
Bab 30.
“Aruna, apa kau mau memulai semuanya dari awal denganku?” Akram melepas peluknya, menatap intens Aruna yang hanya diam membisu.
“Aku.. tidak bisa,”
Akram melepas perlahan jemari Aruna yang masih digenngganmnya.“Aku mengerti,” ia mencoba memahami, rasa kecewa yang dirasakanya kini pastilah lebih sakit dari yang pernah dirasakan Aruna saat ia selalu mencampaknya, tidak mungkin Aruna percaya begitu saja saat ini.“Aku akan mengantarmu mu pulang,” Akram melajukan mobilnya, tak ada percakapan diantara mereka sepanjang perjalanan sampai mobil itu terhenti di depan kos Aruna, ia turun dari mobil begitu saja, tetap tanpa mengatakan apapun.
***
Dua hari belakangan ini Akram hanya mengahabisakan waktu dirumahnya saja, menikmati kesendirianya, suara ponsel mengangetkanya.
[Akram, kamu harus lihat televisi sekarang,] suara panik ibu Risna terdengar jelas dari balik telepon.
Akram segera menutup teleponya, menghidupkan televisi dihadapanya, ia mengganti beberapa chenel yang ternyata semuanya serempak menayangkan konpresi pers yang yang mengahdirkan pak Reno. Akram membesarkan volume televisi agar ia mendengar jelas apa yang dikatakan pria itu. Pak Reno dengan jelas mengatakan jika Akram telah melakukan pembohongan publik ia membeberkan beberapa bukti, bukti berkas pernikahanya dengan Aruna. Akram mendelik kaget, pria itu selalu bisa melakukan hal diluar nalarnya.
Pernyataanya diperkuat dengan menyatakan Akram telah melakukan kekerasan seksual pada gadis itu yang berakhir pada pernkahanya yang terpaska, membuat Akram semakin jatuh dimata publik, belum cukup puas ia pun mengatakan Akram telah menganiayanya dengan bukti beberapa lebam diwajah dan hasil visum yang dipegangya, ia dengan penuh emosi mengatakan pada para media akan menyeret Akram ke jalur hukum dengan apa yang sudah diperbuatnya.
Akram mematikan televisi, tanganya mengepal menahan emosi.“Aaaaarrrrrggggg!!” Akram menyingkirkan semua yang ada di meja, botol wine dan beberapa gelas jatuh menjadi serpihan kaca yang berantakan, ia meyandarkan punggungnya disofa, memejamnkan matanya, ini benar benar diluar perkiraanya, pria itu sudah sangat menjatuhkanya, karir Akram hancur hanya dalam hitungan hari saja.
Emosi membuatnya lelah ia tertidur disofa sampai suara bel membangunkanya sore itu, langkah gontainya membuka gagang pintu.“Akram,” suara lirih ibu Risna menyambutnya, kedua orang tuanya sudah berdiri dihadapanya.
“Masuklah,”
Akram mempersilakan meraka masuk dan duduk diruang keluarga.“Kau sudah melihat berita terbaru?” suara dingin pak Setya memecah keheningan. Akram meraih ponselnya melihat beberapa berita tentang dirinya di media online, berita itu cepat tersebar luas, sepertinya seisi kota kini tengah membicarakan keburukanya. Banyak publik yang mengecamnya, meyerukan kata kata makian padanya, Akram yang dulu dipuja saat ini telah dihujat.
__ADS_1
“Katakan pada mama, apa yang sebenarnya terjadi?” suara ibu Risna kali ini terdengar bergetar.
“Apa yang dikatakanya tidak benar, dia mencoba menodai Aruna, dan aku berusaha melindungi istriku,” jelas Akram memijat pelan pelipisnya.
“Menodai Aruna?” ibu Risna tampak tak percaya.
“Papa percaya apa yang kamu katakan,” wajah pak Setya terlihat lebih tenang dari sang istri.
“Tapi satelah ini apa yang bisa kita lakukan, nama mu sudah jatuh sayang.. bagaimana hari hari kita selanjutnya,” tangis ibu Risna pecah, ia terisak ini pukulan berat baginya.
Akram menghampiri dan memeluk wanita paruh baya itu.“Tenaglah, semua akan baik baik saja,” Akram berusaha menenagkan, ia tau mamanya sangat bergantung padanya, Akram adalah kebanggaanya.
Tangis ibu Risna perlahan mereda, disusul suara bel dari pintu utama.“Siapa?” ibu Risna terlihat bingung, mereka semua segera membuka pintu.
“Selamat malam,” sapa beberapa anggota polisi mendatangi kediaman Akram.“Kami ke sini, membawa laporan pada saudara Akram tentang penganiayaan yang telah dilakuaknya pada saudara Reno,”
“Putra ibu bisa menjelskanya dikantor polisi,” dua orang anggota polisi menarik paksa Akram agar ikut bersamanya.
“Tidak, jangan bawa putra saya, jangan bawa,” ibu Risna berusaha sekuat tenaga agar Akram tetap bersamanya tapi tenaganya tak cukup kuat, ia meraung tak terima, isak tangisnya semakin terdengar memilukan, pak Setya berusaha menenagkanya.
***
Akram menjalani pemerikasaan di kantor polisi, batahanya tak membuahkan hasil meski ia sudah menjelaskan dengan sebenar benarnya, tak ada cukup bukti untuknya. Akram masih berfikir positif, ia mencoba menjalani beberapa persidangan. untuk sementara ia harus mendakam dibalik jeruji besi.“Akram,” dengan seragam tahanan ia menemui papanya yang datang menjenguknya, tanpa ibu Risna yang kesehatanya sedang menurun.
“Papa,” Akram duduk dihadapan papanya,dengan wajah setengah tertunduk.
__ADS_1
“Papa sudah menemui pak Reno,”
“Untuk apa papa menemuinya?” emosi Akram kembali muncul saat mendengar nama itu.
“Untuk meyelamatkan putra papa, tidak mungkin kamu berada disini terus,”
“Aku akan bebas dari sini,”
“Kau tak cukup bukti untuk itu, papa sudah bicara padanya, ia bisa mencabut laporannya asal kamu mau memberi uang tebusan atau ganti rugi untuknya,”
Akram tersenyum kecut.“Pasti ia akan meminta harga yang setara seluruh hartaku,” ujarnya seakan tau akal licik pria itu.
“Papa akan tetap menebusnya untukmu, papa bisa menjual atau mengadaikan beberapa usaha papa untukmu,” terang papa Setya memberi solusi.
“Tidak, biar aku yang akan membayarnya, jual semua aset yang bergerak atau pun yang tak bergerak untuk membayarnya,”
Pak Setya terdiam, ia mengehala nafas berat.“Kau anak yang baik, kita pasti bisa melewati ini,” pak Setya menepuk haru bahu putranya dan tak lama pamit pulang.
Petugas disana kembali memasukan Akram dalam selnya, ia tertunduk lemas hanya bisa duduk dilantai yang dingin, hidupnya dalam sekajap berubah 180 derajat, ia kehilangan segalanya, harta, nama besar dan juga istrinya.“Akram,” suara lembut membuat Akram mengangkat wajahnya, matanya membulat tak percaya melihat wanita cantik yang tegah berdiri di balik jeruji besi.
“Aruna,” ia berdiri dari duduknya, berjalan perlahan, berharap ini bukan mimpi untuknya.
“Maafkan aku, maafkan aku ini semua kerena ku,” tak butuh waktu lama air mata itu lolos begitu saja saat melihat Akram yang harus mendekam di balik jeruji besi karena menyelamatkannya tempo hari.
Akram meraih jemari Aruna dari sela sela jeruji besi yang memisaahkan keduanya.“Bukan , ini bukan salahmu, percayalah aku akan segera bebas,” ujar Akram menyeka air mata Aruna yang masih mengalir, senyum terlukis diwajahnya, kedatangan Aruna cukup memberinya kekuatan di tengah situsi sulit yang harus dihadapinya kini.
__ADS_1
Jangan lupa vote yak.. 🤗🤗