
Bab 29.
Akram menghela nafas kasar, merebahkan tubuhnya diranjang, pandangan kosongnya menatap langit langit kamarnya.“Benar, tak ada alasan untuk ku menahanya, ia juga tak akan percaya jika aku katakan aku mencintainya,” gumamnya lirih, bergulat dengan fikiranya sendiri.
***
Jam makan siang tiba, Aruna menyantap dengan lahap nasi kotak yang dibelinya di dekat toko, nada pesan masuk diponselnya membuatnya cepat cepat menelan makananya, ia menungguk air mineral dan meraih ponsel yang tegeletak disisinya, tertera nama Akram disana.
[ Datanglah ke taman kota besok, aku akan berikan berkas perceraian yang kau pinta,] tulis Akram dalam pesanya. Aruna tertegun, Akram lebih cepat menyetujui diluar perkiraanya.
[ Baiklah besok aku libur, aku akan menemuimu,] balas Aruna dengan antusias, ini yang di inginkanya.
Keesokan harinya sore itu Aruna telah sepakat untuk bertemu dengan Akram ditaman kota, ia bergegas menaiki angkutan umum sore itu, sesampainya ditaman kota Aruna tak melihat Akram disana.“Kemana dia?” Aruna mencoba menghubungi nomor Akram berulang kali tak Akram tak sama sekali meresponya, ia mencoba menunggu dengan sabar, tak terasa langit mulai menggelap tapi Akram tak juga datang.“Kemana dia? apa dia sedang mempermainkan ku?” keluhnya merasa jengkel.
Tak berapa lama dering ponselnya berbunyi matanya refleks melihat layar ponsel tapi justru nomor tak dikenal yang menghubunginya.“Siapa ini?” Aruna mencoba mengangkatnya.
[Hallo Aruna, ini saya pak Reno,] ujar suara pria di balik telepon.
[Pak Reno?] Aruna mengerutkan kening, sesaat kemudian ia ingat jika pria itu adalah atasan Akram.[Ada apa menghubungiku?] Aruna terlihat bingung, kerana merasa tak memiliki urusan dengan pria itu.
[Saya hanya ingin mengabari jika Akram sakit, ia pingsan di lokasi syuting dan belum sadar sampai saat ini,] ujar pak Reno dengan informasinya.
[Pingsan?] Aruna berdiri dari duduknya tanpa ia sadari gestur tubuhnya menunjukan kecemasan.
[Iya bisa kamu kesini sekarang?]
__ADS_1
Aruna terdiam.[Tidak, aku tidak bisa kesana,] Aruna mencoba melawan perasaanya sendiri, berusaha tak memperdulikan pria yang sudah melukainya itu.
[Oh begitu, baikalah aku akan tetap memberi alamat lokasi syutingnya saat ini, siapa tau kamu berubah fikiran,] balas pak reno menutup teleponya, tak lama ia mengirim pesan berisi alamat dimana Akram berada.
Aruna mengigit bibirnya dengan gelisah, ia bergegas meninggalkan taman. Aruna bimbang rasanya tak ingin ia memperdulikan pria itu tapi persaanya berkata lain, Aruna segera memberhentikan taksi menuju tempat tersebut, hati kecilnya berdoa agar tak terjadi hal buruk pada pria yang masih berstatus suaminya itu.
Taksi itu berhenti ditempat yang dituju, sebuah villa kecil tanpa berfikir panjang Aruna segera masuk kedalam.“Aruna, kau datang?” pak Reno yang mendengar langkah kaki Aruna segera keluar dari sebuah kamar didalam.
“Di mana Akram?” Aruna memutar pandanganya, pada villa yang tampak sepi rasanya sedikit aneh jika ini dijadikan lokasi syuting, tak ada para pemain atau kru disana hanya ada dia dan pak Reno didalam.
“Akram ada disana,” Pak Reno menujuk sebuah kamar didekat meraka.
Rasa cemas yang mendera membuat Aruna berlari masuk kedalam kamar tersebut.“Dimana Akram?” ia mulai terlihat bingung tak ada Akram disana.
“Akram sepertinya sudah pergi,” sahut pak Reno dari arah belakangnya.
“Ya, aku memang membohongimu, aku ingin memiliki waktu berdua denganmu, sudah lama aku menyukaimu sejak Akram memperknalkanmu,” sontak saja rasa takut semakin mejalar di diri Aruna saat pak Reno mengatakan hal yang terdengar menjijikan ditelinganya.
Aruna bergegas keluar dari kamar taersebut tapi pak Reno lebih dulu mencegahnya, mendorong kearah ranjang dibelakang meraka, mehanan pergelangan tangan Aruna.“Mau apa kamu? lepaskan!” seru Aruna dengan suara yang sekencang kencangnya berharap ada yang mendengarnya.
“Aku sudah menyalamatkan karir suamimu, harusnya kamu berterima kasih padaku,” mata pak Reno menyerangai buas, dengan penuh nafsu ia merobek kemeja peach yang dikenakkan Aruna, mengecupnya dengan liar.
“Lepaskan aku, aku mohon!” Aruna terus memberontak, tapi tenganya tak cukup kuat menahan pria bertubuh tambun itu. Aruna hanya dapat menangis dan berteriak sekencang kencangnya, tubuhnya mulai terasa lemas sedang pak Reno terus mencumbunya dengan sangat liar.“Lepaskan aku,” lirih Aruna dengan suara yang tak lagi nyaris terdengar.
BUUUKHH!!
__ADS_1
Di tengah tangisnya Aruna mendengar suara pukulan keras dari arah bnelakang tubuh pak Reno.
“Keparat!!” umpat pria itu menarik paksa pak Reno dari tubuh Aruna, hingga dirinya terseungkur.
“Akram?” matanyan melihat dengan jelas Akram yang terus memukuli pak Reno dengan membabi buta.
“Jadi seperti ini dirimu?” Akram menarik kembali kerah kemeja pak Reno, terlihat pria itu sudah tak berdaya dengan darah segar yang mengalir disudut bibirnya dan beberapa luka lebam diwajahnya.
“Ya, aku memang seperti ini, kau mau melawanku?” pria itu justru tersenyum kecut tak ada raut ketakutan diwajahnya, dirinya tetap marasa di atas Akram.“Aku bisa saja memberitahu publik tentang kebohongan mu, dan tetang kau yang menodainya dulu, aku tau itu, tapi aku tidak akan melakukan itu jika kau meminta maaf padaku,” kini ia jusru mengancam, tau akan kelemahan Akram.
“Minta maaf?”
BUUUKKHH!!
Akram justru memberi pukulan telak diwajahnya.
“Karirmu akan hancur setelah ini,” ancaman itu masih bisa dilontarkanya.
“Persetan dengan karir ku!” Akram kembali memukul wajah pak Reno dengan lebih keras dan menarik Aruna keluar dari tempat itu. Ia membuka jaket yang dikenakanya, menutupi tubuh Aruna yang hampir terbuka kerana perbuatan pak Reno.
Mereka masuk kedalam mobiil, hanya ada suara isak tangis Aruna disana, Akram meyibakan rambut panjang yang menutupi dada Aruna, terlihat pakainanya yang sudah compang camping matanya tertuju pada kissmark yang ditinggaalkan pak Reno didada istrinya.
“Aaaaaaaarrrrggggggghhh!” Akram memukul keras stir mobilnya, rasanya ia ingin terus memukuli pria itu, melampiaskan amarahnya.“Katakan padaku, apa dia menodaimu?” Akram meraih dagu Aruna yang tertunduk dengan isak tangisnya. Aruna menggeleng pelan, untunglah Akram datang sebelum pak Reno melakukan hal yang lebih jauh padanya.“Maafkan aku,” ujar Akram memeluk erat tubuh Aruna.
Aruna tak menjawab rasa takut masih menyelimutinya.“Aku mencintaimu,” sambung Akram.“Tetaplah disisku Aruna, aku tak lagi perduli dengan karirku, asal kau disisiku.” ujar Akram memeluk Aruna semakin erat, pelukan yang tak pernah diberinya, menenagkan tangis Aruna yang perlahan mulai mereda.
__ADS_1
Boleh dong aku minta votenya sekali sekali, biar semangat gitu..😁