
Bab 62.
Sehari setelah melahirkan Aruna diperbolehkan pulang, Aruna memilih untuk tinggal bersama orang tua Akram untuk sementara waktu.“Selamat datang bayi cantik,” ujar bu Risna seraya membukakan pintu utama dengan senyun sunringahnya, menyambut kepulangan Aruna.
“Terima kasih oma,” balas Aruna.
“Kamu istirahat saja dulu,” titah bu Risna, Aruna mengangguk dan masuk kedalam kamar bersama Akram.
“Tidurnya pulas sekali,” gumam Aruna tersenyum tipis meletakan baby Zea dibox tidurnya.
“Baby Zea sudah tidur, kamu juga harus tidur,” bisik Akram memeluk tengkuk belakang sang istri. Dering ponsel Akram dinakas berbunyi, Akram melepas peluknya segera menganggkat telepon tersebut.
“Dari siapa?” tanya Aruna setelah Akram menerima panggilan.
“Dari Hellena, dia baru tau kamu sudah melahirkan, dia akan kesini,”
“Oia ? baguslah, aku senang dia kesini.” balas Aruna dengan senyum yang merekah.
***
Matahari sudah mulai meninggi Hellena bersiap siap untuk pulang usai berkerja. Ia melangkah keluar dari dalam klub, hendak menjenguk Aruna siang itu. Hellena menghentikan langkahnya, melihat Arga yang sedang bersandar dibody mobilnya seperti sedang menunggunya.“Dia belum pulang?” Hellena mengerutkan keningnya, padahal hampir semalam suntuk ia berada didalam klub sekedar memperhatikanya berkerja.
Hellena menghela nafas, mencoba melewati Arga yang tengah berdiri.“Kau pura pura tak melihatku?” Arga mencekal lengan gadis itu.
“Pulanglah, kau pasti mengantuk,”
__ADS_1
“Aku akan mengantarmu,” tawar Arga.
Hellena menggeleng.“Tidak usah,” tolaknya. menstop taksi yang melintas dan berlalu pergi meninggalkan Arga.
Arga bergegas masuk kedalam mobilnya, mengikuti taksi itu diam diam.“Aku rasa aku sudah gila,” gumamnya. Saat ini Arga hanya hanya ingin terus membuntuti Hellena memastikan gadis itu baik baik saja, ini mungkin hal terkonyol yang pernah dilakukanya.“Mau kemana dia?” Arga mengerutkan keningnya melihat taksi tersebut tak menuju aparetemen Hellena.“Apa dia akan berkencan dengan laki laki lain?” perasaan Arga mulai tak karuan memikirkan Hellena yang mungkin menemui pria lain tentu itu membuat Arga akan terbakar cemburu.
Taksi itu berhenti disebuah halaman perumahan elit.“Astaga, apa mereka sudah tinggal bersama?” Arga memukul stir kemudinya, melihat Hellena yang keluar dari taksi.“Kenapa kau bernohong?” Arga kembali mencekal lengan Hellena.
Helleana terpenjat kaget melihat Arga yang tiba tiba menyentaknya dengan wajah yang penuh emosi.“Kau membuntutiku?”
“Ya, Ya, aku membuntutimu, kenapa kau berbohong? kau mau menemui pria lain atau kalian sudah tinggal---”
“Ini rumah orang tua Akram,” sela Hellena sebelum Arga melanjutkan tuduhanya“Aku tidak menemui pria lain atau bahkan tinggal bersama pria lain, Aruna sudah melahirkan dan aku ingin menmjenguknya,” jelas Hellena menatap Arga kecewa karena sampai saat ini Arga tetaplah menilai buruk tentangnya.
“Kenapa aku harus mengatakan semua kegiatanku padamu?” Hellena menatap Arga tak mengerti, sampai saat ini mereka tak mempunyai hubungan special Hellena pun tak tau seperti apa perasaan Arga padanya.
“Karna aku,” ucapan Arga menggantung lidahnya terasa kelu, padahal dia sudah mencium dan mengatakan mencintai gadis itu semalam, tapi kenapa Hellena seperti pura pura lupa ingatan.“Apa kau tak memingat apa yang ku katakan semalam?”
Hellena menghela nafas kasar.“Sudahlah,” ucapnya yang memilih utuk masuk kedalam rumah Akram, Hellena menekan bel yang disusul langkah Arga.“Selamat siang tante,” sapa Hellena melihat tante Risna yang membukakan pintu.
“Hellena?”
“Aku dengar Aruna sudah melahirkan jadi aku ingin menjenguknya,”
“Oh iya, ayo silakan masuk,” ucap ramah tante Risna.“Ini siapa Hellena? pacarmu?” tante Risna melirik Arga yang berdiri disisi gadis itu. Arga pun memmberi salam sopan.
__ADS_1
“Eumm, ini temanku,”
“Oh teman, padahal kalian serasi lho,” goda tante Risna yang langsung mempersilahkan keduanya masuk.“Tunggu sebentar ya, tante panggilkan Aruna dan Akram,” tante Risna bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Aruna.
Tak lama Akram dan Aruna keluar dari dalam kamar.“Hellena,” sapa Aruna menghampiri Hellena yang sudah menunggu diruang tamu.“Kalian?” Aruna tampak terkejut melihat Hellena yang datang bersama Arga.
“Aku juga ingin menjengukmu,” ujar Arga canggung, padahal niat awalnya hanya ingin membuntuti Hellena.
“Seperti kalian sudah seperti sepasang sendal yang tak terpisah,” goda Akram duduk bersama, sontak saja keduanya hanya terdiam, wajah Hellena tampak merona sedang Arga tampak kikuk seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ini bayimu Aruna? boleh aku menggendongnya?” pinta Hellena. Beriringan dengan ponsel Akram yang berdering. Akram sedikit menjauh menganggkat teleponya.
“Tentu boleh, aku buatkan minum dulu ya,” Aruna membirkan Hellena menggendong bayinya dan bergegas kedapur membuatkan minum.
“Cantik sekali,” puji Hellena melihat bayi mungil tersebut dan menggodanya gemas.
Arga tersenyum tipis melihat Hellena yang tampak keibuan saat menimang bayi digendonganya.“Sepertinya kau sudah cocok menjadi ibu,” goda Arga.
“Bagaimana menjadi ibu, tidak akan ada yang mau jadi pacarku,” ketus Hellena.
“Astaga, apa kau tuli aku semalam sudah mengatakan dan bahkan menciu---” ucapan Arga seketika terhenti ketika meihat Akram yang mendekat dan Aruna yang membawakan minum untuk mereka.
“Kalian sedang bahas apa? sepertinya seru sekali,” tanya Aruna meletakan minuman dan makanan kecil diatas meja.
“Tidak bahas apa apa,” sahut Arga dan Hellena bersamaan. Aruna dan Akram tersenyum tipis melihat kedekatan keduanya yang tampak semakin intens. Tak berapa lama Arga dan Hellena pun pamit pulang.
__ADS_1