Celebrity Husband

Celebrity Husband
Suara aneh


__ADS_3

Bab 39.


Aruna masih tampak bingung, ini pilihan berat untuknya, wajah Akram semakin memelas berhaarap Aruna mau melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda, semantara suara ketukan pintu semakin nyaring terengar.“Maaf aku harus membantu ibu, nanti ibu bisa curiga,” Aruna melepaskan tangan Akram yang masih menggengamnya, sontak saja wajah Akram semakin bermuram durja.“Nanti nmalam kita bicarakan semuanya pada ibu.” Aruna mengusap pelan punggung tangan Akram, memberi janji dan bergegas pergi keluar kamar.


Akram mengehela nafas berat, merebahkan tubuhnya di ranjang, ada sedikit perasaan kesal di hatinya, berusaha tak menghiraukan panggilan ibu yang mengatakan sarapanya sudah siap di meja makan.“Astaga, dia benar benar istri yang kejam,” batinya nelengsa, merasakan hasratnya yang masih tersisa.“Biar saja, aku tidak mau bicara denganya,” gumamnya mereajuk.


Akram berusaha memejamkan matanya namun ia kembali memikirkan Aruna.“Bagaimana jika di pasar dia di goda pria?” teringat wajah wajah pria disana yang sempat dipergokinya memandang Aruna dengan nakal waktu itu.”Tidak bisa di biarkan.” ia bergegas beranjak dari ranjang, Akram memutuskan untuk segera mandi, membiarkan air dingin membasahi tubuhnya dan meredam hasratnya, ia pun bergegas menuju ke pasar setelahnya.


“Akram?” Aruna tampak terkejut melihat Akram yang sedang berjalan menujunya.“Kenapa kamu ke sini?” tanyanya begitu Akram berdiri di hadapanya.


“Memangnya tidak boleh kalau aku ke sini?” ekor matanya melirik beberapa pria di sana, benar saja ada beberapa yang tampak melirik nakal istrinya itu.“Sudah, kamu duduk saja, biar aku yang berjualan.”titah Akram sedikit kesal.


Aruna pun menurut dan duduk, memperhatikan Akram yang tampak menwarkan sayuran yang dijualnya, Aruna memperhatikan Akram yang langsung menjadi perhatian para gadis disana, tampak mereka saling berbisik nakal dengan wajah berbinar menghapiri lapaknya. Dalam hitungan menit sayuranya pun ludes terjual. Aruna menhitung uang yang di dapatnya.“Kenapa cemberut seperti itu? kau tidak senang dapat uang banyak?” tanyanya menatap Aruna yang menekuk wajahnya.


“Tidak apa apa, ayo pulang,” ketus Aruna ytang sebenarnya merasa sangat cemburu dengan gadis gadis nakal yang masih saja memandangi suaminya. Ingin rasanya dia berteriak jika ini suaminya dan tak ada yang boleh memandanginya.“Aku harus cepat mengatakanya pada ibu!” gumamnya yang saat ini justru ingin cepat membicarakan tentang pernikahnya, dan gadis gadis desa tau jika Akram adalah suaminya.


Aruna pun bergegas pulang.“Di minum bu,” Aruna meletakan secangkir teh untuk ibunya dan Akram di meja dan duduk bersama.


”Makasih ya sayang,” ibu pun menyeruput teh nya.


“Bu..” panggilnya ragu.“Ada yang ingin Aruna bicarakan,” Akram melirik Aruna yang tampak gugup.“Bu, panggilnya kembali yang tak mendapat respon, melihat ibu yang memijat pelan pelipisnya.


“Ibu pusing nak,” keluhnya.


“Ibu sakit?” nada suara kini terdengar kehawatir.


“Tidak, sepertinya tekanan darah ibu naik, bisa tolang ambilkan obat di laci kamar,” titah ibu dengan wajahnya yang mulai memucat.

__ADS_1


“Tunggu ya bu,” Aruna begegas mengambil obat tersebut dengan segelas air putih ditanganya.”Di minum bu,”


“Kamu tidak usah khawatir, ibu hanya perlu istirahat sebentar,” ucapnya usai meminum obat, melihat wajah Aruna yang tampak cemas.


“Yasudah, ibu istirah ya,” Aruna pun segera memapah ibunya ke kamar dengan sedikit kecewa karena harus mengurungkan niatnya untuk mengatakan tentang pernikahanya. Setelah merebahkan ibunya di ranjang Aruna pun keluar kamar.“Maaf ya, tidak jadi mengatakanya,” ujarnya menghampiri Akram yang masih duduk di kursi.


“Tidak apa apa, aku mengerti.” Akram berdiri dari duduknya.“Aku tidur dulu ya,” ucapnya, yang sedari tadi menahan kantuk karena semalam suntuk ia tak bisa tidur.


Cup.


Ia mengecup kening Aruna dan masuk ke kamarnya. Malam itu Aruna tak bisa memejakan matanya, mood dirinya hilang kerena Akram seharian tak keluar kamar.“Apa dia marah?” gumamnya merasa bersalah kerena menolak permintaan Akram untuk berhubungan. Sesaat kemudian ia kembali teringat gadis gadis desa yang menatap Akram dengan tatapan kagum.


“Banyak gadis yang menganguminya,” batinya lirih.“Bagaimana kalau dia selingkuh? di tambah aku yang tak bisa melayaninya?” fikiranya mendadak memikiran hal yang tidak tidak. Aruna beregegas beranjak dari ranjangnya, dilihatnya pantulan tubuhnya di cermin. Ia pun bergegas mengambil piyama, mengganti piyama panjang yang kenakanya dengan piyama pendek tanpa lengan di atas lutut, hanya itu baju yang paling terbuka menurutnya yang ia miliki dan memakai lipgos beraroma chery di bibir mungilnya, ia pun segera keluar kamar.


Sampai di depan pintu kamar Akram ia mengembungkan pipinya, menarik nafas dalam, mengumpulkan keberanianya, jemarinya meraih gagang pintu yang tidak terkunci Aruna mengulum senyun dan masuk ke dalam, di lihatnya Akram yang masih tertidur. Ia duduk di sisi ranjang.“Sayang,” panggilnya pelan, tapi Akram tak juga terbangun.


“Maaf, maaf aku menganggu tidur mu,” Aruna mendadak gugup bak maling yang sedang terciduk.


Akram mengucek beberapa kali matanya yang masih menyipit, tak percaya dengan apa yang dilihatnya, tampak Aruna yang memperlihatkan lengan terbukanya dan juga piyama pendek atau kekecilan lebih tepatnya yang memperlihatkan paha mulusnya.“Kenapa memandangku seperti itu?” tanyanya tertunduk malu.


Akram duduk.“Kamu cantik,” pujinya, membuat Aruna semakin tersipu malu.“Tunggu, kenapa kamu ke kamar ku?” kini Akram menatap heran istrinya itu.


Aruna terdiam, ingin rasanya dia mengatakan ia ingin melanjutkan permainan mereka yangs sempat tertunda, tapi itu terlalu memalukan untuknya.“Aku.. aku hanya ingin mengecek mu sudah bangun atau belum,” kelitnya.


“Oh begitu, aku sekarang sudah bangun, lalu kamu mau apa lagi?” goda Akram dengan senyum nakalnya.


“Kamu itu menyebalkan,” Aruna yang tampak kesal pun berdiri dari duduknya namun dengan cepat Akram menarik tanganya hingga gadis itu terduduk di pangkuanya.

__ADS_1


“Mau melanjutkan yang semalam?” bisiknya, memeluk tengkuk Aruna.


Aruna mengangguk pelan dengan wajah yang mungkin sudah merah padam. Akram tersenyum tipis mengecup punggung Aruna, tangan nakalnya segera berkeliaran mencari gundukan sintal yang disukainya, meremasnya dengan gemas, membuat Aruna mengeliata tak karuan dengan hawa panas yang mulai menyergap.


“Kita lakukan saja di kamarmu, takut ibu mencarimu,” Akram pun segera menggendong Aruna ke kamarnya, merebahkan tubunya di ranjang, ******* rakus bibir ranum itu, saling berpangutan mesra. Jemarinya dengan cepat membuka pakaian sang istri dan juga dirinya, sesapan pun di hujami di tubuh indah itu, membuat Aruna semakin terbuai dan melayang di atas awan di buatnya. Deruan nafas keduanya pun semakin memburu, meminta untuk segera puaskan. Dengan sangat lembut Akram melakukan penyatuan itu takut berdampak pada janinya yang masih sangat muda.


Kreeek.


Terdengar suara di awal penyatuan mereka.“Sayang? suara apa itu?”


“Tidak tau, lanjutkan saja,”


Akram kembali melanjutkan perminanya tapi suara itu semakin terdengar nyaring.“Suara apa sih?” Akram tampak bingung.


Aruna mecoba mencari asal suara.“Sepertinya ini suara ranjang ini,”


“Ranjang?” Akram memperhatikan ranjang kayu yang sudah rapuh itu, sedikit gesekan membuatnya mengeluarkan bunyi.


“Sayang, bangaimana kalau ibu dengar?” mendadak Aruna cemas mengingat kamar ibunya yang tepat berada di samping kamarnya.


“Tidak, ibu tidak akan dengar,” Akram melanjutkan permainanya, hendak mencapai klimaks yang di inginknya tanpa memperdulikan suara gesekan dari ranjang kayu yang di timbulkanya.


“Aruna!!” panggil ibu dari balik pintu.


“Ibu?!” sontak keduanya tersentak kaget permainan belum usai tapi ibu kembali mengetuk pintu.


“Aruna, kamu sedang apa nak?” tanya ibu dengan nada curiga mendegar suara aneh dari balik kamar Aruna.

__ADS_1


__ADS_2