
Bab 45.
2 Minggu kemudian.
“Maaf untuk sementara kita tinggal disini dulu,” ujar Akram yang telah menjual rumah besar miliknya untuk membayar sisa uang yang kurang.
“Disini kita akan tinggal?” ibu Risna memutar pandanganya pada rumah diperkampungan bukan lagi dikompleks perumahan mewah, rumah berukuran 60 meter persegi itu tampak kecil, tampak pondasinya yang sudah sedikit rapuh dimakan usia, jauh berbeda dengan rumanhnya yang mewah itu.“Tidak tidak mama tidak mau tinggalk disini,” tolak ibu Risna mentah mentah rumahnya saat ini mengingatkan masa susahnya dulu sebelum Akram menjadi aktor dan dirinya harus banting tulang menjadi buruh cuci, semua seperti terulang saat ini.
“Lalu kamu mau tinggal dimana, sudah ayo kita masuk,” balas pak Setya pada istrinya itu yang seperti tak juga menerima keadaan, mereka pun masuk dalam rumah meninggalkan ibu Risna yang berdecak kesal.
Malam hari Aruna yang tak juga bisa memejamkan matanya keluar dari kamar.“Mama belum tidur?” tanya Aruna yang melihat mertuanya itu tengah duduk diruang tengah padahal jam sudah menunjukan pukul 11 malam.
“Bagaimana mama bisa tidur, disini tidak ada AC, panas,” balasnya ketus seraya mengibasakan tanganya berulang kali.“Ini semua gara gara kamu, kamu itu selalu saja membuat masalah,” dengan wajah masamnya ibu Risna kembali menyalahkan Aruna. Ucapan ibu Risna membuat Aruna hanya dapat tertunduk dan kembali merasa bersalah.
“Mah, harus berapa kali aku katakan jangan meyalahkan Aruna!” sentak Akram dengan suara lantangnya yang lansung keluar dari dalam kamar.
“Lalu mama harus bagaimana? mama harus memujinya, begitu?” sahut ibu Risna tak mau kalah.
“Kalau mama masih saja menyalahkan Aruna, Aku akan mengajak mama pindah kerumah yang lebih kecil,” ancam Akram yang sudah tersulut emosi.
“Dia itu benar benar meracuni mu ya? bisa bisanya kamu melawan mama sekarang?”
“Sudah sudah, Aruna lebih baik kamu masuk kekamar, tidak baik untuk kandunganmu jika mendegar ocehan dari mertuamu yang tidak bijak ini,” Pak Setya yang mendengar keributan pun segara keluar dari dalam kamar dan menengahi.
“Kita masuk saja sayang.” Akram meraih tangan Aruna dan mengajak Aruna masuk kekamar dari pada harus meladeni ocehan mamanya yang tidak ada habisnya.“Sudah jangan fikirkan perkataanya, itu tidak bagus untuk kandunganmu,”ucapnya seraya mengelus pelan perut sang istri.
Dengan mata yang sudah berkaca kaca Aruna pun mengangguk pelan, yang bisa ia lakukan saat ini hanya berusaha bersabar dengan seikap ibu Risna yang selalu memojokanya.“Aku sayang kamu.” Akram mencium kening dan perut Aruna yang mulai membuncit.
“Aku juga sayang kamu.” balas Aruna dengan senyum mengembang dibibirnya.
***
Setelah mendapatkan uang dari hasil menjual mobil Akram pun segera menghubungi Arga untuk mengajaknya bertemu, Arga setuju dan langsung menetukan lokasi dimana mereka akan bertemu.”Kamu mau kemana?” tanya Aruna yang barusaja keluar dari kamar mandi melihat Akram yang sedang bercermin dan sudah berpakaian rapih.
“Ada urusan sebentar,” balas Akram datar.
“Apa kamu akan menemui Arga?” ujar Aruna dengan nada curiga.
__ADS_1
Akram berbalik badan, menatap Aruna yang sudah berdiri dibelakang tubuhnya.“Ya, aku akan memberikan uang yang ia pinta, kamu tunggulah disini,” Akram mencium lembut kening Aruna.
“Aku ikut,” pinta Aruna, menahan lengan Akram yang hendak melangkah pergi.
“Tidak usah, aku hanya sebentar,” tolak halus Akram.
“Aku ingin menemanimu,” Aruna merengek, ia merasa khawatir jika membiarkan dua pria itu saling bertemu, terlebih Arga yang selalu sukses membuat Akram tersulut emosi.
“Yasudah kamu boleh ikut.” Akram yang tak bisa melihat wajah Aruna yang mengiba akhirnya menginjikan Aruna ikut bersamanya. Aruna tersenyum yang langsung melingkarkan sebelah tanganya dilengan Akram dan berjalan keluar rumah.
Dengan mengendarai sepeda motor mereka pun menuju sebuah cefe yang telah ditentukan Arga, tak berapa lama mereka sampai tampak Arga yang sudah menunggu disana dengan tenang. Arga dan Aruna pun langsung duduk bersama.“Ini uang yang kau pinta,” Akram yang tak ingin berbasa basi pun segera memberikan amplop coklat yang berisi semjulah uang sesuai dengan permintaan Arga.
Arga tersenyum kecut.“Apa ini dari hasil menjual mobilmu?” cibir Arga yang melihat dari kejauhan Akram tak lagi mengunakan mobil dan justru terlihat mengendarai sepeda motor.
“Itu bukan urusanmu,” ketus Akram.“Setelah ini berhentilah menganggu istriku lagi,” Akram memperingati dan langsung berdiri dari duduknya, ia tak ingin berlama lama melihat wajah pria yang memuakan itu.
“Sampai kapanpun kau tak akan bisa membahagiakanya,” balasa Arga dengan wajah menyebalkanya, ia seakan tak bosan mengolok olok keadaan Akram saat ini.
BYUUURR!!
Aruana yang juga berdiri dari kursinya tanpa ragu menyiram segelas ice coffe yang sedang dinikmati Arga.“Berhentilah merendahkan suamiku, aku merasa sangat bahagia denganya, dan jangan perhah berfikir sedikitpun jika aku akan mencintaimu.” tegas Aruna dengan penuh emosi, rasanya ia ingin terus memaki pria dihadapnya itu yang telah membuat hidupnya dan Akram semakin sulit. Aruna segera meraih tangan Akram dan mengajaknya keluar.
“Aku tak percaya kamu bisa melakukan hal itu padanya,” balas Akram masih dengan wajah tak percaya.
“Pria itu pantas diperlakukan seperti itu, dia menyebalkan sekali,” gerutu Aruna.
Akram tersenyum.“Terima kasih ya,” mengusap lembut pucuk kepala Aruana, ia tak dapat menutupi rasa senangnya Aruna membelanya seperti itu. Akram pun segera menyelahkan mesin motornya, namun beberapa kali dinyalahkan motor itu tetap tak menyaalah.“Kenapa sih, sebentar ya,” Akram pun tetap berusaha menyalhkan mesin motornya. Sampai tak beberapa lama mesin motornya kembali menyalah.“Akhirnya hidup juga, ayo naik,” ucapnya seraya tersenyum lega, Aruna tak menjawab ajakanya, Akram melihat Aruna yang tampak memperhatikan sebuah restoran jepang di dekat meraka.
“Sayang, kamu mau makan disana?” tanya Akram yang meliahat Aruna masih memperhatikan orang orang yang makan disana seraya mengelus pelan perutnya.
“Sayang?” penggil Akram kembali.
“Oh, enggak kok, untuk apa makan disana,” balas Aruna yang tampak sedikit kaget.“Ayo kita pulang,” ajak Aruna kemudian. Sepanjang perjalanan Akram terus memikirkan Aruna yang sepertinya mengidam makan disana tapi tak mengatakan yang sebenarnya, mungkin Aruna tau harga makanan direstoran disana cukup mahal dan takut membankan Akram sedang Akram memang sedang tidak mempunyai uang untuk sekedar membeli makanan di restoran tersebut.
“Astaga, aku benar benar payah, aku tidak bisa mengabulkan permintaan istriku yang sedang mengidam.” batin Akram mengusap kasar wajahnya dan terus merutuki dirinya sendiri maalm itu.
***
__ADS_1
Keesokan harinya Akram mencoba mendatangi restoran Jepang itu kembali, langkah kakinya perlahan masuk kedalam restoran yang tampak sedang ramai pengunjung malam itu.“Selamat malam, mari saya antarkan ke meja yang sedang kosong,” sapa ramah seorang pelayan wanita disana yang langsung mengantarkan Akram pada meja yang sedang kosong lalu menwarkan beberapa menu padanya.
“Saya tidak ingin makan,” ucapan Akram sontak membuat pelayan wanita itu mengerutkan keningnya tak mengerti. Akram pun melepaskan topi dan masker yang sedari tadi menutupi wajahnya.“Boleh aku membantu perkerjaan disini dan menukarnya dengan makanan disini?”
“Anda? bukankah anda aktor itu?” ujar pelayan wanita itu tak percaya, melihat wajah Akram yang dulu sangat familiyar di televisi.
Beruntung malam itu suasana restoran sedang ramai, Akram pun diperbolehkan membantu mengantar makanan dan mencuci piring disana, walau samar tedengar beberapa pelayan bergunjing tentangnya ia berusaha menutup telinganya rapat rapat.“Ini untuknmu,” seorang meneger restoran memberikan beberapa makanan untuk Akram.
“Terima kasih,” dengan mata berbinar ia menerima makanan tersebut yang rasanya seperti mendapatkan harta karun.
“Dan ini untukmu,” pria itu memberikan sejumlah uang pada Akram.
“Tidak usah tadi aku hanya meminta makanan,” tolak Akram.
“Tidak apa apa, ambilah, perkerjaanmu bagus lain kali aku akan memnghubungimu lagi jika restoran ini sedang ramai,” pria itu meberikan uang pada Akram serta tawaranya.
“Benarkah, aku selalu siap membantu disini, terima kasih.” ujar Akram yang tentu saja senang mendengar tawaran itu setidaknya ia bisa selalu membawakan makanan enak untuk Aruna, Akram pun bergegas pulang setelahnya.
Pukul 10 malam Akram tiba dirumah, ia segera membuaka pintu dengan kunci cadangan yang dibawanya.“Sayang,” panggil Akram menyibakan rambut Aruna yang ternyata sudah terlelap dikamar.
Aruna yang terbangun segera beringsut, melebarkan matanya melihat Akram yang sudah duduk diranjang.“Kok malam banget pulangnya?” Aruna duduk diranjang, dengan mata yang masih menyipit.
“Aku bawa ini,” Akram menunjukan beberapa box makanan yang sedari tadi disembunyikan di balik tubuhnya.
“Apa ini?”
“Buka saja,” dengan penuh semangat Aruna membuaka box makanan tersebut.
“Ini?” matanya spontan melebar melihat banyak makanan Jepang yang telihat begitu lezat dengan aroma yang khas.
“Iya, kamu mau ini kan? makanlah,”
“Terima kasih ya,” dengan senyum sumringah Aruna pun segera menyantap makanana tersebut yang memang dari kemarin diinginkanya.
“Kenapa? tidak enak?” Akram melihat Aruna yang tiba tiba berhenti mengunyah.
“Dari mana kamu dapat makanan ini?” Aruna mentap curiga ia tau makanan tersebut pastilah mahal harganya.
__ADS_1
“Tentu saja aku membelinya, aku masih ada sedikit uang, sudah habisakan.” balas Akram berbohong, Aruna dengan wajah senangnya pun kembali menyantap lahap makanan tersebut, Akram tersenyum lega yang akhirnya bisa memenuhi keinginan sederhana istrinya itu.