Celebrity Husband

Celebrity Husband
Makan siang bersama


__ADS_3

Bab 34.


Part ini sedikit mengandung adegan hiya hiya.. yang lagi puasa di tahan dulu ya..


Sepasang mata itu saling bertemu, jemari Aruna tergerak berusaha melepasakan cengkraman Akram di perlgelangan tanganya, Akram mengendurkan cengkramanya tapi Aruna justru membeku saat bibir lembab itu menyentuh permukaan bibirnya, menyesapnya lembut, bibirnya yang terkatup pelahan terbuka, tanda tubuhnya merespon kecupan itu.


“Maafkan aku,” samar terdengar bisikan lembut itu, Aruna terpejam merasakan hebusan hangat nafas Akram melewati daun teliganya, mengecupnya mesra. satu persatu kancing blouse itu terlepas, Aruna dapat merasakanya saat tangan Akram mengusap perut ratanya, menyesap sisi lehernya, meninggalkan banyak tanda kepemilikan disana, ia berfikir untuk menolak setidaknya mendorong tubuh kekar yang sedang berada diatas tubuhnya itu,tapi ia justru mengangkat pinggulnya saat Akram melapas pengait bra merah muda yang dikenakanya, menyesap dadanya rakus, Aruna mengeliat, tanda tubuhnya tak dapat menolak sentuhan itu.


Akram mendongkakan wajahnya, ia mengulum senyum melihat wajah Aruna yang merona, Aruna memalingkan wajahnya yang bersemu malu. Akram melepas kaus berwarna putih dan celana jeans yang dikenakanya, kini keduanya sudah sama sama polos tanpa sehelai benang, Aruna bahkan tak berani mendongkakan wajahnya saat sepasang mata teduh itu terus memandangi, mencium dan menyesap setiap inci tubuh polosnya, Aruna mengigit bibir bawahnya, menahan desahan dan desiran yang membuat bagian intinya kian terasa basah dan berkedut.


Jemari Akram tak hentinya mengusap, meremas bagian dada yang kenyal dan padat seukuran genggaman tanganya, membuat Aruna semakin mengeliat tak karuan, tubuh polos itu saling bersentuhan, bergesekan lembut beriringan dengan penyatuan keduanya, desahan pelan tak dapat lagi ditahan Aruna membuat hasrat Akram semakin menggebu, mempercepat ritme permainanya, mecari titik klimaks yang meminta dituntaskan.


Erangan nikmat lolos dari bibir Akram, tanda ia medapatkan pelepasan yang sempurna, kecupan hangat dikening Aruna mengakhiri keintiman keduanya, kedua lenganya melingkar dipinggang Aruna, mendepakapnya sepanjang malam.


***


Aruna mengerjapkan matanya, ia beringsut, ekor matanya melihat sepasang lengan kekar yang masih melingkar di pinggangnya, dengan hati hati Aruna melepaskan lengan Akram, baru saja tubuhnya bergegser tapi Akram sudah lebih dulu kembali menarik pinggang Aruna menempel di dada bidangnya.“Mau kemana?” suara Akram menyapa lembut pagi itu.


“Ak.. aku mau berkerja, lepasakan,” Jawab Aruna sedikit gugup.


“Aku sudah tau jadwalmu, kamu libur hari ini,”

__ADS_1


Aruna tertegun, Akram benar, ia tidak tidak berkerja hari ini.“Kalau begitu lepasakan, aku mau mandi,”Akram melepaskan lenganya. Aruna sedikit membuka selimut tebal di tubuhnya, matanya membualat melihat tubuhnya yang polos , refleks ia menarik selimut tersebut berniat akan memunguti bloues dan pakian dalamnya yang berserakan dilantai.“Lepasakan tanganmu,” imbuh Aruna saat Akram menahan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.


“Aku kedinginan,” Akram enggan melepasakan.


“Lepaskan, aku mau mengambil pakaianku,” bak anak kecil pagi ini mereka awali dengan memperebutkan satu selimut.


“Ambilkan saja,”


“Tapi aku..” suara Aruna mengantung.


“Tapi apa? kamu malu mengambilnya dengan telanjang? aku bahkan sudah melihat semuanya.” goda Akram tersenyum jahil.


“Yasudah aku tidak jadi mandi,” sungut Aruna berdecih kesal.


“Kamu itu menyebalkan!” Aruna melepas lengan Akram yang kembali memeluk tubuhnya, ia beranjak dari ranjang, dengan kilat ia memunguti pakainaya dilaintai, wajahnya mungkin sudah merah padam saat Akram tersenyum tipis melihat tubuh polosnya setengan berlari menuju kamar mandi.


Sesaat kemudian Aruna keluar dari kamar mandi, melihat Akram yang masih bersandar di ranjang .“Sudah selesai?” Akram beranjak dari ranjangnya


“Sudah,” Aruna berjalan menuju arah pintu, beberapa kali menggerakan gagang pintu.“Kenapa dikunci?”


“Aku memang menguncinya,” Akram memperlihatkan kunci kamar yang dipegangya.

__ADS_1


“Kenapa?” Aruna mengerutkan keningnya, apa Akram berniat mengurung dirinya dikamar seharian?


“Aku ingin mengajakmu, makan diluar, jadi jangan pergi,”


“Makan diluar?” Akram berjalan menuju kamar mandi dengan kunci kamar yang masih dipegangya. Aruna mengehela nafas pelan, memilih duduk di sudut ranjang sampai Akram selesai mandi.


Tak lama Akram keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, ia berjalan kearah lemari, dari cermin lemari Aruna tanpa sadar memperhatikan dada bidang Akram, terlihat begitu kekar dan cukup menggoda.“Kamu mau lagi?”goda Akram memergoki Aruna yang memandanginya.


Refleks Aruna memalingkan wajahnya, Akram tersemyum tipis, mengenakan kemeja berwarna hitam yang dipilihnya.“Ayo pergi,” Ajaknya meraih tangan Aruna keluar dari rumah. Akram pun melajukan mobilnya ke sebuah mall.


“Kita mau makan dimana?” tanya Aruna saat keluar dari mobil.


“Dimana saja,” balas Akram kembali meraih tangan Aruna masuk kedalam mall, seharusnya Aruna mungkin menepis tangan Akram, tapi ia tak melakukan itu, genggaman Akran terasa hangat untuknya, ia bahkan menikmati saat suaminya itu meramas lembut telapak tanganya, ini kali pertama Akram menggandengnya di tempat umum, walau beberapa pasang mata tampak memperhatikan keduanya.


Akram masuk kesebuah cefe favoritnya, memesan makan dan minum disana, suasana cafe memang tidak ramai membuat Aruna dapat mendengar beberapa pengunjung di dekat meraka tampak sedang bergunjing tentangnya.“Jangan perdulikan mereka,” ujar Akram melihat ekor mata Aruna tampak melirik orang orang yang tengah membicarakanya, kabar tentang Akram memanglah belum surut membuat aktor itu masih di pandang sebelah mata saat ini.


Aruna berusaha fokus menyantap makan siangnya, sampai ponsel yang diletakan di meja berdering, tampak 1 pesan masuk, dengan jelas Akram melihat nama Arga si pengirim pesan itu. Aruna meraih ponselnya, membaca pesan yang di terimanya.“Kau mau menemuinya?” Akram menerka nerka jika Arga pastilah mengajak istrinya itu bertemu.


“Hmm..” Aruna mengangguk pelan.


Akram meletakan sendok dan garpu yang di pegangnya, selera makannya hilang seketika.“Pergilah, aku tak melarang mu,” Akram mengibaskan tangannya, berusaha terlihat tenang padahal hatinya sudah dongkol setengah mati.

__ADS_1


Aruna berdiri dari duduknya.“Aku akan menemuinya bersama suamiku.” ujar Aruna yang sontak saja membuat Akram tertegun tak percaya.


__ADS_2