Celebrity Husband

Celebrity Husband
Kejutan kecil


__ADS_3

Bab 57.


Beberapa bulan kemudian.


“Dimakan sayang,” ujar Aruna melihat Akram baru keluar dari kanarnya pagi itu, seraya menyajkan sarapan dimeja makan.


Akram tersenyum, duduk dikursi makan menyantap sarapan yang sudah terjadi.“Setelah ini kita pergi,” ujar Akram.


“Pergi? pergi kemana? memangnya kamu tidak syuting?” Aruna mengerutkan keningnya.


“Nanti juga kamu tau.” balas Akram tersenyum jahil.


Selesai sarapan Akram mengajak Aruna kesuatu tempat.“Sebentar lagi sampai,” Akram kembali berujar, melihat Aruna yang menatap bingung saat mobil yang dikendarai Akram masuk kesebuah kompleks perumahan elit.“Tutup matamu,” titah Akram.


“Tutup mata?” Aruna semakin memasang wajah tak mengerti.


“Ia ikuti saja perintahku,” titah Akram kembali. Aruna menurut dan memejamkan kedua matanya.“Sekarang turunlah,” Akram memberentikan mobilnya. Saat ini karir Akram perlahan mulai bersinar kembali, sejak film terbaru yang diperankanya meledak dipasaran. Akram pun sedikit sedikit mulai membeli aset aset yang pernah dijualnya seperti mobil ia kembali bisa memebelikanya, untuk Aruna tentunya agar istrinya itu tak lagi kepanasan dan kehujanan saat berpergian.


Akram meraih tangan Aruna turun dari mobilnya, ia meutup kedua mata Aruna dengan telapak tanganya.“Sekarang bukalah,” Aruna perlahan melebarkan kedua matanyanya. Ia tampak tercengang melihat rumah megah bergaya amerika klasik dengan warna putih yang mendominasi rumah tersebut.“Ini?” Aruna masih memutar pandanganya tak percaya.


“Ini rumah baru kita, aku membelikanya untukmu,” ujar Akram yang diam diam telah membeli rumah baru agar istrinya itu tak lagi tinggal dirumah sederhana mereka.


“Rumah kita?”


Akram mengangguk.“Ya, rumah kita,” balas Akram dengan bangganya, berharap Aruna menyukai kejutan tersebut. Aruna terdiam, wajahnya terllihat bimbang.“Kamu tak menyukainya?” tanya Akram melihat respon Aruna tak sesuai harapanya.


“Aku suka,” Aruna tersenyum sumringah.“Tapi aku rasa lebih baik orang tua kamu saja yang menempati rumah ini,” lanjutnya.


“Apa? orang tua ku? apa kamu tidak menyukai rumah ini?”


Aruna kembali tersenyum, ia meraaih kedua telapak tangan suaminya itu.“Sudah ku bilang aku sangat menyukai dan sangat terharu atas semua ini, tapi aku merasa lebih baik orang tuamu saja yang menempati rumah ini, kasihan setiap malam pasti mereka kepanasan tinggal dirumah sempit itu,” jelas Aruna yang merasa orang tua Akram lebih pantas tinggal di rumah megah itu.


”Tapi say..” Aruna meletakan jari telunjuknya di bibir Akram.


“Aku percaya kita bisa membeli rumah lagi, dahulukan saja dulu orang tuamu,” ujar Aruna menatap lembut.


Akram bergeming, tatapan lembut Aruna tak dapat ditolaknya.“Aku tak tau harus berkata apa, bagiku kamu sangat sempurna.” balas Akram yang langsung mendekap hangat tubuh Aruna, ia benar benar tak menyangka jika Aruna lebih mendahulukan kebahagian orang tuanya.


***

__ADS_1


“Mah, pah , setelah ini bersiaplah kita akan pergi ke suatu tempat,” ujar Akram pada orang tuanya seraya mengnyah tenang sarapanya.


“Pergi kemana?” pak Setya mengerutkan keningnya.


“Nanti juga kalian tau,”


“Wah apa kamu mau kasih kejutan untuk kami?” seru bu Risna menatap antusias purtanya itu.


“Ya, kejutan kecil.” balas Akram. Setelah sarapan Akram mengantar kedua orang tuanya itu ketempat yang maksud.“Turunlah,” titah Akram memberhentikan mobilnya.


Ibu Risna dan pak Setya perlahan turun dari mobil, mereka tampak bingung melihat rumah megah dihapan mereka.“Akram, ini rumah siapa?” tanya pak Setya.


“Ini rumah kita, aku membelinya untuk kalian,” jelas Akram.


“Kamu membeli rumah ini?” ibu Risna menaatap tak percaya putranya itu.


“Ya, mah, aku membelinya mulai saat ini mama dan papa akan tinggal disini,”


Sontak saja ucapan Akram membuat ibu Risna seketika bahagia.“Terima kasih syanag,” ibu Risna memeluk haru Akram.


“Kita masuk kedalam,” Akram membuka pintu dan mempersilakan kedua orang tunya dan Aruna masuk, ibu Risna tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, ia terus memutar pandanganya pada setiap sudut rumah mewah itu.


Akram melepas peluk ibunya itu.“Mama seharusnya berterima kasih pada Aruna, aku membelikan rumah ini untuk Aruna dan ingin dia tinggal disini tapi Aruna menolak dia bilang kalian lebih pantas tinggal disini, Aruna sangat mendahulukan kebahagian kalian,” jelas Akram melirik Aruna yang berdiri disisinya.


“Kami benar benar memiliki menantu sepertimu Aruna,” puji pak Setya dengan senyum ramahnya.“Apa kamu tidak ingin mengucapkan terima kasih pada menatumu?” Pak Setya melirik sang isrti yang diam mematung.


“Oh, Ya, ya terima kasih Aruna.” ujar bu Risna dengan wajah masamnya, Aruna tersenyum simpul merasa bahagia karena keluarga Akram tak lagi kesulitan dapat tinggal dirumah yang nyaman.


“Aruna, kenapa kamu tidak tinggal bersama kami saja?” tawar pak Setya.


“Tidak, aku tinggal dirumah lama saja dengan Akram.” balas Aruna tersenyum kearah Akram yang direspon anggukan darinya. Aruna lebih merasa nyaman tinggal berdua saja dengan suaminya itu meski harus dirumah yang sangat sempit sekalipun.


***


Di tempat berbeda Hellena masih menikmati segelas wine dibalkon apatertemenya, netranya menatap langit malam yang gelap dalam kesendiranya hanya segelas minuman beralkhol yang menemani kesepian dan memberi sedikit kehangatan ditubuhnya. Suara ponsel mengagetkanya, tertera nomor yang tak dikenal menghubunginya. Hellena menjawab panggilan tersebut.


[Kamu bisa keluar sekarang?] terdengar suara pria dibalik telepon.


[Siapa kamu?]

__ADS_1


[Keluar saja, aku sudah berada di luar apartemenmu,] pria itu menutup teleponya.


Hellena yang penasaran pun segera berdiri dari duduknya dan bergegas keluar dari aprtemenya. Hellena melangkah keluar menuju pelataran aparetemen tampak seoarang pria yang sedang menatap layar ponselnya, menyandarkan tubuhnya di body mobil mewahnya.


“Arga?” Hellena menatap tak percaya.


Arga memasukan ponsel kesaku celananya, ia meraih tangan Hellena.“Ikut denganku,” menarik tangan Hellena menuju mobilnya.


“Tunggu kita mau kemana?” Hellena menahan langkah Arga.


”Makan malam,”


“Makan malam?” Hellena menepuk pelan pipinya, ini seperti mimpi untuknya.


“Cepatlah, aku sudah lapar,”


“Tunggu, beri aku waktu 5 menit saja,” Hellena melepaskan pergelangan tanganya dari Arga dan berlari masuk kembali keapartemenya mengambil sesuatu disana. Tak laam Hellena kembali menemui Arga.


“Apa yang kau bawa?” Arga menatap Hellena bingung, tak ada yang diambilnya dari dalam aparetemen.


“Aku tidak bawa apa apa,” Hellena tersenyum kaku.


“Sudahlah kita pergi sekarang,” ajak Arga mempersilakan gadis itu masuk kedalam mobilnya. Sepanjang perjalan mereka hanya saling terdiam dengan fikiran mereka masing masing . Hellena tak mengerti mengapa Arga tiba tiba mengajaknya makan malam bersama.


“Kita, mau makan disini?” tanya Hellena saat Arga memeberhtikan mobilnya disebuah restoran italy.


“Ya, aku ingin makan disini,” Arga turun dari mobilnya.”Ayo turun,”titahnya membuka pintu mobil, melihat Hellena yang masih duduk diam mematung.


Hellena menggeleng.“Tidak, sepertinya aku salah kostum,” ia tertunduk malu saat ini ia hanya mengenakan tangtop bertali tipis dengan hotpens berwarna navy, Hellena mengira jika Arga hanya akan mengajaknya disebuah cafe.


“Turunlah,” Arga meraih tangan Hellena untuk turun, ia melepasakan mental tebal yang melekat ditubuhnya dan memakaikanya pada Hellean, menutupi punggung Hellena yang terbuka. Hellena canggung, perlakuan Arga sangat manis di matanya.


“Cepetlah, aku sudah sangat lapar,” Arga berjalan meninggalkan Hellena yang masih diam mematung. Mereka pun masuk kedalam restoran yang berdesain klasik itu.


“Aku ingin ke toilet,” ujar Hellena yang langsung berdiri dari kursinya menuju toilet disana. Hellena menatap pantulan wajanhnya dicermin toilet, sebelah tanganya memegangi dadanya yang masih berdegup kencang. Hellena mengelurkan sikat dan pasta gigi yang diselipkan disaku celananya. Ia mengosok giginya, malu jika Arga mencium aroma alkohol dan rokok yang sempat dihisapnya. Selesai menyikat gigi Hellena kembali ke kursinya, menyantap makan malamnya bersama Arga.


Tak ada percakapan diantara keduanya, Arga tampak dengan dingin menyantap makananya begitu pula dengan Hellena yang bingung harus bicara apa pada pria dihadapanya. Sampai makan malam itu selesai mereka tetap terdiam, tenggelam pada fikiran masing masing. Arga kembali masuk kedalam mobil mengantar pulang gadis itu.“Susah sekali,” gumam Hellena yang merasa sulit membuka sabuk pengamanya.


Arga mearih sabuk pengaman tersebut membantu membukanya. Hellena canggung, saat pandangan keduanya saling bertemu.“Terima kasih untuk malam ini.” ujar Hellena memalingkan wajahnya yang bersemu dan bergegas turun dari dalam mobil, Arga tersenyum tipis melihat Hellena yang seperti salah tingkah padanya.

__ADS_1


__ADS_2