Celebrity Husband

Celebrity Husband
Pernikahan


__ADS_3

Bab 5.


Keluarga Sanjaya pun memutusakan untuk segera melangsungkan penikahan. Pagi itu Aruna telah mengenakan kebaya anggun yang membalut tubuhnya, gadis itu tampak cantik walau dengan tamilpan dan make up sederhana, pernikahan itu di langsungkan dengan sangat tertutup yang hanya mengahadirkan beberapa tamu untuk saksi serta uang tutup mulut tentunya agar penikahan rahasia ini tak tersebar luas.


“Aruna, kamu cantik sekali,” puji seorang perempuan, di ikuti langkahnya kakinya yang masuk ke kamar Aruna yang tidak terkunci.


Aruna menoleh, meleihat Desi dan bu Asih dua asisten rumah tangga yang juga berkrja di rumah itu.“Desi? bu Asih?”


“Aruna kami fikir kamu itu gadis polos yang benar benar datang dari kampung, ternyata cepat sekali ya kamu jadi nyonya,” Cibir Desi menatap sinis Aruna yang masih terduduk dimeja riasnya.


“Iya Aruna, ternyata trik mu untuk menggoda tuan Arkam berhasil ya, selamat ya Aruna,” timpal bi Asih dengan tuduhanya.


“Apa maksud kalian?” Aruana tak menyangka mengapa dua orang itu justru berkata memojokanya padahal jelas dirinya lah yang menjadi korban.


“Sudahlah, enggak usah memasang wajah sok polos seperti itu lagi, bertahun tahun aku berkerja di rumah ini tapi tak pernah aku berniat menggoda tuan Akram apalagi sampai memberikan kesucianku padanya, ternyata kamu sangat rendah.” Desi melanjutkan argumenya dengan perkataan yang lebih menyakitkan.


“Aku tidak seperti itu,” bantah Aruna, sepasang matanya sudah terasa panas, menahan air matanya.


“Dasar perempuan rendah,” ucap bi Asih yang juga meghinanya, mereka berdua pun pergi keluar dari kamar.


Bulir air mata itu akhirnya terjatuh juga, rasanya di rumah itu tak ada yang percaya jika dirinyalah yang sudah menjadi korban. Ponsel Aruna berdering, tertera nama ibu dilayar ponselnya, gadis itu segera menghapus air matanya.


[ Halo, assalamualaikum, Aruna] terdengar suara lembut dari balik telepon.

__ADS_1


[ Walaikumsalam bu,]


[ Aruna, kamu sehat kan? kenapa enggak telepon ibu?] Aruna tertengun, beberapa hari ini rasanya dia tak sanggup berbicara dengan ibunya pasca kejadian buruk yang menimpahnya, padahal bisanya hampir setiap malam ia menelepon.


[ Maaf bu Aruna sedikit sibuk, tapi Aruna sehat kok,] jawabnya mencari alasan.


[ Syukurlah, sayang apa kamu sedang menangis?] tanya ibu curiga, mendengar suara Aruna yang terdengar beda dari biasanya.


[ Enggak bu, Aruana enggak nangis kok,]


[ Yasudah jaga dirimu baik baik ya nak, ibu rindu kamu, cepat pulang ya sayang.] pesan sang ibu mnegkhiri panggilanya.


Aruana kembali menyeka air matanya yang lagi lagi terjatuh, membayangkan bagaimana hancurnya perasaan sang ibu jika tau keadaanya saat ini. Pernikahan seharusnya menjadi momen yang membahagikan untuk semua orang, tapi tidak dengan Aruna, bahkan ibu yang melahirkanya pun tak bisa menyaksikan pernikahanya.


“Untuk apa aku melakukan pernikahan ini, orang tuaku saja tidak tau, tuan Akram pun tak mungkin mencintaiku,” gumam Aruna memandangi wajah lusuhnya dicermin.


Pak Satya pun menuntun gadis itu menjauh dari keramaina.“Mau bicara apa Aruna?” tanyanya, menatap Aruna yang hanya tertunduk.


“Saya, ingin membatalkan pernikahan ini,” ucap Aruna, pelan.


“Apa? membatalkan?” pak Satya tampak terkejut mendengarnya.


“Iya, saya ingin pulang kampung saja, saya akan berusaha untu memaafkan apa yang sudah tuan Akram lakukan pada saya.” lirih Aruna, yang merasa tak bisa menjalani pernikahanya dengan majikan yang seperti membencinya.

__ADS_1


“Aruna, kenapa kamu berkata seperti itu, bagaimanapun Akram tetap salah dan dia harus bertanggung jawab, kamu tidak boleh rendah diri dan pasrah seperti itu, saya tidak akan membiarkan putra saya mengijak harga diri wanita, ia sudah menodaimu, ia harus bertanggung jawab.” ucap pak Setya, tegas.


“Tapi..”


“Aruna, dengarkan saya, kamu harus tetap menikah dengan Akram, soal kelurgamu biar nanti kita ke desamu jika waktunya sudah tepat saya akan mendampingimu,” bujuk pak Setya.


Aruana terdiam, dan hanya bisa menurut, walau dirinya tak tau seperti apa pernikahanya kedepan. Pernikahan itu pun tetap dilangsungkan dan berjalan lancar. Malam hari setelahnya Aruna hendak kembali ke kamar pembantnya.“Kenapa terkunci?” Aruna berusaha membuka pintu yang tiba tiba saja terkunci.


“Aruna jangan tidur disana,” ucap seorang pria dari arah belakangnya.


“Pak Setya?”


“Aruna, kenapa kamu kembali ke kamar itu, sekrang kamarmu di lantai atas bersama dengan Akram, kalian kan sudah menjadi suami istri,” pak Setya memang sengaja mengunci kamar pembantu itu, ia tau menantunya itu pasti akan tidur disana.


“Tapi..”


Pak Setya pun segera menuntun Aruna kelantai dua, menuju kamar Akram.“Papa?” Akram yang mendengar ketukan pun segera membuka pintu kamarnya.


“Suami macam apa kamu, kenapa tidak mengajak istrimu tidur sekamar,” omel pak Setya dengan wajah kesalnya.“Aruna, masuklah.” ucapnya yang langsung berlalu pergi.


Akram menutup pintu kamarnya, kesal.“Apa yang sudah kau bicarakan dengan papa? sampai seperti itu ia membelamu?” tanya Akram, menatap tajam.


Aruna menggeleng.“Aku tidak mengatakan apapun,”

__ADS_1


“Ikut denganku,” Akram menarik paksa tangan Aruna ke sebuah kamar, lalu menghempskan kasar tubuhnya diranjang.“Ini kamrmu, sekarang kamar tamu ini milik mu, jangan pernah bermimpi untuk tidur denganku,” ucap Akram dengan wajah angkuhnya.“Dan jangan keluar dari kamar ini sebelum aku membukanya, apa lagi smapai menceritakanya pada papa,” ancam Akram yang langsung berlalu pergi, mengunci kamar tersebut.


Aruna terdiam, termanung di sudut ranjang, barulah pernikahan ini berjalan tapi sudah seperti ini perlakuan yang didapat dari suaminya.“Ibu.. Aruna ingin pulang, Aruna kangen ibu,” lirih Aruna, memanggil perempuan yang paling disayanginya.


__ADS_2