Celebrity Husband

Celebrity Husband
Terlambat


__ADS_3

Bab 51.


“Aku pergi dulu ya,” pamit Akram seraya mengecup kening dan perut Aruna saat akan pergi ke lokasi syuting pagi itu.


“Hati hati ya.” Aruna tersenyum mencium punggung tangan suaminya. Akram puun bregegas pergi setelah menyantap sarapanya. Tak lama pak Setya pun pergi bersama ibu Risna yang saat ini lebih banyak menemani suaminya di toko.


Aruna segera memindahkan piring piring kotor dimeja makan ke wastafel dan mencucinya, sampai terdengar suara ponselnya dari dalam kamar yang berdering.“Telepon dari siapa?” gumamnya yang langsung berjalan kedalam kamar dan meraih ponsel yang berada dinakas.“Nomor siapa ini?” melihat nomor yang tak dikenalnya dilayar, Aruna segara menganggkatnya.


[Halo Aruna, ini saya ibu Sukma, tetanggamu dikampung,] ujar seorang wanita dari balik telepon.


[Ibu Sukma?] Aruna mengerutkan keningnya, tak bisanaya tetangganya itu menelepon.


[Aruna, ibu mau mengabarkan, kalau ibu kamu sakit,] ujarnya kemudian.


Mendengar berita tersebut spontan jantung Aruna berdegup kencang.[Sakit? ibu sakit? lalu bagaimana keadaanya sekarang] balas Aruna yang langsung mencecar dengang banyak pertanyaan.


[Keadaanya semakin buruk Aruna, ibu sudah membawanya kepuskesmas tapi mereka bilang ibumu harus dibawa ke rumah sakit yang lebih besar,]


[Apa?] bibir Aruna bergetar, tubuhnya terasa lemas seketika mendengar berita buruk tersebut.[Aku, aku akan segera kesana,] ucapnya tanpa fikir panjang.


[Ya Aruna, cepat kamu kesini, kami butuh persetujuan dari pihak kelurga.] jelas bu Sukma yang tak lama menutup teleponya.


Aruna terduduk lemas untuk sesaat di ranjang, mengatur nafsanyan yang tak beraturan karena terkejut. Tak lama Aruna berdiri dari duduknya, ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Akram, tapi Akram tak juga menganggkat teleponya.“Aku harus pergi sekarang, sebelum keadaan ibu semakin memburuk,” gumamnya, dengan tergesa gesa Aruna mengganti pakainanya dan bergegas keluar rumah, menaiki bus menuju kampungnya.


Butuh beberapa jam untuk Aruna tiba dikampungnya, sepanjang jalan Aruna hanya mencengkram rok yang dikenakanaya, matanya sudah berembun membayangkan hal hal buruk tentang ibunya, berulang kali Aruna meminta supir bus untuk menambah kecepatanya, waktu terasa berjalan lambat menyelimuti kepanikanya. Beberapa jam kemudian bus itu terhenti diterminal, dengan tergesa gesa Aruna menstop sebuah angkutan umum setelah turun dari bus yanng mengantar ke puskesmas di desanya. Angkutan unum itu berhenti tepat dihalaman puskesmas tersebut, tampak beberapa tetangganya yang yang berada disana, Aruna pun berlari masuk kedalam.“Ibu, dimana ibu?” tanyanya panik dengan nada terbata bata.


“Disana Aruna,” ibu Sukma menunjuk dan mengantar Aruna pada ruangan disana.


“Ibu..” lirih Aruna melihat wajah ibunya yang sudah memucat dengan punggung tanganya yang tertancap jarum infus.


“Apa anda purti dari pasien?” tanya seorang perawat wanita menghampiri Aruna.


“Ya, saya putrinya,”


“Ibu anda harus dirujuk kerumah sakit yang lebih besar untuk mendapat penangan,” jelas sang perawat.


“Saya bersedia ibu saya dirujuk, saya bersedia,” balas Aruna tanpa ragu.


“Baiklah kalau begitu ada beberapa berkas yang herus ditandatangani,” perawat tersebut menuntun Aruna kesebuah ruangan untuk menandatangi beberapa berkes, tak lama petugas medis pun segera membawa ibu Aruna kerumah sakit yang lebih besar. Aruna hanya dapat menunggu dengan cemas didepan ruang IGD.


Suara dering ponsel membuyarkan lamunanya, tertera nama Akram dilayar, Aruna segera menganggkatnya.

__ADS_1


[Sayang, ada apa telepon?] tanya Akram melihat banyak panggilan tak terjawab dari Aruna.


[Ibu, ibuku sakit,] balas Aruna dengan suara bergetar menahan tangis.


[Apa? sakit? lalu sekarang bagaimana keadaanya?] tanya Akram dengan nada panik.


[Ibu sedang ditangani diruang IGD aku juga sudah berada dikampung,] jelas Aruna tak lama ekor matanya melihat seorang dokter pria keluar dari ruang IGD.[Aku akan menghubungimu lagi,] Aruna menutup teleponya dan bergegas mengahmpiri dokter tersebut.


“Bagaimana? bagaimana keadaan ibu saya?” tanya Aruna panik.


“Sakit paru paru yang dideritanya semakin memburuk, ibu anda harus segera dipindahkan keruang ICU untuk penaganan lebih lanjut,” jelas dokter tersebut.


Tubuh mungil Aruna terasa semakin lemas mendengar hal tersebut.“Lakukan, lakukan apa saja untuk kesembuhan ibu saya,” lirih Aruna dengan nada suara yang sangat pelan nyaris tak terdengar.


“Baiklah, sebaiknya, anda segara menyelesaikan admitrasinya terlebih dahulu,” ujar sang dokter yang tak lama berlalu pergi. Aruna terduduk lemas dikursi, ia tak tau apa yang harus dilakukanya sekarang saat dokter berkata harus menyelesaikan admitrasinya terlebih dahulu sedang Aruna tak memiliki uang sepeserpun saat ini.“Apa yang harus kulakukan,” batinya bingung.


Ponselnya kembali berdering, terlihat nama Akram yang kembali menghubunginya.


[Halo sayang,] ucap Akram saat Aruna mengangkat teleponya.[Bagaimana kedaan ibumu?]


Aruna terdiam.


[Sayang?] Akram semakin cemas karena tak mendapat jawaban dari istrinya itu.


Akram terdiam, ia pun tak tau apa yang harus dilakukanya saat ini, Akram juga tak mempunyai banyak uang, honnor pertamanya baru diterimanya beberapa hari yang lalu dan itu pun jumlahnya masih sedikit tentu tak dapat memenuhi biaya ICU yang mahal.


[Bagaimana, ini aku benar benar tak tau apa yang harus kulakukan,] suara Aruna semakin terdengar lirih.


[Tenaglah, aku akan kesana dan membayar admintrasinya,] jewab Akram kemudian.[Dengarkan aku, tenaglah, kamu harus percaya padaku, aku pasti akan secepatnya kesana,] ujar Akram berusaha menengkan, ia berfikir untuk mencari pinjaman. Aruna mengangguk pelan dan menutup teleponya.


Air matanya masih saja mengalir, yang dapat dilakukanya saat ini hanya dapat berdoa untuk ibunya tetap bertahan dan percaya Akram pasti akan datang , hanya Akram yang diharapkanya saat ini.


“Aruna,” panggil seorang pria didekatnya.


Aruna menoleh.“Arga?” ia menatap tak percaya Arga yang sudah berdiri dihadapanya.“Untuk apa kamu kesini?” tanya Aruana, ia tak mengerti mengapa pria selalu saja tau tentang apa yang terjadi pada dirinya.


Arga duduk disisi Aruna yang masih terlihat bingung.“Aku ingin membantumu,” ujar Arga tanpa basa basi.


“Membantu?” Aruna mengerutkan keningnya, Arga pasti juga tau jika Aruna sedang kesulitan mencari uang untuk biaya admintrasi.


“Apa salah jika aku membantumu?” Arga menatap Aruna yang mematung.

__ADS_1


“Tidak ada yang salah, tapi aku percaya pada suamiku, dia akan segera datang,” tolak halus Aruna yang takut jika Arga akan meminta imbalan atas bantuan yang diberikanya.


“Begitu,” Arga tersenyum kecut.


“Maaf, aku harus kedalam,” Aruna berdiri dari duduknya, memilih masuk keruang IGD meninggalkan Arga. Dengan langkah gontai Aruna berjalan menuju sang ibu yang terbaring lemah dengan alat medis yang menempel ditubuhnya.“Ibu,” lirih Aruna menaatap wajah ibu yang sudah memucat, digenggamnya lembut telapak tangan sang ibu.“Ibu harus kuat, tunggulah sampai Akram datang, ibu harus kuat,” gumam Aruna dengan air mata yang perlahan jatuh membasahi pipinya.


Aruna menoleh melihat suara pintu IGD yang yang terbuka, tampak seorang dokter pria di dampinggi seorang perawat wanita masuk kedalam memerikasakan keadaan ibunya.“Bagaimana keadaan ibu saya dok?”


“Saya sarankan untuk pasien cepat dipindahkan keruang ICU,” jawab sang dokter.


Aruna terdiam, secara tak langsug menyatakan keadaan ibunya semakin tidak baik.“Saya belum ada uang , tunggulah sebental lagi saya pasti akan membayar admintrasinya,”


“Bikalah, saya harap secepatnya karena kondisi pasien yang semakin memburuk,” jelas dokter tersenbut yang langsung berlalu pergi.


Aruna kembali mengenggam tangan sang ibu.“Ibu, bertahanlah,” ucapnya seraya menangis.


Malam itu Aruna terus berada disisi ibunya, tak terhitung beberpa kali ia mundar mandir dengan gelisah menunggu kedatangan Akram, tak terhitung sudah berapa kali juga ia mencoba menghubungi suaminya itu, tapi Akram tak kunjung mengangkatnya.“Kenapa kamu belum juga datang?” batin Aruna, gelisah.


Sampai pagi menjelang Aruna tak juga tertidur, ia merasa tubuhnya lemas karena tak ada makanan yang masuk sejak kemarin.“Ibu, tunggulah sebentar, aku keluar dulu,” Aruna mencium kening sang ibu dan memutuskan keluar untuk mencari makanan luar area rumah sakit. Tak berapa lama Aruna kembali kerumah sakit, Aruna memicingkan matanya saat melihat beberapa petugas medis masuk kedalam ruang IGD Aruna pun mempecepat langkahnya, tampak petugas medis dan seorang dokter berjalan menuju ranjang sang ibu.


“Ibu? apa yang terjadi pada ibuku?” seru Aruna.


“Tolong tunggu diluar, biar dokter yang akan menanganinya,” cegah seorang perawat saat Aruna memaksa masuk keruangan tersebut. Aruna hanya dapat menagis dengan rasa cemas yang nmenyelimuti perasaanya. Sampai seorang dokter pria keluar dari ruangan tersebut, Aruna bergegas menghampirinya.“Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?” ia bertanya dengan air mata yang masih berurai.


“Maaf, kondisi pasien semakin memburuk dan kami tak dapat menyelamatkan nyawanya,” jawab sang dokter.


Aruna menggelengkan kepalanya tak percaya, ia segera masuk kedalam, air matanya semakin beruarai deras kala melihat sang ibu yang sudah terbujur kaku.“Ibu!!” teriak Aruna menangis dengan sejadi jadinya, memeluk tubuh sang ibu yang dicintainya, ini pukulan berat untuknya.


“Aruna,” mendengar suara pria memanggilnya, Aruna segera menoleh kearah suara tersebut, tampak Akram yang berdiri diambang pintu dan perlahan mendekat kearahnya.“Maafkan aku, aku baru mendapatkan pinjaman,” tangan kananya memperlihatkan amplop coklat berisi uang yang dicarinya dengan susah payah.


“Ibu sudah meninggal,”


Akram terdiam.“Maafkan aku,” sesal Akram, ia sadar ini kesalahanya, andai saja ia bisa datang lebih cepat.


Aruna tak menjawab, dadanya semakin terasa sesak, ingin rasanya ia berteriak, meluapkan kekecewaanya pada Akram, tapi itu rasnaya pecuma, waktu tak akan berjalan mundur dan mengembalikan nyawa ibunya, Aruna hanya dapat menangisi semua yang sudah terjadi.


Hari itu juga ibu Aruna dimakamkan, beberapa kerabat dan tetangganya berbelasungkawa dan memeluk Aruna yang hanya dapat terduduk lesu didekat makam sang ibu, sampai para pelayat pergi Aruna masih enggan berajak dari duduknya.“Ibu,” tak ada kata lagi yang bisa diucapkanya selain menatap dan mengusap lirih nisan sang ibu.


“Maafkan aku,” Akram tak henti hentinya meminta maaf, walau ia tau itu tak akan merubah apapun.“Aku benar benar suami yang payah,” Akram terus merutuki dirinya sendiri, andai saja keadaanya bisa mapan seperti dulu ia pasti sudah memberikan perawatan yang terbaik untuk mertuanya itu.


“Aku tak menyalahkanmu.” balas Aruna yang mencoba mengikhlasnkan semuanya, Aruna yakin Akram pasti sudah sangat berusaha mencari uang pinjaman tersebut walau terlambat.

__ADS_1


Akram mencengkram tanah merah pemakaman yang masih basah itu, walaupun Aruna tak menyalahkanya , ia benar benar merasa menjadi suami yang tak berguna saat ini.


__ADS_2