
Bab 41.
“I..ini masih siang, rasanya malu jika kita di kamar terus,” ujar Aruna dengan wajah merona.
“Ya sudah kalau begitu kita lanjutkan malam ini,” balas Akram tersenyum tipis. Tak lama mereka pun kembali ke rumah.
Aruna yang sudah selesai memasak untuk makan malam melangkah masuk ke dalam kamarnya.“Kamu? kenapa ada disini?” Aruna tampak terkejut melihat Akram yang tengah bernbaring santai di ranjangnya.
“Aku?” Akram duduk, menjentikan jari ke tubuhnya sendiri.“Memang seharusnya aku disini kan? ibu juga sudah tau jika kita suami istri?”
“Oh, iya aku lupa,”
“Bagus, sini..” Akram menepuk kasur di sisinya agar Aruna mendekat.
“Aku, mau menyiapakan makan malam dulu, kita makan malam dulu,” tolak halus Aruna yang langsung bergegas keluar dari kamarnya.
“Astaga, kenapa tingkahnya masih seperti pengantin baru saja,” gumam gemas Akram.
Malam itu mereka pun menyantap makan malam bersama.“Bu, sepertinya Aruna besok harus pulang, kerena Aruna harus kembali berkerja di toko pakaian, tidak apa apa kan?”ujar Aruna seraya mengunyah makananya.
“Tidak apa apa, kalian kembali saja ke kota ibu tidak apa apa,” balas ibu dengan senyum hangatnya.
“Kalau ada apa apa ibu langsung hubungi kami ya,” pesan Akram kemudian.
“Iya nak, yasudah setelah ini kalian cepat istirahat,” ibu yang selesai menyantap makan malamnya pun segera meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam kamarnya.
“Sayang, aku tunggu di kamar ya,” ujar Akram dengan senyum nakalnya, Aruna yang sedang membereskan meja makan hanya dapat mengangguk pelan. Sekian detik demi detik Akram menunggu tapi Aruna tak kunjung masuk ke kamar.“Ya ampun, dia sedang apa sih?” gumamnya risau.
Akram yang mulai gelisah pun keluar kamar, dilihatnya Aruna yang sedang mencuci piring di dapur.“Sayang, aku sudah hampir gila menunggu mu,” ujar Akram menghampiri sang istri.
“Maaf aku cuci piring dulu,” Aruna beralasan.
“Apa harus selama itu?” protes Akram yang rasanya sudah menunggu Aruna hampir setengah jam di dalam kamar.
“Seb..” belum sempat Aruna melanjutkan ucapnya, Akram sudah mengedong tubuh mungilnya.“Akram, lepaskan aku, malu jika dilihat ibu,” pinta Aruna yang sedikit meronta.
“Kalau tidak begini , kamu pasti akan mencuci piring sampai pagi,” balas Akram yang tetap mengendong Aruna menuju arah kamar.
__ADS_1
“Kenapa?” Aruna mengerutkan keningnya saat tiba tiba langkah Akram terhenti di depan kamar.
“Apa kita lakukan di kamar ku saja? disana tidak akan berisik kan?” tanyanya, tak ingin lagi hubungan intimnya terganggu oleh suara gesekan ranjang.
“Aku rasa tetap sama, karena ranjangnya pun sama,”
“Sama?” Aruna mengangguk.“Biarlah, yang penting jauh dari kamar ibu,” Akram yang sempat bimbang pun segera berjalan menuju kamarnya, direbahkanya tubuh Aruna disana.
Suasana mendadak terasa menjadi sangat hening, kala dua pasang mata itu saling bertemu, Akram menyingkirkan sulur rambut yang sedikit menutupi wajah cantik sang istri. Entah siapa yang memulai bibir keduanya sudah menyatu, saling menyesap dengan lembut. Tangan Akram perlahan menelusup masuk kedalam piyama Aruna, mengusap kulit lembutnya, sedang bibir nakalnya kini sudah beralih ke ceruk leher Aruna, mengecupnya berulang kali.
Aruna memejemkan matanya, merasakan aliran darahnya yang mendadak memanas, Akram menarik pelan tangan Aruna agar duduk dipangkuanya.“Kamu cantik,” pujinya , saat sepasang mata mereka kemabli bertemu, Akram kembali mencium bibir ranum sang istri, dengan cepat jemarinya melepas piyama Aruna, melemparnya ke sembarang arah. Aruna tak dapat lagi menahan desahanya saat Akram menciumi dadanya dengan liar.“Mnajakan aku,” bisiknya sensual.
Dengan gerakan yang terbilang kaku Aruna mengerakan pinggulnya perlahan, membuat Akram mengerang nikmat, Aruna memeluk erat tubuh kekar itu, deru nafas yang semakin memburu membuat malam keduanya semakin terasa panas.
***
Keesokan harinya mereka pun pamit untuk kembali ke kota.“Kalian sudah pulang? enak ya liburan,” seru bu Risna menyambut kepulangan putra dan menatunya.
“Kami tidak liburan mah, aku nmengunjungi ibu Aruna di desa,” balas Akram.
“Mah !” Akram meninggikan suaranya, melihat kelakuan ibunya itu.
“Ya besok Aruna kasih mama uang, ayo sayang kita istirahat,” Aruna yang melihat wajah Akram yang mulai emosi pun segera meraih tanganya dan mengajaknya menuju kamar mereka.
“Kamu tidak usah menghiraukan permintaan ibu ku,” ujar Akram yang merasa kesal kerena ibunya seakan tidak pernah mengerti keadaanya saat ini.
“Tidak apa apa kok selagi aku ada rejeki itu tidak masalah, sudah jangan cemberut,” balas Aruna dengan senyum di bibirnya.
***
Hari itu Aruna kembali melakukan perkerjaanya seperti biasa, Aruna yang sedang merapihkan pakaian di tokonya sedikit merasa risih saat memergoki seorang pria tengah memandanginya sedari tadi.“Kenapa pria itu memandangi ku terus?” batinya.
“Permisi, bisa saya bicara sebentar dengan anda?” ujar pria itu yang tiba tiba menghampiri Aruna.
“Bicara? bicara apa?” Aruna tampak bingung dan merasa tak mengenal pria yang sudah berdiri di hadapanya itu.
__ADS_1
“Bagaimana jika kita diluar , kebetulan saya mengurus sebuah agensi majalah, saya rasa anda cocok menjadi model majalah, ini kartu nama saya,” jelas pria tersebut seraya memberikan kartu namanya pada Aruna.
“Model majalah?” Aruna tampat terkejut mendengarnya.
“Ya, sebaiknya kita bicarakan ini sana,” Pria itu menunjuk sebuah cafe disebrang toko pakaianya.“Saya tunggu sampai jam istirahat anda tiba,” lanjutnya yang langsung berlalu pergi. Aruna hanya dapat memandangi kartu nama yang dipegangnya dengan bimbang.
Sampai jam istirahat pun tiba, Aruna memutskan untuk menemui pria tersebut. Aruna bergegas menuju cafe, dilihatnya pria tersebut sudah menunggunya disana.“Silakan duduk,” ujarnya saat melihat kedatangan Aruna.
Dengan sedikit ragu Aruna pun duduk.“Jadi sepertinya saya sudah menjelaskan maksud saya, jika saya tertarik untuk mengajak anda berkerja di kantor agensi majalah saya sebagai model,” pria itu pun kemabali mengutarakan maksudnya.
“Model? tapi saya rasa perkerjaan itu tidak cocok untuk saya,” Aruna merasa tidak percaya diri, karena tak pernah sekalipun terbersit difikiraanya untuk berkerja sebagai model.
Pria itu tertawa kecil.“Tidak cocok bagaimana? saya rasa anda cantik,” pujinya.“Lagi pula ini hanya majalah fashion, oia ini surat kontraknya,” pria bernama Alex itu mengambil berkas dalam tasnya dan memberikanya pada Aruna.
Aruna pun menyisir dengan seksama isi dari berkas tersebut.“Benar segini bayaranya?” Aruna refleks membungkam mulut dengan tanganya, melihat kisaran uang yang akan diterimanya, yang jumlahnya bahkan dua kali lipat dari gajinya di toko pakaian.
“Ya, itu uang yang akan anda terima, besar bukan? bagimana anda tertarik?” Aruna hanya terdiam dengan wajah bimbang.“Baiklah jika anda masih ragu, anda bisa memikaranya dalam beberapa hari, setelah itu silakan hubungi saya,”
“Baiklah, saya akan bicarakan dengan suami saya dulu,” Aruna pun mengangguk setuju.
Malam itu Aruna hanya dapat melamun memegangi surat kontrak yang di terimanya, tak tau harus bagaimana menjelaskan tentang tawaran perkerjaan itu pada Akram.“Sayang,” panggil Akram yang baru selesai mandi, menghampiri Aruna yang tengah duduk di tepi ranjang.
“Sudah selesai mandinya? Aruna bergegas menyembunyikan surat kontrak itu di balik tubuhnya.
“Ya, ” Akram pun duduk disampingnya.
“Emm, bagaimana toko papamu?”
“Bagimana ya, aku rasa belum begitu baik,” keluh Akram tentang beberapa toko makanan yang di miliki papanya tapi usahanya itu memang meredup bahkan nyaris bengkrut walau Akram sudah membantu dengan menujual rumahnya .
“Bagaimana, jika aku cari perkerjaan lain?”
“Perkerjaan lain? perkerjaan apa?” Akram mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Tadi ada seorang pria yang menawari ku untuk menjadi model majalah,” jelas Aruna.
“Model majalah?” sontak saja ucapan Aruna itu membuat Akram terkejut.
__ADS_1
“Ya, bahkan ia memberikan ku surat kontraknya,” Aruna pun memberikan surat kontrak yang disembunyikan di balik tubuhnya, Akram semakin terkejut dengan beberapa lembar surat kontrak yang diterimanya.