
Bab 13.
“Aruna,” Arga bergegas keluar dari mobilnya, mengejar langkah kaki Aruna.“Aku akan mengantarmu pulang,” uacapnya. Menahan lengan Aruna.
“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri,”
“Aku tidak akan membahas tentang pernikahan atau kehamilanmu, aku hanya ingin memastikan kau pulang dengan selamat,” balas Arga. Aruna akhirnya pun menurut dan membiarkan Arga mengantarnya pulang. Sepanjang perjalan Arga hanya terdiam, Aruna pun tak berani memulai percakapan, ia tau saat ini Arga sangat terluka karenanya.
“Terima kasih,”Aruna bergegas keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya.
Suara tepukan tangan terdengar nyaring, menyambut kepulanganya.“Bagus, bagus, kelakuanmu sangat bagus sekali hari ini,” suara lantang itu refleks membuat Aruna menoleh, terlihat Akranm yang sudah ada dirumah, berjalan kearahnya dengan tatapan sinis.“Katakan padaku, apa dia kekasihmu?!” Akram mecengkram kasar dagu Aruna.
Aruna segera menepis tangan kasar itu.“Bukan, dia hanya temanku,” bantah Aruna yang langsung mempercepat langkah kakinya menuju kamar tamu tempatnya tidur. Akram tak tinggal diam dengan emosi memuncak ia pun menuju kamar tamu.“Aruna, buka pintunya aku belum selesai bicara!” seru Akram mengetuk pintu kamar itu berulang kali.
Aruna bergeming, mengunci pintu kamarnya , ia duduk disudut ranjang, menutup telinga dengan kedua tanganya, berusaha tak mendnegar umpatan umpatan yang terus dilontarkan dari luar kamar.“Aruna, buka pintunya , atau aku akan mendobraknya!” suara Akram semakin terdengar lantang penuh emosi. Aruna tetap tak menghiraukanya.
BRAAKK!!
Akram mendobrak pintu tersebut dengan sekuat tenaga, ancamnya ternyata tak main main, pintu kayu itu pun ambruk dengan sekejap. Aruna terlonjak kaget, wajahnya memucat takut, melihat Akram yang terlihat sangat murka padanya.“Dasar peremuan jalang!” lagi lagi Akram mengucapkan umpatanya. Akram menarik kasar tubuh Aruna mendekat ketubuhnya.“Apa saja yang sudah kau lakukan padanya, sampai setiap waktu kau berani bertemu denganya?!” tuduh Akram dengan tatapan menyeringai.
Aruna menggeleng pelan.“Aku tak melakukan apapun,” bantah Aruna.
__ADS_1
“Jangan berbohong!” Akram mencengkram bahu Aruna lebih kuat, Aruna meringis merasakan rasa perih, mungkin saat ini bahunya sudah memerah karena suaminya itu.
“Berhentilah menuduhku, apa kau fikir kau lebih baik, kau saja berjalan dengan wanita lain diluar sana, bahkan seluruh orang tau kau kekasih gadis itu!” seru Aruna mendongkakan wajahnya, mencoba menatap wajah angkuh itu.
Akram tersentak ia tak menyangka jika wanita dihadapanya itu justru seakan menantangnya bukan meminta maaf seperti fikiranya.“Berani sekali kau bicara seperti itu!” spontan Akram mengayunkan tanganya hendak menampar pipi mulus itu.
“Aku hamil,” ucap Aruna memalingkan wajahnya dengan mata terpejam saat Akram hendak menamparnya.
Ucapan Aruna sontak saja membuat Akram mengehentikan gerakan tanganya.“Apa? hamil?” Akran justru tertawa.“Jangan bercanda kamu,” itu terdengar seperti lelucon untuknya.
“Aku tidak bercanda,” Aruna mengeluarkan sesuatu dari tasnya.“Ini,” memberikanya pada Akram.
Akram tertengun. Ia mengusap kasar wajahnya.“Apa kau fikir aku akan begitu saja memepercayainya?” ia tersenyum kecut.
“Apa maksdmu?” Aruna tak mengerti dengan ucapan pria dihadapanya itu, Aruna sebenarnya berharap berita kehamilanya mungkin bisa merubah Akram untuk lebih bersikap lembut padanya.
“Bisa saja kan, janin ini adalah janin mu bersama pria itu,” ujar Akram dengan entengnya.
Aruna menggelengkan kepalnya tak percaya, ternyata seperti itu respon Akram ia justru tak mengakui janinya sendiri.“Aku hanya melakukan itu padamu, ini janinmu!” seru Aruna dengan mata yang mulai berembun.
“Baiklah, aku akan tes DNA akan membuktikan itu,”
__ADS_1
“Apa? tes DNA?” Aruna tak habis fikir ucapan konyol apa lagi yang ada dalam kepalanya.
“Iya, aku ingin memastikanya,” ujar Akram yang langsung berlalu pergi menuju kamarnya.
Aruna duduk terkulai lemas di sudut ranjang, cairan bening dipelupuk matanya tak sanggup lagi dibendungnya, ia benar benar tak menyangka jika suaminya tak mengakui janinya sendiri, Aruna saat ini merasa sangat tak berarti dimata suaminya itu. Tak lama Aruna terpenjat saat suara ponsel membuyarkan lamunanya.
[Halo ibu,] Aruna bergegas meneyeka air matanya.
[Halo nak, kamu sehat? kenapa sudah beberapa hari tak menelepon ibu?] terdengar nada khawatir dari balik telepon.
[Maaf bu, Aruna agak sibuk.]
[Oh begitu, nak apa perkerjaanmu baik baik saja dikota?] Aruna tertengun, sekuat tenaga ia menahan air matanya, ia tak bisa membayangkan wajah sedih ibunya jika tau apa yang sudah terjadi padanya dikota.
[Baik bu, perkerjaan Aruna baik baik saja,] balas Aruna dengan suara bergetar.
[Nak apa kamu tidak bisa meminta libur dan pulang kekampung untuk beberapa hari? ibu kangen,] pinta sang ibu dengan suara lembutnya.
[Aruna aku akan pulang bu, akan pulang,] balas Aruna tanpa ragu.
[Syukurlah, ibu tunggu dirumah, jaga kesehatan mu,] pesan ibu menutup teleponya. Aruna termenung rasanya sudah tak ada gunanya dirinya berada dirumah ini, ia tak pernah mengerti seperti apa dirinya dimata Akram yang bahkan seperti tak mennghargai dan menganggap kehadiranya.
__ADS_1