
Bab 7.
Selesai syuting Akram bergegas pulang kerumahnya, langkah kakinya dengan cepat melangkah ke kamar kosong dekat gudang. Akram memutar pandanganya, melihat Aruna yang terbaring lemah dilantai.“Hey bangunlah,” menepuk nepuk pipi Aruna yang tetap memejamkan matanya.
Akram segera menggendong Aruna kedalam mobilnya.“Tuan, apa yang terjadi?” tanya supir pribadinya melihat hal tersebut.
“Jangan banyak tanya, cepat bawa dia kerumah sakit,” titah Akram yang juga masuk kedalam mobil.
Mobil mewah itu pun terhenti disebuah rumah sakit, petugas medis disana segera menangani Aruna. Sedang Akram menunggunya dengan tenang di luar ruang IGD.“Bagaimana keadaanya?” tanya Akram saat seorang dokter pria keluar dari runag IGD.
“Keadaan pasien sudah stabil, pasien mengalami dehidrasi berat syukurlah keadaanya cepat ditangani,” jelas sang dokter.
“Oh begitu,” Akram merasa lega karena gadis itu tak sampai mati ditanganya.
“Saya sarankan agar pasien dirawat beberapa hari untuk memlihkan keadaanya,”
“Baiklah, lakukan saja yang terbaik,” Akram menyetujui saran dokter itu.
Aruna pun di pindahkan keruang rawat inap. Di ruang VIP itu Akram duduk di sofa, seraya memainkan ponselnya, sesekali melirik Aruna yang masih memejamkan matanya. Tak berapa lama Aruna perlahan mengerakan jarinya, kelopak matanya perlahan terbuka. Pengelihatanya yang semula samar perlahan menjadi jelas, seluruh tubuhnya terasa sangat lemas.
“Kau sudah sadar?” Akram beranjak dari duduknya menghampiri Aruna.
“Kenapa aku disini?” tanyanya bingung, melihat tempatnya berada dan jarum infus yang tertancap di punggung tangan kirinya.
“Kamu pingsan,” balas Akram, datar.
Aruna tertengun dirinya baru teringat jika Akram mengurung dirinya didalam kamar yang sangat pengap, tubuhnya yang tak terkena cairan hampir seharian itu pun menjadi sangat lemas dan tak sadarkan diri.
“Kenapa kau tak membiarkan aku mati saja,” ucap Aruna memalingkan wajah dari Akram yang berdiri disisinya.
“Jika kau mati ditanganku itu akan menghancurkan karirku,”
Aruna tersenyum lirih. Mungkin dikepala pria ini karir adalah segalanya.“Jika aku tidak mati mungkin aku akan mati perlahan nantinya,” balas Aruna yang sudah merasa lelah dengan perlakuan pria yang baru menjadi suaminya itu, sungguh ini bukanlah pernikahan impianya.
“Sudahlah, jangan bicara lagi.” tegas Akram.“Jaga dia disini, perhatikan sekelilingmu, jangan sampai ada media yang tau tentang hal ini,” titah Akram pada supir pribadinya dan bergegas pergi dari ruangan tersebut.
__ADS_1
“Aku ingin keluar,” Aruna berusaha duduk dan beranjak dari bangsalnya.
“Jangan nona, tetap disini saja,” cegah pak Irwan.
“Apa aku harus tetap terkurung disini juga?!” seru Aruna, menatap kesal pria dengan tubuh tegap di sisinya itu.“Aku hanya ingin ketaman,”
“Baikalah, tunggu saya ambilkan kursi roda dulu,” pak Irwan yang merasa iba pun akhirnya menuruti permintaan Aruna. Pak Irwan pun memapah Aruna ke kursi roda.
“Aku ingin pergi sendiri,” tolak Aruna saat pak Irwan mendorong kursi rodanya.
“Tapi nona,”
“Tenanglah, aku tidak akan kabur,” ucapnya cepat, sebelum pria itu melanjutkan perkataaanya. Aruna memtutar kursi rodanya sendiri menuju taman rumah sakit. Gadis itu terdiam termenung, memandangi langit senja yang sebentar lagi akan menggelap, ia tidak menyangka jika impian sederhananya untuk mengubah nasib dikota harus sinra dan terjebak dalam pernikahan yang tidak menyenagkan.
“Aruna,” suara seorang pria membuyarkan lamunanya.
Aruna menoleh dan tampak terkeejut melihat pria yang tak asing untuknya.“Arga?” ucapnya tampak tak percaya, pria yang satu kampung denganya kini sudah berdiri dihadapanya.
“Aku fikir aku salah orang, ternyata kamu benar Aruna,” senyum merekah diwajah Arga.
“Kamu kenapa disini?” Aruna terlihat bingung, menelisik penampilan Arga yang tampak berbeda dengan kemeja formal bak orang kantoran yang membalut tubuhnya.
Aruana terdiam, tidak merasa kaget jika Arga saat ini sudah berkerja dikota, karena Arga memang menginjak pendidikan sampai bangku kuliah tidak seperti dirinya yang hanya tamatan SMA.
“Aruna, kenapa kamu disini? apa kamu sakit?” tanya Arga khawatir, menatap wajah Aruna yang masih pucat.
“Iya, aku hanya sedikit tidak enak badan.”
“Siapa yang menemanimu disini? kamu jadi berkerja sebagai asisten rumah tangga?”
“Iya, aku berkerja sebagai asisten rumah tangga, ada keluarga majikan yang menemaniku, maaf aku ingin kembali keruanganku,” ucap Aruna berusaha tersenyum menutupi kebohnganya.
“Aku akan mengantarmu,” Arga mendorong kursi roda Aruna menuju ruanganya.“Dia yang menemanimu?” Arga menujuk pak Irwan yang berdiri di ambang pintu.
“Bukan, aku ingin istrahat, terima kasih,” ucap Aruna pada pria yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Arga hanya memandang punggung belakang Aruna yang masuk kedalam ruanganya dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Keesokan harinya Aruana masih harus menikmati harinya dirumah sakit,walaupun dirinya sudah meminta ingin pulang tapi dokter disana tetap tidak mengijinkan dan beralasan jika keadaanya belum sepenuhnya membaik.
Tok Tok Tok.
Terdengar samar ketukan pintu siang itu.“Aruana,” Arga membuka pintu ruangan VIP itu.
“Arga?” tampak terkejut melihat keatanganya.
“Bagimana keadaanmu? aku membawakan sup dan ayam goreng kesuakanmu,” Arga menunjukan bebrapa kotak makan ditanganya.
“Terima kasih,” Aruna tersenyum.
“Bagimana keadaanmu?”
“Seharusnya sudah membaik, seharusnya kamu tidak usah repot repot menjenguku,” ucap Aruna merasa sungkan.
“Aku tidak merasa di repotkan,” balas Arga menatap wajah gadis yang telah lama disukainya itu.
“Siapa yang mengijinkan orang asing masuk keruangan ini!” seru seorang pria saat pintu ruangan itu terbuka yang sontakl saja membuat Aruna dan Arga terlonjak kaget dibuatnya.
“Tuan Akram?” Aruna tidak menyangka kedatangan Akram hari ini.
“Aruna, siapa ini? apa ini majikanmu?” tanya Arga yang tampak bingung.
“Iya, ini majikan ku,” balas Aruna, pelan.
“Kita pulang hari ini, ternyata kau sangat liar di luar,” ucap Akram, sinis.
“Hey jaga bicaramu!” balas Arga, tak mengerti majikan seperti apa pria dihadapanya itu
“itu bukan urusanmu,” Akram menatap tajam Arga saat pendangan keduanya saling bertemu.
“Kedaanya belum cukup baik,” cegah Arga.
“Keadaanku sudah cukup baik, aku harus cepat pulang,” ucap Aruna menegahi.
__ADS_1
“Keluarlah, aku tidak menginjikan orang yang tidak kukenal masuk kesini,” usir Akram pada Arga yang terlihat geram, Arga pun segera keluar dengan penuh emosi berhadapan dengan pria arogan tersebut.
“Aruna, kehidupan seperti apa yang kau jalani disini.” batin Arga yang semakin bertanya tanya melihat keadaan Aruna dikota.