Celebrity Husband

Celebrity Husband
Menemui teman lama


__ADS_3

Bab 46.


“Sudah berapa bulan usia kandunganmu?” tanya Akram seraya mengelus lembut perut sang istri yang sudah semakin membuncit.


“Mungkin 3 bulan,” Aruna menyandarkan manja kepalanya di bahu Akram.


“Mungkin?” Akram mengerutkan keningnya menatap Aruna.


“Ya, 3 bulan,” Aruna mengangguk.


Akram terdiam, rasanya sudah lama sekali ia tak memeriksakan kandungan istrinya kedokter.“Kapan kamu terakhir memerikasanya kedokter?” tanya Akram kemudian.


“Sepertinya sudah lama, sudahlah aku yakin janin kita baik baik saja,” Aruna mengusap bahu Akram yang sudah memperlihatkan wajah risaunya.


Akram termenung, seingatnya pertama kali ia memerikasaakan kadungan Aruna saat dirinya masih menjadi aktor dan kemera menangkap kebersamaan mereka berdua setelah itu Akram tak pernah lagi mengajak Aruna untuk memerikasa kandunganya.“Bodoh sekali, itu sudah lama sekali,” Akram mengusap kasar wajahnya, dalam hati ia merutuki dirinya sendiri.“Kita periksa kandunganmu besok,”


“Tidak usah, aku yakin janin ini baik baik saja,” tolak halus Aruna.


“Tidak, ini kehamilan pertamamu, kita harus sering memeriksanya,” Akram beersikuku ia benar benar tak ingin hal buruk terjadi pada kandungan istrinya itu dan kehilangan janinya kembali.


“Tidak usah, lebih baik uangnya untuk makan saja, aku yakin kandunganku baik baik saja,” tolak kembali Aruna.


Akram terdiam, ia tau saat ini keluarganya benar benar sedang dalam fase yang sangat rendah, begitula Aruna yang seolah mengerti jika memeriksa kandungan membutuhkan uang yang tidak sedikit.“Astaga, payah sekali aku.” lirih Akram, yang tak tau lagi harus bagaimana mencukupi kebutuhan keluarganya ia sudah berusaha beberapa kali mencoba melamar ke perusahaan tapi sampai saat ini belum juga membuahkan hasil ditambah usaha papanya yang juga sedang meredup.


“Jangan berkata seperti itu, bagiku kamu tetap suami yang terbaik,” puji Aruna, mengenggam lenbut tangan Arkam.


Akram tersenyum, lalu mengecupu kening Aruna. Walaupun perkataan Aruna sangat terdengar menyejukan tapi itu tak dapat merubah persaan Akram yang saat ini benar benar merasa payah dan tak berguna karena tak bisa mencukupi sepenuhnya kebutuhan istrinya itu.

__ADS_1


“Apa aku pinjam uang saja ya?” batin Akram.


Keesokan harinya.


“Kamu mau kemana?” Aruna menghampiri Akram yang sudah memakai hoodienya seraya bercermin malam itu.


“Aku ada urusan,”


“Urusan apa?” Aruna mengerutkan keningnya.


“Pokoknya aku ada urusan, tenang saja aku tidak akan macam macam,” Akram mengecup kening Aruna dan bergegas keluar dari kamarnya malam itu.


Aruan hanya dapat memandangi punggung belakang Akram yang perlahan menghilang dibalik pintu, ia tak mengerti mengapa Akram tak mau memberitahu kemana ia akan pergi, Aruna mengehela nafas, mencoba mengerti dan mempercai suaminya itu.


Malam itu sudah larut jam sudah menujukan pukul 11 malam, kendraaan yang berlalu lalang pun mulai terlihat lengang dengan semeliwir angin malam yang seakan menembus tulang, Akram mempercepat laju sepeda motornya ke suatu tempat. Ia pun sampai di sebuah club malam, untuk menemui temanya yang sudah dihubungi sebelumnya. Langkah kakinya masuk kedalam, alunan musik yang memecahkan telinga terdnegar begitu kencang, riuh dengan orang yang bersenang senang.


“Bro!”


“Sini bro, duduk,” pria bernama Jason itu menepuk sofa, agar Akram duduk disebelahnya.


“Kemana aja loe? baru kelihatan?” sapa temanya yang lain, sejak menikah dengan Aruna ia memang tak pernah mengunjungi lagi klub malam favoritnya itu, entahlah rasanya ia sudah tak tertarik lagi mendatangi tempat tersebut padahal dulu hampir setiap malam ia menghabiskan waktunya disana.


“Gue sibuk,” ketus Akram yang direspon kekehan dari teman temannya.


“Minum dulu minum, lecek benget muka loe,” Jason menyodorkan gelas kristal berisi wine padanya.


“Enggak deh, gue buru buru,” tolak Akram yang tak ingin berlama lama ditempat itu dan membuat Aruna cemas menunggu kepulanganya.“Gue kesini mau pinjam uang,” tanpa basa basi Akram mengutarakan maksudnya.

__ADS_1


“Apa? enggak salah denger gue?” Jason tampak terkejur namun tertawa kecil setelahnya.


“Iya, masa aktor terkenal minjem duit,” cibir salah seorang temanya, yang di respon tawa dari teman temanya yang lain.


“Gue serius, nanti gue langsung gue ganti kalau gue punya uang,” ujar Akram yang sebenarnya mulai merasa kesal saat teman temanya masih saja tertawa, Akram yakin teman temanya itu pastilah tau keadaanya saat ini sejak karirnya meredup.


“Buat apa sih loe pinjem duit?” tanya Jason masih dengan tawanya.


“Buat periksa kandungan istri gue,”


Sontak saja ucapan Akram itu senmakin membuat gelak tawa temanya itu terdengar semakin kencang.“Apa perikasa kandungan?” Jason mendekatkan telinganya kearah Akram yang semakin tertawa renyah.


“Iya, udah sini mana duitnya,” balas Akram yang mencoba bersabar walau tawa dari teman temanya masih saja terdengar mengolok oloknya.


“Ribet banget sih hidup loe, mending loe ceraikan aja istri loe itu,” seloroh Jason .


Buukkhh!!


Akram yang sudah habis kesabranya pun spontans memukul wajahnya temanya itu, iya masih bisa menahan emosinya jika ada yang mengolok olok tentang dirinya tapi ia tak terima jika ada yang membawa bawa istrinya sebagai bahan candaan. Akram terus menghujami Jason dengan pukulan begitu pula dengan Jason yang terus menangkis dan melawan Akram, perkelahin pun tak terhindarkan membuat seisi club itu ricuh, sampai beberapa petugas keaman disana melerai keduanya dan mengeluarkan Akram dari club tersebut.


“Aaaaaarrrgggg!!” Akram memukul keras dinding dihadapanya, berusaha meluapkan emosi yang masih terpendam. Ia baru meyadari jika selama ini ia salah memilih teman, teman yang biasanya selalu ada untuknya, ya ada hanya untuk bersenang senang tapi tidak untuk saat ini, saat dirinya terpuruk dan jatuh. Akram pun memilih pulang.


Aruana yang sedari tadi tak bisa memejamkan matanya langsung menoleh saat mendengar suara pintunya yang terbuka.”Sayang?” Aruna mengehelan nefas lega melihat Akram yang sedari tadi ditunggunya akhirnya pulang.“Kamu dari mana kok malem banget pulangnya?” Aruna bergegas turun dari ranjangnya dan menghampiri Akram.“Wajah kamu kenapa?” matanya membualat terkejut melihat wajah Akram yang dipenuhi lukan dan memar.“Kamu berkelahi?” Aruna mengusap sudut bibir Akram yang masih menyisakan darah segar.


“Aku jatuh dari motor,” balas Akram berbohong, tak mungkin ia mengetakan ia berkelahi hanya untuk meninjam uang, itu pasti akan membuat Aruna bersedih.


“Jangan berbohong,” Aruna menahan lengan Akram yang hendak menuju kamar mandi, ia tau luka karena jatuh dari motor tidak seperti itu.

__ADS_1


“Sudahlah aku lelah!” tanpa sadar Akram meninggikan suaranya, membuat Aruna tersentak kaget mendengarnya, Aruna pun terdiam dengan raut wajah yang sedih sekaligus kaget.“Maaf, maafkan aku,” Akram langsung menyadari kesalahanya, tidak seharusnya ia membentak Aruna yang tak tau apa apa.“Tidurlah, sudah malam, aku benar benar tidak apa apa.” Akram mengecup kening dan bibir Aruna sekilas lalu berlalu pergi menuju ke kemar mandi setelahnya.


Aruna termenung, ia benar benar tak mengerti dengan sikap Akram malam itu.


__ADS_2