Celebrity Husband

Celebrity Husband
Berita yang tersebar


__ADS_3

Bab 20.


Akram segera menutup teleponya.“Aaarrggghh!” ia mengacak frustasi rambutnya, dirinya bahkan seakan lupa bahwa ada media yang selalu memantau pergerakanya diam diam, Akram lengah, ini seperti bumerang seperti dirinya sendiri. Ponselnnya kembali berdering, tertera nama pak Reno dilayar. Akram bergeming, membiarkan ponselnya terus berbunyi beberapa kali. Berita itu pasti telah sampai ditelinganya dan dia akan mencecar Akram dengan berbagai pertanyaan.


“Sarapannya sudah siap,” ujar Aruna masuk kedalam kamar. Akram tak menjawab ia segera turun dari ranjang menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri Akram keluar kamar, menuruni anak tangga dengan langkah yang tergesa.“Kamu enggak sarapan dulu?” Akram tetap tak menjawab ia terus berjalan keluar rumah dengan wajah dinginya. Aruna mengehela nafas kecewa, memandang meja makan tampak penuh dengan masakanya, tapi Akram tak menghiraukanya apalagi menyantapnya.


***


“Berita apa ini !!!” pak Reno melemparkan lembaran artikel yang memuat berita tersebut. Akram memebacanya sekilas. Artikel itu menulis Akram yang tengah mengantar perumpuan muda kedokter kandungan lengkap dengan fotonya bersama Aruna yang berhasil mereka abadikan.


“Ini hanya kesalahpahaman.” Akram berusaha berkelit.


Pak Reno menyandarkan punggung dikursi kerjanya.“Kesalahapahaman? lalu siapa wanita itu?” tanyanya menyelidik.“Bukankan dia yang kau sebut asisiten pribadimu dulu?” sambungnya melihat jelas wajah Aruna difoto tersebut.


“Ya, dia memang berkerja bersamaku, dia memang sedang mengandung, aku hanya mengantarnya kedokter kandungan karena suaminya berada diluar kota,” Akram tak habis akal, ia masih berkelit.


“Oh ya?” benar bnegitu?” pak Reno menaikan sebelah alisnya.


“Benar,”


BRAAAAKK!!


Pak Reno mengebrak meja kerjanya dengan penuh emosi, membuat beberapa orang yang ada diruanganya terlonjak kaget, termasuk Akram.“Jangan berbohong kepadaku, wanita itu istrimu kan?!” ujar pak Reno penuh emosi.

__ADS_1


Akram bergeming, ia tak telalu kaget jika akhirnya pak Reno tau tentang ini, pria itu selalu tau tentangnya tak ada privasi untuk Akram sedikitpun, dirinya sepenhnya milik pak Reno dan agensinya, ia selalu memantau aktor andalanya itu, menjaga nama baik Akram agar kairirnya tak merosot yang tentu akan merugikan dirinya dan agensinya.


“Katakan padaku, benar itu istrimu?” pak Reno kembali bertanya penuh selidik.“Sebelum berita itu tersebar, lebih dulu sampai ditelingaku,” ucapnya penuh penekanan, mengeaskan agar Akram tak lagi mencoba membohonginya.


“Iya benar, dia istriku,” Akram akhirnya mengaku.


Sekali lagi pak Reno mengebrak keras meja kerjanya.“Bodoh, bodoh sekali, kau menikah dengan wanita yang tidak jelas dan sekarang wanita itu sedang mengandung,” maki pak Reno semakin meradang, Akram melanggar perintahnya untuk tidak berbuat hal yang tidak tidak yang justru akan menghancurkan karirnya.


“Maafkan aku,” sesal Akram, tertunduk.


“Bnatah berita itu, sebelum meraka tau yang sebenarnya,” tegas pak Reno.


“Aku akan membuat pernyataan untuk membatah berita itu,”


“Apa?” Akram tampak terkejut mendengarnya, bagaimana bisa dia bertungan dengan wanita yang tidak dicintainya, terlebih ia juga sudah memiliki istri.


“Hanya itu satu satunya cara untuk menyelamatkan nama baikmu, media akan terus mencari tau tentang gadis itu karirmu akan hancur jika orang orang tau dia istrimu dan sedang mengandung, apa kau menghamilinya diluar nikah?” pak Reno memeberi pertanyaan yang menohok, Akram hanya terdiam.“Sudahlah, aku sudah tau jawabanya, bertunaganlah dengan Liona, itu akan meredupkan isu tentangmu, Liona juga pasti mau melakukan itu,” tegas pak Reno. Akram hanya terdiam tak megatakan setuju atau tidak.


***


Aruna tersentak dari lamunanya, kala mendengar ponselnya berbunyi.“Pak Setya?” gumamnya saat papa mertuanya itu mencoba menelepon, tanpa fikir panjang Aruna bergegas mengangkatnya.


“Asalamualaikum Aruna,” suara ramah pak Setya menyapa ramah.

__ADS_1


“Waalaikumslam pah,” Aruna mengerutkan kening, tak biasanya mertuanya itu menelepon.


“Aruna papa hanya ingin menanyakan apa benar kamu sedang hamil?”


“Hamil?” Aruna tersentak karena ia merasa tak pernah memberitahukan kepada siapapun tentang kehamilanya, hanya Arga dan Akram yang tahu.“Papa tau darimana?”


“Papa tau dari media ada yang menagkap kebersamaanmu dengan Akram saat kedokter kandungan, kenapa kamu tidak memberitahu papa? papa sangat senang mendengarnya,” suara pak Setya justru terdengar senang kerena akan mendapatkan cucu. Berbeda dengan Aruna yang langsung menerka nerka sikap dingin dan wajah risau Akram mungkin kerena ada media yang menangkap kebersamaan mereka.


“Maaf aku lupa memberitahu papa,” Aruna sebenarnya tak ingin memberitahu siapapun tentang kehamilanya.


“Yasudah kalau begitu jaga baik baik kandunganmu,” pesan pak Setya penuh perhatian lalu tak lama menutup teleponya. Aruna termenung, ini pasti sangat tidak menyenagkan untuk Akram.


Larut malam Aruna masih menunggu Akram pulang, menyandarkan kepalanya dimeja makan ditemani makanan yang sudah mulai mendingin. Aruna terpenjat, matanya yang mulai mengantauk mendadak menjadi segar saat mendengar suara pintu utama yang terbuka, terlihat Akram yang memasuki rumah dengan kunci cadangan yang dibawanya. Akram sedikit melirik Aruna yang sedang menunggunya dimeja makan namun ia tak menghiraukanya, langkah kakinya justru menaiki anak tangga.“Kamu tidak makan dulu?” Aruna berdiri dari duduknya, berharap Akram mencicipi sedikit masakan yang sudah dibuatnya.


“Aku tidak lapar,” ketusnya tetap menaiki anak tangga.


“Aku mau bicara,” ujar Aruna yang sontak saja memghentikan langkah kaki Akram.


“Aku lelah,” ketusnya kembali tanpa menoleh kearah Aruna.


“Sebentar saja,” paksa Aruna, ia ingin membicarakan tentang kabar yang sedang ramai ditelevisi, tentang media yang menangkap kebersamaan mereka.


“Aku lelah dan tidak ingin diganggu! apa kau tuli?” sentak Akram membuat Aruna terlonjak kaget mendengarnya. Akram berlalu pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2