
Bab 50.
Setelah menonton Akram dan Aruna pun pulang, sepanjang perjalan Aruna hanya terdiam, tak seperti biasanya bahkan kedu a telapak tanganya hanya menempel pada hoodie yang dikenakan Akram tak seperti biasanya seelalu memeluk mesra pinggang suaminya itu. Setelah motor itu terhenti didepan rumah Aruna buru buru turun dan masuk kedalam kamar.
“Kamu lelah?” tanya Akram setelah masuk kedalam kamar.
Aruna menggeleng dengan bibir mengecrut ia melemapar tas yang dikenakanya dan hendak keluar kamar.“Kamu kenapa?” Akram mencekal lenganya, merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya itu.
“Tidak apa apa,”
“Jangan berbohong, kalau tidak apa apa kamu tidak mungkin cemberut sepanjang jalan,” Akram sedikit meninggikan suaranya, ia tau Aruna tak biasanya seperti itu.
“Kenapa kamu tadi pergi bersama wanita itu? kalian mau menonton bioskop bersama?” tanya Aruna yang akhirnya mengungkapkan kecemburaan yang sedari tadi ditahanya, melihat Akram yang berjalan berdua dengan gadis cantik disisinya.
Akram tertegun, ia tersadar belum menjelaskan apapun tentang Hellena pada istrinya itu.“Iya, dia minta ditraktir nonton denganku tadi,” balas Akram yang memilih untuk jujur.
“Traktir nonton? apa dia ingin punya waktu berdua denganmu?” sontak saja ucapan Akram semakin membuat rasa cemburu Aruna meluap.
Akram justru tertawa melihat ekspresi Aruna yang semakin mengucutrutkan bibirnya, terlihat lucu untuknya.“Tidak seperti itu, lagi pula aku bukan seleranya,” balas Akram masih dengan tawanya.
“Kamu mungkin bukan seleranya, tapi pasti wanita itu seleramu, dia sangat cantik,” lirih Aruna yang entah mengapa merasa insecure saat melihat paras Hellena yang mendekati sempurna dimatanya.“Jika terus mengahabisakan waktu bersamanya kamu pasti bisa jatuh cinta padanya.” Aruna bergumam dengan sedikit menundukan kepalanya.
Akram meraih tangan Aruna, menuntunya untuk duduk ditepi ranjang.“Aku memang pernah menyukainya, semasa kuliah dulu,” spontan Aruna mendongkakan wajahnya, ia pun segera menepis tangan Akram yang masih menganggamnya. Akram kemabali meraih sebelah tangan Aruna mengenggam lembut telapak tangan itu.“Dia wanita tercantik dikampus dulu, aku menyukainya dan bahkan ingin mengungkapkan perasaan ku padanya, tapi aku sadar siapa diriku saat telingaku mendengar banyak yang bergunjing jika aku hanyalah pria miskin dan tak mungkin pantas bersanding denganya, aku memilih membungkam mulut mulut itu dengan usaha keras yang berhasil kuraih sebagai seorang aktor, Hellena lah yang membuatku terobsesi untuk menjadi sukses,” jelas Akram yang membuat Aruna tertegun ia tak menyangka jika Akram mempunyai rasa sebesar itu pada Hellena dulu.
“Tapi itu dulu, sebelum aku bertemu denganmu, istriku bahkan mempunyai pesona diatasa Hellena, perasaanku padanya sudah menguap dan hilang, aku tidak mungkin meninggalkanmu untuk alasan apapun,” sambung Akram seraya mengusap lembut pucuk kepala Aruna.
Aruna tertegun, mentap pria bermata teduh itu sangat memancarkan ketulusan dikedua kelopak matanya.“Aku pun tak akan pernah meninggalkanmu untuk alasan apapun,” bibir Aruna yang semula terkatup karena menahan emosi perlahan mengembang dengan senyum manis di wajahnya.
Akram mengecup hangat kening Aruna.“Oia besok aku akan mengajakmu kesuatu tempat,”
“Kemana?” Aruna mengerutkan keningnya.
“Rahasia,” Akram tersenyum jahil yang langsung berlalu pergi menuju kamar mandi.
“Iiiiisssshhh..” Aruna mendesis seraya tersenyum tipis.
***
__ADS_1
“Sudah siap?” tanya Akram sore itu, melihat Aruna yang sudah berpakain rapih dengan dress sederhana bermotif bunga kecil berwana navy yang dikenakanya.
“Sudah, memangnya kita mau kemana?” Aruna terlihat bingung karena Akram tak juga memberitahu kemana mereka akan pergi.
Akram meraih tangan istrinya itu.“Ikut saja,” ujar Akram yang masih tak memberitahu dan mengajak Aruna keluar rumah dengan sepeda motor yang dikendarainya. Tak berapa lama motor itu terhenti disebuah parkiran mall.
“Kenapa kita kesini?” Aruna tampak bingung mengikuti langkah kaki Akram yang masuk kedalam, Aruna berfikir mungkin Akram akan mengajak makan diresto seperti dulu. Aruna terus mengikuti langkah kaki Akram yang menuntunya entah kemana, padahal sudah beberap resto terlewati.“Kita mau kemana?” Aruna kembali bertanya tapi Akram tetap terdiam dengan senyum tipis yang tersungging dibibirnya.
Sampai langkah kaki mereka terhenti disebuah toko pakaian.“Kenapa kita kesini?”Aruna semakin terlihat bingung, menatap berbagai pakaian cantik yang berjejer cantik ditoko tersebut.
“Pilihlah pakaian yang paling cantik, malam ini kita akan menghadari makan malam bersama untuk merayakan film pertama yang akan mulai syuting, aku sudah menerima uang muka honorku, memang jumlahnya masih sedikit jadi lebih baik aku gunakan untuk menyenagkan isrtiku, pilihlah pakainan yang kamu suka,” jelas Akram.
Aruna tersenyum sumringah mendengar ucapan manis itu, ia pun segera memilih pakaian yang disukainya di toko tersebut. Setelah memilih pakaian Akram kembali menuntun Aruna kesuatu tempat.“Kenapa kita kesini?” Aruna kembali terlihat bingung saat Akram mengajaknya masuk kedalam sebuah salon.
“Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?” seorang pegawai salon menghampiri dan menyapa ramah keduanya.
“Buatlah istriku sangat cantik,” ujar Akram.
“Baik pak,” pegawai salon itu mengangguk mengerti.“Mari ikut kami.” menuntun Aruna untuk menjalani perwatan, Aruna hanya dapat menurut dengan wajah yang terlihat bingung, sedang Akam menunggu dengan tenang disana.
“Sayang,” suara lembut Aruna membuyarkan lamunanya setelah cukup lama menunggu, Akram menoleh pada Aruna yang berdiri dihadapanya. Kedua mata Akram hampir tak berkedip melihat Aruna yang tampak cakik dengan make up diwajahnya, rambut panjangnya yang dicepol cantik membuat leher jenjangnya terlihat jelas, memberikan kesan seksi ditambah dengan dress mewah yang dikenakanya membuat Aruna semakin terlihat sempurna dimata Akram.
“Cantik kamu sangat cantik,” puji Akram yang membuat wajah Aruna merona mendengarnya, Akram pun segera mengajak Aruna keluar dari mall tersebut menuju sebuah restoran mewah tempat acara makan malam itu dilangsungkan.
***
Di tempat berberda Hellena masih berbaring diranjangnya, wajahnya tampak risau saat ponsel disisinya berkali kali berdering. George, produser di tempat agnsinya berkali kali mengundang Hellena untuk datang keacara makan malam yang diselengaraknya. Hellena sebenarnya tidak keberatan untuk datang tapi ia takut jika bertemu dengan Patrick, pria itu pasti akan sangat marah padanya, sebab kini Hellena sudah tidak mau melayani dan mengindar dari pria itu, bahkan Hellena sudah pindah dari apartemenya yang dulu agar Patrick tak lagi menemuinya.
Sebelah tangan Hellena akhirnya meraih ponselnya yang masih saja berdering.
[Hallo Hellena, kenapa baru diangkat? kau datang keacara makan malam kan?] ujar George yang langsung mencecarnya dengan pertanyaan.
[Hemm, sepertinya aku tidak enak badan,] Hellena mencari alasan.
[Oh begitu,] nada George terdengar kecewa.
[Hemm.. apa Patrick akan hadir juga?]
__ADS_1
[Sepertinya tidak, dia sedang ada urusan,]
Hellena tersenyum sumringah mendengarnya.[Benarkah? baikalah kalau begitu aku akan datang,] ucap Hellena kemudian.
[Yasudah, aku tunggu,] Patrick menutup teleponya.
Hellena yang hendak turun dari ranjangnya tiba tiba duduk termenung.“Apa Arga mau menemaniku ya?” batinya.
Hellena segera kemabali meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Arga.
[Arga, apa kau mau menemani ku makan malam?]
Tak lama pesan masuk diponselnya berbunyi, Hellena tersenyum melihat Arga yang dengan cepat membalas pesanya.[Untuk apa aku menemanimu,] wajah Hellena mendadak murung melihat balasan Arga yang ketus. Hellena mengehela nafas, Arga tidak mungkin mau menemaninya, ia pun memilh bergegas turun dari ranjag, mangganti pakaian, merias diri dan pergi ke acara tersebut seoarang diri.
Hellena mengemudiaka mobilnya, membesarkan volume musik dimobilnya berusaha menghilangkan kegudahan hatinya, sampai mobil tersebut terhenti disebuah restoran yang dituju. Tampak orang orang berpakian mewah yang sudah berada disana, Hellena menyapa beberapa orang disana dan duduk dikursinya. Tak berapa lama Hellana melihat Akram yang baru memasuki restoran bersama Aruna.
“Akram,” panggil Hellena.
Akram dan Aruna pun menghampirinya.“Kau datang juga?” tanya Akram.
“Mana mungkin mereka tak mengundangku,” Hellena tersenyum.
“Kamu datang dengan siapa?” tanya Aruna kemudian.
“Aku..”
“Dia datang berasamaku,” sahut seoarang pria dari arah belakang mereka.
Mata Hellena membualat terkejut, melihat Arga yang perlahan mengehampirinya.“Hellena datang denganku,” Arga mengulangi ucapanya dan berdiri disisi Hellena.
Aruna dan Akram pun tampak terkejut mereka tak mengerti sejak kapan mereka dekat.“Sejak kapan kalian dekat?” tanya Aruna yang terlihat senang, melihat Arga dan Hellena yang tampak serasi.
“Kami..”
“Kami tidak dekat, hanya ada projeck yang kami harus lakukan bersama,” sela Arga cepat membuat Hellena terdiam.
“Baguslah, kalian terlihat serasi, ayo sayang,” ujar Akram yang langsung mengajak Aruna untuk duduk di kursi mereka.
__ADS_1
Hellena dan Arga duduk di meja terpisah, disela sela makan malam Hellena sesekali melirik Arga yang tampak terus memandangi Aruna, seleranya makanya mendadak mengihlang, Hellena yakin Arga menemaninya pastilah agar bisa bertemu dengan Aruna.