
Bab 11.
“Ak..aku harus pulang,” ucap Aruna terbata, bahkan ia tak berani untuk melihat kerah Akram yang seperti sedang mengamatinya saat ini.
“Buru buru banget?” Hana terlihat bingung dengan sikap temanya itu.
“Iya, maaf aku buru buru,” Aruna berdiri dari duduknya, meraih tasnya dimeja dan bergegas pergi.
“Aruna tunggu,” langkah kaki Arga segera mengejar Aruna.“Pulang denganku saja,” tawar Akram menahan lenganya.
“Tidak usah, aku pulang naik angkutan umum saja,”
“Tidak ada angkutan umum ini sudah malam, biarkan aku mengantarmu,” tawar Arga setengah memaksa.
“Yasudah, maaf merepotkan,” balas Aruna yang akhirnya menerima tawaran Arga.
“Aku tidak merasa direpotkan,” Arga tersenyum puas.
Sedang sisi lain Akram masih memprhatikan mereka dari kejahuan.“Benar benar menjijikan,” batinya, saat melihat dengan jelas Arga yang masih memegang lengan Aruna untuk beberapa saat dan beregegas keluar dari mall tersebut.
“Mau kemana kram?” tanya seorang temanya melihat Akram yang bangkit dari kursinya.
“Pulang,”
“Pulang? buru buru banget?” protes Liona melihat gelagat Akram yang bahkan belum menyantap makanan yang dipesanya tapi justru buru buru pulang. Akram tak menjawab dan lebih memilih pergi meninggalkan cafe tersebut.
__ADS_1
***
“Masuklah,” Arga membukakan pintu mobilnya untuk Aruna, mempersilahkanya masuk ke dalam.
“Ini mobil mu?” Aruna menunjuk mobil keluaran terbaru berwarna putih itu,
“Ini hanya fasilitas dari kantor,”
Aruna tersenyum, sepertinya berkerja di kota cukup banyak merubah Arga, pria itu jauh terlihat mapan saat ini. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan yang terlihat lengang, obrolan obroaln ringan terucap dari keduanya, Aruna selalu merasa nyaman dengan teman masa kecilnya itu.
“Ini rumahmu Aruna?” Arga memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumah mewah.
“Ini rumah majikan ku,” bantah Aruna, melepas sabuk pengamanya dan turun dari dari mobil.“Terima kasih ya,” Aruna tersenyum simpul.
Teeeett...!!
“Apa dia tidak punya sopan santun?” gerutu Arga yang tampak geram.
“Loe tuli?!” Akram kembali berteriak, keluar dari dalam mobil menghampiri keduanya.
“Telinga gue masih berfungsi dengan baik jadi loe enggak usah teriak seperti itu,” balas Arga berusaha tenang.
“Baguslah, cepat pergi,” usir Akram, menatap sinis.“Dan kamu, ayo masuk,” Akram melirik Aruna yang tertunduk takut, menarik paksa tanganya.
“Jangan kasar sama dia!” Arga menepis tangan Akram yang terlihat jelas mencengkram lengan Aruana di hadapanya.
__ADS_1
BUUKKHH!
Tanpa aba aba Akram mendaratkan pukulanya di wajah Arga sampai dirinya hampir jatuh tersungkur, Arga yang tak terima pun segera membalas pukulan Akram tak kelah keras, baku hantam pun tak terhindarkan.
“Behenti! berhenti!” pekik Aruna yang berusaha melerai keduanya.“Arga, tolong pergi dari sini!” Aruna menahan gerakan tangan Arga yang hendak memukul Akram kembali.
Nafas Arga terengah, ia berusaha mengatur emosinya yang masih memuncak.“Aruna, berhentilah berkerja di sini, aku tak terima kau berkerja dengan majikan arogan sepertinya,” uajr Arga menatap tajam Akram dan bergegas pergi. Aruna segara masuk ke dalam.“Berhenti!” langkah kakinya terhenti saat masuk ke dalam kamar dan Akram kembali mencengkram erat lenganya.
“Jadi ini kelakuanmu saat aku tak berada di rumah? kau bertemu dengan pria lain di luar?!” tuduh Akram menatap emosi Aruna yang menahan perih cengkraman Akram dilenganya.
“Aku hanya tak sengaja bertemu denganya tadi,” Aruna melepaskan lenganya.
“Aku belum selesai bicara!” teriak Akram, kembali menarik paksa tangan Aruna mendekat ke tubuhnya.“Apa seliar itu kelakuanmu di luar sana?!”
PLAAKK!
Aruna mengayunkan keras tanganya ke wajah Akram, berualang kali Akram merendahkanya, tapi kali ini dirinya benar benar merasa tak terima saat dengan entengnya Akranm menyebut dirinya liar padahal karena Akram lah ia harus kehilangan kesucian yang telah dijaganya.
Akram tersenyum kecut.“Berani sekali kau menamparku!” Akram mendorong Aruna ke ranjang yang berada di belakangnya.“Tunjukan keliaran mu padaku!” seru Akram yang langsung merobek kemeja tipis yang dikenakankan Aruna, ******* kasar bibir Aruna yang meronta di bawah tubuh kekarnya.
Aruan menangis, merasakan Akram yang mencumbu, menyesap ceruk lehernya dengan sangat kasar. Tubuh mungil Aruna sekuat tenaga mendorong tubuh Akram yang berada di atasnya, Akram terdorong ke sisinya. Aruna menarik selimut di dekatnya, menutupi tubuhnya yang sudah setengah telan*jang.
“Jangan lakukan itu, jangan lakukan itu jika kau tak mencintaiku.” lirih Aruna yang merasa takut merasakan sakitnya saat Akram selalu melakukan penyatuan itu dengan sangat kasar. Aruan masih berbaring berbalut selimut dengan isak tangisnya.“Kau bisa menghina diriku setiap saat , tapi berhentilah mengatakan ku wanita liar, aku tak seperti itu!” ujar Aruna yang semakin menangis tersendu.
“Omong kosong!” balas Akram beranjak dari ranjang keluar dari kamar.
__ADS_1
Akram mengambil sebotol wine kesukaanya, menunganya dalam gelas kristal yang di pegangya. Menengguknya beberapa kali. Akram tertawa kecil.“Berani sekali ia menampar dan menolak berhubungan badan dengan ku, lihat saja nanti,” gumam Akram meredam emosinya yang masih memanas kerena perkelahianya dengan Arga barusan.