
Bab 43.
“Kita pulang saja,” Akram memilih menyalahkan mesin mobilnya meninggalkan tempat tersebut. Mobil itu melaju dengan kecpatan sedang tapi tak ada percakapan di antara keduanya, Akram tetap terdiam sampai mereka tiba dirumah.
“Mau mu apa?” Aruna menahan lengan Akram saat memasuki kamar, ia tau Akram tidak menyukai perkerjaanya Aruna siap untuk melepas perkrjaan yang bahkan baru sehari dijalananinya.“Aku akan mengundurkan diri, aku bisa mengembalikan uang kontrak yang mereka berikan,” Aruna menatap Akram yang tetap terdiam.
“Tidak usah, kamu lanjutkan saja perkerjaanmu, aku tidak apa apa,” balas Akram.
“Kenapa?”
“Sudahlah, lupakan saja kejadian barusan, aku tidak seharusnya seperti itu,” ujar Akram yang mengerti jika Aruna sangatlah suka dengan perkerjaan barunya, rasanya terlalu egois jika ia meminta Aruna berhenti karena egonya.“Mandi lalu tidurlah.” Akram mengecup kening Aruna dan keluar dari kamar. Aruna mengehela nafas dalam, ia terduduk lemas di tepi ranjang, rasanya apa pun yang ia lakukan saat ini menjadi serba salah.
1 Minggu kemudian.
Satu minggu sudah Aruna menjalani perkerjaanya sebagai model, Akram tak lagi membahas tentang ketidaksukaanya pada perrkerjaan baru Aruna, ia mencoba mendukung apapu yang istrinya suka saat ini. Sore itu Akram menjemput Aruna seperti biasa di kantor agensi, walau masih terdnegar orang orang disana yang mencibrnya, Akram mencoba menutup teelinganya rapat rapat dan tak lagi mudah tersulut emosi. Mobil Arkam tiba di kantor tersebut, ia segera melangkah kedalam, ia memutar pandanganya pada lorong ruangan disana, sampai matanya menangkap wajah pria yang tak asing untuknya.
“Pria itu?”
Arga, Akram dengan jelas melihat Arga disana, tampak dia sedang jalan beriringan dengan seorang pria disisinya.“Kenapa dia ada disini?” batinya. Akram tau jika Arga berkerja pada perusahaan manufaktur jadi tidak mungkin jika Arga mempunyai kepentingan disini. Akram pun mencoba mengikuti langkah kaki mereka berdua, mereka masuk kedalam sebuah runagan disana pintu runagan tidak terlalu tertutup rapat membuat Arkam yang besembunyi di balik dinding bisa melihat dan mendengar percakapan mereka dari celah pintu.
“Terima kasih sudah membantuku,” ujar Arga pada pria yang sudah duduk dihadapanya. Akram pun mengerutkan keningnya apa yang sudah dilakukan pria itu sampai Arga berterima kasih denganya.
__ADS_1
“Sayang,” panggil Aruna yang melihat Akram tampak sedang menguping, spontan Akram pun menarik tangan Aruna dan membungkam mulut Aruna.“Ada apa sih?” Aruna tampak bingung, ia mencoba mengikuti mata Akram mengarah.“Buakankah itu Arga?” Aruna sedikit terkejut melihat Arga disana.“Kenapa dia bicara dengan pak Alex?” sambung Aruna.
“Siapa Alex?”
“Dia pemilik agensi ini, dia yang menawari ku perkerjaan ini,”
“Pemilik Agensi?”Akram semakin bingung dibuatnya, mereka pun mencoba menguping percakapaan antara Arga dan pria yang bernama Alex tersebut.
“Ini bayaranmu, ” Arga menyerahkan amplop berwarna coklat pada pria itu.
Pria bernama Alex itu tesenyum sumringah dengan amplop yang diterimanya.“Agensi ku hampir bagus karena memperkerjakan wanita hamil,” pria itu tertawa setelahnya.“Untunglah kamu yang membayar wanita itu jadi aku tidak perlu mengeluarkan uang, aku tidak mengerti apa istimewanya wanita hamil yang jelas sudah bersuami itu, seleramu aneh,” sambung pria tersebut, yang sontak saja membuat Akram dan Aruna tampak tercengang mendengarnya, mereka berdua pun langsung bisa menyimpulkan jika uang kontrak dengan nominal yang besar itu Argalah yang membrinya.
“Seleraku memang aneh, tapi aku mencintainya,” balas Arga dengan senyum mengembang.
Prok prok prok.
Tepukan keras tangan Akram mengagetkan keduanya, Arga sangat terkejut melihat Aruna dan Akram yang tengah berdiri di ambang pintu, begitu pula dengan pria yang bernama Alex itu seketika wajahnya memucat saat kedoknya begitu cepat terbongkar.
“Seperinya aku harus memberi banyak ucapan terima kasih padamu, karena telah memberi istriku banyak uang.” Akram menatap tajam kearah Arga yang masih terduduk di kursinya.
“Arga, kenapa kau melakukan ini?” Aruna menatap penuh kecewa ke arah Arga, ia tak mengerti mengapa Arga sampai berbuat seperti itu.
__ADS_1
“Karena aku mencintaimu,” balas Arga dengan wajah yang teramat tenang berbading terbalik dengan Akram yang rasnya sudah ingin mencekik pria dihadapanya itu.
“Kau sudah gila, Aruna kau harus berhenti perkerjaan ini,” titah Akram yang sekuat tenaga menahan emoisinya dan Aruna pun mengangguk setuju.
Arga berdiri dari duduknya dan tertawa.“Berhenti? apa kau tidak kasihan dengannya jika terus hidup bersamamu,” cibir Arga.
Tanpa aba aba Akram pun mencengkram kerah pakaian Arga.“Behentilah menganggu istriku !” sentak Akram penuh penekanan.
Arga menepis kasar tangan Akram.“Baiklah jika istrimu ingin berhenti, tapi bagaimana dia sudah terlanjur menandatangani kontrak dan jika aku menyeretnya ke meja hijau dia bisa dipidana.” ujar Arga dengan senyum menyebalkanya.
“Aku bisa mengembalikan uang kontrak itu, aku belum memakainya,” ujar Aruna, ia benar benar tak ingin berurusan dengan Arga, rasa penyesalan menyelimuti Aruna andai saja ia tak menerima tawaran itu sejak awal.
Arga kembali tersenyum.“Berikan lemar yang tertinggal,” titah Arga pada Alex yang langsung mengambil beberapa lembar berkas di tasnya.“Bacalah baik baik,” Arga menyerahkan berkas itu pada Akram.“Di sana tertulis jika kontrak bisa saja dibatalkan jika kalian memberikan 3 kali lipat dari nominal sebelumnya,” jelas Arga.
”Apa? tapi ini tidak tertulis sebelumnya,” protes Aruna yang yakin tak ada ketentuan itu dari berkas kontrak yang sudah ia baca sebelumnya.
“Bukankah aku sudah bilang itu lembar yang terlinggal, tapi tanda tanganmu sudah menegaskan kamu sudah setuju dengan semua ketentuan,” Aruna menggelengkan kepalanya ia benar benar tak menyangka jika Arga bisa berbuat selicik itu padanya.
BUUUUKKH !
__ADS_1
Akram yang sudah tak dapat lagi menahan emosinya memberikan pukulan telak di wajah Arga hingga Arga jatuh tersungkur ke lantai.“Aku akan memberikan uang yang kau minta, kau benar benar pria pecundang!” ujar Akram dengan penuh emosi.
Arga mengusap darah segar yang mengalir di sudut bibirnya, lalu terenyum tipis setelahnya.“Baguslah, buktikan saja jika kau bisa bertanggung jawab penuh padanya,” balas Arga dengan wajah kemananganya, ia yakin Akram tidaklah mampu memberikan uang yang dipintanya, ia yakin dirinya yang layak bersama Aruna. Akram menarik tangan Aruna keluar dari ruangan tersebut.