Celebrity Husband

Celebrity Husband
Diserang


__ADS_3

Bab 64.


“Papa pergi dulu ya,” Akram mengecup kening bayi mungilnya yang sedang tertidur digendongan Aruna.


“Hati hati papa,” balas Aruna mencium punggung tangan suaminya.“Ada apa? apa ada yang lupa?” melihat Akram yang diam mematung memandangi dirinya an bayi mungilnya.


“Aku pasti akan sangat merindukan kalian,” ujar Akram mengingat hari ini ia akan melakukan syuting diluar kota yang membuatnya tidak bisa bertemu dengan istri dan putri kecilnya untuk beberapa hari, membuatnya sangat berat meninggalkan rumah.


“Aku dan baby Zea juga akan merindukan mu, tapi kamu tidak usah khwatir kami akan baik baik saja, kamu fokus berkerja saja,” tutur Aruna menatap lembut, ini pengalaman mereka bersama mengasuh bayi, tentu itu membuat Akram ingn terus meluangkan waktu bersama.


“Yasudah, nanti kita jalan jalan,” balas Akram ia kembali mencium kening bayi dan istrinya lalu bergegas keluar rumah pagi itu.


Dua hari kemudian Akram selesai menyelesaikan syutingnya, ia bergegas pulang malam itu, Akram mengemudikan mobilnya seorang diri karena manegernya sedang sakit dan tak bisa menemaninya seperti biasa. Perjalanan yang ditempunya dari luar kota cukup jauh, sampai larut malam Akram masih mengemudikan mobilnya. Akram terus mengemudi dengan kecepatan sedang, sampai ia melewati jalan yang cukup lengang dan sepi, waktupun sudah menunjukan pukul 02 dini hari. Akram menginjak remnya mendadak, saat ada sebuah mobil yang tiba tiba berhenti menghalangi jalanya.


Lima orang pria tampak keluar dari dalam mobil.“Keluar loe!” serunya, mengetuk kaca mobil Akram berulang kali. Akram mengerutkan keningnya, mengamati setiap wajah pria tersebut, tak satupun yang dikenalinya. Akram pun keluar dari dalam mobil.


Buukhh!!


Tiba tiba saja seorang pria memukul wajah Akram, membuat Akram terhuyung, Akram yang melihat ada pria lain hendak kembali memukul wajahnya dengan cepat menangkis pukulan tersebut dan memukulnya balik, perkelahian pun tak dapat terhindarkan. Akram jatuh tersungkur tak dapat melawan saat lima pria itu tiba tiba mengkroyoknya tanpa ampun.


Arrrrgggggggg!! pekik Akram saat seorang pria memukul dengan sangat keras kedua kakinya. Rasa sakit menjalar disekujur tubuhnya, pandanganya mulai kabur, Akram tak sadarkan diri dan kelima pria itu bergegas pergi meninggalkan Akram yang terkapar tak berdaya dijalan.


***


Suara tangisan baby Zea mengagetkan Aruna. Aruna bergegas beranjak dari ranjang.“Sayang, kamu haus ya?” ucapnya menghapiri box bayi baby Zea dan menggendongnya. Aruna bergegas memberikan asinya seraya menimang bayi mungilnya. Tak lama ponselnya berbunyi, Aruna segera meraih ponselnya dinakas dan menjawab panggilan tersebut.

__ADS_1


[Halo, apa benar ini dengan nona Aruna?] ujar suara seorang pria dari balik telepon.


[Ya, saya Aruna]


Detik berikutnya Aruna mendekap mulutnya sendiri, rasa panik seketika menyelimuti fikiranya saat mengetahui bahwa yang meneleponya adalah pihak rumah sakit yang mengabarkan jika Akram sedang berada diruang IGD saat ini. Setelah menutup teleponya Aruan bergegas keluar kamar.“Mah, mama!” dengan nada panik Aruna mengetuk pintu kamar bu Risna.


“Aruna, ada apa?” bu Risna yang membuka pintu tampak bingung melihat wajah Aruna yang sudah sembab dengan air mata.


“Tadi pihak rumah sakit telepon kalau Akram sekarang ada dirumah sakit,” jelas Aruna dengan terbata bata.


“Apa dirumah sakit?” bu Risna dan pak Setya sangat terkejut mendengarnya.


“Iya mah, Aruna harus kerumah sakit sekarang,” fikiran Aruna kalut, mimik wajahnya terlihat bingung.


“Ya, papa akan mengantarmu, kamu tenang sayang jangan panik,” Bu Risna mengambil baby Zea dari gendongan Aruna berusaha menenagkan menantunya itu, Pak Setya dan Aruna pun bergegas pergi kerumah sakit malam itu sedang bu Risna menjaga baby Zea dirumah.


Tak berapa lama seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, Aruna dan pak Setya bergegas mengahmpirinya.“Bagimana keadaan suami saya dok?” tanya Aruna dengan wajah paniknya.


“Keadaan pasien sudah stabil, namun keduanya kakinya mengalami cedera akibat pukulan benda tumpul,” jelas sang dokter.


“Cedera?” Air mata Aruna semakin mengalir deras mendengar hal tersebut.


“Boleh kami menemuinya?” tanya pak Setya.


“Boleh, kami akan memindahkanya keruang rawat inap,” balas sang dokter yang tak lama berlalu pergi.

__ADS_1


Akram pun dipindahkan keruang rawat inap, Aruna dan pak Setya perlahan melangkah masuk keruangan tersebut, terlihat Akram yang masih memejamkan matanya. Aruna kembali menangis terisak melihat luka lebam disekujur tubuh suaminya itu.“Siapa yang tega melakukan ini?” gumam Aruna, mengingat sepertinya Akram tak memiliki musuh tapi kenapa ada yang tega mencelakinya.


“Ini Sepertinya sudah direncanakan, tak ada satupun barang Akram yang hilang, tenanglah papa akan melaapor polisi untuk mengusut kasus ini,” ujar pak Setya menenangkan dan Aruna mengangguk setuju.


Tak lama Akram perlahan mengerakan jarinya dan mencoba melebarkan kedua kelopak matanya, pandangan Akram sesaat buram, ia meringis merasakan sangat yang menjalar ditubuhnya.“Kamu sudah sadar?” Aruna tersenyum sumringah melihat Akram yang sudah membuka matanya.


“Kenapa aku disini?” Akram terlihat bingung melihat dirinya kini sudah berada dirumah sakit dnegan jarum infus yang menancap dipunggung tangan kirinya. Aruna tak menjawab, bingung harus menjelaskan dari mana.


Akram mencoba bersandar diranjang.“Aaarrgggggghh!” pekiknya.


“Kamu tidak apa apa? jangan banyak bergerak.” Aruna panik, membaringkan kembali tubuh Akram.


“Kenapa dengan kaki ku?” Akram merasakan sakit yang luar biasnya pada bagian kakinya, terasa kaku nyaris tak bisa digerakan.


“Kata dokter kakimu cidera,” jelas Aruna.


“Cidera?” Akram tertegun, perlahan dirinya mulai mengingat kejadian yang baru saja dialaminya, saat beberapa pria tiba tiba mengkroyoknya tanpa alasan dan memukul keras keduanya kakinya berkali kali dengan balok yang dibawanya.“Aku?” sekali lagi Akram mencoba mengerakan kakinya.“Aaarrgghh,” desisnya, rasa sakit luar biasa kembali menjalar.


“Jangan digerakan,” ujar Aruna.


Akram menggeleng.“Apa aku lumpuh?” sorot mantanya menuntut jawaban.


“Tidak, kakimu cedera, semua akan baik baik saja,” Aruna mengusap bahu Akram, mencoba menenagkan Akram yang terlihat syok.


Akram mengusap kasar wajahnya.“Siapa pelakunya?” gumamnya geram, ia sama mencoba mengingat kelima wajah pria yang mengkroyoknya tapi tak satu pun dari mereka yang dikenalya, Akram juga merasa tak punya masalah dengan siapapun.

__ADS_1


“Tenanglah, papa akan melaporkan hal ini pada polisi, biar mereka yang akan mengusutnya.” ujar pak Setya berusaha menenangkan putranya. Akram hanya bisa termenung, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk, ia takut, sangat takut karirnya kembali jatuh dan terpuruk seperti dulu.


__ADS_2