seperti adegan dalam video tersebut. Aruna menusuk pipi Akram dengan telunjuknya, tapi Akram tak bergeming.“Dia sudah tidur?” dalam hitungan menit Aruna melihat Akram yang sudah memejamkan matanya.
__ADS_1
“Kenapa cepat sekali tidurnya,” Aruna mengecrutkan bibirnya, ia benar benar ingin disentuh malam ini !
Aruna pun mecoba memeluk tubuh Akram yang terlelap, Akram tetap tak bergeming, Aruna juga mencoba meneluspkan tanganya ke kaus yang dikenakan Akram, meraba dada bidang Akram dengan tangan halusnya tapi Akram tetap tak bergeming.“Ya, ampun dia menyebalkan sekali.” Aruna berdecak kesal, melihat Akram yang tetap saja memejamkan matanya, rasanya memalukan sekali jika ia harus membangunkan Akram yang lelah untuk melayaninya malam ini.