Celebrity Husband

Celebrity Husband
Hadiah untuk Arga


__ADS_3

Bab 67.


Satu bulan kemudian.


[Malam ini kau ada waktu? aku tunggu di resto XXX]


“Pesan dari siapa?” tanya Hellena melirik Arga yang tampak serius menatap layar ponselnya.


“Dari Akram, dia mengajak makan malam,”


“Oia? bagus dong, boleh aku menemanimu?” seru Hellena antusias.


“Boleh,” Arga tersenyum dan langsung mengiyakan ajakan dari Akram.


***


“Kenapa mereka lama sekali?” keluh Akram yang sudah menunggu diresto tersebut bersama dengan Aruna. Saat ini Akram sudah sembuh dari cidera yang dialaminya , ia pun mulai beraktifitas seperti biasa lagi.


“Itu mereka,” Aruna menujuk Arga dan Hellena yang baru saja masuk bersama kedalam resto tersebut. Aruna tersenyum tipis melihat Arga yang berjalan beriringan seraya menautkan jemarinya mesra pada Hellena, mereka tampak serasi. Aruna bersyukur Arga bisa menemukan pasanganya .


“Kalian sudah lama?” sapa Arga duduk bersama Akram dan Aruna.


“Lumayan, aku belum memesan makan, pesanlah,” balas Akram.


“Kamu saja yang pilih,” Arga menyodorkan daftar menu pada Hellena, gadis itu tampak antusias memilh menu yang menarik menurutnya.


“Aku tidak ingin berbasa basi, terima kasih untuk bantuanmu,” ujar Akram pada Arga yang sontak saja membuat Hellena mendongkakan wajahnya bingung.


“Terima kasih? terima kasih untuk apa?” tanya Hellena.


“Arga lah yang membantuku menyelsaikan kasus pengeroyokan ku, dan itu ternyata ulah pemlik agensi yang menaungi ku dulu,” jelas Akram.


“Benar begitu?” Hellena menatap Arga yang duduk disisinya, kerena selama ini Arga tak pernah bercerita tentang hal itu.


“Ya, waktu aku menabrak seorang pejalan kaki dan warga mengiring ku ke kantor polisi disana aku bertemu dangan akrtor baru itu dan mendengar percakapan mereka, mereka ternyata sangat licik membuatku geram,” jelas Arga. Hellena tersenyum simpul ia tak menyangka jika Arga melakukan hal itu.


“Kalau bukan karenamu mungkin aku masih terduduk dikursi roda dengan rasa putus asa, ini hadiah untukmu,” Akram mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya dan memberikanya pada Arga.


“Tiket pesawat?” Arga menatap bingung dua tiket ditanganya.


“Ya aku ingin mengaajakmu dan Hellena berlibur bersama ke Bali, aku juga sudah memboking kamar hotel untuk kalian,” ujar Akram.

__ADS_1


“Oya? membayangkanya saja sudah sangat menyengkan,” seru Hellena.


“Terima kasih, aku rasa ini terlalu berlebihan,” balas Arga merasa sungkan.


“Sudahlah yang jelas lusa kita akan berlibur bersama.” Akram dan Aruna tersenyum. Seorang pelayan mengantar pesanan dan mulai menyantap makan malam mereka dengan obrolan obrolan hangat.


***


Keesokan harinya mereka ber empat pergi kepulau Bali menggunakan pesawat komersil.“Apa kamu sakit?” tanya Akram melihat Aruna hanya terdiam dengan wajah pucatnya saat pesawat yang mereka naiki hendak lepas landas.


“Aku.. aku takut,” balas Aruna dengan wajah polosnya. Ini pengalaman pertamanya menaiki pesawat, ada rasa takut saat perlahan psawat itu mengudara.


Akram meraih tangan Aruna.“Tanganmu digin,” benar tangan kulit halus itu terasa dingin saat Akram menggengamnya lembut, Aruna benar benar takut.


“Maaf sepertinya aku terlalu kampungan,” lirihnya. Akram tersenyum, Aruna mendelik kaget saat tiba tiba Akram mecium bibir ranumnya.“Sayang, apa yang kamu lakukan?” spontan Aruna mendorong tubuh Akram, melepaskan ciumanya.


“Kenapa kita sudah menikah?” balas Akram dengan wajah tenangnya sedikit lucu melihat ekpresi wajah Aruna.


“Tapi ini dipesawat, bagaimana kalau ada yang melihat,” dengan wajah yang merah padam Aruna melihat sekelilingnya, berharap tak ada yang melihat ciuman mereka barusan.


“Bagaimana persaanmu?” tanya Akram masih dengan tawanya.


“Iya, apa kau masih merasa takut, pesawat ini sudah mengudara tinggi,”


Ucapan Akram membuat Aruna tersikap, sebelah tanganya memeganggi dadanya yang tadi berdegup kencang kerena takut, kini sudah kembali tenang, ciuman Akram berhasil mengalihkan rasa takutnya.“Aku sudah tidak takut lagi,” Aruna tersenyum.


Akram memiringkan kepala Aruna agar bersandar di dada bidangnya.“Baguslah, nikmati liburan ini.” ucapnya mengusap pucuk kepala dan mengecup kening Aruna.


Setelah menepuh perjalan beberapa jam mereka sampai di pulau Dewata tersebut.“Hotel yang ku boking tak jauh dari sini,” ujar Akram pada Arga saat mereka turun dari pesawat.


“Terima kasih, sebenarnya ini berlebihan, kita bertemu dihotel nanti,” balas Arga yang langsung bergegas pergi meninggalkan bandara, begitu juga Aruna dan Akram yang langsung menaiki taksi menuju hotel tersebut.


“Apa kamu memboking dua kamar untuk mereka?” tanya Aruna disela sela perjalanan mereka.


Akram menggeleng.“Tidak, aku hanya memboking satu kamar untuk mereka,”


“Apa?” spontan Aruna membungkam mulutnya sendiri.“Tapi mereka belum menikah?” protes Aruna merasa Akram sepertinya sengaja melekukan itu.


“Mereka sudah dewasa.” Akram hanya tersenyum usil.


Taksi itu berhenti disebuah hotel berbintang lima. Aruna memutar pandanganya tampak hotel mewah yang berdiri kokoh yang dihadapanya, hotel itu berada dipesisir pantai lepas, pemandangan eksotias Bali sungguh sangat memanjakan mata.“Ayo,” Akram meraih tangan Aruna, menuntunya masuk kedalam, pegawai hotel dengan cekatan membantu membawakan koper, mengantar mereka sampai depan pintu kamar yang sudah dipesan sebelumnya.

__ADS_1


Akram membuka kode akses kamar hotel, pitu kamar itu terbuka, Aruna yang masih berdiri diambang pintu tampak tercengang, kamar hotel yang tempak elegan itu terlihat cantik dengan view yang menghadap kearah pantai begitu terlihat mempesona.“Kau suka?” melihat Aruna yang masuk kekama hotel dengan senyum sumringahnya.


Aruna mengangguk, bola matanya kini beralih pada taburan kelopak bunga mawar yang dihias cantik atas sprei berwarna putih.“Ini untuk malam spesial kita,” Akram melingkarkan tanganya dipinggang Aruna, menatapp wajah Aruna yang masih jelas memancarkan gurat bahagianya.“Ini seperti penggantin baru saja,” ucapnya sedikit tertunduk malu.


Akram mengusap lembut rambut hitam yang tergerai indah itu, mengusap pipi Aruna yang bersemu.“Anggapalah ini malam penggantin kita,” penyesalan tentu tertanam dibenak Akram mengingat bagaimana dulu ia memperlakuakan Aruna sangat kejam saat awal menikah.“Maaf, mungkin ini terlambat,” sesalnya.


Aruna menggeleng.“Tidak ada yang terlambat, semua berlajan dengan seharusnya dan aku bahagia,”


Akram tersenyum, mengecup dalam kening Aruna.“Bersiaplah, aku akan mengajakmu makan malam.” bisiknya, mengecup telinga Aruna sekilas.


***


Di tempat berbeda Arga menuntun Hellena menuju kamar hotel mereka.“Masuklah,” setelah membuka pintu akses.


Hellena memutar pandanganya pada kamar hotel yang tampak cantik dan nyaman itu.“Ini kamarku? Lalu dimana kamarmu? apa di sebelah?”


Arga menggeleng.“Disini,”


“Disini?” Hellena mengerutkan keningnya tak mengerti.


“Akram hanya memboking satu kamar hotel untuk kita,”


“Apa?” Hellena terkejut.“Kenapa dia memesan hanya satu kamar? Lalu bagaimana jika..” Hellena menggantung ucapanya, fikiranya buruknya sudah berkeliaran kemana mana.


“Jika apa?” Arga memajukan langkahnya, membuat hampir tak ada jarak diantara kedua, deru nafas Hellena terasa tercekat karena gugup.


“Kita belum menikah, tak baik jika tinggal sekamar,” Hellena yakin Akram segaja melakukan ini.


Arga tertawa kecil, menyentil gemas kening gadis itu.“Memangnya kau fikir kita akan melakukan apa? aku hanya akan tidur bersama mu,”


“Tidur bersama?”


“Ya, tidur bersama,” Arga naik keranjang merebahkan tubuhnya, Arga menepuk ranjang king size tersebut meminta agar Hellena mendekat.


Hellena menggelengkan kepalanya, wajah nakal Arga seakan menggodanya.“Tidak, aku akan memesan kamar yang lain saja,” ucapnya hendak keluar kamar.


“Hotel di dekat sini mahal, untuk satu kamar ini saja Akram mengeluarkan uang 10 juta permalamnya,” jelas Arga.


“Apa? 10 juta?” Hellena mendelik tak percaya.


Arga beranjak dari ranjang.“Ya, jangan menyusahkanya untuk memesan satu kamar lagi, bersiaplah kita makan malam setelah ini.”ujar Arga teersenyum penuh arti, bergegas keluar meninggalkan Hellena yang diam mematung.

__ADS_1


__ADS_2