Celebrity Husband

Celebrity Husband
Strawberry


__ADS_3

Bab 23.


“Selamat malam, silakan memilih menu diresto kami,”ucap ramah seorang pelayan restoran seraya memberikan daftar menunya pada mereka.


“Pilihlah yang kau suka,” Arga membiarkan Aruna memilih menu yang diinginkanya.


Aruna membaca satu persatu daftar menu yang dipegangnya, semua nama makanan dan minuman itu sangat asing untuknya, walau setiap menu sudah ditampilkan visualnya tetap saja sulit untuknya menerka nerka rasa makanan tersebut.


“Aku ingin minum saja, minuman yang terbuat dari strawberry, jus strawberry misalnya?” ujar Aruna dengan polosnya.


“Disini tak ada jus strawberry nona,” balas si pelayan sedikit menahan tawa.


“Buah strawberrynya saja tidak ada?”


“Tidak ada nona,”


Aruna menghela naafas kecewa.“Aruna , kamu bisa pilih minuman yang lain,” tawar Arga.


Aruna menggeleng.“ Aku tidak mau,” Arga tersenyum tipis melihat wajah Aruna yang seperti merajuk, tampak mengemaskan untuknya.

__ADS_1


“Nanti saya pilih lagi,” ucap Arga pada pelayan yang masih setia berdiri disisi mejanya, pelayan tersbut mengganguk mengerti dan berlalu pergi.“Apa kau ingin buah strawberry?” Aruna mengganguk pelan. Arga terdiam, melirik perut Aruna yang sedikit membuancit, ia seakan lupa jika Aruna sedang mengandung.“Besok aku akan memebelikanya untukmu,” Arga mengelus pucuk rambut Aruna.


Dengan cepat Aruna menggeleng.“Tidak usah, aku tidak terlalu menginginkanya,” ia merasa sungkan, entah kenapa tiba tiba ia menginginkan buah itu, Aruna langsung berfikir jika ini mungkin saja hormon dari kehamilanya,  bukankah seharusnya saat seperti ini suaminya yang mengabulkan permintaanya, bukan pria lain. batin Aruna sedih, sedikit melirik meja Akram yang masih menyantap makan malamnya dengan Liona.


“Kau dengar, ia minta buah strawberry disini? ada ada saja,” ejek Liona yang sedikit menguping percakapan dimeja Arga, ia menggelengkan kepalanya sedikit tertawa. Sedang tangan Akram rasanya sangat gatal ingin menepis tangan Arga yang terlihat masih membelai sulur rambut Aruna. Selesai makan malam Arga pun kembali mengajak Aruna keapartemenya.


“Aku ingin istrahat,” ujar Aruna saat tiba diapartemen, tubuhnya tidak lelah hanya batinya yang lelah melihat Akram yang seolah semakin tak menggangapnya.


“Istrirahatlah,” Aruna segera masuk kekamarnya.


Aruna mengeliat, mengerjapkan matanya, melihat sinar matahari yang mulai masuk kecelah celah gorden apartemenya, suara ketukan pintu mengengatekanya.“Siapa?” Aruna melirik jam dinding disudut ruangan yang sudah menunjukan pukul 9 pagi, pastilah Arga sudah kekantor. Ia segera turun dari ranjang menuju pintu utama.


“Dari siapa?”


“Dari pak Arga,”


“Arga?” Aruna mengerutkan kening.“Terima kasih,” kurir itu pun berlalu pergi.


Aruna menutup pintu aparetemenya, duduk disofa masih dengan wajah bingungnya dibukanya paper bag tersebut tampak box plastik didalamnya.“Makanlah, sepertinya rasanya sedikit asam,” tulis Arga pada secarik kertas didalamnya, yang berisi buah strawberry yang masih segar, Aruna tersenyum tipis sedikit lirih, kenapa pria lain jutru lebih memperhatikanya dibanding suaminya sendiri. Sampai tak lama kembali terdengar ketukan pintu.“Siapa lagi?” Aruna beranjak dari sofa untuk membuka pintu.

__ADS_1


“Akram?” matanya mendelik kaget dengan cepat Aruna segara menutup pintu namun Akram lebih cepat menahan dan mendorongnya, berhasil masuk kedalam.“Mau apa kamu kesini?”


“Pulanglah,” Akram menarik tangan Aruna.


Dengan cepat ia menepisnya.“Au tidak mau,” tolaknya tegas.


“Kau lebih memilih tinggal dengan pria lain? wanita macam apa kau?” sentak Akram.


“Kau sendiri, suami seperti apa? kau tidak pernah mengakui ku terlebih janinku, keluarlah atau aku akan memanggil security untuk mengusirmu,” lirih Aruna, menhan matanya yang mulai terasa panas menahan air mata.


“Baiklah, ini untukmu,” Akram memberikan paper bag pada Aruna.“Terimalah, atau aku tidak akan pergi dari sini,”


Aruna meraih paper bag tersebut lalu membukanya.“Ini?” kembali melihat buah strawberry didalamnya.


“Makanlah, jangan lagi meminta buah seperti ini direstoran , tidak akan ada,” ujar Akram yang mendengar permintaan Aruna semalam, Akram memutar pandanganya pada isi aparetemen Arga, matanya tertuju pada box plastik dimeja.”Apa ini?” ia menghampiri tampak box tersebut berisi buah strawberrynya persis seperti yang ia berikan, Akram meremas secarik kertas yang ditulis Arga, ternyata pria itu lebih dulu memenuhi permintaan istrinya.Tanganya meraih box tersebut dan melemparnya pada tempat sampah disana.


“Kenapa dibuang?” protes Aruna.


“Makan saja buah dariku, jangan darinya!” tegas Akram.

__ADS_1


Akram mendekat, menatap wajah Aruna yang sedikit tertunduk, menyingkirkan sulur rambut yang sedikit menutupi wajah istrinya itu. Hampir tak ada jarak diantara mereka. Akram hendak mencuim bibir ranum dihadapanya itu, namun Aruna segera memalingkan wajahnya, Akram berdecih kesal, lagi lagi Aruna menolak sentuhanya.“Aku pasti akan membawamu pulang,” bisiknya, sedikit mengecup daun teliga yang memerah itu dan berlalu pergi keluar dari aparetemen tersebut.


__ADS_2