
Bab 25.
Akram segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, detak jantungnya berdetak sangat cepat memburu waktu, tak pernah ia merasakan kepanikan seperti ini sepanjang hidupnya. Sesampainya di rumah sakit Aruna segera ditangani petungas medis disana. Akram hanya dapat menunggu didepan ruang IGD, fikiranya semakin tak karuan.
“Akram,” seseorang memenggil ditengah kepanikanya.
Terlihat Liona yang menghampirinya, ia ternyata mengikuti Akram sampai dirumah sakit.“Bagaimana keadaanya?” pertanyaan Liona terkesan mengkhawatirkan tapi raut wajahnya tak menujukan itu.
“Sedang ditangani,” balas Akram datar.
“Aku masih tak mengerti dengan ucapanmu, apa maksudmu dia istrimu?” terlihat jelas Liona lebih antusias bertanya soal pernyataan Akram dari pada keadaan Aruna.
“Dia memang istriku,” Akram mempertegas pernyataanya.
Liona tersenyum kecut, ini terdengar seperti lelucon ditelinganya, bagaimana bisa Akram Nicole pria yang bisa dikatakan hampir sempurna dengan parasnya, dan memiliki banyak uang dengan popularitasnya bisa menikah dengan wanita seperti Aruna yang terlihat kampungan dimata Liona.“Apa maksudmu? apa kau sedang bercanda?”
“Aku tidak memiliki selera humor yang bagus, ini kenyataan,”
“Kau melakukan pembohongan publik?”
“Ya, untuk menjaga nama baik ku, dan itu menaikan popularitasmu bukan?” Akram tak ingin berbasa basi dengan wanita dihadapanya itu.
“Oh, aku mengerti, kamu menikah denganya tapi kamu tidak mencintainya, kalau begitu kita pergi dari sini, tak usah perdulikan dia,” Liona menarik tangan Akram.
“Aku akan tetap disini,” Akram melepaskan kasar tanganya.
“Disini? bukankah kau tidak mencintainya? seharusnya kau tak usah memperdulikanya, biarkan saja dia sekarat disini,” Liona justru meninggikan suranya, ia tak bisa mengontrol emosinya, cemburu melihat Akram yang begitu menghkhawatirkan Aruna.
__ADS_1
“Tutup mulutmu!” Akram menganyunkan tanganya hendak menampar wanita dihadapanya itu namun ia menahanya melihat beberapa pandangan orang disekitarnya tertuju pada mereka.
“Kalau terjadi sesuatu padanya, aku akan membuat perhitungan denganmu,” Akram mendesis kesal.
“Kau benar benar keterlaluan!” Liona tak menyangka jika Akram sebegitu membela gadis kampungan itu, denga amarah yang memuncak Liona lebih memilih meinggalkan rumah sakit tersebut. Akram mengusap kasar wajahnya, mencoba meredam amarahnya sampai tak lama dering ponselnya berbunyi.
[ Akram, sedang dimana kamu? istrimu sudah pulang, papa ingin mengajak kalian makan malam bersama dirumah,] pak Setya mengutarakan maksudnya dari balik telepon.
[ Aku tidak bisa,]
[ Tidak bisa, kenapa?]
[ Aruna sekarang sedang ada dirumah sakit,]
[ Apa? beritahu sekrang juga alamat rumah sakitnya!], titah pak Setya tanpa banyak bertanya, satu yang pasti dibenaknya ini pastilah ulah putranya.
Tak berapa lama kedua orang tua Akram datang.“Dimana menantuku?” pak Setya tak dapat menutupi rasa cemasnya.
“Keadaan pasien baik baik saja, tapi maaf saya tidka bisa menyelamatkan janinya, benturan yang sangat keras dan usia janin yang masih sangat muda menjadi penyebabnya,” jelas sang dokter. Akram mengusap frustasi wajahnya, ada rasa penyesalan dihatinya belum juga ia melakukan apapun untuk janin tersebut tapi ia sudah lebih dulu kehilanganya.“Kami akan melakukan yang terbaik, setelah ini pesien akan dipindahkan ke ruang rawat inap.” dokter wanita itu berusaha menenangkan dan berlalu pergi.
PLAAKK!!
Tanpa bertanya terlebih dahulu pak Setya menampar wajah putranya itu.“Apa yang kau lakukan sampai istrimu seperti ini?!” sentak pak Setya dengan amarah yang memuncak, harapanya untuk segera memiliki cucu yang lucu pupuslah sudah.
“Kamu itu apa apaan, kamu tidak perlu menampar putramu seperti itu,” ibu Risna jusru membela putra kesayanganya itu.
“Ini caramu mendidiknya? dia pastilah sudah melakukan kesalahan tapi kau masih membelanya, lihatlah kelakuanya sangat buruk!” pak Setya tak habis fikir dengan pola fikir istrinya itu, kekayaan telah merubah sosok sang istri tak hangat dan sangat terlihat angkuh saat ini.
__ADS_1
“Maafkan aku,” sesal Akram sedikit tertunduk, ini pagi yang sangat buruk untuknya.
***
Aruan mengerjapkan matanya, mencoba membukanya perlahan, pandanganya sesaat terlihat buram sebelum benar benar menjadi jelas, ia memutar pandanganya, aroma obat yang menyebar diseluruh ruangan dan jarum infus yang tertencap dipunggung tangan kirinya membuatnya langsung bisa menyimpulkan jika dirinya sedang berada dirumah sakit.
“Kenapa aku ada disini?” ia tak dapat mengingat apapun untuk sesaat, sekujur tubuhnya terasa sakit.
“Kau kecelakaan, jatuh dari tangga,” jelas Akram yang berdiri disisi Aruna bersama orang tuanya.
Ingatan Aruna perlahan memulih, ia ingat saat ia melihat Akram dan Liona berciuman rasa sakit kini justru menyergap perasaanya, jauh lebih sakit dari pada rasa nyeri yang menjalar diseluruh tubuhnya.“Kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja,” lirihnya.
“Tidak tau terima kasih,” sahut bu Risna berdecak kesal.
“Aruna kamu harus banyak istirahat sekarang,” pak Setya menenagkan.
Jantung Aruna berdegup, mengingat hal yang lebih penting dari segalanya, jemarinya perlahan menyentuh perutnya yang yang terbalut blouse tipis, merabanya perlahan, terasa sangat rata, seharusnya ia bisa mengusap perutnya yang mulai sedikit membuncit, tapi ia tak merasakan itu saat ini.“Dimana janinku? apa dia baik baik saja?” suara Aruan terdengar bergetar.“Apa janinku baik baik saja?!” Aruna meninggikan suaranya saat tak mendapati jawaban apapun.
“Janin mu tak selamat,” jawab Akram.
Aruna membeku, air mata tak dapat lagi ditahanya, ini terlalu menyakitkan untuknya, ia harus merelakan janin yang tek berdosa itu.“Kau senang?” pertanyaan itu jelas tertuju pada Akram yang hanya diam mematung.“Aku rasa aku tak punya alasan apapun untuk bertahan, aku ingin bercerai.” pinta Aruna tanpa berfikir panjang.
“Aruna, kamu harus memikirkan semua ini, semua pasti akan membaik,” bujuk pak Setya berharap Aruna tak cepat mengambil keputusan itu.
“Sudahlah jika dia ingin bercerai, ceraikan saja dia Akram, kamu bisa mendapatkan wanita yang sepadan denganmu,” sahu bu Risna yang justru terlihat senang.
“Tutup mulutmu!” sentak pak Setya pada istrinya itu.
__ADS_1
“Akram Nicole, aku sangat ingin bercerai denganmu, lepaskan aku,” lirih Aruna menatap Akram yang masih membisu seribu bahasa.
“Baiklah, jika itu keinginanmu,” balas Akram yang langsung meninggaalkan runagan tersebut tanpa mengindahkan pak Setya yang memanggilnya berulang kali, menyisakan senyum puas dibibir bu Risna.