
Bab 48.
“Hubungi aku saja kalau kau sudah memikirkanya,” Hellena memberikan kartu namanya pada Akram yang masih terlihat bimbang.
“Baiklah, aku akan memikirkanya.” balas Akram yang rasnya perlu meminta pendapat Aruna terlebih dahulu.
Tak lama mereka pun menyudahi obrolan mereka dan Akram kembali melanjutkan perkerjaanya hari itu, terisisa banyak orderan yang harus ia kirim, sampai malam hari Akram pun pulang.“Sayang,” sapa Aruna yang langsung menoleh mendengar pintu kamarnya terbuka, melihat kepulangan Akram malam itu.“Kamu pasti lelah ya, aku sudah siapkan makan malam untukmu,” ujar Aruna seraya mencium punggung tangan suaminya itu.
“Terima kasih ya,” melihat wajah sang istri yang meneduhkan sudah cukup meneghilangkan rasa lelah Akram.
“Kamu kenapa?” Aruna menghampiri Akram yang duduk diranjang.“Ada masalah?” menatap wajah Akram yang tampak bimbang.
“Tadi aku bertemu teman lamaku dan dia menawarkan perkerjaan untuk ku,”
“Perkerjaan? perkerjaan apa?” mata Aruna berbinar senang.
“Ia memintaku untuk menemui produser film, ia sedang mecari seorang aktor untuk filmnya,” jelas Akram.“Apa kamu setuju jika aku mengambil tawaran itu?” Aruna hanya terdiam.
Kali ini wajah Aruna yang terlihat bimbang, sebenarnya ia takut jika Akram kembali kedunia entertaimant, takut jika Akram terlibat masalah lagi, dunia entertaiment itu tak seidah bayanganya.“Bagaimana apa kamu setuju? aku akan melakukan sesuai perkataamu,” tanya Akram kembali yang melihat Aruna masih diam termenung.
“Yasudah, aku setuju,” balas Aruna kemudian, setelah berfikir rasanya perkerjaan itu lebih baik dari pada harus melihat Akram menjadi kurir dengan upah yang tak seberapa.
“Terima kasih ya, dukunganmu sangat berarti untuk ku.” Akram tersenyum dan mencium hangat kening Aruna.
***
Keesokan harinya Akram menghubungi Hellena dan mereka sepakat untuk bertemu di sebuah cafe.“Akram,” sapa Hellena, melihat Akram yang sudah menunggu di cafe tersebut.“Sudah lama?” tanyanya yang langsung menarik kursi dihapanya.
“Belum,” balas Akram pada wanita cantik itu, tak ada yang berubah dari Hellena ia tetap gadis yang manis dan ramah, Akram memang sempat menyukai gadis itu dulu semasa kuliah Hellena lah yang membuat Arkam terobsesi untuk menjadi sukses agar dirinya sepadan dengan gadis itu dan tidak ada yang mencibirnya pria miskin lagi. Tapi rasanya saat ini perasaan itu telah hilang, tak ada rasa kagum lagi pada gadis itu, terlebih setelah ia mengenal Aruna lebih jauh, gadis sedrhana yang mempunyai seribu pesona baginya.
“Jadi kau sudah memikirkanya?”
__ADS_1
“Ya, aku sudah memikirkanya, aku terima tawaranmu,” jawab Akram dengan penuh keyakinan.
“Baikalah kalau begitu kita akan bertemu dengan produser itu sekarang,”
“Sekarang?”
“Ya sekarang, ia sedang mencari seoarang aktor, aku akan langsung mengenalkanmu denganya sebelum ia menemukan aktor lain,”
“Baikalah kalau begitu.” Akram pun setuju. Mereka pun bergegas meninggalkan cafe tersebut, dengan mobil Hellena mereka menuju lokasi tersebut. Tak berapa laa mobil itu berhenti disebuah gedung Hellena pun segera mengajak Akram kedalam. Akram meutar pandanganya pada gedung dengan warna putih yang mendominasi itu tampak orang orang disana yang sedang sibuk dengan perkerjaanya masing masing.
“George,” panggil Hellena pada seorang disana.
“Hey Hellena,” pria bernama George itu tersenyum, meletakan berkas yang sedang dipegangnya.
“George, aku membawa temanku, dia seorang aktor aku rasa dia bisa memenuhi kriteria yang kau cari,” jelas Hellena dalam bahasa Prancis.
“Akram kenalkan dia produser film disini, ia baru mencaoba peruntungan film di Indonesia, ia yang akan mengenalkanmu pada sutradara disini,” jelas Hellena.
“Sepertinya dia tertarik denganmu, berusahalah,” bisik Hellena, seraya menepuk punggung Akram memberi semangat. Akram pun segera mengikiti langkah kaki Goerge, disana ia dperkrnalkan pada sang surtadara, ia diminta membaca sebuah naskah sekenario untuk menujukan kemampuan aktingnya hari itu.
Sampai malam hari Akram treus berkutat dengan naskah sekenario yang menuntut untuk diperankanya.“Bagus, bagus, aktingmu sangat bagus, saya rasa kamu cocok memerankan peran ini,” puji sang sutradara bertepuk tangan setelah melihat kemapuan akting Akram beberapa kali.“Saya sangat suka dengan cara beraktingmu, sangat bagus, kita akan langsung membicarakan kontrak kerja besok,” sambung pria itu.
Sontak saja ucapan pria itu membuat senyum Akram mengembang senang.“Terima kasih saya sangat senang mendapatkan peran ini.” balas Akram masih dengan senyum sumringah di wajahnya. Akram melirik jam dipergelangan tanganya jam sudah menujukan pukul 10 malam, ia harus segera pulang, rasanya tak sabar untuk memberitahukan kabar bahagia itu pada Aruna.
Akram memutar pandanganya, mecari keberadaan Hellena.“Mungkin dia sudah pulang,” batin Akram, padahal ia ingin mengucapkan banyak terima kasih pada gadis itu. Akram pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari gedung itu, namun disebuah lorong ia matanya menangkap Hellena yang sedang berjalan seraya dirnagkul mesra seorang pria disisinya.
“Hellena?” ujar Akram yang berpapasan dengan gadis itu.
“Akram?” Hellena tampak terkejut melihat Akram
“Hellena, siapa ini?” tanya pria bule dengan umur sekitar 45 tahunan dengan bahasa Prancisnya.
__ADS_1
“Ini temanku, dia Aktor yang aku pilih untuk mengisi projeck film disini,” jelas Hellena pada pria itu.“Dan Akram perkenalkan ini tuan Patrick dia pemilik angesi disini,” Hellena memperkenalkan pria itu pada Akram.
Akram pun menundukan sedikit kepalanya dan menyapa sopan.“Baikalah, aku harus segera pulang, terima kasih atas bantuanmu,” ujar Akram pada Hellena.
“Sama sama, maaf aku tidak bisa mengantarmu.” Hellena tersenyum dan berusaha terlihat tenang, lalu berlalu pergi dengan pria yang masih merangkul mersa tubuhnya itu.
***
Langkah kaki Hellena terus berjalan beriringan dengan pria bernama Patrick itu menuju sebuah kamar.“Seprtinya kau sudah mabuk,” Hellena membaringkan tubuh pria itu diranjang.
“Baby,” pria itu menarik tangan Helellena kearahnya, dan memeluknya.“Aku menginginkanmu,” bisiknya dengan suara parau.
“Kita bisa melakukanya besok,” tolak halus Hellena yang hendak melepas pelukan pria itu.
“Aku ingin sekarang !” dengan kasar ia menarik kembali tubuh Hellena, gadis muda itu harus melayaninya sekarang juga, seperti biasa.
“Baiklah, aku akan mandi dulu, aroma tubuhku tidak enak,” bujuk Hellena memasang wajah memelas.
“Oke, jangan lama lama,” pria itu melepaskan peluknya, mengibaskan tanganya dan berucap tak jelas, kesadaranya mulai menghilang kerena pengaruh alkohol yang beberapa kali di tenggaknya. Hellena tersenyum tipis dan beregegas masuk kedalam kamar mandi.
Didalam kamar mandi ia terduudk lemas dibalik pintu, kelopak matanya yang sudah memerah perlahan berubah menjadi bulir air mata yang membasahi kedua pipinya, tubuh dan batinya sudah sangat lelah harus melayani pria paruh baya itu, pria yang tidak dicintainya sama sekali dan bahkan menjamah tubuhnya dengan kasar. Hellena seakaan tak punya pilihan semenjak kedua orang tuanya meninggal dan bisnis papanya bangkrut ia mengantungkan hidupnya pada pria itu yang selalu memenuhi kebutuhanya hidupnya meski harus menukar dengan tubuhnya.
“Aku lelah, aku lelah,” liirh Hellena menangis tersedu, ia ingin lepas dari semua ini tapi tak tau bagaimana caranya.”Aku tak ingin melayaninya!” gumam Hellena mengahapus air matanya, ia segera berdiri, membuka pintu kamar mandi, melihat pria bernama Patrick itu yang sudah memejamkan matanya, dengan mengendap ngendap Hellena melangkah menuju pintu keluar.
“Hellena!” suara Patrick membuatnya tersentak kaget.“Hellena, mau kemana kamu?” ucapnya setengah berteriak. Buru buru Hellena segera keluar dari kamar tersebut, namun Patrick segera bangun dan mengejarnya, dengan tertatih tatih Hellena terus berlari berusaha keluar dari gedung tersebut.
“Akhh!” Hellena terjatuh, dari kejauhan ia melihat Patrick yang masih mengejarnya, sampai ada yang menarik pergelangan tanganya membatunya berdiri dan menuntunya berlari.“Siapa kamu?” Hellena menatap bingung pria yang memakai topi tersebut.
Pria itu mengajaknya kearah parkiran dan bersembunyi dibalik banyaknya mobil disana.“Siap----” pria itu menempelkan jarinya dibibir Hellena agar gadis itu tak lagi bersuara. Tampak Patrick yang mecari keberadaan mereka diparkiran namun pria setengah mabuk itu pun menyerah dan berlalu pergi tak lama kemudian. Hellena mengehela nafas lega, ia merasa telah lolos dari maut saat ini.
“Siapa kamu?” Hellena kembali bertanya pada pria yang menyelamatkan hidupnya malam itu. Pria itu membuka topi yang dikenankanya, membuat wajahnya terlihat jelas. Tampan, Hellena sekan tak berkedip melihat paras pria itu.
__ADS_1
“Aku Arga.” ujarnya, Hellena masih memebuku seakan terhipnotis dengan pria dihadpanya itu.