
Bab 42.
Akram masih membaca dengan teliti lembaran demi lembaran berkas kontrak yang di pegangnya, matanya mendelik kaget melihat nominal uang yang akan di terima Aruna disana.“Benar uang yang akan mereka beri segini?” tanya Akram tak percaya, bahkan kisaran uang itu jauh lebih besar dari honornya sebagai aktor dulu.
Aruna mengangguk.“Ya, pria itu bilang benar,”
Akram meletakan berkas yang di pegangya.“Memangnya kamu benar benar ingin mengambil perkerjaan itu? lagipula kamu ini sedang hamil, apa model yang sedang hamil tetap bisa berkerja?” Akram menatap serius Aruna, rasanya sedikit aneh untuknya.
“Benar juga, apa pria itu tidak tau aku hamil?” Aruna memegang pelan peruntnya yang memang belum besar tapi sudah mulai terlihat sedikit membuncit.
“Coba kamu hubungi dia, katakan kamu sedang hamil.” titah Akram.
Aruna pun mengangguk setuju, ia segera meraih ponselnya dan menghubungi pria bernama Alex untuk mengatakan jika ia sedang hamil dan sepertinya tidak bisa menerima tawaran tersebut. Tak menunggu lama pria itu pun membalas pesan Aruna.“Apa katanya?” tanya Akram penasaran.
“Katanya tidak masalah, lagi pula bukan model yang berpakaian seksi,” jawab Aruna membaca balasan tersebut.
“Apa? dia berkata seperti itu?” Akram yang tak percaya pun mengambil ponsel Aruna dan membaca sendiri pesan dari pria itu, dirinya semakin merasa aneh karena sepengetahuanya selama di dunia entertaiment tidak ada agensi yang menerima model yang sedang hamil.
“Kamu tidak suka aku mengambil tawaran itu?” Aruna menatap Akram.“Aku hanya ingin membantu perekonomian kita, percayalah aku tidak akan macam macam,” bujuk Aruna meraih tangan Akram. Aruna merasa penghasilanya dari toko pakaian tidaklah cukup untuk membantu perekonomian mereka.
Akram terdiam, ia membalas tatapan Aruna, tertlihat jelas manik berwarna coklat itu sekaan mengiba agar Akram menyetujui keputusannya.”Baiklah, jika itu mau mu,” ujar Akram, rasanya saat ini hatinya tak mampu menolak semua permintaan istrinya itu.
Senyum pun merekah dari bibir Aruna.“Terima kasih ya,” Aruna memeluk senang tubuh Akram.
***
Hari ini Aruna pergi ke kantor agensi majalah tersebut, tapi Akram tak dapat menemaninya karena harus mengurus beberapa toko makanan papanya. Sepanjang hari itu Akram tak bisa senang hampir sertiap menit ia menghubungi Aruna dengan sederet pertanyaan. Apakah dia sudah sampai kantor? apa semuanya lancar? apa sudah meminum vitamin dan sederet pertanyaan lainya.
Akram pun kemabali meraih ponselnya, padahal baru 15 menit yang lalu ia menghubungi Aruna.
[Halo sayang, ini sudah siang, apa kamu sudah makan?] tanya Akram dengan nada khawatir.
__ADS_1
[Sudah.. tapi.]
[Tapi kenapa?]
[Kepalaku sedikit pusing.] keluh Aruna.
[Astaga apa aku bilang, sudahlah kamu pulang saja.] titah Akram semakin khawatir.
[Tidak, bisa aku minta tolong, ambilkan obat penambah darah ku di laci.] pinta Aruna yang memang tekanan darahnya selalu rendah di masa awal kehamilanya.
[Baik, aku akan segera kesana.] Akram menutup teleponya dan bergegas kembali kerumah untuk mengambil obat tersebut.
“Mau kemana kamu?” tanya ibu Risna menghampiri saat melihat Akran menuruni anak tangga.
“Oh, ini aku mau mengantarkan obat pada Aruna, katanya dia pusing,” balas Akram datar.
“Mengantar obat? mau saja kamu di suruh suruh olehnya,” ujar ibu Risna dengan nada sinis.“Baru jadi model saja dia sudah berani menyuruh nyuruhmu, posisi kalian itu benar benar terbalik,” bu Risna semakin memperlihatkan ketidaksuakaanya.
Akram pun memarkirkan mobilnya di depan kantor agensi tersebut dan masuk kedalam.“Sayang,” panggil seorang wanita, Akram menoleh dan tanpa sadar berdecak kagum melihat Aruna yang sangat cantik dengan riasan make up di wajahnya dan pakainan cantik yang membalut tubuhnya.“Sayang?” panggil Aruna kembali, menatap heran Akram yang terus memandanginya tanpa berkedip.
“Kamu cantik,” puji Akram , Aruna hanya tersipu mendengarnya.“Oia ini obatnya, kamu harus minum,” Akram menuntun Aruna ke sebuah kursi memberikan obat dan air mineral yang dibawanya.
“Terima kasih ya,” Aruna tersenyum setelah meminum obat tersebut.“Sepertinya aku harus kembali berkerja,” hampir satu jam ia break.
“Boleh aku menemani mu di dalam?”
“Tentu saja boleh,” Aruna tanpa ragu menautkan jemarinya dan masuk ke dalm studio bersama dengan Akram. Langkah bereka saring beriringan, beberapa pasang mata di sana langsung tertuju pada keduanya.
“Aruna dia suamimu?” tanya seorang photografer disana.
”Ya, dia suamiku,”
__ADS_1
“Apa kau tak mengenalnya? dia itu aktor terkenal, Akram Nicole tapi sayang sekarang karirnya sudah meredup,” cibir seorang pria yang juga berprofesi sebagai model.
“Oh ya dia Akram Nicole, apa sekarang dia menjadi asisten pribadimu Aruna?” seseorang wanita disana bertanya dengan nada yang terdengar mengejek.
“Ya, mungkin dia sekarang sudah berpengku tangan pada istrinya.” pria mudan yang juga berprofesi sebagai model kemabali mencibir Akram dengan senyum menyebalkan di wajahnya. Akram mematung, tanganya mengepal kesal, rasnaya saat ini aliran darahnya benar benar memanas mendengar cibiran dari orang orang itu.
“Suamiku tidak seperti itu,” balas Aruna membela suaminya, ia meremas lembut tangan Akram yang masih di genggamnya.
“Sudah sudah, lebih baik kita lanjutkan pemotretan ini,” sang photografer mencoba mendinginkan suasana yang sudah mulai memanas.
Aruna pun kemabali melanjutkan perkerjaanya sedang Akram memilih duduk di kursi seraya memperhatikan Aruna, pemotertan yang semuala berjalan lancar tiba tiba membuat Akram tak nyaman saat melihat model pria itu tampak berpose bersama Aruna tapi jarak meraka cukup dekat menurut Akram.“Tidak bagusa tidak bagus,” protes Akram yang berjalan menghampiri Aruna dan menepis tangan pria itu yang sedang merangkul Aruna.“Aku rasa pose seperti ini lebih bagus,” Akram merubah pose mereka.
Sang photografer pun setuju dan kemabali memotret keduanya, sedang Akram kemabli duduk di kursinya, tak lama kemudian Akram kembali memperhatikan pose keduanya kali ini kedunya kembali terlihat terlalu dekat dimata Akram.“Aku rasa pose seperti itu juga tidak bagus,” Akram kembali protes saat dengan jelas melihat pria itu menyentuh bahu dan kulit halus Aruna.“Aku rasa warna pakaianmu tidak cocok,” Akram kemabali menepis tangan pria itu dari bahu Aruna yang sedikit terbuka.
“Hey, berhentilah menganggu,” ujar pria itu yang sudah kesal dengan sikap Akram ia tau Akram sengaja melakukan itu.
“Pemotertanya sampai jam 2 kan? aku rasa sebentar lagi sudah jam 2.” Akram mengalihkan pembicaraan rasanya ia tak kuat melihat Aruna lama lama di dalam studio dan menyaksikan istri cantiknya itu di sentuh pri lain.
“Lebih baik kau keluar dari sini, kehadiranmu sangat menganggu, aku sangat kasihan dengan Aktor yang tidak terpakai lagi sepertimu.” ujar pria tersebut seraya tersenyum kecut.
BUUUKKHH!!
Pukulan keras pun mendarat di wajah pria itu, kali ini Akram benar benar tak bisa menahan emosinya mendengar cibiran cibiran dari pria tersebut. Pria itu tampak terhuyung mendapat pukulan dari Akram namun ia segera membalasnya, perkelahian pun tak dapat terhidarkan hingga menimbulkan kericuhan dari dalam studio, beberapa orang disana tampak merelai keduanya.
“Akram berhenti!” seru Aruna menahan lengan Akram yang hendak kembali mendaratkan pukulanya.
“Kenapa suamimu? lebih baik kita hentikan pemotertan ini, bawa suami mu keluar!” perintah sang photografer dan beberapa orang disana yang terlihat kesal.
Aruna pun segera keluar dari dalam studio dan masuk kedalam mobil. Akram tampak membeku dengan nanar mata yang masih terlihat emosi, Aruna mengambil tissu dari dalam tasnya.“Apa sakit?” tanyanya mencoba mengusap sudut bibir Akram yang mengeluarkan darah segar.
Akram menepis tangan Aruna.“Apa kau senang aku direndahkan seperti itu?” manik hitamnya menatap tajam Aruna yang seketika menujukan mimik sedih, ia tak pernah berniat untuk membuat Akram direndakan oleh orang orang disana.
__ADS_1
“Tidak akan ada istri yang suka jika suaminya direndahkan, aku akan berhenti dari perkerjaan ini jika itu mau mu.” lirih Aruna.