Celebrity Husband

Celebrity Husband
Tak bisa meluluhkan mu


__ADS_3

Bab 32.


“Tuan, ada banyak wartawan yang menunggu diluar,” lapor security dikediaman Akram. Ia yang sedang duduk disofa memijat pelan pelipisnya, walau dirinya sudah bebas dari kasus yang menjerat dirinya beberapa hari lalu, tidak membuat Akram dapat menikmati hidup dengan tenang begitu saja, justru banya awak media yang memburunya untuk mengkalrifikasi kasus yang menjeratnya karena Akram belum memberi klarifikasi apapun pada publik.


“Katakan pada mereka aku akan menemui mereka nanti malam,” balas Akram yang sudah merasa gerah kerena pergerakanya merasa dibatasi.


“Baik tuan,” security tersebut segera keluar rumah menyampaikan apa yang dikatakan majikanya pada beberapa wartawan diluar.


Malam itu Akram sudah berada didalam aula sebuah hotel untuk menemui awak media yang sudah menunggunya, sorot kamera begitu terang menyorot kearahnya, ia berdiri tegak tanpa didampingi siapapun, tak ada lagi agensi yang menaunginya, beberapa pertanyaan terlontar tentang kasus yang sudah diselesaikanya, Akram meenjawabnya dengan begitu tenang dan lugas.


“Lalu apa benar pernyataan pak Reno waktu yang mengatakan anda telah menikah dan dan melaukan kekerasan seksual?” salah satu wartawan memberikan pertnyaan menohok padanya.


“Iya, apa benar itu istri anda?” disusul pertnyaan gencar wartawan yang lain.


Akram terdiam, membuat para wartawan semakin penasaran dibuatnya.“Ya, itu benar,” jawab Akram kemudian.“Wanita itu benar istriku, dan aku pun telah melakukan kekerasan seksual padanya dulu, maafkan aku, aku sudah menyesalinya,” Akram menundukan sedikit kepalanya sebagai permintaan maaf pada orang orang yang sudah mendukung karirnya selama ini. Akram pun begegas pergi setelahnya, didampingi asisten pribadi yang melindunginya dari kejaran para wartanwan yang masih saja melontarkan banyak pertnyaan untuknya, Akram masuk kemobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.


***


“Aruna,” panggil seorang pria saat Aruna hendak pulang dari tokonya sore itu.

__ADS_1


“Arga?” Aruna mendongkakan wajahnya melihat Arga yang sudah berdiri dihadapanya.


“Bisa kita bicara sebentar?” ajak Arga, Aruna terdiam tampak bimbang.“Sebentar saja,” bujuknya, sebelum Aruna menolak.


“Baiklah,” Aruna pun mengiyakan ajakan Arga, mereka pun menuju cafe disekitar sana, duduk berhadapan dan menikmati minuman disana.


“Aku tau hari hari sebelumnya pastilah hari yang cukup sulit untukmu,” Arga memulai percakapan seraya menyeruput kopi hangat yang masih mengeluarkan asap tipis dicangkirnya.


Aruna tertengun, Arga pastilah tau masalah yang mendera suaminya.“Ya, tapi aku sudah melaluinya.” balas Aruna datar.


“Bagusalah, aku tau kau bukan wanita lemah,” puji Arga tersenyum tipis.“Lalu apa kau masih bersamanya?” Aruna kembali terdiam, Arga menatap Aruna yang tarlihat gusar.“Aku harap kau sudah tidak bersamanya,” Aruna yang sedikit tertunduk mendongkakan wajahnya saat jemari Arga menyentuh punggung tanganya di meja.“Aku mencintaimu.” sambung Arga dengan pernyataan cintanya yang sudah lama dipendamnya, meraih lembut jemari Aruna.


Aruna tak begitu kaget dengan ungkapan cinta yang dikatakan Arga, ia pun merasakan jika Arga mencintai dan sangat perduli padanya, tapi tak sedikitpun Aruna merasakan perasaan yang sama pada pria yang tengah menatap intens kearahnya itu.


“Aruna!” panggil seoarang pria dari arah belakang meraka.


“Akram?” mata Aruna membulat penuh melihat Akram yang berjalan kearahnya.


“Pulanglah,” Akram menepis kasar tangan Arga yang menyentuh kulit halus Aruna.

__ADS_1


“Aruna, apa dia masih pantas berada disini?” Arga tersenyum sinis, rasanya muak sekali melihat Akram yang selalu menganggunya.


“Aku masih menjadi suami sah nya!” tegas Akram menarik tangan Aruna keluar dari cafe tersebut meninggalkan Arga yang tampak geram.


“Lepasakan,” Aruna menepis tangan Akram yang hendak memasukanya kedalam mobil.


“Kenapa? kau masih ingin bersama pria itu?”


“Kamu tak berhak mengatur hidupku,” ketus Aruna yang membalikan tubuhnya hendak meninggalkan Akram.


“Apa aku juga tak berhak untuk cemburu?!” seru Akram, membuat Aruna mengehetikan langkah kakinya.


Akram mendekat berdiri menatap tajam Aruna yang hanya diam mematung.“Katakan padaku, apa aku tak berhak cemburu pada istriku sendiri?” Aruna tetap terdiam.“Lihat aku Aruna !” seru Akram saat Aruna tetap menundukan pandanganya seakan enggan melihat kerahnya. Akram menarik lengan Aruna ke tubuhnya.“Apa aku juga tak boleh memeluk istriku?” ujar Akram mendakap tubuh Aruna.“Katakan padaku, apa kau benar benar tak mencintaiku? katakan dan lepaskan peluk ku,”


Aruna tak menjawab tapi gerakan tanganya perlahan melepaskan peluk Akram dari tubuhnya.“Kau tak mencintaiku?” ia menatap nanar Aruna.


“Sejak kapan kau mencintaiku?” Aruna balik bertanya mebalas tatapan Akram dengan bola maata yang sudah berembun.


“Sejak kita tinggal bersama,”

__ADS_1


Aruna tertawa lirih.“Sikapmu tak menujukan itu, kau bahkan tidak pernah menganggapku waktu itu.”


“Aku memang salah aku sudah melakukan semuanya, mengakui semua kesalahan ku pada mu pada semua orang, membuat pernyataan dengan tegas bahwa kamu istriku, apa itu belum cukup untuk mu?” Akram manatap tak mengerti, ia merasa sudah melakukan hal yang diinginkan Aruna meskipun saat ini banyak yang membicarakan keburukanya. Aruna tak mejawab ia lebih memilih pergi meninggalkan Akram begitu saja.“Aaaaargggg!” Akram mengusap kasar wajahnya, sedang Arga tersenyum tipis melihat pemandangan itu.


__ADS_2