
Bab 63.
Pagi itu Arga sudah mundar mandir menunggu dengan gelisah kedatangan Hellena didepan lobby kantornya.“Astaga, kenapa sudah siang seperti ini dia belum datang juga?” gumamnya. Sesekali ia melirik arloji dipergelangan tanganya.
Arga memicingkan matanya melihat seorang wanita yang tengah berjalan tegesa gesa menuju kearahnya.“Maaf, aku terlambat, dimana ruang interwiewnya?” tanya Hellena dengan nafas terengah engah. Arga hanya terdiam mematung hampir tak berkedip memandangi Hellena yang tampak sangat cantk dengan pakaian yang sopan pagi itu.“Hey, dimana ruang interviewnya?” Hellena menatap Arga Heran.
Suara Hellena membuyarkan lamunanya.“Ada dilantai tiga, aku akan mengantarmu,” balasnya.
Arga segera mengantar Hellena menaiki lift menuju lantai tiga, didalam lift Hellena tampak sibuk merapihkan sulur rambutnya yang sedikit menjuntai berantakan. Arga kembali memandanginya, Hellena sangat mempesona.“Apa ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Hellena memergoki Arga yang terus memandanginya nyaris tak berkedip. Arga mendekatkan langkahnya kearah gadis itu.“A---apa yang salah?” Hellena gugup saat jarak mareka sangat dekat, hampir tak ada jarak, dengan jantung yang berdegup Hellena memejamkan matanya, ia berfikir Arga mungkin akan menciumnya.
Arga mengusap jemarinya pada sudut bibir gadis itu.“Lipstik mu berantakan,”
“Apa? berantakan?” dengan wajah merah padam Hellena menraih cermin kecil disakunya, benar lipstiknya sedikit berantakan.
Hellena menunggu diluar ruangan direktir utama, hari ini dia akan melakukan interview, dirinya sedikit gugup dan pemsimis dirinya tidak akan diterima berkrja dipeerusahaan besar tersebut. Sedang Arga menunggu dengan gelisah diruang kerjanya, posisi Arga diperusahaan tersebut cukup bagus ia sangat berharap Hellena bisa berkerja satu kantor denganya.
[Aku sudah selesai interview,] tulis Hellena dalam pesanya.
Arga segera beranjak dari kursi kerjanya, menghampiri Hellena yang sedang menunggu diloby.“Bagimana hasilnya? kau diterima berkerja disini?” tanya Arga yang langsung mencecarnya dengan pertanyaan.
Helleana berdiri dari duduknya. Ia menggeleng.“Tidak,” ucapnya lesu.
Arga mengusap kasar wajahnya, Arga berfikir Hellena gadis yang cukup cerdas terlebih dia lulusan universitas luar negri.“Tapi aku diminta datang lagi besok,” lanjut Hellena dengan senyum jahilnya.
“Diminta datang untuk apa?” Arga mengerutkan keningnya.
“Untuk berkerja dan menjadi pegawai disini,” balas Hellena dengan senyum sumringahnya.“Aku diterima,” serunya yang spontan memeluk Arga.“Aku senang sekali,” Hellena merasakan Arga yang juga melingkrkan tanganya dipinggangnya.“Maafkan aku,” Hellena melepas peluknya, merasa malu.
Arga tersenyum tipis.“Kau harus memberiku imbalan karena sudah membuatmu berkerja disini,”
“Imbalan? ternyata kau tidak tulus,” balas Hellena dengan bibir mengucrut.
“Ya, aku memang tidak tulus, aku ingin kau memasakan makan malam diapartemenku malam ini juga,”
“Memasak?”
“Ya, harus selesai sebelum aku pulang dari kantor,” pintanya kemudian membisikan kode akses apartemenya dan berlalu pergi meninggalkan Hellena yang masih mematung.
***
Sore itu Arga buru buru merapihkan meja kerjanya, ia ingin segera pulang dan berharap Hellena sudah ada diapartemenya. Setelah keluar dari dalam kantor Arga segera melajukan mobilnya menuju apartemen. Tak berapa lama Arga tiba, ia membuka kode akses, langkahnya perlahan masuk terdengar suara bising dari arah dapur, Arga segera menuju kesana, tampak Hellena yangs sedang memasak.
“Kau sudah pulang?” suara langkah kaki Arga membuat Hellena menoleh, melihat Arga yang sudah berdiri dibelakangnya. Arga terperangah, melihat Hellena yang tampak lihai memasak diletakanya steak yang masih mengeluarkan asap tipis dengan aroma bawang yang harum.“Makanlah,” ujar Hellena dengan senyum manisnya.
__ADS_1
“Aku mandi dulu,”
“Kalau begitu aku pulang ,” Hellena melepaas celemek yang melekat ditubuhnya.
“Pulang?”
“Ya, aku sudah selesai memasak,”
“Kau fikir aku bisa menghabiskan makanan ini sendiri? makanlah bersamaku,” titah Arga yang langsung masuk ke dalam kamarnya dan memberishkan tubuhnya. Hellena menghela nafas duduk dikursi makan menunggu Arga.
Selesai mandi Arga menghapiri Hellena dimeja makan, mereka makan bersama tak ada percakapan di antara keduanya. Canggung, hanya ada suara denting sendok dan garfu yang mengiri makan malam mereka. Hellena sesekali melirik Arga yang tampak tenang menyantap makanya. Wajah Arga selalu terlihat tenang dan meneduhkan untuk Hellena membuat dirinya betah lama lama memandangnya.“Apa ada yang salah dengan wajahku?” tanya Arga memergoki Hellena yang mencuri pandang padanya.
Hellena terseikap, memalingkan wajahnya yang bersemu malu.“Tidak, apa masakan ku enak?” tanyanya berbasa basi.
“Enak,” balas Arga datar.
“Apa kau tinggal disini sendirian? dimana orang tuamu?” Hellena memutar pandanganya pada apartemen besar dan tertata rapih itu, banyak hal yang tak diketahuinya tentang Arga sampai saat ini.
“Orang tuaku tidak disini,”
“Oh,” Arga kembali memberikan jawaban jawaban singkat memnbuat Hellena jenuh, beda pada saat Arga menuduh Hellena tentang fikiran buruknya pria itu terus berceloteh panjang lebar dengan emosinya.“Aku sudah kenyang, aku harus pulang,” Hellena berdiri dari kursi makanya, meraih tas berwarna hitam pekat yang dibawanya
”Tunggu,” Arga mencekal lenganya.“Besok pagi aku akan menjemputmu,”
“Apa ada pria lain yang menjmputmu?” lagi lagi Arga menuduhnya.
Hellena kembali menggeleng.“Hanya supir taksi yang menjemputku,” Hellena tak habis fikir mengapa Arga selalu menuduhnya dekat dengan pria lain layaknya wanita murahan sedangkan ia tak punya celah untuk sekedar melirik pria lain karena Arga yang selal mengekorinya. Hellena melepas tangan Arga dan bergegas keluar dari apartemenya.
***
Pagi itu Hellena bangun dengan semangat, ini hari pertamanya berkerja. Berkerja disebuah perkantoran memang bukan keinginanya karena dirinya memang lebih menyukai dunia modeling yang mewakili hobinya, tapi Hellena senang karena setidaknya ia bisa menyambung hidup dan tak lagi berkerja di klub malam. Hellena segera menaiki taksi menuju kantor.
Setibanya disana Hellena melihat Arga yang sudah menunggunya diloby.“Kau menunguku?” tanya Hellena menghampiri.
“Makanlah,” Arga memberikan box makanan cepat saji.
“Terima kasih,” Hellena tersenyum dirinya memang belum sarapan.
Pagi itu Hellena memulai perkerjaanya, ini pengalaman pertamanya berkutat pada tumpukan berkas yang menuntut untuk diselesaikanya. Hellena melirik jam dipergelangan tanganya yang sudah menujukan waktu makan siang, ia berdiri dari duduknya, dilihatnya pintu ruangan Arga yang masih tertutup, Arga belum keluar untuk makan siang, Hellena memutuskan untuk makan siang seorang diri dicafe yang tak jauh dari kantor mereka.
Hellena duduk dikursi makan menunggu pesanya.“Boleh aku duduk disini?” seorang pria menghampri mejanya . Hellena mendongkakan wajahnya.“Boleh,” ucapnya datar.
Pria itu meletakan makanan yang sudah dipesanya dimeja.“Kamu karyawan baru disini?” tanya pria itu.
__ADS_1
Hellena mengangguk.“Ya,”
“Aku tidak menyangka, mungkin kita jodoh,” godanya.
“Jodoh?” Hellena mengerutkan keningnya.
“Kau tak mengenaliku? aku pelangganm di klub malam tempatmu berkerja,” jelas pria tersebut. Membuat Hellena tersendak mendengarnya, Hellena segara meraih minumnya menenggaknya hingga tandas, ia tak menyangka ada yang mengenalinya sebagai pelayan klub disini.
“Aku harus pergi,” Hellena memilih beranjak dari kursinya meninggalkan pria tersebut. Hellena kembali ke kursinya jantungnya masih berdegup kencang, sepertinya pria itu satu kantor denganya, rasanya malu jika ada yang tau jika dirinya pernah berkerja diklub malam. Hellena memijat pelan pelipisnya, takut jika berita tentang dirinya tersebar luas.
Sampai jam pulang kantor tiba Hellena bersiap untuk pulang, ia melirik ruangan Arga yang masih tertutup, mesikpun satu kantor kelihatanya Arga sangat sibuk dengan perkejaanya, bahkan terksan tak mengenal Hellena. Hellena menghela nafas kecewa dan bergegas keluar dair kantor.“Hey,” panggil seorang pria mencegat jalanya.
“Kamu?” melihat pria yang dicefe tersebut kini sudah berdiri dihadapanya.
“Kamu mau pulang kan? bareng aku ya,” tanpa ragu pria itu meraih tangan Hellena.
Hellena dengan cepat menepisnya.“Tidak, aku naik taksi saja,”
Pria itu justru tersenyum kecut.“Sombong banget,” lalu tertawa kecil setelahnya.“Aku rasa kamu tidak pantas berkerja disini, aku tau kamu masuk dengan bantuan pegawai disini kan? wanita nakal sepertimu tetap lebih pantas berekerja diklub malam,” cibir pria itu dengan tatapan merendahkan lalu bergegas pergi meninggalkan Hellena menuju mobilnya.
Dada Hellena terasa sesak, ucapan pria itu terasa sangat melukainya, wajah cantiknya mulai memerah, begitu pula dengan kedua bola matanya yang terasa panas menahan bulir air mata.“Hellena,” sapa Arga dari arah belakagnya.
Hellena sekilas menoleh.“Aku harus pulang,”
Arga menahan lenganya.“Ada apa denganmu?” terlihat jelas bola mata Hellena yang sudah berkeca kaca.
Hellena menggeleng.“Tidak apa apa,” suaranya terdengar bergetar, Arga meraih tanganya menariknya masuk kemabli kedalam kantor.“Arga, lepaskan aku ingin pulang,” Hellena meronta tapi Arga tak memperdulikanya. Suasana kantor sudah sepi, Arga memasukan Hellena kedalam ruanganya dan mendudukanya disofa.
“Katakan padaku siapa yang membuatmu sedih?” Arga memegang bahu gadis yang tertunduk itu, menatapnya penuh tanda tanya.
“Aku tidak ingin berkerja disini,” ujar Hellena masih tertunduk.
“Kenapa?” Arga mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Wanita malam sepertiku tidak pantas berkerja dikantor ini,” tangis Hellena pecah, seraya mencengkram rok span yang dikenakanya.“Mereka akan tetap mengecapku wanita malam, benar, mungkin perkerjaan yang pantas untuk ku hanya menemani pria hidung belang,” ucapnya terbata bata.
Arga meraih dagu gadis itu, mencium bibirnya. Hellena tertegun, saat sesapan lembut Arga memaksanya untuk membuka mulutnya yang terkatup. Hellena memejamkan matanya, merasakan jemari Arga yang memeluk tengkuknya, mengusap lembut punggunya. Arga melepaskan ciuamanya, membirkan Hellena untuk bernafas sejenak.“Aku mencintaimu,” ujar Arga mengusap lembut pipi Hellena.
Hellena mematung, pria bermata elang itu menatapnya begitu dalam.“Aku tidak pantas untukmu, aku hanya wanita malam,” lirih Hellena.
“Aku tidak pernah memandangmu seperti itu, aku tidak tau sejak kapan aku menyukaimu, tapi aku suka kemandirianmu, saat bahkan aku tidak ingin membiarkanmu sendiri.” tutur Arga. Hellena wanita yang berbeda dimatanya. Hellena masih terdiam.“Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu,” Arga mempertegas pernyataanya.
Hellena tak menjawab, hanya mengulum senyum, Arga kembali mencium bibir ranum itu, menyesapnya kembali. Hellena perlahan menagalungakan kedua lengannya dileher Arga, membuat ciuman keduanya semakin dalam dan intens.
__ADS_1