Celebrity Husband

Celebrity Husband
Memberitahu yang sebenarnya


__ADS_3

Bab 40.


“Aruna, kamu sedang apa nak?” panggil ibu kembali seraya mengetuk pintu kamar berualng kali.


“Iya bu,” sahut Aruna yan refleks mendorong tubuh Akram.


Dengan cepat Akram menahan lengan Aruna yang hendak turun dari ranjang.“Aruna, kau tega menggantung nasibku lagi?” tanyanya dengan wajah memelas.


Aruna tampak bingung sedang suara ketukan dan panggilan ibu terus saja terdengar.“Aku buka pintu dulu ya sebentar, kamu sembunyi dulu di balik pintu,” pinta Aruna dengan wajah paniknya.


“Sembunyi?” Akram tak menyangkan Aruna tega menyuruhnya di balik pintu di saat hasratnya belumlah tuntas.


“Iya nanti ibu bisa curiga, kita perlu menjelaskanya baik baik tidak seperti ini,” bujuk Aruna menarik tangan Akram turun dari ranjang, menyembunyikanya di balik pintu kamar.“Iya, bu,” Aruna pun bergegas membuka pintu.


“Kamu lagi apa sih nak? kok lama banget buka pintunya?” tanya ibu dengan nada curiga.


“Aku tadi sedang ganti baju bu,” jawab Aruna berusaha tenang, menutupi keteganganya.


“Oh begitu,” ibu sedikit melirik kedalam kamar Aruna.“Nak, bisa pijat ibu sebentar enggak?” pinta ibu kemudian.


“Ibu sakit?” Aruna menatap khawatir.


“Tidak, hanya sedikit pegal saja, lagi pula sebentar lagi pagi kita ke pasar setelah ini, pijat ibu dulu ya,”


“I..iya bu,” balas Aruna sedikit ragu, memikirkan nasib Akram yang masih menggantung, Aruna pun segera menuju kamar sang ibu.


Sedang Akram yang sedari tadi menguping di balik pintu hanya bisa mengehela nafas gusar, lagi lagi Aruna membuat dirinya tersiksa.“Dia benar benar kejam,” gumamnya, merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap nelangsa langit langit kamar yang tampak rapuh.


Seleasai memijat ibunya Aruna pun keluar kamar.“Akram?” gumamnya, melihat Akram yang sudah duduk ruang tengah rumahnya.“Ka-kamu sudah bangun?” ujar Aruna menghampiri dengan perasaan bersalah, jelas ia yang memancing Akram untuk bermesraan tapi ia juga yang akhirnya meninggalkan suaminya di tengah tengah permainan.“Maafkan aku,” Aruna sedikit menunduk melihat wajah Akram yang tampak jengkel.


“Aku akan mengatakanya pada ibu,”


“Mengatakan pada ibu? sekarang?” jelas terlihat wajah Aruna yang masih belum siap.


”Ya, sekarang aku tidak mau lagi menunggu lama.” tegas Akram.

__ADS_1


“Nak Akram,” uajr ibu dari arah belakang yang sontak saja membuat keduanya terpenjat kaget.


“Ibu.. ibu sudah bangun?” Aruna mencoba berbasa basi, takut ibu menguping pembicaraanya tadi.


“Sudah, Aruna cepat siapkan sarapan, nak Akram mau ikut ke pasar?”


“Iya saya ikut, ada yang ingin saya bicarakan pada ibu,” Akram berdiri dari duduknya .


“Bicarakan?” ibu mengerutkan keningnya, melihat wajah Akram yang tampak serius.


***


“Di makan bu,” Aruna mengambilkan nasi dan lauk untuk ibu, mata ekornya melirik Akram yang sepertinya sudah sangat siap untuk mengatakan semuanya.


“Mau bicara apa nak?” ibu menyeruput teh hangat yang masih mengeluarkan asap tipis dicangkirnya.


“Aku ingin mengatakan jika..”


“Ibu, apa..” sela Aruna cepat.


“Aruna, biarkan nak Akram bicara,” ibu menatap wajah Akram dengan serius ia yakin ada hal penting yang akan di bicarakan pria muda dihadapanya itu. Aruna hanya dapat menunduk , Aruna takut jika ibunya itu akan kecewa padanya karena telah lama menyembunyikan tentang pernikahanya, padahal ibunya dulu selalu berucap dirinya tak sabar melihat Aruna bersanding dengan pria yang mencintainya.


“Aku sudah menikah dengan Aruna, maaf aku baru megatakanya,” ujar Akram.


Hening.


Tak ada jawaban dari sang ibu, mendadak admosfir ruangan menjadi tegang.“Ibu maafkan aku, aku baru mengatakan hal ini..” lirih Aruna, meraih tangan sang ibu, menciumnya.


“Kenapa kamu baru memberitahukanya nak?” ibu menatap nanar Aruna penuh tanda tanya, suranya terdengar lirih membuat Aruna semakin merasa bersalah.


“Aku..”


“Aku yang menyuruhnya, karena perkerjaan ku di kota membuat aku memilih untuk Aruna tidak memberitahukan siapa pun, maafkan aku,” sela Akram, walaupun ia tak sepenuhnya jujur mengatakan pernikahan itu terjadi karena ia telah menodai Aruna, takut jika ibu Aruna justru akan membencinya.


“Ibu senang mendnegarnya,” ujar Ibu kemudian yang sontak saja membuat Aruna mendongkakan wajahnya tak percaya.

__ADS_1


”Ibu tidak marah?” tanya Aruna masih dengan nada tak percaya.


“Untuk apa ibu marah, bukankah seharusnya ibu senang putri ibu sudah menikah dnegan pria yang baik, walaupun ibu tak dapat menyaksikan pernikahan kalian,” ibu mengusap lembut punggung tangan Aruna dengan seulas senyum di bibirnya. Membuat Aruna dan Akram menghela nafas lega mendengarnya.


“Aruna sekarang sedang mengandung, ibu akan segera punya cucu,” tambah Akram.


“Benar nak kamu sednag mengandung?” mata wanita paruh baya itu berbinar senang mendengar kabar tersebut. Aruna pun mengangguk pelan.“Syukurlah, kamu harus jaga baik baik ya kandungan mu, pasti usia janinya masih muda kan?” pesan ibu seraya mengelus perut Aruna yang belum terlihat membuncit.


“Iya bu, Aruna pasti akan menjaganya,” Aruna tersenyum sumringah melihat sang ibu yang begitu antusias pada kehamilanya.


“Yasudah kalau begitu biar kamu enggak usah ke pasar ya, kamu istirahat saja,”


“Tidak bu, Aruna tetap ingin ke pasar lagi pula kan Akram juga ikut,” tolak halus Aruna yang bersikuku ingin membantu sang ibu.


“Ya sudah kalu begitu, kalau sudah merasa lelah langsung pulang saja ya,” balas ibu yang mendapat anggukan dari sang putri.


Mereka pun bergegas ke pasar pagi itu, dengan cekatan Akram segera merapihkan dengangan mereka di pasar sedang Aruna hanya duduk manis melihatnya, semakin siang suasana pasar pun semakin ramai, terlihat Akram yang begitu bersemangat menawarkan sayuran yang di jualnya, suara lantang dan paras tampanya pun seperti magnet yang langsung menarik pembeli terutama gadis desa di sana tampak antusias.


“Wah, kalau mas nya jualan di sini terus sih saya pasti kepasar terus,” goda seorang wanita dengan gaya centilnya. Aruna yang mendengar suara suaran centil yang menggoda suaminya itu pun mengucrutkan bibirnya. Ia pu segera berdiri dari duduknya.


“Suamiku,” panggilnya manja, seraya mengahmpiri Akram.


“Suami? mana suami mu Aruna?” tanya seorang wanita, dan tampak beberapa gadis yang mengerumuni lapak tersebut celingukan mencari sosok suami yang di maksud Aruna.


“Kalian tidak melihat? ini suami ku,” tanpa ragu Aruna melingkarkan tanganya di lengan Akram.


Perkataan Aruna justru di respon tawa dari para wanita disana.“Jangan bercanda Aruna, ibumu bilang pria ini itu majikan mu di kota dia hanya sedang membantu mu disini,” cibir wanita di sana.


“Benar Aruna, jangan bersikap tidak sopan seperti itu pada majikanmu,” timpal yang lain.


Aruna sedikit mencengkram lengan Akram yang masih di pegangnya, menadadakan dirinya cukup geram.“Dia memang istri saya, dan dia sedang mengandung, kami baru menikah,” ujar Akram yang membuat para wanita di sana tampak tercengang mendnegarnya.“Sayang, kamu tidak boleh emosi, tidak baik untuk kandunganmu,” Akram mengelus lembut perut Aruna.


“Iya sayang,” Aruna tersenyum, menyandarkan manja kepaalnya di bahu Akram, yang membuat para wanita di sana tampak bedecih kesal , mereka pun meletakan kembali sayuran yang hendak di belinya dan pergi dengan mengerutu kesal.


“Terima kasih ya, sudah mengerti aku,” Aruna tersenyum puas sudah menyingkarkan para wanita centil itu meski lapaknya mendadak sepi kembali.

__ADS_1


“Aku tunggu balasan untuk ku di kamar malam ini, atau kita pulang saja sekarang, ibu pasti akan mengerti.” goda Akranm berbisik, sedikit menggigit nakal daun telinga Aruna yang memerah, membuat wajah cantik itu tampak merona, menyadari jika hasrat Akram masihlah belum mereda.


__ADS_2