
Bab 61.
Akram melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, suara rintihan dan isak tangis Aruna semakin membuatnya panik.“Sakit mah, sakit,” rintih Aruna meremas telapak tangan ibu Risna yang duduk disebalahnya.
“Akram, cepat nak, kasihan Aruna.. cepat,” titah bu Risna yang juga tampak panik, membuat kepanikan Akram bertambah. Tak berapa lama Akram tiba dirumah sakit, petugas medis segera menangani dan membawa Aruna keruang bersalin.“Maaf bu, hanya suamiya yang boleh menemaninya,” cegah seorang perawat saat bu Risna hendak masuk kedalam ruang bersalin.
“Aruna, semoga saja menantu dan cucuku baik baik saja,” gumam bu Risma meremas tanganya gelisah, ia hanya bisa menunggu diluar ruangan bersama pak Setya dengan cemas.
Di dalam ruangan bersalin tampak Aruna yang terus meringis, mencengkaram bahkan memukul lengan Akram tanpa sadar.“Sakit, sakit sekali,” Aruna menangis sejadi saji merasakan sakit yang tak bisa digambarkanya.
“Tahan sayang, kamu pasti kuat,” Akram megusap dan mencium Aruna berulang kali.“Dokter, istri saya sepertinya sudah sangat kesakitan, apa tidak bisa dilakukan operasi secar saja?” pinta Akram yang tak tega melihat Aruna tampak tersiksa.
“Tidak pak, istri bapak pasti bisa melahirkan secara normal,” jelas seorang dokter wanita yang terlihat tenang.“Tarik nafas dan mengejan sekuat kuatnya ya bu,” dokter itu memberikan intruksi.
Aruna menurut, mecoba menarik nafas dalam dan menghembuskanya secara perlahan, lalu mengejan sekuat kuatnya.“Arrrrrrrgggghh,” desis Aruna meneglurkans seluruh tenangnya, beberapa kali ia mengejan janini dikandunganya tak juga keluar.
“Terus bu, sedikit lagi,” titah sang dokter.
Aruna terbaring lemas nafasnya terengah engah tak beraturan, rasnya tenaganya sudah habis.“Ayo sayang, kamu pasti kuat,” Akram meremas lembut telapak tangan Aruna, memberi semangat. Dengan sisa tenaganya Aruna kembali mencoba menarik nafas dan mengejan kembali.
“Aaarrggghh,” Aruna mengehbusakan nafas panjang beriringan dengan suara tangisan bayi yang terdengar nyaring, membuat semua orang yang berada diruangan tersebut tersenyum lega.
“Selamat yang bu, bayinya perempuan cantik dan sempurna,” ujar sang dokter dengan ramahnya meletakan bayi mungil tersebut didada Aruna. Akram dan Aruna mencium haru wajah bayi mungil tersebut.
“Dia sangat cantik sepertimu,” puji Akram dengan senyum merekah melihat paras cantik bayinya. Aruna tersenyum lega, perjuanganya melahirkan berbuah manis dengan kehadiran bayi perempuan yang mengemaskan. Seorang perawat pun segera membawa bayi itu untuk dibersihkan dan meminta Akram untuk mengadzaninya.
“Aruna, selamat ya kamu sudah jadi ibu,” seru bu Risna yang langsung masuk keruang inap begitu Aruna dipindahkan.
“Aruna mana cucu papa?” pak Setya yang antusias memutar pandanganya mencari keberadaan cucu pertamanya.
“Sedang dibersihkan pah,” sahut Akram.
Tak lama pintu ruangan VVIP itu tampak terbuka.“Itu pasti cucu oma, sini sini saya gendong,” bu Risna dengan antusias segera mengahmpiri seorang perawat yang baru masuk keruangan tersebut, mengambil bayi mungil yangs sedang digendongnya.“Cucu oma cantik sekali,” bu Risna dengan wajah berbinar terlihat sangat bahagia memandangi wajah cucu pertamanya.
“Benar, dia sangat cantik seperti ibunya,” puji pak Setya yang juga terlihat bahagia.
__ADS_1
“Ini, cepat berikan asi pertamamu,” bu Risna mengahampiri Aruna memintanya untuk segera menyusui bayinya. Aruna tersenyum meliahat bayi mungil itu menyusu digendonganya, ia megusap lembut rambut lebat bayinya.
“Aruna, siapa namanya?” tanya bu Risna.
Aruna melirik Akram yang berdiri disisinya.“Kamu saja yang memberi nama,” ujar Akram yang yakin pasti Aruna sudah menyiapkan nama yang cantik untuk bayinya.
“Nama Zealin, baby Zea,” ujar Aruna seraya tersenyum.
“Zea? nama yang cantik, mama tidak sabar membawa pulang cucu oma yang cantik ini.” ujar bu Riasna dengan wajah bahagianya. Aruna tersenyum sumringah melihat keluarga Akram yang tampak bahagia dengan kelahiran putri pertamanya.
***
Ditempat berbeda Hellena perlahan melebarkan kedua bola matanya, terlihat sinar matahari yang masuk dari celah celah jendela apartemenya. Hellena mengendus endus indra penciumanya yang mengirup aroma masakan dari arah dapur. Hellena beringsut, turun dari ranjang berjalan kearah dapur.“Kamu?” Hellena terkejut melihat seorang pria yang tengah sibuk memasak di dapur, ia dapat mengenali pria dengan bahu kekar dan tinggi badan 170cm itu. Arga.
“Kau sudah bagun?” Arga membalikan tubuhnya, meletakan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dimeja makan.“Maaf, aku hanya bisa masak ini,” lanjutnya.
Hellena tertegun, ia memijat pelan pelipisnya mencoba mengingat apa yang terjadi sebulumnya.“Keluarlah,” lirih Hellena kemudian, samr teringat dibenaknya saat dia berteriak meminta obat haram itu pada Arga.
Arga berjalan menghampiri.“Kau mengusirku?”
“Ya, aku mohon keluarlah,” tegas Hellena dengan sedikit tertunduk rasanya saat ini ia terlalu malu menatap Arga, semua keburukanya sudah terbuka.
Denga cepat Hellena menepisnya.“Keluarlah!” teriaknya.
“Kau ini kenapa?” Arga menatap tak mengerti.
“Berhentilah menemuiku, berhentilah perduli padaku,” ujar Hellena dengan suara bergetar, ia tak ingin Arga mencampuri lagi hidupnya yang sangat kotor dan berantakan.
“Aku akan tetap mengusik hidupmu,” balasnya seraya tersenyum kecut.
“Keluarlah,” Hellena mendorong kasar tubuh Arga keluar dari apartemenya. Ia mengunci pintu, tak perduli dengan Arga yang berulang kali mengedor pintu seraya meamanggil namanya. Hellena duduk terkulai dilantai, air matanya perlahan terjatuh.“Maafkan aku berhentilah perduli padaku.” lirihnya, ia tak mengerti maksud Arga dengan semua perhatian yang diberikanya, tapi Hellena merasa tak pantas mendapatkan semua itu, dirinya tak lebih dari wanita kotor.
***
Malam itu Hellena kembali melakukan perkrjaanya sebagai pelayan disebuah klub malam. Hellena hendak mengantarkan nampan yang berisi pesanan penggunjung disana, tapi tiba tiba ada yang merebut dengan kasar nampann yang dipegangnya.“Arga?” Hellena tercengang melihat Arga yang kembali ada dipandanganya.“Kembalikan,” pintanya meminta nampan tersebut.
__ADS_1
“Aku yang akan mengantarkanya,”
“Berhentilah mengangguku, aku sedang berkerja!” tegas Hellena yang sudah cukup gemas dengan tingkah Arga.
“Kau akan mengantrkan pesanan ini dan mereka akan memintamu untuk menemaninya lalu menyentuhmu, kau suka seperti itu?” Arga menujuk beberapa pria yang sudah memperhatikan Hellena dengan tatapan nakalnya.
“Ini resiko perkerjaanku,” Arga segera mengantrkan pesanan tersebut.“Berhentilah mengganggu ku!” seru Hellena yang mulai terpancing emosi.
Arga menarik kasar tangan gadis itu kesebuah lorong disana.“Berhentilah melakuakan perkerjaan seperti ini, berkrjalah dikantorku,” pintanya.
“Berhentilah perduli padaku, kerjasama kita sudah berakhir tak ada alasan lagi untuk kamu perduli dengan kehidupanku,” jelas Hellena yang hendak membalikan tubuhnya untuk pergi namun Arga kembali menarik lengan gadis itu, meraih tengkuknya dan mencimnya tanpa permisi. Mata bulat Hellena melebar terkejut, merasakan bibir Arga yang menciumnya dengan kasar, menyesapya dengan sedikit memaksa.“Hentikan,” ucapnya mendorong tubuh Arga. Jantungnya berdegup tak karuan ia tak mengerti mengapa Arga tiba tiba menciumnya.
“Aku mencintaimu,” Arga menatap Hellena yang masih tampak bingung.
Hellean tertegun, rasanya tak percaya Arga mengatakan itu.“Aku, aku tak pantas untukmu,” lirihnya kemudian, Hellena yakin Arga pria baik baik dia layak mendapatkan wanita yang lebih baik darinya.
“Lalu wanita seperti apa yang pantas untuk ku?”
“Aku harus kembali berkerja,” Hellena melepaskan tangan Arga yang masih mengenggamnya dan berlalu pergi.
Hellena masih tampak bingung, ia mengusap bibir lembabnya yang barusan dikecup Arga.“Antarkan ini,” titah seorang bartender membuyarkan lamunanya, menunjuk seorang pria yang tengah duduk sendiri disofa. Arga.
“Astaga, dia masih belum pergi,” gumam Hellena.
Hellena pun mengantarkan pesanan Arga kemejanya, menaruh sebotol wine disana.“Ini pesananya,” ujar Hellena hendak pergi namun Arga lagi lagi menarik pergelangan tanganya hingga dirinya tertduduk disofa.
“Sudah kukatakan aku harus kerja!” geram Hellena.
“Aku sudah meminta mu untuk menemaniku,” bisik Arga, mengecup teliga Hellena sekilas.
Hellena gugup, terlebih saat Arga meraih tanganya, meremasnya lembut, sebelah tanganya mengusap punggung Hellena yang terbuka. Hellena memejamkan matanya, sentuhan Arga membuatnya berdesir. Arga melepaskan tanganya yang semula mengenggam tangan Hellena beralirh mengusap paha mulus dihadpanaya yang hanya mengenakan hotpents ketat.
Hellena menepis kasar tangan Arga dari pahanya.“Kau sama saja dengan mereka,” lirih Hellena kecewa, kini Arga mulai berani menyentuhnya.
“Ya, lebih baik aku yang menyentuhmu dari pada pria lain, aku akan terus datang kesini, memintamu untuk menemniku setiap malam disini, jika kamu tetap memilih berkerja disini,” ujar Arga meraih dagu Hellena agar menatapnya.“Berkerjalah dikantorku, agar tak ada lagi yang menyentumu,” Arga menatap intes mata teduh itu.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan berkerja dikantormu.” balas Hellena yang akhirnya mengiyakan permintaan Arga, ia yakin Arga akan terus menganggunya jika dirinya tetap berkerja diklub malam.
Arga tersenyum, melepas hoodie tebal yang dikenakanya, menutupi paha Hellena yang terbuka dengan pakaianya.“Tubuhmu bisa membuaku khilaf.” godanya seraya berbisik, meyandarkan kepala Hellena didada bidangnya.“Temani aku malam ini.” ucapnya lagi menggengam tangan Hellena, membelai lembut rambut panjangnya. Hellena membeku, jantungnya terus berdegup kencang tak karuan dengan perlakuan Arga malam itu.