
Bab 14.
[Hey bawakan jaket berwarna navy dalam lemariku, sekrang!]
lima menit kemudian.
[Jangan pura pura sibuk, cepat bawakan!]
[Kau tuli?]
[Baiklah, seprtinya kau minta dihukum, tunggu aku dirumah.]
Itu adalah sederet pesan Akram pada Aruna yang tak kunjug dibalasnya.“Dia benar benar mencari masalah, lihat saja nanti,” gumamnya, geram
Malam itu selesai syuting Akram bergegas pulang kerumah dengan emosi yang memuncak, ia tak sabar ingin memarahi, mencaci dan menghukum istrinya itu.“Aruna, dimana kamu? keluarlah!” suara lantang Akram mengema usai membuka pintu yang terkunci.“Aruna! kau tuli?” langkah kaki Akram dengan cepat menaiki tangga, menuju kamar, membuka pintu dengan kasar, bola matanya yang mnyeringai mencari Aruna yang ternyata tak ada disana.
__ADS_1
Akram pun membuka kamar mandi, tak ada juga Aruna disana.“Aruna! jangan bersembunyi kau!” Akram semakin meninggikan suranya, iaberfikir Aruna sedang memparmainkan dirinya. Ia segera turun kelantai bawah, mencari Aruna keseluruh ruangan.“Kemna dia?” batinya bingung.“Jangan jangan dia?” Akram kembali menaiki tangga menuju kamar tamu, langkahnya yang tergesa segera membuka lemari pakaian disana.“Ternyata benar, dia kabur,” Akram tersenyum kecut, melihat tak ada pakaian Aruna disana, ia yang semakin emosi pun membanting pintu lemari pakaian tersebut.
Akram memilih merebahkan tubuhnya diranjang, mendinginkan kepalanya yang mendidih karena emosi.“Kabur kemana dia?” Akram menatap langit langit kamarnya seraya berfikir.“Atau jangan jangan dia kabur bersama selingkuhanya itu?” fikiranya langsung tertunju pada Arga.“Dasar perempuan liar, lihat saja nanti jika aku menemukanmu!” umpatnya kemudian.
Kesesokan harinya pagi pagi sekali Akram sudah bergegas melanjukan mobilnya kesuatu tempat. Tak berapa lama mobilnya tiba diparkiran sebuah kantor, matanya terus mngawasi dengan tajam, mencari seseorang. Tak lama Akram melihat seorang pria dengan kemeja formal berwarna abu abu baru saja keluar dari mobilnya.“Sini loe,” tanpa fikir panjang Akram menarik tangan pria itu.
Arga tersentak melihat pria yang dibencinya itu.“Lepasin tangan kotor loe itu,” Arga segera menepis lenganya dari cengkraman Akram.
Akram lantas menarik kerah kemeja Arga dengan kasar.“Gue tau loe selingkuhan pembantu itu, sekrang katakan dimana loe smbunyikan dia? apa dia sedang berada dirumah loe?” tuduh Akram tanpa basa basi, yang sontak saja memancing emosi Arga begitu mendengar berita tersebut.
BUUKKKHH!!
Akram yang masih terduduk ditanah mengusap sedikit darah disudut bibirnya, ia termenung, sepertinya Aruna tak berasama Arga.“Atau jangan jangan ia dirumah mama?” tanpa menunggu lama Akram segera masuk kembali kedalam mobilnya, melajukanya menuju rumah orang tuanya.
“Akram sayang,” suara lembut ibu Risna yang sedang menikmati sarapanya menyambut kedatangan Akram begitu memasuki rumah.“Tumben kamu pagi pagi kesini? sarapan dulu sayang,” tawarnya hangat.
__ADS_1
Akaram memutar pandanganya sesaat pada sudut rumah, tak ada Aruna disana.“Apa Aruna ada disini?”
Pak setya yang sedang menyantap sarapanya segera meraih air putih disampingnya dan menengguknya.“Suami macam apa kau, keberadaan istri sendiri tak tau,” ujar pak Setya kemudian.
“Aruna tidak ada disini sayang,” jawab ibu Risna.”Apa dia kabur?” tanyanya menerka nerka.
Akram hanya terdiam.“Apa yang sudah kau lakukan sampai dia kabur seperti itu?!” pak Setya mulai meninggikan suaranya.
Akram bergeming tak mnghiraukan pertanyaan papanya.“Apa dia pulang kampung?” ujar Akram kemudian.“Mama tau dimana kampungnya?”
Ibu Risna menggeleng.“Mama tidak tau, ia hanya dikirim oleh agen pencari asisten rumah tangga kesini,” balas ibu Risna dengan nada santai.“Sudahlah tidak usah mencarinya , lagipula bagus kan jika dia pulang kekampung.” ibu Risna justru terlihat senang.
“Hentikan ucapanmu!” seru pak Setya menatap ibu istrinya yang langsung tertunduk.“Cepat cari istrimu,” titahnya pada Akram.
Akram memlilih keluar rumah, masuk kedalam mobilnya dan meraih ponselnya mencoba menghubungi seseorang.“Nomornya tidak aktif?” gumamnya yang baru mengetahui jika nomor Aruna tidaklah aktif. Akram kembali menghubungi seseorang yang lain.“Cepat cari alamat rumah asisiten rumah tangga bernama Aruna, pada agen yang menyalurkanya.” titah Akram kemudian.
__ADS_1
“Baik tuan,” balas patuh seorang pria dari bali telepon.
Akram mengehela nafas dalam, mencoba meredam emosinya.“Lihat saja jika aku sudah menemukanmu Aruan,” Akram mengusap kasar wajah risaunya yang tampak gelisah, ia tak menyangka jika wanita polos itu berani kabur darinya begitu saja.