
Bab 53.
Hari itu Akram merasa waktu berjalan sangat lambat ditambah ia baru bisa menyelesaikan syutingnya sampai pagi hari. Selelsai syuting Akram melaju sepeda motornya dengan cepat. Setelah memerkirkan sepeda motornya dihalaman rumah dengan tergesa gesa Akram masuk kedalam.“Sayang,” panggilnya seraya memutar pandanganya mencari sang istri.
Akram berjalan menuju arah kamar tapi tak ada disana, Akram terus memanggil manggil Aruna, tapi si pemilik nama tak juga menyahut. Akram tersenyum tipis saat langkah kakinya tiba didapur, melihat Aruna yang tengah memasak disana.“Sayang,” Akram melingkarkan tanganya dipinggang Aruna.
“Masih ingat pulang?” ketus Aruna yang sebenarnya sudah menunggu Akram sejak malam tapi Akram justru pulang pagi hari semakin menambah kedongkolan hatinya.
“Maaf, ” bisiknya seraya mencium telinga tipis Aruna.
Aruna segera melepaskan peluk Akram.“Aku sibuk,” Aruna hendak berjalan keluar dari dapur tapi Akram justru menggendongnya.“Apa yang kamu lakukan? lepaskan,” Aruna meronta tapi Akram kini mendudukanya dipantry.
“Katanya mau peraktekan seperti yang divideo?” goda Akram dengan senyum nakalnya.
“Aku sudah tidak ingin,” Aruna memalingkan wajahnya yang merona.
Akram meraih dagu Aruna dan mencium bibir ranum sang istri, Aruna tampak terkejut refleks ia mendorong dada Akram, melepaskan ciumanya.“Aku menginginkanya sekarang,” pinta Akram menatap mesra.
“Lelaki itu memang egois,” gerutu Aruna dengan wajah kesal mengingat Akram justrtu mengabaikanya saat dia ingin dan kini dengan mudahnya ia meminta.
“Lelaki memang egois tentang itu, akan selamanya seperti itu,” balas Akram menyeringai bak pemangsa yang siap menerkam mangsanya. Akram kembali mencium bibir Aruna, jemari nakalnya sudah menyingkap atasan yang kenakan Aruna, meraba lembut paha mulusnya..
__ADS_1
Aruna bergidik geli namun nikmat membuat ia tak lagi sungkan merespon cumbuan suaminya, mereka saling memangut mesra. Deru nafas keduanya saling memburu, Akram yang sudah merasa aliran darahnya panas segera mengendong Aruna menuju kamar. Akram merebahkan tubuh Aruna yang sudah terlihat pasrah namun mengeirahkan keranjang king sizenya, jemarinya dengan cepat membuaka jaket dan kaus yang masih dikenakanya, melemparnya kesembarang arah. Jemarinya kembali meraba lembut paha Aruna sedang tangan sebelah bergerak liar membuka kancing baju sang istri.
Pemandangan indah sudah terpangpang jelas dihadapanya, dada sintal Aruna yang terlihat semakin besar dan mengairahkan. Akram mencium gemas , merasakan kulit halus nan putih itu menempel dibibirnya. Aruna melenguh , Akram melirik Aruna yang memejamkan kedua matanya, tampak terbuai dengan permainanya. Kini bibirnya kembali mengecup sisi leher Aruna, ia mengedus dalam aroma harum tubuh istrinya itu, wangi tubuh Aruna selalu menggodanya.
Akram yang sudah tak dapat menunda segara melepas celana jeans yang kenakanya.“Tunggu,” Aruna tiba tiba menahan Akram yang hendak melakukan penyatuan.
“Kenapa sayang?” Akram mengerutkan keningnya.
“Aku.. boleh aku melakukanya di atas?” tanya Aruna dengan wajah malu malu.
“Apa?” ini benar benar kejutan untuk Akram tak biasanya Aruna meminta, bisanya Akram lah yang selalu mendominasi permainan.
“Tidak boleh ya?”
Aruna tersenyum, ia mendorong tubuh Akrm terlentang keranjang. Aruna membuka baju dan pakainan dalam yang dikenakanya. Akram menelan susah payah ludahnya, melihat Aruna yang sudah polos, Aruna tersenyum, seraya menyibkan sulur rambutnya, senyum nakal yang tampak seksi !
“Cepat lakukan sayang,” pinta Akram bersemangat.
Aruna mengangguk, ia menggerakan pinggulnya dengan berirama, Akram mendesis nikmat, ini seperti mimpi indah untuknya saat Aruna semakin mengerakan pinggulnya dengan ritme yang cepat.“Sayang..” rancau Akram yang langsung bangun memeluk tengkuk Aruna. Aruna tersenyum senang saat pandangan keduanya saling menatap intes, ia terus menggoyangkan pinggulnya membuat Akram terus merancau tak karuan dan memcapa pelpasan lebih cepat dari sebelumnya.
“Sayang? sudah?” Aruna tampak cemberut melihat Akram yang sudah berbaring tak berdaya.
__ADS_1
“Maaf ya, nanti kita lanjut ronde selanjutnya.” ujar Akram merasa kurang memuasakn sang istri.
Aruna tersenyum dan merbahkan dirinya juga disisi Akram.“Ya sudah nanti malam kita lanjut, kita coba gaya lain seperti di video ya,” ujar Aruna yang tak lagi malu malu mengutarakan keinginanya.
“Kenapa istriku jadi mesum begini,” batin Akram bingung namun juga senang.
“Iya sayang nanti kita lakukan gaya lain,” balas Akram yang langsug memeluk Aruna, mencimnya mesra.
***
Selesai makan malam Aruna masih memperhatikan pantulan wajahnya dicermin toilet, ia tersenyum sendiri mengingat permainanya yang tampak agresif dari sebelumnya siang tadi.“Teryanta di atas itu enak, kenapa enggak dari dulu saja ya,” gumam Aruna dengan polosnya mengingat dulunya ia hanya memakai gaya pasrah, Akram pun tak pernah meminta lebih.
“Malam ini harus lebih hot ya,” Aruna kembali tersenyum dengan fikiran nakalnya. Ia keluar dari kamar mandi, lalu mengambil sebuah lingarie didalam lemarinya, waktu itu Akram pernah memberikanya dan meminta untuk Aruna memakainya namun Aruna menolak karena melu memakai baju yang snagat tipis dan teransparan itu, tapi sekarang entah mengapa ia ingin mengenakanya. Aruna kembali masuk ke kamr mandi, samar terdengar suara pintu kamar yang terbuka.
“Akram pasti sudah masuk kamar, aku harus cepat memakainya,” gumamnya yang langsung mengenakan lingarie tersebut, utungalah masih muat diperutnya yang sudah membuncit. Aruna memerhatikan penampilanya di depan cermin tampak aneh mengenakan pakaian itu saat dirinya sedang hamil namun Aruna ingin menggoda suaminya itu.
“Ehhemmm,” Aruna berdehem seraya membuka pelan pintu kamar mandi berharap mata Akram lengsung melirik kearahnya.
Aruna yang semula tertunduk mendongkakan wajahnya.“Sayang,” panggilnya yang justru melihat Akram menutup semua tubuhnya dengan selimut.“Sayang, kamu sudah mau tidur?” Aruna segera berjalan kearah ranjang.
Aruna membuka sdikit selimut yang menutupi wajah suaminya itu, Akram tampak meringkuk dan memejamkan matanya.“Kamu kenapa?” Aruna mendadak panik.
__ADS_1
“Dingin sayang, tubuhnku terasa dingin,” suara Akram terdengar bergetar dan mengigil.“Sepertinya aku tidak enak badan, aku meriang,”ujar Akram masih tetap memejamkan matanya.
Aruna menyentuh tangan Akram yang dingin.“Tunggu sebentar aku ambilkan obat,” Aruna segera beranjak dari ranjang tak lupa ia menganti lingarie yang dikenakanya untung saja Akram memejamkan matanya kalau tidak mungkin dirinya sudah malu setengah mati, sudah berdandan dan mengenakan lingerie sedemikian rupa tapi lawan main justru tepar tak berdaya. Aruna bergegas memberikan obat dan merawat Akram yang tiba tiba meriang malam itu.