Celebrity Husband

Celebrity Husband
Pelaku sebenarnya


__ADS_3

Bab 66.


Arga bergegas keluar dari kantor polisi, fikiranya kembali tertuju pada Hellena. Dengan tergesa gesa Arga masuk kedalam mobilnya, sepanjang perjalan sudah tak terhitung berapa kali Arga mencoba menghubungi Hellena tapi gadis itu tak sekalipun menganggkatnya. Arga mengehentikan mobilnya diapartemen Hellena, ia segera masuk kedalam, diketuknya pintu apartemen itu berulang kali.


“Apa dia tidak ada di dalam?” gumamnya.


“Apa anda mencari penghuni apartemen ini?” tanya seorang wanita muda menghampiri Arga, menmeprhatikan raut wajah Arga yang tampak bingung dan gelisah.


“Ya, apa dia sedang pergi?”


“Ya barusan saja ia pergi,” balas wanita tersebut.


“Pergi? kamu tau kemana dia pergi?” tanya Arga berharap mendapat jawaban dari wanita tersebut. Wanita itu mengeleng pelan, Arga mengehela nafas kecewa.


“Tapi tadi aku lihat dia membawa koper besar dan tiket pesawat ditanganya,” sambung wanita tersebut.


“Tiket pesawat?” Arga tampak terkejut mendengarnya. Wanita itu kembali mengangguk.“Terima kasih atas informasinya,” ujar Arga yang langsung meninggalkan apartemenn tersebut kembali kedalam mobilnya. Ia mengendari kendaraanya dengan keceptan tinggi menuju arah bandara.“Hellena, mau kemana kamu?” batinya gelisah. Ia tak menyangka jika perkataanya sampai membuat Hellena pergi darinya.


Sesampainya dibandara Arga dengan setengah berlari terus memutar pandanganya, Arga memicingkan matanya melihat punggun belakang wanita dengan rambut yang bergelombang tengah menyeret koper berwarna coklat.“Hellena,” panggilnya menarik tangan gadis itu, senyum Arga yang semula mengembang mendadak hilang melihat wajah gadis tersebut ternyata bukanlah Hellena.


“Aku bukan Hellena,” ucap gadis tersebut.


“Maaf,” balas Arga melepaskan tangan gadis itu


Suara pengeras suara dibandara terdengar nyaring menginformasikan beberapa rute yang akan dituju. Hellena duduk termenung dikursi, ia menunduk menutupi wajah sedihnya.“Aku tidak boleh mencintainya, dia tidak pantas untk ku,” gumamnya, seraya menangis.


“Siapa yang tidak pantas?” kini mata Hellena tertuju pada sepasang sepatu berwarna hitam pekat dihadapanya, Hellena mendongkakan wajahnya, matanya yang sembab tampak terkejut melihat Arga.“Kau berniat pergi dariku?” Arga meraih tangan Hellena agar berdiri dari duduknya, jemarinya menyeka air mata Hellena yang masih menggumpal dipelupuk matanya.“Maafkan aku jika perkataanku menyinnggung perasaanmu, aku tidak bermaksud seperti itu,” tutur Arga mendekap erat tubuh gadis itu.


Hellena bergeming, sampai Arga melepas peluknya.“Jangan pernah berfikir untuk pergi dariku lagi,” Arga meraih sesuatu dari saku celananya.“Menikahlah denganku,” ujarnya, seraya menyematkan benda cantik nan berkilauan itu di jari manis Hellena.


Hellena terpaku tak percaya.“Ini?” masih memandangi cincin yang berkilauan di jemarinya tersebut.


“Ya, menikahlah denganku, sebenarnya sejak kemarin aku ingin mengatakan ini tapi pertengkaran kita menndanya,” jelas Arga.“Kau mau menjadi ibu dari anak anak ku?” pinta Arga menatap lembut netra berwarna coklat itu.

__ADS_1


Hellena mengangguk pelan, tak dapat mengatakan apapun, ini seperti sebuah mimpi indah yang telah lama diidamkanya, ada pria baik yang mau bersanding dengan dirinya yang sangat tidak sempurna. Hellena memeluk Arga, tangis bahagianya pecah.“Terima kasih sudah mau mencintaiku,” ucapnya haru.


“Aku akan selalu mencintaimu, jangan lagi dengarkan perkataan orang lain cukup dengarkan perkataamu yang mencintaiku,” tegas Arga, membuat Hellena tersenyum penuh syukur, kerena tuhan telah memberikan Arga untuknya.


***


Satu minggu kemudian.


“Dimakan lagi sayang,” bujuk Aruna mendekatkan susuap nasi kebibir suaminya. Akram menggeleng pelan tak mau lagi menyantap makan siangnya. Aruna menghela nafas kecewa, Akram semakin terlihat tak bersamangat terelebih cedera dikakinya yang tak banyak mengalami kemajuan.


“Akram, ada yang ingin bertemu denganmu,” ujar ibu Risna seraya mengetuk pintu kamar.


“Bertemu?” Akram dan Aruna mengerutkan keningnya. Aruna segera mendorong kursi roda Akram keluar kamar menuju ruang tamu.


“George,” Akram sedikit terkejut melihat beberapa kru film mendatangi keadaanya.


“Hay Akram, maaf kami baru menjenguk mu,” ujar Geoerge. Aruna dan Akram masih tampak bingung sampai mereka duduk bersama.


“Ada apa datang kesini?” Akram merasa tak ada yang perduli padanya, terlebih sejak dirinya mengalami musibah meraka hanya mengirim ucapan simpati via pesan.


“Kenapa? apa akting aktor baru itu tidak bagus?” cibir Akram.


“Bukan, apa kamu belum tau jika A ktor itu yang merencanakan pengeroyokan mu, dia di dalangi oleh pria bernama Reno, pemilik agensi yang menaungi mu sebelumnya,” jelas George.


“Reno?” sontak saja itu membuat Akram dan Aruna terkejut mendengarnya pasalnya belum ada kabar dari polisi tentang hal itu.


“Ya Akram, sekarang aktor baru itu sedang menjalani pemerikasan dikantor polisi dia ditangkap di kantor agensi barusan,” jelas George kembali.


”Akram,” panggil pak Setya yang baru memasuki rumah, dengan tergesa gesa pak Setya menghampiri putranya itu.“Akram papa sudah menyelesaikan kasusmu, dalang atas pengeroyokan mu adalah pak Reno dia sudah ditahan bersama aktor baru yang menyusun rencana itu bersamanya.” ujar pak Setya dengan raut bahagia diwajahnya.


“Aku baru saja mengetahuinya dari pihak agensiku,” balas Akram .


”Ya Akram, seperitnya kau harus berterima kasih pada pria yang bernama Arga dia yang memberikan bukti percakapan mereka saat aktor itu berkunjung ke kantor polisi,” sambung pak Setya.

__ADS_1


“Arga?” Akram dan Aruna kembali terkejut mendengar hal itu, karena selama ini Arga tak pernah menghubungi mereka apalagi berbicara tentang hal tersebut.


“Akram, syukurlah semua sudah terungkap, kami akan menunggu kesembuhanmu dan melanjutkan projeck film terbaru kita.” ujar Goerge yang tentu saja membuat Akram senang karena dia sempat berfikir karirnya akan kembali jatuh dan terpuruk. Aruna pun tak kalah senangnya mendengar hal tersebut berharap Akram kembali mempunyai semangat untuk melanjutkan hidupnya.


***


“Ini obatnya,” Aruna meletakan obat dinakas dan duduk disamping Akram.“Apa kamu tidak ingin mengucapkan terima kasih pada Arga?” ujar Aruna mengingat Akram tak juga menghubungi Arga untuk sekeder berterima kasih karena telah membantunya.


“Setelah aku bisa kembali berjalan, aku akan menemuinya dan memberikanya hadiah, aku yakin aku bisa segera berjalan kembali,”


“Hadiah?” Aruna tak mengerti hadiah apa yang dimaksud, tapi senyum dibibirnya merekah saat Akram kembali yakin jika ia akan segera bisa berjalan kembali.“Aku juga yakin kamu akan segera bisa berjalan kembali,” ujarnya lembut.


“Terima kasih sudah merawatku.” Akram hangat kening Aruna. Isrti yang penuh kesabaran dan pengertian, Aruna tersenyum memeluk Akram.


Beberapa minggu kemudian.


Hari ini Aruna kembali menemani Akram untuk terapi disebuah rumah sakit. Setelah menunggu giliran Akram masuk kedalam ruangan, dimana seorang dokter dan perawat menjelaskan tentang keadaan kakinya yang mengelami cedera berat.“Sekarang kita coba lagi ya,” ujar sang dokter kembali meminta Akram untuk belajar berdiri dan berjalan, sebelumnya Akram mencoba beberapa kali berdiri dan berjalan tapi berulang kali juga ia terjatuh karena kakinya belum bisa menompang tubuhnya.


“Kamu pasti bisa sayang,” Aruna memberikan semnagat.


Akram menghela nafas dalam dan mengehembuskanya perlahan, ia mulai mencoba berdiri dari kursi rodanya. Kedua telapak tanganya masih memegang kursi rodanya sebagai tumpuan.“Lepaskan,” titah sang dokter agar Akram berdiri tanpa tumpuan apapun. Akram perlahan melepas sebelah tangan kirnya lalu tangan kananya.“Bagus,”puji sang dokter melihat Akram mulai berdiri walau dengan sedikit membungkuk.


“Sayang,” Aruna tersenyum meminta Akram untuk melangkah kearhnya.


Akram mulai menggerakan sebelah kakinya yang masih terasa sangat kaku namun tak begitu sakit seperti dulu, setapak kaki kirinya mulai melangkah disusul kaki kananya yang juga mulai melangkah setapak demi setapak.“Sayang, kamu bisa?” seru Aruna dengan mata berbinar melihat perkembangan Akram.


Buukhh.


“Sayang,” buru buru Aruna menghampiri Akram yang terjatuh setelah 3 langkah berjalan.“Kamu enggak apa apa?” Aruna menatap panik.


Akram justru tersenyum.“Aku tidak apa apa, aku fikir aku tidak bisa berjalan walau hanya selangkah,”


“Perkambangan anda semakin baik, tak lama lagi anda pasti bisa berjalan seperti semula,” puji sang dokter dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


“Kamu dengar, sebentar lagi kamu pasti bisa berjalan.” seru Aruna yang langsung memeluk senang suaminya itu. Akram mengusap punggung Aruna, Akram yakin jika dirinya akan segera bisa berjalan dan kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa.


__ADS_2