Celebrity Husband

Celebrity Husband
Dia istriku!


__ADS_3

Bab 21.


Aruna hanya dapat memandangi punggung belakang Akram yang perlahan menuruni anak tangga dan pergi keluar rumah begitu saja, mlewatkan sarapan seperti biasanya. Aruna kembali menghela nafas kecewa, sikap Akram semakin dingin, tak lagi memandang kehadiranya apalagi janin dalam rahimnya yang tak berdosa. Aruna merapihkan kembali meja makanya , mengahangatkan kemabali sarapan yang tak tersentuh dan sudah mulai mendingin, ekor matanya melirik bumbu dapur yang sudah menipis, ia menuju lemari pendingin, tak ada juga stok bahan makanan disana.


“Sepertinya aku harus membeli bahan makanan,” gumamnya yang langsung mengganti pakaianya dan bergegas menaiki taksi menuju sebuah mall. Sampai taksi yang ditumpanginya berhenti disebuah mall, Aruna segera melangkahkan kakinya menuju supermarket , membeli bahan makanan disana.


“Aruna,” suara pria memanggilnya, saat ia hendak keluar dari mall tersebut.


Aruna menoleh kearah suara.“Arga?” melihat pria yang sudah lama tak ditemuinya itu, menghapiri seraya tersenyum tipis.


“Kamu sedang apa disini?”


“Ini,” Aruna mengangkat plastik supermarket berisi belanjaanya.“Kamu sendiri, kenapa disini?”


“Kebetulan aku tadi habis menemui klienku dicafe,”


“Oh, yasudah maaf aku harus pulang,” pamit Aruna.


“Aruna tunggu,” Arga menahan lenganya.“Bisa kita makan siang bersama sebentar saja?” ajak Arga. Aruna terdiam, rasanya pun perutnya sudah mulai keroncongan siang itu.


“Baiklah,” Aruna mengiyakan ajakan Arga yang direspon senyum sumringah darinya. Mereka pun berjalan beriringan menuju cafe, memesan makananan disana.


“Bagimana kabarmu?” Arga memulai percakapan, rasanya sudah lama ia tak bertemu dengan wanita yang masih dicintainya itu.


“Aku baik baik saja,” Aruna sedikit memaksakan senyumnya. Mereka tak banyak bicara, sedikit canggung, terlebih untuk Arga yang kerap merasa dilema karena saat ini ia masih mencintai Aruna yang jelas jelas sudah milik orang lain. Aruna sibuk dengan makan siangnya, begitupula dengan Arga, sesekali ia memainkan ponselnya, matanya tiba tiba membulat terkejut, membaca sebuah artikel yang dilihatnya dimedia sosial.


“Aruna apa kau benar baik baik saja?” tanyanya menyelidik.


“Kenapan bertanya seperti itu?”


“Lihatlah,” Arga memberikan ponselnya pada Aruna, baru setengah kalimat ia membaca artikel yang dilihatnya, matanya sudah terasa perih, dadanya mendadak menjadi sesak, Aruna memberikan ponsel Arga yang dipegangya, tak ingin menmbaca lebih lanjut artikel yang membahas tentang rencana pertunagan Akram dan Liona. Gila, ini sungguh gila untuknya, bagaimana bisa suaminya berencana dengan wanita lain yang jelas jelas ia masih menjadi istri sah dan mengandung janinya.


“Bukankah aktor itu suamimu? pria seperti apa dia?” ujar Arga geram, rasanya ingin sekali ia memberi pukulan telak jika Akram ada dihadapanya saat ini.

__ADS_1


Aruna meraih tasnya dimeja, ia segera berdiri dari duduknya.“Maaf aku harus pulang,” pamitnya dengan tergesa, menahan air matanya yang hampir terjatuh.


“Aruna tunggu,” Arga kembali menahan lenganya, namun Aruna segera menepisnya dan berlalu pegi meninggalkan tempat tersebut.


Dengan langkah tergesa Aruna masuk kerumah rasanya ia ingin segera membenamkan wajahnya dibantal dan menagis sepuasnya.“Aruna!!” cegat Akram yang menghadang langkahnya.“Dari mana saja kamu? siapa yang mengijinkanmu keluar?” sentak Akram yang mulai meradang. Aruna terdiam tak menghiraukan.“kau tahu media sudah mengetahui jika kau tinggal bersamaku, seharusnya kau tidak keluar rumah seenaknya itu akan memperkeruh keadaan,” ujar Akram penuh penekanan.


Aruna tersenyum lirih.“Aku memperkeruh keadaan? Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus duduk manis saja di rumah melihatmu bertunangan dengan wanita itu,”


“Ikuti saja permainanku,”


“Permainan? Apa bagimu pernikahan itu sebuah permainan?”


“Kau tidak mengerti keadaannya,”


“Aku memang tidak akan pernah mengerti duniamu yang penuh dengan kepalsuan, lebih baik kau ceraikan saja aku,” ujar Aruna dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


“Aku tidak akan melakukan itu,”


***


Aruna matikan dengan kesal remote televisi nya, melihat semua berita di sana yang hanya membahas tentang isu pertunangan Akram dan Liona, rasanya Aruna ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya dengan keadaannya saat ini. Aruna berdiri dari sofa saat mendengar suara ketukan di pintu utama.“Siapa?” gumamnya langsung melangkah untuk membuka pintu.


“Ikut aku,”


Arona terlonjak kaget saat Arga tiba-tiba menarik tangannya keluar rumah, Aruna meronta tapi Arga tak menghiraukannya dan memasukkannya ke dalam mobil.“Kita mau kemana?” Aruna terlihat bingung saat mobil yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat.


Sampai mobil tersebut berhenti di sebuah hotel.“Untuk apa kita kesini?” Aruna kembali bertanya saat Arga meraih tangannya menuju aula di hotel tersebut. Aruna memutar pandangannya tempat tersebut sudah ramai Dengan awak media di sana.“Itu?” mata Aruna tertuju pada Akram dan Liona yang terus mengumbar senyum saat sorot lampu kamera tak henti-hentinya menyoroti keduanya.


“Iya, mereka akan melakukan konferensi pers di sini,” jelas Arga, Aruna tertengun, rasanya kembali terasa sakit mengetahui hal itu, segera meraih tangan Aruna agar mengikuti langkahnya.


“Terima kasih atas kedatangan kalian malam ini,” Akram memulai ucapannya pada awak media yang sudah menunggunya malam itu, didampingi pak Reno dan Liona disisinya, Akram kan sudah siap untuk memberi pernyataan kepada para awak media.


“Saya ingin memberi klarifikasi atas isu tentang saya selama sepekan ini, tentang wanita yang memeriksakan kandungannya bersama saya malam itu, wanita itu..” Akram menggantung ucapannya membuat pak Reno dan Liona tampak cemas dibuatnya.

__ADS_1


“Wanita itu adalah istri saya,” sahut pria dari arah belakang Akram.


Aruna kaget bukan kepalang saat Arga mengucapkan hal itu Dan menuntunnya ke depan bersanding dengan Akram, begitu pula Akram yang tak kalah terkejutnya saat Arga tiba-tiba memotong ucapannya.


“Wanita itu adalah istri saya, yang memang bekerja sebagai asisten pribadi di rumah Akram, saya meminta tolong pada Akram untuk mengantar istri saya ke dokter kandungan karena saya sedang berada di luar kota,” Arga memperjelas pernyataannya, dengan lugas Arga menjawab semua pertanyaan dari awak media menegaskan bahwa Aruna adalah istrinya, sampai acara itu selesai.


“Arga kenapa mengucapkan hal itu?” tanya Aruna mengikuti langkah kaki Arga yang masih menggenggam tangannya keluar dari hotel menuju parkiran.


“Kalau aku tidak mengatakan hal seperti tadi pria itu tetap saja tidak akan mengakui mu, aku hanya tak ingin kau direndahkanya,” Aruna termenung, benar memang Akram tidak akan pernah mengakuinya.


“Aruna!” suara lantang seorang pria mengagetkan keduanya.


“Akram?” terlihat Akram yang berjalan menghampiri mereka.


Dengan jelas Akram melihat Arga yang masih memegang tangan Aruna.“Pulanglah,” titah Akram menarik sebelah tangan Aruna dengan cepat Arga menepisnya.


“Dia akan pulang bersamaku,”


Akan tersenyum kecut.“Kau akan pulang bersama istri orang, apakah sudah benar-benar gila,” umpat Akram penuh emosi, Arga selalu saja sukses memancing emosinya.


“Bukankah akan bahaya jika media tahu Aruna tinggal bersamamu, jadi biarkan dia tinggal bersamaku untuk sementara waktu,”


“Dia istriku,” tegas Akram yang kini justru seakan mengakui Aruna.


“Aku tidak akan berbuat macam-macam padanya,” Arga meyakinkan.


“Hentikan omong kosongmu !” Akram handak memberi pukulan di wajah Arga.


“Hentikan !” dengan cepat Aruna mererai keduanya.“Biarkan aku tinggal bersamanya,”


“Apa? Kau sudah gila?!” Akram semakin meradang.


“Bukankah kau menyuruhku untuk mengikuti permainanmu, sekarang aku minta untuk kamu mengikuti permainanku.” tegas Aruna, yang langsung berlalu pergi bersama Arga meninggalkan kan tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2