Celebrity Husband

Celebrity Husband
Periksa kandungan


__ADS_3

Bab 19.


Akram asik dengan perkerjaanya sampai tiba waktu break syuting ia memutar pandanganya mencari Aruna.“Kemana dia?” gumamnya, langkah kakinya mencari dibeberapa tempat tapi tetap saja tidak ada, Akram meraih ponsel disakunya mencoba menghubungi istrinya itu tapi Aruna tak mengangkatnya.“Selalu saja buat masalah.” batinya geram.


Sampai malam hari Akram kembali kerumah, dengan tergesa ia masuk kedalam rumah.“Aruna,” panggilnya dengan suara lantang tak ada jawaban, sampai matanya menangkap Aruna yang tengah mneyiapkan makan malam dimeja makan.“Apa kau tuli?” Akram menghapirin dengan rasa kesal. Aruna menoleh sekilas, lalu kembali fokus meletkan beberapa lauk pauk dimeja makan.


“Makanlah,” ia justru memyuruh Akram makan tak perduli pria dihadapanya itu tengah menatapnya dengan kesal.


“Kenapa kau pulang tak mengabariku,” Akram menahan lengan Aruna yang hendak meninggalakanya. Aruna terdiam, ia memang memutuskan langsung pulang, rasanya sangat benci melihat pak Reno yang sudah melecehkanya tadi ditambah Akram yang tidak mempercayainya.“Sepertinya kau benar benar tuli,” umpatnya kesal, butuh beberapa menit untuk menunggu jawaban dari bibir Aruna.


“Untuk apa aku disana? pria yang melecehkanku terus memperhatikanku dan suamiku tidak percaya,” balas Aruna yang langsung melepaskan tangan Akram menuju kamarnya. Akram pun menyusul melihat Aruna yang tengah duduk dsisi ranjang kamar tamu.


Akram duduk disisinya.“Apa yang sudah dilakukan pak Reno tadi?” tanyanya dengan nada rendah, Aruna hanya terdiam.“Dia melecehkanmu?” Aruna mengangguk pelan. Tangan Akram mengepal kesal.“Sekrang tidurlah,” Akram meraih tangan Aruna agar berdiri dari duduknya.


Aruna tertengun, kenapa Akram hanya bertanya seperti itu tanpa ada tindakan? atau mungkin menegur atasanya itu, apa Akram sangat takut denganya.“Kamu tak mau menegurnya?” Aruna menatap Akram heran, bukankah seharusnya seorang suami akan marah jika istrinya dilecehkan.


“Ya, aku akan menegurnya,”


“Kapan?” Akram terdiam.“Aku ingin kau menegurnya dihadapanku?” pinta Aruna.


“Sudahlah jangan bersikap seperti anak kecil!” sentak Akram.“Sekrang tidurlah,” masih menarik tangan Aruna agar berdiri dari duduknya.


Aruna menggeleng.“Aku ingin tidur disini saja,”


“Terserahlah,” ujar Akram yang lansung berlalu pergi masuk kekamarnya.

__ADS_1


Aruna kembali tertunduk, matanya mulai terasa perih menahan cairan bening yang akan megalir dari sudut matanya. Kenapa respon Akram seperti itu? untuk menegur saja dia tidak mau, sepertinya Akram sangat takut dengan pria itu, pak Reno memegang kendali atas perkerjaanya. Ya perkerjaan dan karirnya tentu lebih penting untuknya dibanding Aruna istri yang tidak dicintainya, Aruna menyeka air mata yang sedikit mambasahi pipinya.


***


Akram duduk dikursi makanya.“Makanlah,” Aruna mengambi nasi dan beberapa lauk pauk lalu memberikanya pada Akram, tak ada percakapan diantara keduanya ruang makan itu tampak hening.“Berapa usia kandnganmu?” Akram memulai percakapan.


“Empat minggu,” balas Aruna datar, tanpa melihat kerah Akram, fokus pada sarapanya.


“Nanti sore aku pulang, kita periksa kandunganmu,”


Ucapan Akram sedikit terdengar lucu diteliga Aruna, membuat makanan yang disantapnya sulit turun ketenggorokan. Aruna meraih air putih disisinya dan mengguknya setengah gelas.“Tidak usah, janin ini akan baik baik saja,” tolak Aruna, biukankah ia tak mengakui janinya kenpa harus bersikap seolah perduli.


Akram menyudahi sarapanya.“Kita akan tetap pergi, bersiaplah nanti sore,” Akram berdiri dari duduknya.


“Apa kamu akan tetap memeriksakan DNA janin ini?” seru Aruna dengan suara nyaring saat Akram hendak meninggalkan meja makan.


Benar benar pria aneh, bahkan ia seakan sudah tau jiak tes DNA hanya bisa dilakukan pada janin diatas usia 10 minggu, ia benar benar sudah berniat melakuakan itu, seharusnya ia tak usah memperdulikan lagi janinnya. batin Aruna, lirih.


Akram memilih untuk pulang lebih cepat sore itu, dilihatnya Aruna yang tengan mencuci piring didapur saat masuk kerumah.“Kamu belum bersiap siap?” tegur Akram yang sudah menyuruhnya bersiap siap sebelum ia pulang.


“Aku tak ingin kedokter kandungan,” Aruna mematikan air kran yang masih mengalir tanpa menoleh.“Seharusnya kau membiarkan janin ini mati saja tak usah memeriksanya,” lirih Aruana merasa sangat kecewa karena Akram tetap tak mengakui dan akan memriksa DNA janinya.


“Kita pergi sekarang.” paksa Akram tak memperdulikan ucapan Aruan, menarik tanganya yang memberontak, memasukanya kedalam mobil. Supir pribadi Akram pun segera melajukan mobinya tanpa menunggu perintah.


“Kamu benar benar egois!” seru Aruna menatap pria disisinya dengan emosi.

__ADS_1


“Aku memang egois, dan akan tetap seperti itu.”


Aruna mengehela nafas dalam, rasanya percuma bicara dengan Akram, ia berusaha mengatur nafasnya lebih tenang, sampai mobil itu terhenti disebuah ruah sakit. Mereka duduk dikursi antrin, menunggu sebentar.“Nona Aruna,” panggil seorang perawat diambang pintu ruangan dokter spesialis kandungan. Mereka pun masuk.


“Silakan duduk,” ujar ramah dokter wanita didalam.“Apa mau dilakukan usg?” tanya sang dokter.


“Iya,” jawab Akram.


“Yasudah,” Dokter itu menyuruh Aruna berbaring diranjang, perawat pun menaikan selimut ketas perut Aruna yang terbuka dan mengoleskan cairan pelumas pada perutnya yang memang masih terlihat rata, sedangkan dokter disisinya meletakan drop diperutnya, mata mereka langsung tertuju pada layar monior, menampilkan samar janin mereka yang masih sebesar biji kacang, Aruna tersenyum tipis melihatnya.


“Usianya sudah masuk kelima minggu ya,” ujar sang dokter.“Tak ada masalah, semuanya baik,” lanjutnya setelah memerikasa. Dokter itu pun kembali kemejanya disusul Akram dan Aruna yang duduk dihadapanya.“Hasil pemerikasaanya baik tak ada masalah, hanya perlu dijaga pola makanya dan jangan terlalu lelah karena usia janinya masih sangat muda, saya akan memberikan beberapa vitamin.” dokter pun menuliskan resep vitaminya pada secarik kertas dan memberikanya pada Arsel. Mereka keluar dari ruang pemeriksaan, setelah mendapatkan vitamin meraka segera pulang, tak ada lagi percakapan keduanya didalam mobil sepanjang perjalanan.


****


Dering ponsel terus berbunyi nyaring , membuat Akram terpaksa membuka matanya yang masih terasa berat. Ia beringsut, jemarinya meraba mencari ponsel yang diletakanya diatas nakas.“Mama?” Akram mengerutkan kening melihat layar ponsel, mendapat panggilan dari mamanya.


“Halo Akram, kamu sudah bangun?” suara ibu Risna terdnegar panik dari balikn telepon.


“Sudah mah, kenapa?”


“Kamu sudah melihat infotaiment pagi ini?”


“Untuk apa aku melihatnya,” jawabnya malas.


“Akram apa benar kamu semalam kedokter kandungan?”

__ADS_1


Pertanyaan ibu Risna sontak saja membuat mata Akram yang tadinya masih menyipit dan mengantuk mendadak terbuka lebar.“Dokter kandungan?”


“Iya, ada media yang menangkapmu pergi kesana dengan seorang wanita. apa benar itu kamu? siapa yang pergi denganmu? apa itu Aruna? apa dia sedang mengandung?” ibu Risna mencecar Akram dengan berbagai pertanyaan. Akram terdiam, jantungnya berdegup panik ia tak menyangka jika ada media yang melihatnya kemarin dirumah sakit.


__ADS_2