
Bab 24.
“Bisa saya beretemu dengan menantu saya?” ujar pria paruh baya usai Arga membuka pintu apartemenya.
“Papa?” Aruna yang juga berjalan kearah pintu utama tamak tekejut melihat kedatangan pak Setya sore itu.
“Aruna, papa ingin bicara denganmu,” Arga yang mengeertipun segera keluar dan meninggalkan mereka berdua.
“Tunggu sebentar aku buatkan minum,” Aruna mempersilakan mertuanya itu duduk disofa, yang direspon anggukan dan senyum tipis dari pak Setya.“Diminum pah,” sesaat kemudian Aruna meletakan secangkir teh hijau kesuakaan mertuanya itu dan duduk disampingnya.
“Kau nyaman tinggal disini?” wajah pria itu terlihat tenang seraya menyeruput tehnya.
Aruna terdiam.“Maafkan aku,” ia tau yanag dilakukanya ini adalah perbuatan salah, tinggal bersama pria lain yang bukan suaminya. Aruna tertunduk malu.
“Papa tidak menyalahkanmu, papa tau ini kesalahan Akram,” pak Setya pun merasa bersalah karena harus membuat Aruna berada diposisi yang tak menyenagkan ini, karena Akram lebih memilih karirinya.“Maafkan papa, karena terlalu egois meminta mu untuk bertahan, tapi papa tak ingin kehilangan menatantu sepertimu dan juga calon cucu papa.” jelas pak Setya yang sontak saja membuat Aruna luluh, ia seperti merasakan kasih sayang dari seorang ayah yang sudah lama tak didapatkanya.
“Aruna, pulanglah, papa tak henti hentinya hubunganmu dengan Akram akan semakin membaik,” pinta pak Setya menatap Aruna penuh harap.
Aruan kembali terdiam bimbang, rasanya sungguh tak ingin tinggal kembali bersama Akram, tapi tak mngkin juga ia terus tinggal bersama pria lain sedang statusnya masih menjadi istri sah Akram, walau tak bnayak yang tau tentang itu.“Aruna, kamu mau pulang?” bujuknya kembali.
__ADS_1
“Ya, aku mau pulang,” Aruna tak kuasa menolak permintaan mertuanya itu.
“Baiklah, kita pulang sekarang,” pak Setya tersenyum lega, ia beranjak dari duduknya, keluar dari aparetemen bersama Aruna.
“Arga,” Aruna menghampiri Arga yang tengah duduk diluar gedung apartemen, ia mendongkakan wajahnya melihat Aruna yang tengah berdiri disamping mertunaya itu.
“Aku mengerti,” balas Arga sebelum Aruna menjelaskan, ia tau Aruna pastilah tak bisa menolak keinginan mertunya untuk kembali tinggal bersama Arkam.
“Terima kasih, maaf sudah merepotkan,” Aruna merasa tidak enak, ia tak tau bagaimana caranya membalas kebaikan Arga, pria itu tak pernah brhenti mencintai dan memperlakuakanya dengan baik meski ia sudah menjadi istri orang lain dan tengah mnegandung, perlakuan yang tak pantas diterimanya. Aruna pun masuk kedalam mobil pak Setya yang langsung meininggalkan aparetemen tersebut.
“Masuklah, sepertinya Akram belum pulang,” pak Setya memberhentikan mobilnya didepan kediaman Arkam, memberikan kunci candangan rumah tersebut pada Aruna.“Terima kasih sudah memenuhi permintaan papa,” Aruna meresponya dengan seulas senyum tipis dan bergegas keluar dari mobil, masuk kedalam rumahnya.
“Kau sudah pulang?” Akram tak dapat menahan senyum yang tergurat diwajahnya, melihat Aruna yang tengah duduk menonton televisi.
Aruna menoleh, ia segera berdiri dari duduknya.“Papa yang memintaku kembali,” jawabnya dengan nada dingin.
“Aku belum memperbaiki pintu kamar tamu,” Akram menahan lengan Aruna yang hendak meninggalkanya, ingin ia meminta untuk Aruna tidur bersamanya malam ini, tapi rasanya sulit mengatakan itu, Aruna pasti menolaknya.
“Aku bisa tidur tanpa pintu,” ketus Aruna, melepaskan tangan Akram dan bergegas menaiki anak tangga. Akram mengehela nafas, benar saja tebakanya, Aruna menolaknya.
__ADS_1
***
Akram mengerjapkan matanya, melihat pantulan sinar matahari yang sudah menembus gorden tipis dikamrnya, tidurnya terganggu oleh suara bel yang berbunyi berkali kali, ia beringsut dan segera turun dari ranjangnya, tedengar samar suara Aruna yang seperti akan muntah dari arah kamar mandi dilantai bawah, Aruna masih menikmati rasa mual diawal kehamilanya. Akram memilih segera membuka pintu, mengehentikan suara bel yang masih saja berbunyi.
“Liona?” matanya mendelik kaget melihat wanita itu yang datang tiba tiba kerumahnya.“Ada apa kamu kesini?” Akram merasa tidak ada perkerjaan yang harus dibahasnya dengan wanita itu.
“Memangnya aku enggak boleh kesini? aku hanya ingin mengisi hari libur kita,” sahut Liona dengan senyum menggoda dibibirnya.
“Tidak,” Akram hendak menutup pintu tapi tangan Liona lebih dulu menahanya.“Ayolah Akram, aku hanya ingin bersamamu hari ini,” rengeknya dengan nada manja, Akram tak memperduliakanya dan lebih memilih naik ke laintai dua menuju kamarnya.“Astaga? kenapa kau mengikutiku?” geram Akram saat Liona mengekorinya menuju kama.“Aku tidak menerima tamu, pergi..” belum sempat Akram melanjutkan ucapnya dengan berani Liona mencium bibirnya, Akram kaget bukan kepalang, Liona benar benar gadis yang lancang dan tak tahu malu, refleks Akram mendorong tubuh wanita itu.
“Kalian?” lirih suara seoarang wanita yang ternyata melihat hal tersebut.
“Aruna?” Akram tampak gelagapan, jelas terlihat sorot mata Aruna yang dipenuhi rasa kecewa.“Aruna, aku bisa menjelaskan ini?”
Aruna menggeleng melihat mereka bercumbu sungguh sangat menyakitkan untuknya, ia tak snaggup berkata hanya air mata yang perlahan lolos memebasahi pipinya, Aruna mempercepat langkahnya, ia ingin segera keluar dari rumah tersebut.“Aruna, dengarkan aku,” Akram mengejar Aruna, meninggalkan Liona yang terlihat bingung karena Akram terlihat begitu panik dan megejar asisten pribanya yang bukankah istri orang lain.
Aruna tak memperdulikan suara Akram yang berulang kali memanggilnya, ia terus mempercepat langkahnya, nahas, kakinya terpelset tepat di dekat tangga, membuatnya tak dapat menahan kseibangan dan jatuh.“Aruna!” seru Akram melihat tubuh Aruna tersungkur kelantai dasar, Akran beralari dengan panik, detak jantungnya berpacu dengan cepat diselimuti rasa panik yang luar biasa.“Aruna, bangunlah,” Akram menepuk nepuk pipi Aruna yang sudah tak sadarkan diri.
Liona yang melihat kejadian tersebut pun segera menuruni anak tangga, melihat Akram yang hendak keluar rumah seraya menggendong Aruna.“Tunggu,” Liona menahan lengan Akram.“Dimana suaminya? bukankah kita seharusnya kita menghubunginya?” Liona justru mempertanyakan hal tersebut.
__ADS_1
“Aku suaminya!” tegas Akram yang langsung bergegas menuju mobilnya, membawa Aruna kerumah sakit terdekat, meninggalkan Liona yang tanpak tercengang tak percaya denga pengakuan Akram.