Celebrity Husband

Celebrity Husband
Panik


__ADS_3

Bab 60.


Pagi menjelang, suasana klub telah sepi dengan pengunjng, Hellena telah selesai dengan perkerjaanya hari itu, langkah gontainya bejalan keluar tempat tersbut.“Jangan berkrja disini lagi,” ujar Arga menahan lengan gadis itu. Hellena memetung, sebelah tanganya memijat pelan pelipisnya. tubuhnya sepoyongan hampir terjatuh.“Kau kenapa?” tanya Arga panik. Hellena tak menjawab, Arga meraih telapak tangan gadis itu, sangat terasa dingin. Arga segera memasukanya kedalam mobil.


“Sepertinya kau sakit, aku akan membawamu kedokter,” ujar Arga menatap Hellena yang tampak mengigil, wajahnya sudah sangat memucat.


Hellena menggeleng.“Tidak, aku ingin keapartemen saja,” tolaknya dengan terbata bata.


“Diapartrmen kau bisa mati,” ketus Arga.


Jemari Hellena yang bergetar mencoba meraih lengan Arga.“Aku mohon, bawa aku keapartemen, ada obatku disana,” pintanya dengan wajah yang telihat tersiksa.


Arga pun menuruti permintaan Hellena, memberhentikan mobilnya diapartemen tersebut. Dengan tergesa gesa Arga keluar dari dalam mobil, menggendong tubuh Hellena yang mengigil masuk kedalam apartemenya. Arga merebahkanya diranjag, Hellena meringkuk, bibirnya terus bergetar, Arga tak mengerti apa yang terjadi dengan gadis itu.“Dimana obatnya?” tanya Arga.


Hellena menujuk laci dimeja riasnya, Arga bergegas mengambilnya, memperhatikan obat yang dimaksud.“Kenapa diam saja? berikan obatku,” tangan Hellean terulur meminta, melihat Arga yang tak kunjung memberikan obat yang dimksud.


“Ini yang kau sebut obat?” sekali melihat Arga langsung tau jika itu obat terlarang, Arga tak mengerti mengapan Hellena sampai mengkomsumi barang haram tersebut.


“Aku butuh obatku,” pinta kembali Hellena dengan suara getirnya.


Arga justru berjalan menuju balkon apartemen, Hellena mengejarnya.“Berikan obatku,” Hellena berusaha meraih obat yang dipegang Arga tapi Arga justru melemparkan obat terlarang tersebut dari balkon apartemen.


“Kenapa kau membuangnya?” pekik Hellena yang kini justru menangis.


“Kau tak membutuhkanya,” tegas Arga.


“Aku membutuhkanya, membutuhkanya,” Hellena menangis terisak, jatuh terduduk dilantai, ia mendekap tubuhnya sendiri yang semakin terasa mengigil, sakit menjalar terasa menusuk semua anggota tubuhnya, Hellena berteriak tanpa sadar, ia seperti orang yang tak waras, terus berucap menginginkan obat terlarang itu.


Arga kembali menggendong Hellena merebahkanya diranjang, Hellena terus berteriak tak karuan.“Kenapa kau membuang obatku, kamu jahat,” rintih Hellena yang sudah lemah, jemariya menarik narik legan Arga yang berdiri dihadapanya. Hellena hanya dapat meringkuk, merasakan tubnuhnya yang semakin membeku, ia menangis menahan sakit disekujur tubuhnya.


Arga mendekat, medekap tubuh gadis itu.“Kau tak butuh obat itu,” ujar Arga.


Hellena terdiam, rasa sakit membuatnya kesulitan bicara, tenanganya terasa habis.“Ibu, apa itu kau? aku rindu pelukmu,” ucap Hellena dengan suara yang lemah, merasakan seseoarang mendekap hangat tubuhnya.“Aku kesepian ibu,” ucapnya lirih dengan suara yang terdengar tercekat meringis menahan sakit.


“Aku bukan ibumu, tapi aku tak akan membiarkanmu kesepian lagi,” bisik Arga lembut, menautakan jemarinya pada gadis itu, menggengamnya lembut, mendekapnya hangat terpaksa membuat Hellena merasakan sakit itu, agar tak bergantung pada obat terlarang lagi.


Sekian lama Hellena masih berteriak, meringis atau bahkan memukul tubuh Arga, kini Hellena sudah lebih tenang, ia terlelap kehabisan tenaga, Arga melepas peluknya, meyelemuti tubuh Hellena. Arga menatap wajah yang tampak pucat itu, ia tak menyangka gadis secantik Hellena mempunyai kehidupan yang berliku dan berantakan.


***


 


“Sayang,” panggil Akram yang baru masuk kekamar mencari keberadaan Aruna.

__ADS_1


“Kamu sudah pulang?” Aruna yang baru keluar dari kamar mandi segera mencium punggung tangan suaminya itu.


Akram tersenyum, mengecup kening Aruna.“Apa dia makan dengan baik hari ini?” Akram mengelus perut Aruna yang sudah membesar.


Aruna mengangguk.“Lihatlah ini,” Aruna mengambil papar bag dari dalam lemari dan menujukanya pada Akram.


“Apa ini? kau membeli pakaian bayi?” tanya Akram melihat isi paper bag tersebut.


Aruna menggeleng.“Bukan aku yang membelinya, tapi mama,”


“Apa mama?” Akram mendekatkan telinganya, mungkin ia salah mendengar.


Aruna mengangguk.“Iya, ini mama yang memberikanya,” jelasnya denga senyum sumringah dibibirnya.


“Benarkah? syukurlah, ini seperti keajaiban,” ujar Akram yang merasa senang karena kini mamanya mulai perhantian pada calon bayi yang dikandung Aruna. Tak lama terdengar suara ketukan pintu kamar, Akram bergegas membukanya.


“Ada apa mah?” tanyanya melihat ibu Risna yang sudah berdiri dibalik pintu.


“Kalian bersiaplah, kita akan keacara pernikahan jeng Rima,” titah bu Risma.


“Oh, aku siap siap dulu,” balas Akram yang langsung mengiyakan ajakan mamanya itu.


“Ada?” Aruna menghampiri Akram yang sudah menutup pintu.


“Eumm, aku tidak ikut saja,” ujar Aruna, berfikir pastilah ibu Risna hanya meminta Akram saja yang pergi, bukan dirinya.


“Kenapa? kamu sakit?” Akram menghaampiri, memegang kening Aruna.


Aruna menggeleng.“Tidak, aku tidak ingin pergi malam ini,”


Akram mengehela nafas kecewa, ia berharap Aruna bisa menemaninya malam ini.“Yasudah, aku tidak akan lama disana,” Akram mencoba mengerti, mungkin Aruna sudah lelah berpergian, mengingat kandunganya yang sudah bulanya.


Aruna mengangguk. Selesai mengganti pakaian Aruna mengantar Akram keluar rumah, terlihat bu Risna dan pak Setya yang sudah menungg diruang tamu.“Kalian sudah siap?” ucap bu Risna melihat Akram dan Aruna yang perlahan menuruni anak tangga.


“Sudah mah,” sahut Akram.


“Aruna, kamu mau pergi dengan pakaian seperti itu?” melihat Aruna yang masih mengenakan piyamanya.


“Aku? bukanya seharusnya Akram pergi sendiri?”


“Pergi sndiri?” ucapan Aruna justru membuat bu Risna bingung.“Memangnya kamu mau Akram pergi sendiri dan banyak dilirik wanita disana?”


Aruna tertegun, ia meengira bu Risna tidak akan mengajaknya pergi bersama.“Ya, Aruna kamu ikut pergi saja, dirumah juga kamu sendiri, kami khawatir,” timpal pak Setya.

__ADS_1


“Aruna..”


“Tunggu sebentar, aku ikut,” uajr Aruna memotong cepat ucapan Akram.


“Tapi sayang tadi kamu bilang?” Akram menatap heran Aruna yang langsung bergegas masuk kedalam kamarnya, dengan tergesa gesa ia mengganti pakaian dan memoles tipis wajahnya dengan make up, setelahnya ia bergegas pergi kesebuh hotel tempat acara pernikahan tersebut dilangsungkan.


Tak berapa lama meraka sampai, Aruna mealangkah masuk kedalam, tampak para undangan yang sudah berdatangan disana, Akram menautkan jemarinya, mengandeng Aruna, melewati para tamu udangan yang tampak memperhatikan mereka. Aruna tersenyum simpul, dengan menggunakan dress sabrina berwarna baby blue dihiasi aksen payet dibagian dada, membuatnya tampak begitu anggun meski hanya menggunakan make up tipis.


“Kamu haus?” tanya Akram.


“Ya, aku haus,”


“Tunggu sebentar aku ambilkan minum,” Akram segera berjalan menuju sebuah meja besar tempat banyak makanan dan minuman tersaji disana. Aruna hanya diam mematung berdiri disisi bu Risan yang juga sedang menunggu suaminya mengambilkan minum.


“Jeng Risna,” sapa seorang wanita tampak tersenyum dan memberi pelukan hangat pada ibu mertuanya itu.


“Jeng Rima, pernikahan ini meriah sekali, dekorasinya juga bagus,” puji bu Risna.


“Bisa aja , oia ini menantu jeng Risna?” tanya wanita itu melirik Aruna yang berdiri disisi mertuanya itu.


“Oia ini menantu saya,” balas bu Risna yang awalnya hanya terdiam.


“Menantu ibu cantik sekali,” pujinya, melihat pertama kali Aruna dari dekat, Aruna memeberi salam sopan seraya tersenyum.


Acara resepsi malam itu berlangsung meriah, Aruna menikmati setiap makanan yang tersaji malam itu, Akram dengan semangat menyodorkan berbagai makanan, ia merasa sangat senang di masa kehamilanya Aruna selalu lahap manyantap makanan. Aruna duduk dikursi menikamati alunan musik, memutar pandanganya melihat para tamu yang semakin banyak.“Kenapa tiba tiba perutku sakit? apa aku terlalu banyak makan?” gumamnya seraya memegangi perutnya yang membuncit.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Akram melihat Aruna yang sedikit membungkuk memegangi perutnya.


“Sakit sayang, perutku sakit,” rintihnya merasa saklit yang semakin terasa menjalar.


“Sakit?” Akram tampak panik.


“Kenapa Aruna?” tanya bu Risna melihat gelagat tak biasa menantunya itu.


“Perutnya sakit,” sahut Akram tampak bingung.


“Sakit? Aruna, apa itu cairan ketubanmu?” ibu Risna tak kalah panik melihat cairan ketuban yang mengalir dari pangkal pahanya. Aruna hanya menggeleng, tak sanggup bicara.


“Jeng Risna, apa menantu jeng Risma mau melahirkan?” bu Rima yang melihat dari kejauhan segera menghampiri.


“Iya, sepertinya Aruna mau melahirkan, Akram ayo cepat kita bawa kerumah sakit,” titah bu Risna, membuat semua yang ada disana tampak panik, Akram dan pak Setya segera memapah Aruna keluar dari hotel, Aruna terus merintih menahan sakit yang tak pernah dirasakanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2