
Bab 38.
Kamu mau kan kita ke ibumu besok?” Akram menatap Aruna yang hanya terdiam.
“Ya, aku mau,” Aruna mengangguk pelan walau sebenarnya hatinya masih ragu, Akram merespon dengan seulas senyum di bibirnya.
Keesokan harinya Akram memutuskan untuk pergi ke kampung Aruna. Sepanjang perjalanan Aruna hanya terdiam, ada rasa takut dihatinya menebak nebak respon seperti apa yang akan ditunjukan ibunya jika dirinya telah lama menikah dan mengandung anak majikanya sendiri, Aruna berharap ibunya bisa menerima Akram.
“Sudah sampai,” Akram sampai di desa tersebut sore hari.
“Su.. sudah sampai?” suara Akram memnbuayarkan lamunanya, ia baru tersadar jika mobil yang ditumpanginya sudah terhenti tepat di depan halaman rumahnya.
“Kamu sedangn memikarkan apa?” tanya Akram dengan nada curiga, memperhatikan Aruna yang hanya melamun sepanjang perjalanan.
“Aku.. aku sedikit takut memberitahu ibu, aku takut ibu tak menerima,” jelas tergurat kerisauan di wajah Aruna.
Akram meraih tangan Aruna.“Tenanglah, aku yakin ibumu tak seperti itu, lagi pula sampai kapan kita menyembunyikan ini semua? apa sampai anak kita lahir?” Akram meremas lembut tangan Aruna.“Sudahlah semuanya akan baik baik saja.” bujuknya. Aruna pun tersenyum tipis dan bergegas keluar dari mobil.
Tok tok tok.
“Assalamualaikum,” Aruna mengetuk pintu kayu di hadapanya berulang kali.
“Walaikumsalam,” terdengar suara wanita dari dalam rumah dan pintu itu pun terbuka lebar.“Aruna,” mata wanita paruh baya itu tampak terkejut menatap putri kesayanganya.
“Ibu..” Aruna segera memeluk ibu yang cukup dirindukanya itu.
“Sayang, kenapa tidak bilang kalau mau kesini,” ibu mengusap pelan punggung Aruna dengan perasaan senang.
“Maaf, aku tidak sempat mengabari,” Aruna melepas peluknya.“Keadaan ibu baik baik saja kan?” Aruna menatap khawatir sang ibu yang telah lama mengidap sakit paru walau setiap bulan ia tak pernah lupa mengirim uang untuk pengobatan sang ibu.
“Ibu baik baik saja,” ibu tersenyum dengan wajah yang cukup segar membuat Aruna lega.“Ini?” ibu menatap pria di sisi putrinya itu.
“Bu,” Akram segera mencium sopan punggung tangan ibu.
“Majikan mu ikut kesini Aruna?” tanya ibu dengan nada heran.
“Saya..”
__ADS_1
“Tuan Akram merasa bosan tinggal di kota jadi ia ingin ikut dengan ku kesini,” jelas Aruna yang lebih cepat memotong ucapan Akram.
“Majikan mu benar benar rendah hati ya,” puji ibu.“Ayo masuk, kalian pasti capek.” ibu pun mempersilakan masuk dan mengantar Akram untuk beristirahat di kamar kosong.“Nak Akram istirahat saja, ibu buatkan dulu makan malam,”
“Terima kasih bu,” balas Akram, ibu pun menutup pintu kamar. Akram menghela nafas dalam, ia tau jika Aruna belum siap untuk mengatakan tentang pernikahanya. Setelahnya Akram memutuskan untuk mandi.
“Dingin sekali,” gumamnya usai membersihkan dirinya, ai bergegas mengenakan pakaianya, bibirnya sedikit bergetar dengan tangan yang bersedekap, udara desa di dekat pegunungan itu memang sangat sejuk di tambah dengan saluran air yang langsung dari pegunungan membuat air tersebut terasa sangat dingin menembus kulit.
Akram terus bersedekap memeluk tubuhnya sendiri untuk beberapa saat. Sampai ia merasakan sesuatu yang mengeras di bagian bawahnya.“Astaga, kenapa bangun di saat seperti ini,” ia mengerutu kesal. Tubuhnya mulai gelisah ia harus menuntaskan hasratnya saat ini. Ia keluar dari kamar, dilihatnya suasana rumah yang tampak sepi, ia berjalan kedapur, tampak Aruna yang sedang memasak disana.
“Sayang,” ucapnya seraya memeluk tengkuk belakang Aruna.
“Su.. sudah mandi?” Aruna tampak terkejut merasakan tangan Akram yang sudah melingkar di pinggangnya.
“Ibu kemnana?” bisiknya, mencari keberadaan ibu Aruna.
“Sedang keluar,” Senyum pun merekah di bibirnya ia seperti kesempatan emas untuknya.“Aku.. harus masak makan malam dulu, pasti kamu lapar,” konsentrasi Aruna mendadak hilang merasakan jemari Akram yang perlahan naik ke dadanya, meremasnya gemas.
“Disini sangat dingin, aku tak bisa menahan,” bisik Akram sensual, mulai menciumi sisi leher Aruna, sebelah tanganya mematikan kompor gas yang masih menyalah. Aruna memejamkan, mengigit bibir bawahnya menikamati sentuhan Akram.
“Aruna, nak,” suara seorang wanita sontk mengangetkan keduanya.
“Nak, Akram kok ada di dapur?” ibu menatap heran Akram yang masih berdiri di belakang tubuh putrinya.
“Aku.. aku membantu Aruna memasak,” jawabnya asal, seraya memasang senyum palsu.
“Nak Akram tidak usah membantu, sudah tunggu saja di meja makan, biar Aruna yang memasak,” ucap ibu merasa tidak enak.
“Oh baik saya tunggu di meja makan.” Akram kembali mencoba tersenyum meskipun harus merasa kecewa karena hasratnya belumlah terlampisakan. Langkah gontainya pun menuju meja makan.
“Dimakan nak Akram,” ucap ibu ramah seraya membantu Aruna menghidangkan makan malam dimeja makan.
“Terima kasih bu,” Mereka pun menyantap makan malam bersama, di iringi dengan obrolan obrolan ringan. Akram menunguk air putih di sisinya dan mengehelan nafas dalam.“Bu, ada yang saya ingin katakan,” ujar Akram memecah keheningan admosfir udara menadadak menengang teruma untuk Aruna yang tau jika Akram pastilah akan meberitahukan tentang pernikahan mereka pada ibunya.
“Mau bicara apa, nak Akram?” ibu menatap wajah Akram yang mendadak tampak serius.
“Saya..”
__ADS_1
“Tuan, nasimu sudah hampir habis, kamu mau tambah?” sela Aruana memotong cepat yang langsung menambahkan nasi dipiring Akram.“Dimakan,”
“Oh ya,” Akram pun kembali makan walau perutnya sudah sangat kenyang.“Bu, ada yang ingin saya katakan,” Akram kembali melanjutkan ucapanya, ia kembali meraih gelas dan menengguk air putih disisinya.
“Tuan, air mu habis, sini saya tambah pasti tuan haus,” Aruna kembali berucap sebelum Akram menyelesaikan ucapanya ia menuangkan air putih penuh di gelas tanggung itu.
“Ehem,” Akram berdehem, melirik Aruna sesaat berharap Aruna tak lagi memotong ucapanya.“Saya ingin mengatakan kalau saya..”
“Kalau tuan sangat senang berkunjung ke desa ini kan? tuan Akram sangat senang berkunjung ke sini bu, di sini sangat berbeda dengan di kota,” jelas Aruna yang lagi lagi memotong ucapan Akram.
“Oh begitu, ibu sangat senang jika nak Akram senang berkunjung ke sini,” balas ibu tanpa wajah curiga. Akram tersenyum tipis, ia mencoba mengerti jika Aruna belum siap untuk mengatakan semuanya malam ini.
***
Jam sudah menunjukan pukul 04.00 dini hari tapi Akram tak juga bisa memejamkan matanya, ia masih merengkut di bawah selimut tipis yang menutupi tubuhnya, sedang udara malam terasa cukup dingin untuknya.“Andai Aruna di sini,” gumamnya, membayagkan tubuh Aruna di sisinya yang bisa dipeluknya dengan erat. Fikiranya nakalnya mulai berkelana ke mana mana membuat sesuatu di bawah sana kembali mengeras.“Astaga, dia bangun lagi,” geurutunya kembali. Akram pun hanya dapat berguling guling di kasung dengan gelisah.
“Pusing nih,” Akram memijat pelan pelipisnya.“Harus bisa malam ini,” gumamnya, ia pun beranjak dari ranjang keluar kamar, dengan mengendap ngendap ia berjalan menuju kamar Aruna. Diraihnya gagang pintu kamar yang ternyata tidak terkunci, Akram pun tersenyum sumringah dan bergegas masuk ke dalam.
Di lihatnya Aruna yang tertidur nyenyak, Akram bejongkok, melihat wajah Aruna lebih dekat .“Cantik,” pujinya, jemarinya mengusap bibir berwarna pink itu, kemudian ekor matanya tertuju pada piyama Aruna yang tersingkap memperlihatkan dengan jelas perut mulusnya, jemari Akram mengusap pelan perut Aruna, membuat sang empunya pun refleks membuka mata.“Akram?” Aruna tampak terkejut melihat Akram yang sudah berada di sampingnya.
“Sssttt..!” Akram meletakan jarinya di bibir Aruna. ia berdiri dari jongkoknya duduk di samping Aruna.“Aku benar benar menginginkanmu,” Akram maraih tangan Aruna, meletakanya di bagian intinya yang sudah mengeras, berharap Aruna mengerti betapa tersiksa dirinya sedari tadi.
Aruna tampak tersipu, ia pun mengangguk pelan, melihat wajah Akram yang memelas. Akram tersenyum, dengan perlahan ia membaringakan Aruna di ranjang, bibirnya sudah menempel dan ******* , keduanya berpangutan dengan sangat lembut, Aruna merspon dengan menggulungkan kedua lenganya di leher Akram, pangutan keduanya pun semakin dalam.
Akram melepas ciumanya, beralih ke sisi leher Aruna membuat Aruna bergidik mersakan sesapan Akram yang terasa dingin di kulit tipisnya, tanganya tak tinggal diam, jemarinya menelusp kedalam celana tidur yang dikenakan Aruna, meraba pelan bagian sensitif yang masih terbungkus pakainan dalam, Aruna mendesah kecil membuat aliran darah Akram semakin memanas dengan hasrat yang semakin memburu.
“Aruna,”
Suara panggilan serta ketukan pintu kamar mengangetkan keduanya.
“Ibu!” Aruna yang mengenali suara lembut itu refleks mendorong Akram yang berada dia atas tubuhnya.
“Aruna, kamu sudah bangun? ibu mau berangkat ke pasar, kamu mau ikut?” ujar ibu, biasanya Aruna lah yang bangun lebih dulu untuk berjualan di pasar pagi pagi sekali.
“Iya bu,” sahut Aruna dari dalam kamar.“Sebentar ya,” ia melirik Akram yang tampak merengut .
“Aruna,” Akram menahan lenganya yang hendak turun dari ranjang.“Kamu bisa tidak pergi? kepala ku sangat pusing jika harus menundanya lagi.” ujar Akram mengiba, membuat Aruna tak tega, tapi suara panggilan ibunya membuatnya bingung.
__ADS_1
Maaf kalau belum bisa up rutin 🙏🙏 tp aku usahakan 1 bab isinya lebih panjang dr biasanya.. terima kasih untuk yang setia baca novel aku 🙏🙏