
Bab 22.
PLAAKK!!
Tamparan keras mendarat dipipi Akram saat dirinya baru tiba dirumah, kedua orang tuanya sudah menunggu disana.
“Berita macam apa itu?! kenapa kau bertungangan dengan dengan wanita lain dan istrimu diakui oleh pria lain!!” sentak pak Setya yang sangat terkejut melihat berita ditelivisi tentang putranya itu.
“Itu tidak sungguhan, tidak usah mendengarkan berita media,” ujar Akram yang terlihat tenang.
“Hidupmu ini sudah tidak normal, semua kau palsukan hanya untuk karirmu!” pak Setya semakin tidak mengerti dengan jalan fikiran putranya itu, karir dan uang seakan membutakanya.
“Sudahlah, Akram melakukan ini untuk menjaga nama baiknya, kalau media tau putra kita sudah menikah dengan wanita desa yang tidak jelas justru akan menghancurkan popularitasnya, dan kita akan hidup susah seperti dulu lagi,” bu Risna dengan lantang membela putranya.
“Kalian berdua sama saja,” pak Setya menggelangkan kepalanya.“Sekarang dimana istrimu?”
Akram terdiam, jikan papanya tau istrinya sedang tinggal dengan pria lain karena ulahnya pastilah ia akan sangat marah.“Untuk sementara Aruna tinggal dihotel, ia akan terganggu jika tinggal disini karena masih banyak media yang mencari tau tentangnya,” jawab Akram mencari alasan.
“Jika dia tidak bisa tinggal disini, ajak saja dia tinggal dirumah utama,” pinta pak Setya.
“Sudahlah, lebih baik dia tinggal..”
“DIAM!!” sentak pak Setya, memotong ucapan istrinya.“Dia sedang hamil tidak baik jika tinggal sendiri dihotel,”
“Baiklah, nanti aku akan menyuruhnya tinggal dirumah utama,” balas Akram, kedua orang tuanya pun pulang.
“Aaaaarrggg!!” desis Akram, menyingkirkan barang barang yang ada dimeja kamarnya, membuatnya berantakan dalam sekejap, meluapkan emosinya.“Pria itu benar benar menantangku!” ucapnya geram, kebencianya pada sosok Arga senmakin memuncak.
***
“Masuklah,” Arga mempersilakan Aruna masuk kedalam apartemenya.
__ADS_1
Aruna memutar pandanganya, tampak apartemen yang cukup besar dan tertata rapih.“Kamu tinggal disini sekarang?” Arga mengangguk, berkerja dikota cukup banyak mengubah hidupnya.
“Istrirahatlah dikamar, biar aku tidur disini,” Arga menujuk sofa diruangan.
“Maaf merepotkanmu,” Aruna sebenarnya merasa sedikit risih harus tinggal dengan pria lain ditengah kondisinya yang sedang hamil tapi ia ingin Akram setidaknya tidak meremehkanya lagi, rasanya juga ia tidak ingin melihat wajah Akram untuk saat ini, itu membuat perasaanya terluka.
“Aku tidak merasa direpotkan.” Arga tersenyum tipis. Aruna pun masuk kekamarnya, merebahkan tubuh lelahnya diranjang, pandangan kosongnya menatap langit langit kamar, hidupnya saat ini terasa sangat kacau. Aruna tak mengerti mengapa karir sangat penting untuk Akram, dan hidup dengan banyak kepalsuan, ia terus bergulat dengan fikiranya sampai akhirnya tertidur.
***
Aruna membuka matanya perlahan, tidurnya cukup nyenyak sampai ia terbangun pukul 9 pagi. Aruna keluar dari kamarnya, melihat suasana rumah yang tampak sepi.“Apa Arga sudah pergi kekantor?” gumamnya.
Matanya tertuju pada meja makan minimalis, ada sekotak makanan cepat saji disana.“Makanlah, ini sarapan untukmu,” tulis Arga pada secarik kertas disana. Aruna tersenyum tipis, pria itu selalu bersikap manis padanya, berbanding terbalik dengan sikap suaminya sendiri. Aruna pun tanpa ragu manyantap sarapanya.
Hari itu Aruna hanya menghanbiskan waktu didalam apartemen Arga. ia membesihkan sedikit sudut ruangan apartemen tersebut setidaknya sebagai rasa terima kasihnya karena Arga mau menampungya.
“Permisi,” terdengar suara sura dan ketukan dari pintu utama, Aruna segera bergegas membuka pintu.“Apa benar anda nona Aruna?” tanya seorang pria dengan seragam kurir yang dikenakanya.
“Ini ada makanan untuk anda,” kurir itu memberikan makanan cepat saji pada Aruna.
“Makanan?” Aruna mengerutkan kening.“Dari siapa?”
“Dari tuan Arga,”
“Arga?” kurir itu pun berlalu pergi setelah melakukan tugasnya. Aruna masuk kembali keapartemen, melihat beberapa makanan cepat saji yang dikirimkan Arga untuk makan siangnya. Sore itu Aruna beranjak dari sofa, melihat Arga yang baru masuk kedalam apartemen.“Kamu sudah pulang?” Aruna menghampirinya.
“Sudah,”
“Kenpa mengirimiku makanan terus?” Aruna merasa semakin tidak enak.
“Disini tidak ada stok makanan, aku hanya tinggal sendiri, jadi aku jarang berbelanja,” jelas Arga.
__ADS_1
“Sepertinya aku besok ingin pulang saja,” ujar Aruna, ternyata tinggal dengan pria yang bukan suaminya membuatnya tidak nyaman.
“Pulang kerumah pria itu menyebalkan itu?” Arga menatap kecewa.“Sudahlah, lebih baik kita keluar saja,” Arga meraih tangan Aruna keluar apartemen.
“Mau kemana?” Aruna terlihat bingung, mengikuti langkah kaki Arga.
“Makan diluar,”
“Makan diluar?”
Arga segera masuk kemobil dan melajukan mobilnya kesebuah restoran.“Apa kita harus makan malam disini?” Aruna memutar pandanganya pada restoran mewah bergaya klasik itu.
“Aku ingin makan disini,” Arga terlihat tenang dan duduk dikursinya.
Aruna terus memutar pandanganya, sampai bola matanya menangkap sosok pria yang seperti mengamatinya tak jauh dari mejanya.“Akram?!” terlihat Akram yang juga sedang menikmati makan malamnya bersama Liona.“Aku tidak ingin makan disini,” Aruna segera berdiri dari duduknya.
“Dia tidak akan berani menghampiri kita, banyak kamera yang sedang mengamatinya,” Arga menahan lengan Aruna, benar, terlihat beberapa kamera yang mengabadikan kebersamaan Akra dan Liona malam itu. Aruna sadar Akram memperbaiki citranya, ia kembali duduk dikursinya bersama Arga.
Sedang Akram yang telah menangkap lebih dulu kebersamaan mereka terlihat sangat geram, andai saja tidak ada kamera yang mengamatinya rasanya ingin sekali ia kembali memberi pukulan di wajah Arga.
“Bukankah itu asiten pribadimu dan suaminya?” ujar Liona yang juga melihat Arga dan Aruna.“Mereka terlihat serasi ya,” Liona tersenyum, tapi tidak dengan Akram perasaanya sangat kesal saat ini, sepertinya Arga sengaja melakukan itu.
“Orang tuaku sangat senang dengan rencana pertungan kita, mereka ingin segara pertunangan itu digelar,” uajr gadis seksi itu.
Akram tersenyum kecut.“Apa kamu lupa? itu semua tidak sungguhan, kita melakukan itu semua untuk memperbaiki nama baik ku, dan menaikan popularitasmu,” Akram tak mengerti kenapa wanita itu seakan lupa dengan rencana meraka dan justru menganggapnya serius.
“Tapi aku tak keberatan jika benar benar bertunagan denganmu, aku rasa kita cocok,” secara tidak langsung Liona mengunngkapkan ketertarikanya pada Akram.
“Hentikan omong kosongmu!” sentak Akram, yang kembali memperhatikan Arga dan Aruna yang terlihat cukup mesra, pemandangan itu cukup memuaskan untuknya tapi ia tak dapat berbuat apa-apa selagi ada kamera yang mengamati gerak geriknya.
Jangan lupa follow ig aku ya @Sheuchull untuk info novel aku yang lainnya, terima kasih dukunganya cinta 🤗♥️♥️
__ADS_1