
Bab 59.
Ibu Risna masih asik sendiri, memilih pakaian dan perhiasan yang dia suka disalah satu mall. Senyum terus mengembang dibibirnya siang itu, dengan semangat ia menyusuri setiap sudut mall tersebut mambeli apapun yang sudah lama dia inginkan. KIni ia bisa kembali mengecap manisnya kehidupan, karena kariri Akram yang semkin bersinar.
“Sini jeng,” ajak seorang teman wanitanya, menuntun ibu Risna masuk kedalam toko perlengkapan bayi.
“Ngapain sih kita kesini?” protes bu Risna.
“Saya, mau beliin perlangkapan bayi untuk cucu saya, aduh lucu lucu banget nih,” sahut wanita tersebut dengan antusias memilih pakaian bayi yang berjejer rapih disana.“Jeng Risna enggak mau beli juga? bukanya menantu jeng Risna sedang mengandung?” sambung wanita itu yang melihat bu Risna hanya diam mematung tak tertarik untuk membeli.
“Euumm, iya menantu saya juga sedang hamil,” ibu Risan mengaruk pelipisnya, selama ini ia memang terkesan cuek bahkan tak pernah memperhatikan Aruna yang tengah mengandung cucu pertamanya itu.
“Yasudah, beliakan lah jeng.. untuk cucu lho,” usul teman wanitanya itu.
Ibu Risna mencoba menyusuri toko perlengkapan bayi tersebut, sampai matanya tertuju pada sebuah pakaian jumpsuit berwarna cerah dengan motif boneka yang mengemaskan.“Ya ampun ini lucu sekali,” gumamnya, menyentuh pakaian berbahan lembut tersebut.“Ini juga lucu,” tanpa disadari ia tersenyum senang dan mengambil beberapa pakaian bayi.
“Tunggu, tunnggu, jenis kelamin cucuku, perempuan atau laki laki ya?” gumamnya kembali, melirik beberapa pakaian dengan warna pink yang mendominasi sedang jenis kelamin cucunya pun ia tak tahu.“Sudahlah, beli saja.” ucapnya yang enggan bertanya pada Aruna dan membayar semua pakaian yang dibelinya.
Selesai membeli berbagai macam barang ibu Risna segera keluar dari mall tersebut dengan bebarapa paper bag yang ditentengnya. Ibu Risna memutar pandanganya, menunggu taksi yang melintas, ibu Risna memicingkan matanya melihat orang orang yang tengah berkerumun dipinggir jalan.“Ada apa itu ramai ramai?” gumamnya.
Ibu Risna yang penasaran pun mengahampiri kerumunan itu.“Ya ampun, kenapa itu?” ucapnya melihat ibu hamil yang tengah terduduk lemas, merintih kesakitan dengan darah segar yang megalir dari pangkal pahanya.“Ibu ini terjatuh,” sahut seorang wanita disebelahnya, tak lama beberapa orang tampak membantu menggendong dan memasukan ibu hamil tersebut kedalam mobil, membawanya kerumah sakit.
“Kasihan ibu hamil itu,”
“Sepertinya dia keguguran,”
ujar beberapa orang disana yang tampak simpati.
“Keguguran?” ibu Risna tiba tiba teringat Aruna dan calon cucu yang dikandungnya.“Ya ampun apa Aruna baik baik saja ya? dia sendirian lagi dirumah,” rasa cemas mendadak menyergap perasaanya. Ibu Risna meraih ponselnya dan mencoba menghubungi telepon rumah, tapi tak ada yang menjawab.“Aduh kenapa enggak diangkat sih? jangan jangan dia pingsan lagi atau keguguran?” gumamnya panik. Ibu Risna puun segera menstop taksi yang melintas didekatnya.
Ia berulang kali mencoba menghubungi Aruna, tapi Aruna tak kunjung mengangkatnya.“Pak, cepat pak,” titanya pada supir taksi untuk menambah kecepatanya, ia takut hal buruk terjadi pada menantu dan calon cucu pertamanya itu.
Tak berapa lama taksi itu berhenti didepan halaman rumahnya, dengan tergesa gesa ibu Risna segera membayar argo dan turun dari taksi. Ia masuk kedalam rumah yang tidak terkuci.“Aruna, Aruna,” panggilnya berulang kali.
“Iya mah,” sahut Aruna yang langsung menghampiri mertuanya itu.
“Kamu kemana sih? mama telepon enggak diangkat angkat?” omel bu Risna.
“Maaf mah, tadi aku lagi masak, enggak dengar,” jelas Aruna.
“Tapi kamu enggak apa apa kan?” tanyanya kembali memperhatikan dengan cemas tubuh Aruna.
“Aku, aku enggak apa apa,” Aruna menatap tak mengerti ibu Risna yang tampak panik itu.
“Syukurlah,” ibu Risna mengehela nafas lega.“Jaga baik baik kandunganmu itu,” pesanya kemudian.
Aruna tersenyum, ibu Risna tampak begitu khawatir padanya.“Iya mah, terima kasih sudah mengkawatirkan ku,” balas Aruna tak dapat menyembunyikan raut bahagianya.
“Kamu ini, nih mama belikan baju untuk calon cucu mama.” memberikan paper bag pada Aruna.
__ADS_1
“Banyak sekali mah, terima kasih ya,” melihat banyak pakaian bayi didalam paper bag tersebut.
“Ya, jangan lupa nanti ceritakan sama Akram , nanti dia mengira mama tidak perduli lagi pada anaknya.” ketus bu Risna yang langsung melenggang pergi menuju kamarnya, sedang Aruna masih tersenyum sumringah melihat beberapa helai pakaian untuk calon buah hatinya itu.
***
Ditempat berbeda Akram samar mendengar orang orang yang sedang bergunjing tentang Hellena. Tentang Hellena yang tak lagi berkerja sebagai model diagensi tersebut, tengah menjadi perbicangan hangat hari itu.“Hellena dipecat dari agensi ini?” tanya Akram pada Rio teman sepfropesinya.
“Ya, katanya tuan Patrcik sendiri yang memecatnya, pemilik agensi,” jelas Rio.
Akram termenung, dulu ia memang sering melihat kedekatan Hellena dengan pria bernama Patrick tersebut, kedekatan keduanya terlihat tak biasa dimatanya. Akram mengeluarkan ponselnya dan menulis pesan disana.
[Bisa kita bertemu dicafe biasa?] tulis Akram.
[Tentu bisa,] balas Hellena.
Malam itu selesai syuting Akram sudah menunggu Hellena disebuah cafe, tak berapa lama Akram melihat Hellena yang baru masuk kecafe tersebut.“Sudah lama?” sapa Hellena yang langsung duduk dihadapan Akram.
“Belum, tapi aku belum memesan minuman, aku tak tau minman kesukaanmu,” balas Akram.
“Jelas kau tak akan tau,” Hellena meraih daftar menu dimeja mencari deretan menu yang menarik.
“Kenapa kau keluar dari agensi?” tanya Akram tanpa basa basi.
Hellena tertegun.“Kau mengajak ku bertemu hanya ingin menanyakan hal itu?” Akram mengangguk.“Kau bisa menanyakanya lewat telepon,” Hellena meletakan daftar menu yanag dipeganya. Ia enngan membahas hal itu.“Aku tidak ingin menjawabnya,” Hellena berdiri dari duduknya.
Akram menahan lengan gadis itu.“Kau sudah mendapat perkerjaan lain?” tanya Akramyang merasa berhutang budi, jika bukan karena Hellena mungkin dirinya tak akan seperti sekarang, disaat karirnya kembali menanjak Hellena justru kehilangan perkerjaanya.
“Baiklah aku tidak membahas tentang itu, aku hanya akan mentraktirmu,” ujar Akram. Hellena tersenyum, mengerti niat baik Akram, ia kembali duduk dikursinya.
“Tidak usah mentraktirnya, lebih baik kau urus saja istrimu sendiri,” sahut seorang pria dari arah belakang mereka.
Arga? Hellena dan Akram tampak terkejut melihat Arga yang baru saja masuk kedalam cafe.
“Lebih baik jangan berduan dengan pria yang sudah beristri itu tidak baik,” ujar Arga meraih tangan Hellena agar berdiri dari duduknya.
“Kamu ini apa apaan? aku hanya ingin makan bersamanya,” protes Hellena tak terima.
“Aku pun bisa mentraktirmu,” balas Arga dengan wajah datarnya.
Akram tersenyum kecut melihat pemandangan dihadapanya.“Sudahlah jika aku berlama lama disini akan ada hati yang terbakar cemburu,” Akram berdiri dari duduknya dan memilih keluar dari cafe.
“Akram,” Hellena hendak mengejar Akram namun Arga kembali mencekal lenganya.
“Jangan mengejar pria yang beristri,” tegas Arga dengan tatapan tajamnya.
“Kamu ini apa apaan sih,” Hellena melepas lenganya, ia bergegas keluar dari cafe, tak mengerti dengan sikap aneh Arga malam itu.
Langkah kaki Arga menyusul.“Jangan temui Akram lagi, aku pun bisa membantu mu mencari perkerjaan baru,” ujar Arga.
__ADS_1
Hellena menghentikan langkahnya, ia menatap tak menegrti pria dihadapanya itu.“Akram itu teman ku, tak ada alasan untuk aku tak boleh bertemu denganya, dan aku pun bisa mencari perkejaan sendiri.” balas Hellena yang langsung menghentikan taksi dan meninggalkan Arga begitu saja.
***
Beberapa hari kemudian.
Sudah beberapa hari ini Arga mencoba menghubungi Hellena tapi Hellena sama sekali tak merseponya, Arga tak mengerti mengapa gadis itu terkesan menjauh darinya.
“Antarkan ini,” titah seoarang barthender pada Hellena menunjuk meja penggunjung yang telah memesan beberapa botol wine dan vodka. Hellena mengangguk dan segera mengantar pesanan tersebut pada beberapa pria yang tengah duduk disana.
“Ini pesananya,” ucap Hellena sopan, meletakan beberapa botol minuman dan gelas kristal diatas meja.
“Sini cantik,” seorang pria menarik tangan Hellena hingga tubuhnya terduduk disofa.
“Aku harus kerja,” Hellena mencoba bangun namun pria itu menahanya.“Temani sebentar saja,” pintanya dengan suara parau menatap nakal tubuh Hellena. Hellena tak berkutik, ini resiko yang harus dijalaninya saat berkerja diclub malam, menemani pria yang hidung belang yang sudah setengah mabuk. Tak ada pilihan lain untuk Hellena, perkerjaan ini yang harus dilakoninya, mencari perkerjaan baru tak semudah fikiranya.
“Cantik baget sih,” puji pria tersebut, mengelus pipi Hellena, sedang sebelah tanganya mecoba meraba paha mulus dihadapnya .
“Jangan kurang ajar!” Hellena menepis tangan nakal itu dan berdiri dari duduknya.
“Sok jual mahal banget,” pria itu hendak menarik kembali tangan Hellena.
“Jangan sentuh dia,” seorang pria menepis kasar tangan pria hidung belang itu.
“Siapa luh?” pria itu berdiri dari duduknya, menyolot tak terima.
“Gue pacarnya, lebih baik loe mabuk sampai mati,” Arga yang tak ingin mencari ribut meleparkan bebrapa lembar uang kewajah pria itu dan menarik Hellena pergi.
“Kenapa kamu disini?” tanya Hellena bingung, saat Arga menarik tanganya dan mendudukan tubuhnya disofa, ia tak mengerti dari mana Arga tau ia sekarang berkerja disini, apa pria itu membuntutinya?
“Pesankan aku wine,” pinta Agra.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” bola mata Hellena menuntut jawaban.
Arga tersenyum.“Aku pelanggan disini, layani aku,”
“Menyebalkan sekali,” Hellena berdecak kesal, ia berdiri dari duduknya, segera mengambilkan pesanan yang diminta Arga.“Ini,” Hellena meletakan sebotol wine diatas meja.“Kau biasa minum?” Arga tak menjawab, memilih menengguk segelas wine yang di pegangnya, Seorang bartehender melambaikan tanganya meminta Hellena melanjutkan perkerjaanya. Disela sela berkerja Hellena merasa salah tingkah saat bola mata Arga terus memperhatikanya.
Malam semakin larut, dentuman musik terdengar memcahkan telingah, semakin riuh orang orang yang bersenang senag di club tersebut. Hellena melihat Arga yang memjamkan matanya disofa.“Apa dia mabuk?” Hellena yang khawatir mencoba menghampirinya.“Apa kau mabuk?” Hellena menepuk pelan tubuh Arga.
Arga terkekeh.“Kau perduli padaku?” ucapnya dengan nada yang tak jelas dan mata sayunya.
“Sepertinya dia benar benar mabuk,” gumam Hellena.“Kau harus pulang, aku akan mengantarmu ke mobil,” ucapnya kemudian, Hellena hendak memapah Arga berjalan.
“Kemobil? kau ingin aku mengendara saat mabuk? antarkan aku ke kamar VIP disini, aku ingin istrahat,” pinta Arga dengan suara paraunya.
Hellena yang kahwatir dengan keadaan Arga yang sudah berantakan karena pangaruh alkhohol akhirnya memapah Arga kedalam sebuah kamar disana, dengan susah payah Helleana memapah tubuh Arga kedalam kamar dan merebahkanya diranjang.“Kau harus istrahat,” ucap Hellena beranjak dari ranjang, namun tiba tiba Arga menarik pergelangan tanganya, Hellena jatuh tersungkur dalam peluknya.“Apa yang kau lakukan? lepaskan aku?” Hellena memukul dada bidang Arga, gugup.
“Temani aku,” Arga tersenyum penuh Arti, membalikan posisi mareka, kini Hellena berada dibawah tubuh kekar itu, tanpa aba aba Arga mencium bibir ranum dihadapanya, Hellena terkejut, bibirnya tetap terkatup saat Arga menyesap lembut bibir lembabnya.
__ADS_1
“Hentikan,” Hellena mendorong tubuh Arga.“Sepertinya dia benar benar mabuk,” melihat Arga yang masih memejamkan matanya, ia tak menyangka Arga melakukan hal itu padanya dalam keadaan mabuk, dengan wajah merona Hellena bergegas meninggalkan Arga didalam kamar, melanjutkan perkerjaanya. Arga tersenyum tipis, ia tak benar benar mabuk.