
Bab 33.
Suara gedoran pintu membangunkan Aruna dari tidurnya, dengan mata yang masih menyipit ia beringsut dari kasur lantainya berjalan gontai membuka pintu.“Aruna, kamu sudah lupa ini tanggal berapa?” ujar seoaran wanita pemilik kos dengan wajah sangarnya. Aruna tertegun, ia sadar ini adalah tanggal ia harus membayar uang kos yang sudah menunggak sebulan.“Cepat sini uangnya, jangan lupa tunggakan yang kemarin.” ibu kos itu menedengkan tanganya.
“Ma..Maaf bu, saya belum ada uangnya,” ujar Aruna pelan.
“Belum ada uang?” manik mata wanita itu mendelik, hampir keluar dari tempatnya.
“Iya.. beri saya waktu,”
“Waktu?!” sontak saja ucapan Aruna memnbuatnya meradang.“Kamu sudah punya tunggakan, masih minta waktu? dengar ya kalau sampai sore ini kamu tidak bisa bayar lebih baik kamu angkat kaki, masih banyak yang mau menyewa kos ini,” tegas ibu tersebut.“Lagipula bukankah kamu istri aktor terkenal itu? kenpa tinggal disini? apa kamu sudah dibuang olehnya?” ibu tersebut justru menyinggung tentang dirinya.
“Baik, saya akan bayar nanti malam,” balas Aruna dengan janjinya.
“Baiklah, nanti malam saya tunggu, awas kalau sampai tidak bayar lagi.” ancam ibu tersebut yang langsung bergegas pergi.
Aruna menutup pintu, ia terduduk lemas dilantai, mencoba berfikir bagaimana bisa mendapatkan uang hanya dalam satu malam, gajinya di toko pakaian ternyata sangat kecil dan tak dapat memenuhi kebutuhanya. Aruna mengehela nafas panjang, tanda ia sudah cukup lelah dengan semuanya. Aruna bergegas untuk berengkat kerja di dalam toko ia mencoba meminjam uang pada beberapa temanya ditoko, tapi bukan bantuan yang di dapatnya justru cemooh dari mereka tentang hidup Aruna yang berstatus istri seorang aktor yang penuh skandal dan tidak diakui.
Malam hari Aruna keluar toko, dengan setengah melamun ia berjalan, berfikir haruskah ia kembali ke kos dengan mengendap ngendap dan pergi pagi pagi sekali ke tempat kerja untuk menghindari ibu kos yang siap menagih janjinya.
Ttteeeett...!!
Suara klakson membuyarkan lamunya, Aruna menoleh tampak mobil mewah dengan sorot lampu yang mengarah padanya, kaca mobil itu terbuka, memperlihatkan pria didalamnya.“Akram?”
“Masukalah, ini sudah malam,” titah Akram yang melaihat Aruna berjalan sendiri malam itu.
“Tidak,” tolaknya mentah mentah, ia memepercepat langkah kakinya.
Akram bergegas keluar dari mobil.“Aku akan mengantarmu,” Akram, mengeajar menahan lengan Aruna.
“Tidak, aku bisa naik taksi,” reflek Aruna memberhentikan taksi yang melintas didekatnya, melapaskan tangan Akram dan masuk ke dalam. Meninggalkan Akram yang tampak berdecih kesal. Aruna mengehela nafas pelan, melihat isi dompetnya yang tipis terpaksa ia harus pakai untuk membayar taksi.
Sampai taksi itu terhenti di dekat kosnya, Aruna turun, ia memutar pandanganya tampak tempat sekeitar kos yang sepi dengan langkah yang sedikit mengendap ngendap ia berjalan keraah pintu.“Aruna!” seru seorang wanita dari arah belakangnya, Aruna terlonjak kaget melihat ibu kos yang tiba tiba muncul.“Kamu mau mengehindar ya? mana sini janji mu? kamu sudah mendapatkan uangnya kan?” ibu kos menedengkan tanganya menagih janji Aruna.
“Maaf bu, gajian saya di undur, beri saya waktu sedikit lagi,” Aruna mencari alasan.
“Alah, kamu itu janji janji terus, lebih baik kamu kemasi barang barangmu, pergi dari sini,” usir ibu kos yang tampak meradang.
“Tapi bu..”
“Tidak ada tapi tapian, cepat pergi!” usirnya kembali dengan suara yang semakin lantang.
__ADS_1
Dengan rasa takut Aruna pun segera menegamasi barang barangnya keluar dari kos tersebut. Dengan wajah sedih Aruna menyeret koper besar , ia benar benar tak tau harus tinggal dimana malam ini, langkah gontainya terus berjalan tanpan arah, sampai sebuah mobil mencegat jalanya, seorang pria keluar dari mobil tersebut.“Akram?”
Tanpa aba aba Akram menarik paksa tangan Aruna untuk masuk kedalam, Aruna sempat meronta tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan suaminya itu, Akram segera melajukan mobilnya sebelum Aruna kemabali kabur.“Kau di usir dari tampat kos?” tanya Akram melihat wajah risau Aruna.
“Tidak, aku hanya tidak nyaman tinggal disana,” sangkal Aruna.
Akram tersenyum tipis mendengar kebohongan Aruna, karena ia melihat sendiri bagaimana ibu kos itu mengusirnya tanpa belas kasihan.“Baikalah, aku mengijinkan kamu tinggal kembali dirumah kita,”
Aruna terdiam, tak ia tak bisa menolak walaupun rasanya sangat tidak ingin kemabli kerumah tersebut tapi itu lebih baik dari pada ia harus tinggal dijalanan malam ini. Sampai mareka tiba rumah, Aruna memutar pandanganya tampak isi rumah yang tampak berantakan, sampah sedikit berserakan.“Besok aku akan mencari tempat kos baru,” ujarnya pada Akram.
“Ya, terserah apa katamu,” balas Akram walau ia tau Aruna pastilah tidak punya uang.
Aruna segera masuk ke kamar tamu, merebahkan tubuhnya diranjang. Sampai malam hari Aruna tak juga bisa memejamkan matanya, ia keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air, matanya kembali melebar melihat dapur yang tampak kotor dan berantakan itu, Aruna pun berinsiatif untuk membersihkan dapur dan isi rumah tersebut. Akram yang mendengar suara di ruang keluarga pun bergegas keluar kamar, tampak Aruna yang sedang merapihkan runag keluarga.
“Untuk apa kamu bersih bersih malam mala seperti ini?” tegur Akram yang sontak saja menegagetkan Aruna.
“Tidak, aku hanya tidak bisa tidur saja,” sahut Aruna tanpa menoleh yang tetap membersihkan meja dan sofa yang tampak kotor.
Akram duduk disofa, memperhatikan Aruna yang sibuk dengan aktifitasnya. Matanya menelisik tubuh yang terbalut piyama pendek tersebut. Bagian perutnya yang putih mulus sedikit terlihat saat Aruna piyamnya sedikit terangkat karena gerakanya, jiga bokong padat itu seakan menggodanya. Akram menelan silivanya, fikiranya mulai bereliaran kemana mana melihat lekuk indah tubuh itu, ia tak memungkiri jika hasratnya saat ini telah meronta ingin dipusakan setelah cukup lama tidak menyentuh istrinya itu.
“Kamu sakit?” tanya Aruna melihat wajah risau Akram yangs sedang memijat pelan pelipisnya.
“Tidak,” Akram beranjak dari duduknya, ia memilih masuk ke kamar dari pada menahan pusing melihat tubuh istrinya yang menggoda, Akram yakin Aruna pasti menolak jika dirinya meminta jatah disaat hubunganya yang tak jelas saat ini.
Pagi hari Aruna kembali berkerja seperti biasa, sampai ada seoarang wanita memebi blouse padanya, Aruna pun melayani dan custumer itu keluar dengan barang belanjaanya. Tak beberapa lam custumer itu kembali datang.“Saya mau tukar barang ini,” keluh custumer tersebut pada Aruna.
“Tukar?” Aruna mengerutkan keningnya.
“Iya, ukuranya tidak pas,” ia mengembalikan dua buah blouse yang sudah dibelinya.
“Tunggu saya cari ukuran yang lain,” ujar Aruna , custumer itu sebelumya memang menolak untuk mencoba pakaian yang dibelinya. Aruna bergegas mencari ukuran yang dimita.“Maaf, nona tapi ukuranya tidak ada lagi,” Aruna kembali menghampiri custumer tersebut setelah cukup lama mencari.
“Bagaimana ini, baju ini kebesaran untuk saya,” protes gadis muda dihadapanya itu.
“Tapi ukuran yang ini tidak ada nona, bagaimana kalau cari model lain saja?” Aruna mencoba memberikan solusi.
“Tidak, saya tidak mau model lain, kalau begitu kembalikan saja uang saya,” pintanya kemudian.
“Tapi barang yang sudah di beli tidak bisa dikembalikan,”
“Saya tidak mau tau paokoknya kambalikan uang saya,” wanita itu meninggikan suranya membuat bebrapa pelayan dan custumer yang lain menoleh kearah mereka.
__ADS_1
“Ada apa ini Aruna?” menger toko pun menghampiri kedunya.
“Pelayan ini tidak becus kerjanya, seharusnya dia mengecek dulu size pakaian, pakaian yang saya beli tidak ada sizenya, saya minta uang saya dikebalikan,” ujar wanita tersebut dengan keluhanya.
“Tapi saya..”
“Sudah Aruna, kembalikan saya uangnya, nanti kamu bayar dengan uang pribadimu,” ujar manger toko yang terkesan tak memihak pada Aruna.
“Tapi..”
“Sudahlah, saya tidak mau ada keributan di toko,” meneger toko itu pun pergi dengan sangat terpaksa Aruna mengembalikan uang wanita tersebut.
“Sekarang kmebalikan uang yang sudah terlenjur tersecaan di kasir,”pinta temanya dibagian kasir.
“Tunggu aku ambil uangnya,” dengan langkah lesu Aruna menuju loker tampat tasnya tersimpan berharap ada sisa unag disana, tapi ternyata hanya ada sedikit uang disana.“Mungkin aku bisa menyicilnya beseok,” fikirnya yang langsung bergegas kembali ke kasir.“Ini, sisanya aku bayar besok,” Aruna meyodrokan uangnya.
“Tidak usah, sudah ada yang bayar tadi,”
“Sudah ada yang bayar? siapa?” Aruna mengertukan keningnya.
“Tidak tau, wajahnya tertutup masker,”
Aruna memasang wajah bingung, siapa yang sudah membayar uang ganti ruginya barusan? Tak lama ia menuju kearah toilet, yang tiba tiba ada saja ada yang menarik paksa tanganya masuk kedalam toilet, menyadarkankan tubuhnya disudut dinding toilet.“Siapa kamu?” seru Aruna pada pria yang wajahnya tertutup masker. Pria itu membuka maskernya.”Akram?” spontan Aruna meronta.“Lepaskan,” serunya mencoba melepaskan cengkraman Akram.
“Aku sudah membantumu,”
“Membantu?” Aruna pun langsung berfikir pastilah Akram yang sudah membayar uang ganti ruginya barusan.“Jadi kamu yang sudah membayarnya? tenang saja aku pasti akan melunasinya,”
“Tidak, aku tidak mau dilunasi dengan uang,”
“Tidak mau dengan uang lalu dengan apa?” Aruna memasang wajah bingung.
“Dengan tubuhnmu,” mata Akram menyerangai buas memprhatikan tubuh Aruna.
“Apa?” Aruna mendelik kaget, merasa risih dengan tatapan suaminya sendiri.
“Statusmu masih menjadi istri sahku, jadi pusakan aku malam ini,” bisiknya sensual, membuat Aruna mendesir tak karuan mendengarnya, ia mengecup bibir ranum itu sekilas dan berlalu pergi.
Sampai waktu pulang tiba Aruna merasa bimbang, rasnaya ia tak ingin kembali ke rumah Akram tapi tak tau juga akan pergi kemana sedang dirinya hanya mempunyai sedikit uang.“Lebih baik aku masuk diam diam dan mengunci pintu setelahnya,” batinya.
Aruan pun memutuskan untuk pulang, tak lama angkutan umum yang ditumpanginya berhenti di depan rumah Akran, ia turun, jemarinya membuka pintu yang ternyata tidak terkunci, suasana rumah tampak sepi, dengan mengendap ngedap ia bejalan menuju kamar tamu, Aruna berfikir Akram pastilah sudah tidur, senyum tersungging di bibirnya saat akan membuka pintu kamar tamu.“Akram!” seurnya kemudian saat tiba tiba Arkram mengendong tubuh mungilnya.“Lepaskan aku,” serunya kembali saat melihat Akram membawanya masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
__ADS_1
Akram merebahkan tubunya diranjang.“Aku ingin melakukanya sekarang, jangan lagi menolak.” ujarnya dengan senyum tipis yang menyerangai buas siap menerkam mangsanya.
Maaf baru sempat up 🙏 sebagai gantinya aku up panjang, jangan lupa komentar dan likenya biar aku semangat, terima kasih ♥️