
Bab 3.
“Loe mau balik?” tanya seorang pria saat Akram hendak keluar dari kantor agensinya.
“Iya,” jawabnya datar.
“Masi jam 11 malem juga, mending kita kumpul di klub, udah lama kan loe enggak kumpul.” ajak Dewa yang juga teman sekaligus rekan seprofesinya.
Akram terdiam, tampak berfikir.“Udah ayo, kapan lagi,” ajaknya kembali, Akram pun akhirnya ikut denganya ke klub malam tersebut.
Tak lama mereka sampai di klub tersebut, terdengar hentakan musik yang cukup memekakan telinga, riuh dengan orang orang yang bersenang senang.“Sini bro..” sorang pria melambaikan tanganya melihat kedatangan Akram dan Dewa. Tampak juga beberapa pria lainya yang duduk disana.
“Sini sini, kita senang senang,” ucap seorang pria setengah mabuk menyodorkan botol wine pada Akram.
Akram bergeming, mengambil sebatang rokok dan menghisapnya, menikmati suasana di sana sekedar menghilangkan kepenatanya.“Enggak di minum sih, ini wine terbaik disini, atau loe takut, bayar mahal? masa aktor termahal enggak bisa bayar?” ejek seorang pria di susul tawa renyah dari yang lainya.
Akram tersenyum kecut, menjatuhkan rokok yang dipegangnya dan menginjaknya, geram. Rasanya luka di masalalu belm sepenuhnya hilang, ia sangat tidak suka ada yang merendahkanya.“Jangan sembarangan loe ngomong! loe pesan yang banyak wine itu, gue yang bayar semua,” ucap Akram, seolah ingin menujukan siapa dirinya sekarang.
__ADS_1
“Gitu donk,” ucap para pria itu serempak, lalu memesan tanpa ragu beberapa botol wine untuk menemani mereka malam itu.
Akram larut dalam suasana malam itu, terus menengguk wine di genggamanya, Ini pesta kecil untuknya. Malam semakin larut, pandanganya mulai buram, kepalanya terasa berat. Tapi dia masih dapat merasakan saat tangan nakal mulai menyentuhnya, menelusup masuk ke dalam thisrt yang dikenakanya, meraba lembut dada bidangnya.
“Shiiitt!!” Arkam berdesis geram, pengaruh alkohol dan sentuhan wanita itu justru menimbulkan rangsangan untuknya.
“Sayang, aku akan menemanimu malam ini,” bisik lembut wanita itu, mecium daun telinganya sekilas.
Mata Arkam yang semula terpejam, mulai melebar, terlihat samar wanita bermake up tebal dan pakaianya yang super ketat tengah bersandar manja di dada bidangnya, jemrinya masih menusap lembut tubuh Akram.
“Jangan sentuh aku,” Akram seakan kembali sedikit tersadar segera menyingkirkan tangan yang meraba tubuhnya itu, Akram sangat tidak menyukai wanita malam, wanita seperti itu terlihat menjijikan untuknya.
Akram masuk kedalam rumah yang sudah tampak gelap karena penguhinya sudah terlelap, dengan langkahnya yang sempoyongan Akram berjalan menuju tangga.
Buurrkk.
Akram terjatuh, menaiki tangga dalam keadaan mabuk ternyata sulit untuknya. Terdengar samar langkah kaki setengah berlari menuju kearahnya.“Tuan, tuan enggak apa apa?” Aruna yang mendengar suara gaduh di dekat tangga segara beerlari, melihat Akram yang sudah tergeletak disana.
__ADS_1
“Tuan?” gadis itu panik, melihat Akram yang seperti tak sadarkan diri.
Dengan susah payah Aruna memapah Akram ke kamar, merebahkan tubuhnya di ranjang. Aruna segera melepaskan sepatu majikanya itu, membetulkan posisi tidurnya.“Spertinya dia kelelahan,” gumam Aruna dengan polosnya, dan segara berbalik badan untuk keluar dari kamar tersebut.
“Jagan pergi,” ucap Akram, menahan lengan gadis itu.
“Tuan?” Aruna menoleh, dan tampak bingung.
Akram membuka matanya, pengelihatnya sedikit samar, menatap gadis yang berdiri dihadapanya. Cantik..pengaruh alkohol ternyata masih membangiktkan hasratnya. Akram segera menarik tangan gadis itu.“Tuan, lepaskan!” Aruna terkejut, saat Akram menarik dan memeluk tubuhnya.
“Aku mencintaimu, puasakan aku malam ini Hellena,” ucap Akram yang langsung membalikan posisi, berada di atas tubuh Aruna saat ini.
“Tuan, saya hanya asisiten rumah tangga, lepaskan saya,” Aruana meronta, mendorong tubuh Akram, walaupun di bawah pengaruh alkohol tenaga Akram masih tersisa, Akram menarik kaki Aruna yang hendak pergi, kembali menindih tubuhnya.“Tuan, lepaskan saya,” pekik Aruana. Akram segera membukam bibir itu dengan bibirnya, menciumnya penuh nafsu, ********** kasar tanpa ampun.
Aruna masih memberontak, tangannya memukul punggung Akram berulang kali, tapi tenaga pria itu jauh lebih besar darinya. Akram tak sedikitpun melepaskan tubuh gadis itu, merobek pakaian yang dikenakanya, mnciumi tubuhnya dengan hasrat yang menggebu.
“Lepaskan saya tuan saya mohon, jangan nodai saya,” pekik Aruna saat Akram akan melakukan penyatuanya.
__ADS_1
Akram tak mengubris perkataan atau bahkan isak tangis gadis itu yang memohon ampun padanya, pengaruh alkohol sudah menghilangkan akal sehatnya.“Sakit!” rintih Aruna dengan air mata yang semakin deras saat Akram merenggut paksa kesucianya. Hawa nafsu mesih menyelimutinya, Akram terus melanjutkan perbuatanya, menghujami Aruna dengan nafsunya, gadis itu lemah, tak sanggup lagi memberontak saat Akram terus menikmati tubuhnya, sampai pria itu ambruk usai mencapai pelepasanya.
Aruna menarik selimut, menutupi tubuh polosnya. Air matanya semakin berurai deras, merasakan perih di bagaian intinya.“Kenapa majikan ku seperti ini? kenapa dia tega melaukan ini padaku?” gumam Aruna, menatap lirih AKram yang tertidur di sampingnya. Aruna hanya dapat manangis sepanjang malam itu, impaianya untuk mencari uang di kota dan membahagiakan ibunya seakan sirna saat ini.