
Bab 28.
Akram masih menikmati tengukan demi tengukan wine yang dipegangnya, menikmati kesendirianya dalam rumah yang tampak sepi.“Apa aku harus menandatangi surat ini? dan berpisah begitu saja?” gumamnya memandangi berkas perceraian di,meja.“Terlalu mudah, ya berpisah memang mudah.” ia tertawa lirih.
Akram menyalahkan televisi dihadapanya, melihat Liona yang seperti sedang melakukan konpersi pers.“Apa yang dilakukanya?” Akram mengerutkan keningnya tak mengerti peryataan apa yang akan dibuat Liona, ia melihat lebih serius layar kaca dihadapanya.
“Teima kasih sudah memenuhi undanganku,” Liona membuka ucapnya berterima kasih pada para wartawan yang bersedia datang.“Saya akan menyatakan peryataan yang tentu akan membuat kalian tercengang,” sambung Liona dengan senyum tipis dibibirnya.
“Pernyataan apa nona? apa ini berhubungan dengan rencana perutungan anda dengan Akram?” beberapa wartawan terdengar mencecar Liona dengan berbagai pertanyaan.
“Tidak, ini bukan tentang pertunanganku dengan Akram,” dengan tegas Liona membantahnya,“Perutunagan itu tidak akan terjadi,” lanjut Liona yangs semakin menibulkan pertanyaan dibenak para wartawan.
“Apa alasanya nona?” tanya kembali beberapa wartawan disana dengan kamera yang tak henti hentinya menyoroti Liona.
“Karena Akram sudah memiliki istri,” ujar Liona dengan wajah tenangnya.
“Apa iatri? bagaimana bisa? bukankan dia belum menikah? bisakah anda menjelaskan ini?” itulah beberapa pertanyaan yang sontak saja meluncur dari para wartawan mendengar peryataan Liona.
“Kalian bisa langngsung bertanya padanya, ia tidak akan mempunyai alasan untuk membentahnya, Aruna yang disebut asisten pribadinya adalah istrinya ia telah melakukan banyak kebohongan pada kalian,” ujar Liona menutup pernyataanya, menyisakan beribu pertanyaan pada awak media yang mengejarnya, Liona pergi begitu saja bersama beberapa bodyguard yang melindunginya dari kejaran para wartawan.
“Aaaaaaaaaggghhhhhh, apa apaan ini !” Akram melepar gelas kristal yang dipegangnya menimbulkan suara yang cukup nyaring, ia mendesis kesal, Liona seperti sengaja membuat masalah ini. Akram melirik ponselnya dimeja yang terus berdering.
[ Iya, mah,] ia mengangkat dengan malas panggilan dari ibu Risna.
[ Akram jelaskan pada mama apa yang akan terjadi? mengepa Liona membuat pernyatan itu?] terdengar suara panik ibu Risna usai melihat Liona ditevisi yang tampak jelas seakan menjatuhkan putranya.
__ADS_1
[ Tengalah, aku akan menyelesaikan ini semua,] Akram tau ibunya saat ini pastilah panik setengah mati karena hal itu.
[ Ya Akram, kamu harus membantah peryataan Liona, itu bisa mengahncurkan karirmu, mama tidak mau hidup seperti dulu lagi,] ucapan ibu Risna terdengar sangat takut jatuh kemiskin lagi seperti dulu, Akram lah tumpuan dan harapanya saat ini.
[ Tengalah, aku akan menyelesaikanya,] Akram menutup teleponya. ia memijat pelipisnya yang terasa berat, belumlah masalahnya dengan Aruna selesai kini justru muncul masalah baru yang sengaja dibuat Liona, entah apa yang melatari dirinya berbuat hal seperti itu.
Ponselnya kembali berdering, kali ini tertera nama pak Reno dilayar. Akram kembali mengangkatnya dengan malas.
[ Kau sudah melihatnya?] terdengar suara tenang pak Reno dari balik telepon.
[ Sudah,]
[ Datanglah ke kantor sekarang,] titahnya tanpa banyak bicara yang langsung memutus panggilanya. Akram beranjak dari sofanya, mengenkan jaket yang membalut tubuhnya dan bergegas keluar rumah
***
Aruna hanya terdiam tak tau harus menjawab apa.“Maaf aku ada custumer masuk,” Aruna lebih memilih menghindar melayani custumer yang masuk ke tokonya.
***
“Dia benar benar lancang, membuat pernyataan tanpa seijinku,” ujar pak Reno yang terlihat geram atas perbuatan Liona.
“Sepertinya aku memang harus membenarkan berita itu,” Akram berusaha duduk dengan tenang, mengatur emosinya, ia lelah dengan semua ini dengan kebohongan yang diciptaknya sendiri.
Pak Reno tertawa.“Kau mau membenarkanya? kau sudah siap dengan resikonya? karirmu akan jatuh begitu saja, banyak masyarakat yang akan kecewa padamu,” jelas pak Reno tak ingin hal itu terjadi, Akram adalah magnet untuk agensinya. Akram hanya terdiam dengan kebimbanganya.
__ADS_1
“Kita selesaikan malam ini,” ujar pak Reno kemudian.
***
“Aruna kau harus lihat ini, Akram akan membalas pernyataan Liona,” seru teman, kembali menarik tangan Aruna ke sudut toko dengan ponsel yang dipegangnya.“Kenapa kau tak mengaku saja jika kau istri aktor itu? banyak yang membicarakanmu,” Aruna hanya kembali terdiam seraya memperhatikan ponsel yang memperlihatkan Akram yang akan melakukan konpersi pers. Terlihat Akram yang sudah berdiri disisi pak Reno, jantung Aruna berdegup, menanti apa yang dikatakan Akram.
Sesaat kemudian hatinya terasa pilu, mendangar Akram yang dengan tegas membantah berita itu dan juga pak Reno yang ikut membantahnya.“Posisimu kembali aman sekarang, itu baik untukmu,” batin Aruna lirih, entah kenapa ia berharap Akram membenarkan berita itu, tapi Akram tetaplah Akram pria yang lebih mementingkan karirnya dari segalanya.
“Ternyata berita itu tidak benar,” teman wanita Aruna memasukan kembali ponsel kedalam sakunya.
“Iya, berita itu tidak benar,” Aruna berusaha tersenyum.
“Aruna, kamu mau pulang bersamaku?” tawar teman Aruna bernama Silvi itu saat keduanya hendak pulang.
Aruna menggeleng pelan.“Tidak, aku naik angkutan umum saja,”
“Oh yasudah, aku pulang dulu ya,” ujarr Silvi mengendarai sepeda motornya meninggalkan Aruna.
Langkah gontainya berjalan keluar halaman toko, Aruna terhenyak dari lamunanya saat tiba tiba ada yang menarik paksa pergelangan tanganya.“Kamu? lepaskan aku,” refleks Aruna memberontak saat melihat Akram sudah berdiri dihadapanya.“Lepaskan aku,” serunya kembali, Akram tak menghiraukan dan tetapa menarik pergelangan tangan Aruna menuju mobilnya.
Akram masuk kedalam mobil, hening tak ada percakapan di antara mereka, Aruna hanya terus membuang pandanganya.“Aku sudah memikirkan ini, aku tak ingin bercerai,” ucapan Akram memecah keheningan, terdengar sangat egois ditelinganya.
“Bukankah semuanya baik baik saja? bahkan kau tetap memilih untuk tak mengakui ku, untuk apa kau menahan ku? untuk apa?!” seru Aruna dengan isak tangis yang tak terbendung, rasanya ingin sekali ia berteriak dan mengatakan pada halayak jika dialah istri Akram yang tak pernah diketahui banyak orang.
“Kau tak mengerti tentang keadaan ini,” Akram megerakan jarinya, hendak menyeka cairan bening yang membasahi wajah cantik istrinya itu, namun dengan cepat Aruna menepisnya.
__ADS_1
“Aku tidak akan pernah mengerti, tidak akan, tolong cepat ceraikan aku, harusakan aku mengemis untuk mu melepaskan ku?” ujar Aruna dengan suara yang hampir tercekat menahan air matanya agar tak mengalir lebih banyak, dan bergegas keluar dari mobil Akram.