Celebrity Husband

Celebrity Husband
Kembalilah padaku


__ADS_3

Bab 31.


“Arkam,” panggil Aruna yang kembali datang menjenguk Arkam yang tampak diam tertunduk di sel menunggu sidang kasusnya beberapa hari lagi.


“Aruna,” Akram mendongkakan wajahnya, tersenyum melihat Aruna yang kembali datang menemuinya, petugas tahanan pun mengelurkan Arkam untuk beberapa saat.


Mereka duduk berhadapan.“Makanlah,” Aruna menyodorkan kotak makan berisi beberapa lauk kesuakaan Akram.


“Terima kasih ya,” tanpa ragu Akram menyantap lahap masakan Aruna.“Kenapa kau masih mau menemuiku?” tanya Akram di sela sela makanya.


“Memangnya kenapa kalau aku mau menemuimu? tidak boleh?”


“Tidak, apa kau perduli padaku?”


“Ya, aku perduli padamu,” jawab Aruna tanpa ragu.


“Apa perduli dan cinta itu sama?” tanya Arkam menatap manik jernih itu, Aruna hanya terdiam.“Aku terlalu berlebihan, kau tak mungkin mencintaiku,” Arkam tertawa lirih, mengelengkan kepalanya, merasa bodoh berharap Aruna akan mengatakan cinta padanya.


“Habiskanlah,” Aruna tak menjawab, sedikit membuang pandaganya saat Arkam menatapnya.


“Arkam,” panggil kembali seorang dari arah belakang mereka.


“Papa?” Arkam menoleh, melihat pak Setya yang juga datang berkunjung bersama seorang pria disisinya. Aruna bangkit dari duduknya, mencium sopan punggung tangan mertuanya itu.


“Kenalkan ini pak Bima teman papa, dia seorang pengecara,” pak Setya memperkenalkan pria di sampingnya itu dan mereka duduk bersama.


“Pengecara?” Arkam mengerutkan kening.

__ADS_1


“Akram, pak Bima ini bersedia memabatu mu dalam persidangan, dia sudah mempelajari kasusmu, dan dia bersedia membantu,” jelas pak Setya.


“Benarkah?” mata tajam Arkam tampak berbinar mendangar hal tersebut.


“Ya, dari kasus mu saya sudah dapat menyimpulkan jika kamu tidak bersalah, hanya saja kurangnya bukti dan para saksi,” tutur pak Bima, pengecara kondang yang sudah menangani beberapa kasus yang lebih rumit dari klienya.


“Saya, saya yang akan jadi saksinya,” sahut Aruna kemudian, membuat mereka semua menoleh kearahnya.


“Kamu bersama dengan Arkam saat kejadian itu?” pak Bima menyelidik.


“Ya, saya bersamanya, tapi pak Reno tak membahas tentang saya dalam pernyataanya di beberapa media, seharusnya ada cctv yang merekam kejadian hari itu,” balas Aruna yang mengira jika pak Reno sengaja tak menyebut namanya sama sekali dalam beberapa pernyataanya pada awak media.


“Benar, ia memang mangatakan pada polisi tak ada saksi saat itu, tak ada remakan cctv juga di lokasi, ia sengaja menutupi itu,” jelas pak Bima dengan analisanya.


“Saya mempunyai bukti, bukti beberapa pesan dan panggilana dari nomornya sebelum saya datang ke lokasi,” ujar Aruna yang teringat jika pak Reno sempat menelepon dan mengirim pesan padanya sebelum datang kelokasi, Aruan memeberiakan ponselnya pada pak Bima, memperlihatkan beberapa pesan yang dikirim pak Reno.


“Benar, disini dia menulis alamat lokasi, ini bisa dijadikan bukti,” pak Bima tersenyum tipis menemukan titik terang.


Beberapa hari kemudian tibalah persidangan berikutnya, tampak Akram yang sudah duduk dikursinya mengahap hakim dan jaska di pengadilan, dideretan kursi belakang tanpa pak Reno yang sudah duduk dengan wajah angkuhnya didampingi pengecaranya, ia yakin bisa memenangkan persidangan hari ini, dan membuat Arkam lebih lama mendekam di balik jeruji besi. Pesidangan pun dimulai dengan penuturan dari pengecara masing masing, mata pak Reno tiba tiba mendelik kaget saat pihak Arkam mengehadirkan Aruna sebagai saksi kunci mereka.


“Gadis itu?” pak Reno tampak terkejut.“Dia tak akan merubah apapun tak ada bukti yang dipegangnya,” gumamnya kemudian tetap merasa aman.


Aruna pun menuturkan apa yang dialaminya saat itu, ia memperlihatkan beberapa pesan dan panggilan pak Reno sebelum datang kelokasi, ia juga memperlihatkan pakianya yang tampak sobek dibeberapa bagian karena perbuatan pak Reno, masih jelas sidik jari pria itu disana. Dengan beraapi api pak Reno tampak menyangkal hal itu, tapi bukt yang diperlihatkan Aruna cukup kuat, jelas nomor itu adalah nomor ponsel pribadinya, pak Reno mematung sekaan lupa dan gagal menutupi kejatahanya yang tak sempurna, hakim pun mendakwa pak Reno bersalah karena telah mengatakan tak ada saksi dilokasi kejadian. Pesidangan itu pun di menangkan Arkam, dan berbalik menjerat pak Reno yang sudah melecehkan pak Reno. Tampak bu Risna yang menangis haru memeluk Arkam yang tak lagi mendekam di belik jeruji besi.


[Aruna, apa kau ada waktu? aku ingin bertemu denganmu,] tulis Arkam dalam pesanya, dua hari semejak persidangan itu Aruna kembali sulit untuk ditemuinya, seakan kembali meghindarinya.


[Bisa, aku tunggu di taman kota,] Akram tersenyum sumringah mendapat balasan tersebut.

__ADS_1


[Baikalah, aku tidak akan terlambat.]


Sore itu Akram sudah siap dengan pakaian terbaiknya, tak lupa ia membeli setangkai mawar untuk diberikan pada Aruna. Sesampainya ditaman tampak Aruna yang sudah menunggu di kursi taman.


“Sudah lama?” sapa Arkam menghampirinya.


“Kau terlambat,”


“Aku membeli ini dulu,” dengan sedikit ragu Akram memberikan setangkai bunga yang disembunyikan dibalik tubuhnya.


Aruna menatap bunga mawar merah yang merekah itu.“Aku tidak suka bunga,” tolak Aruna.


“Oh begitu,” balas Akram dengan nada lesu ternyata tak semua wanita menyukai bunga seperti pemikiranya.


“Tapi aku menghargai pemberianmu,” Aruna meraih bunga tersebut, Arkam tersenyum lega dan duduk disampingnya.“Ada apa ingin menemuiku?” tanyanya kemudian.


“Tentu untuk memintamu kembali, aku mencintaimu,” ujar Arkam tanpa basa basi menatap gadis dihadapanya itu penuh harap meskipun pandangan Aruna tak sedikitpun melihat kearahnya.


“Aku tidak bisa,”


“Kau tetap ingin berpisah?”


Aruna terdiam.


“Aruna, jangan menyikasaku seperti ini, ” Akram meraih punggung tangan Aruna.


“Aku butuh waktu, aku ingin sendiri,” balas Aruna tetap tak memandang kerah Akram.

__ADS_1


“Aku akan menunggumu, berapa lama pun waktu yang kau butuhkan untuk sendiri tanpa ku, asal tak benar benar berpisah.”


“Ya, aku harus pergi.” Aruna menepis tangan Akram dan bergegas pergi, Akram mengela nafas kasar, melunkan hati Aruna ternyata tak semudah yang dibayangkanya, ia tetap tak memberi kepastian tentang perasaanya.


__ADS_2