
Bab 9.
Akram meletakan garfu dan sendok yang di pegangnya.“Sudah selesai?” Liona menatap makan siang Akram yang hanya di santap sedikit.
“Aku kehilangan selera makan,” ketusnya yang langsng beranjak dari kursinya.“Makan siang ku sudah selesai, kita pulang sekarang,” ucap Akram menghampiri Aruna yang masih mengobrol dengan Arga.
“Pulang?” rasanya baru sebentar ia di cafe itu, bahkan makanan yang dipesanya pun belum datang.
“Cepatlah!” titah Akram sedikit mengeretak.
“Arga, maaf aku harus pulang sekarang,” pamit Aruna, beranjak dari kursinya, mengejar langkah Akram yang dengan tergesa gesa.
Arga menyeruput kopi yang baru dipesanya, matanya masih memperhatikan punggung Aruna yang semakin menjauh.“Pria itu benar benar menyebalkan.” gumam Arga menahan emosinya.
***
“Ini,” pak Setya memberikan kunci pada Akram di sela sela sarapan mereka.
“Apa ini?” Akram mengerutkan kening dengan kunci yang diterimanya.
“Itu kunci rumah barum, lusa tinggalah bersama dengan istrimu disana,” jelas pak Setya kembali menyantap sarapanya dengan tenang.
Akram tersenyum kecut.“Apa papa fikir aku tak dapat membeli sebuah rumah?” ucap Akram merasa tersinggung, dengan pemberian papanya. Akram merasa saat ini ia dapat membeli apapun yang diinginkanya tanpa bantuan orang lain.
__ADS_1
Pak Setya meletakan peralatan makanya, mengambil tisu di hadapanya dan mengusap sisa makanan di sudut bibirnya.“Papa hanya berfikir mungkin kamu tidak akan membelikan rumah untuk istrimu,” balas pak Setya masih dengan wajah tenangnya.
Akram berdecih kesal.
“Tidak usah menghambur hamburkan uang, ia tinggal disini juga seharusnya sudah bersyukur,” timpal bu Risna menatap sinis kearah Aruna.
“Mama benar, aku rasa aku tidak butuh rumah itu,” ujar Akram yang enggan harus tinggal berdua bersama Aruna.
“Terserah, kau tinggal disana atau rumah ini yang akan papa jual,” ancam pak Setya beranjak dari kursi makananya.
“Astaga dia menyebalkan sekali,” Akram mengusap gusar wajahnya.
Hari berikutnya Akram pindah kerumah baru yang telah dipersiapkan papanya“Sudah selesai?” tanya Akram yang membiarkan Aruna merapihkan rumah besar itu sendirian.
“Keluarlah,” usir Akram usai Aruna membereskan kamar utama mereka.
“Keluar?”
“Ya, kamar mu tetap di kamar tamu,” titah Akram. Aruna pun hanya bisa menurut, perasaanya berkata mungkin saat ini ia tetap lah asisten rumah tangga dimata suaminya.
***
“Sarapanya sudah siap,” ucap Aruna pagi itu melihat Akram yang baru saja menuruni anak tangga.
__ADS_1
Akram melirik sesaat makanan yang terasi dimeja makan.“Aku tidak berselra dengan masakanmu,” ketusnya yang langsung berlalu pergi. Aruna menghela nafas dalam, kembali mengumpulkan kesabaranya.
Aruna masih melirik jam dinding di sudut ruanganya, malam sudah hampir menjelang pagi tapi Akram belum kunjung pulang, mata Aruna yang mulai terkantuk seketika terbuka saat mendengar samar suaran ketukan di pintu utama, dengan langkah yang tergesa Aruna segera membuka pintu.
“Tuan Akram?” terlihat Akram dengan mata sayunya jatuh di pelukan Aruna. Akram tak sadar diri, bau alkohol tercium sangat menyengat dari bibirnya. Aruna segera memapah Akram menuju kamarnya. Merebahkan tubuhnya di ranjang serta melepaskan jaket dan sepatu yang masih melekat ditubuhnya.
“Sayang,” ucap Akram menahan lengan Aruna yang hendak keluar dari kamar.
Jantung Aruna berdegup, ini kali pertama Akram mengatakan kalimat mesra itu. Aruna menoleh, melihat Akram yang sedikit membuka matanya.“Tuan?” Aruna terpenjat saat Akram menarik lenganya kedalam dekapanya.
“Puaskan aku malam ini,” ucapnya dengan suara parau, membalikan tubuh Aruna yang kini berada di bawah dada bidangnya. Tanpa aba aba Akram segera ******* rakus bibir ranum dihadapanya. Aruna yang awalnya kikuk perlahan membuka bibirnya yang terkatup, membiarkan Akram ******* kasar bibirnya.
Tangan liarnya dengan cepat membuka kancing piyama Aruana, meremas gemas bagian tubuh kenyal itu.“Aahh,” Aruna mendesah kecil, membuat Akram menyeringai, dengan hasrat yang semakin menggebu. Akram menyudahi ciuamnaya, beralih pada ceruk leher Aruna, menyesap kulit tipisnya membuat banyak tanda kemepemilikan disana.
Akram yang semakin merasakan hawa panas karena hasratnya pun segera melebarkan paksa paha Aruna.“Sakit!” pekik Aruna yang merasakan Akram menghentakan miliknya dengan sangat kasar, tak perduli Aruna yang meringis, atau bahkan mencengkram punggunya, Akram hanya ingin hasratnya malam ini tertuntaskan. Sampai tubuhnya ambruk setelah mencapai pelepasan yang semprurna.
Pagi itu Akram perlahan membuka matanya, memegangi kepalanya yang masih terasa berat. Akram terpenjat saat melihat Aruna yang tidur disisinya.“Kenapa dia disini?” Akram bersandar diranjang mencoba menginagat apa yang sudah terjadi.“Astaga..” ucapnya kemudian yang mengingat jika semalam dia kembali melakukan hal itu pada Aruna di bawah pengaruh alkohol.
Aruna yang mendengar samar suara Akram pun perlahan membuka matanya.“Tuan Akram?” Aruna segera menaikan selimut yang membalut tubuh polosnya.
“Lupakan semalam yang kulakukan padamu, itu hanya pengaruh alkohol, aku tak sedikitpun melakukan hal itu dengan perasaan padamu,” ujar Akram beranjak dari ranjangnya, menuju kamar mandi.
Aruna membeku, dua iris matanya kini terasa perih, mendengar perkataan menyakitkan yang lagi lagi terucap dengan enteng dari bibir suaminya.
__ADS_1
Maaf ya aku slow up date.. karena aku harus nyelesain novel aku di lapak sebelah, mungkin bulan depan baru aku up rutin di sini.. terima kasih sudah membaca 🤗