Celebrity Husband

Celebrity Husband
Menyusul Aruna


__ADS_3

Bab 15.


“Ibu..” lirih Aruna saat wanita paruhbaya itu mmebukakan pintu.


“Aruna,” Rfleks ibu memeluk putri yang dirindukanya itu.


“Ibu, Aruna kangen ibu,” tangis Aruna pecah, meluapkan kesedihan yang terjadi padanya selama dikota walau tak dapat bercerita yanng sesungguhnya.


Ibu melepas peluknya.“Saayang, kenapa bicara seperti itu?” menyeka air mata Aruna, menatapnya heran.


“Aruana hanya kangen ibu,” ucapnya terbata, ia benar benar tak sanggup mengatakan yang sesungguhnya jika dirinya telah menikah dan hamil tapi justru diabaikan.


“Yasudah sekarang kan kamu sudah pulung,” ibu mengusap pucuk kepala putrinya itu.“Ayo masuk,” kemudian masuk kedalam rumah.


Aruna merebahkan tubuhnya diranjang, memejamkan matanya sejenak, terasa sangat nyaman berbaring diranjang sederhana miliknya daripada harus tidur dirumah mewah tapi selalu ada saja yang membuat airmatanya terjatuh.“Aku benar benar merasa tenang disini,” gumamnya lirih.


“Aruna,” ibu mengetuk pelan pintu kamarnya.“Makan dulu sayang,” titahnya kemudian.


“Iya bu, sebentar,” sahutnya dari dalam kamar yang langsung bergagas mengganti pakainanya dan keluar menuju meja makan.


“Kamu pasti lapar, ayo makan dulu,” ibu mengabailkan nasi, tahu, tempe dan telur dadar kesukaan Aruna.“Makan yang banyak sayang,” memberikan piring tersbut pada Aruna.


Aruna tersenyum, ibu selalu memanjakanya. Tanpa ragu Aruna menyantap lahap makanan sederhana itu. Selasai makan Aruna kembali kekamar, merebahkan lagi dirinya diranjang sampai dirinya terlelap menghilangkan lelah setelah perjlanan jauh yang ditempuhnya.


“Aruna, bangun sayang,” samar terdengar suara ibu seraya mengetuk pintu, dengan berat Aruna membuka mata, ia melirik jam dinding disudut ranjang yang sudah menujukan pukul 8 malam.“Kenpa ibu membangunkanku? padahal aku masih ingin tidur labih lama.”


Langkah gontainya segera membuka pintu.“Ada apa bu?” tanyanya dengan nada malas dan masih mengantuk.


“Ada yang mencarimu,”


Aruna mengerutkan keening.“Mencariku?” siapa yang mencarinya? teman dikampungnya tentu belum banyak yang tau tentang kepulanganya hari ini.


Ibu mengedikan bahu.“Tidak tau, cepat temui sana,”

__ADS_1


Aruna pn segra keluar rumah, langkah kakinya terhenti setra mata bulatnya yang tadi masih mengantuk seketika terbuka sempurna melihat pria yang tengah duduk diteras rumahnya.“Akram?” ia tak menyangka jika pria itu benar benar ada dalam pengelihatanya saat ini. Aruna memndurkan lagkahnya perlahan dan segera masuk kembali kedalam rumah.


Sedang Akram yang menoleh dan melihat Aruana segera bengkit dari duduuknya dan mengejarnya.“Aruna, buka pintunya,” Akram mengetuk pintu usang itu berulang kali. Aruna tak menghiraukanya dan justru mengunci pintu.


“Aruna, tamunya sudah pergi?” ibu menatap heran Aruna yang terlihat ketakutan.


“Aruna, buka pintunya!” seru Akram mengetuk pintu itu lagi.


“Lho, itu tamunya belum pulang?” ibu semakin menatap heran putrinya tak biasanya dia menutup pintu pada tamu yang berkeunjung kerumahnya.


“Maaf, aku fikir tamunya sudah pergi,” tak mau membuat ibu curiga dengan berat hati Aruna pun akhirnya membuka pintu.


Akram tersenyum tipis saat pintu itu terbuka, melihat Aruana yang berdiri dihadapanya.“Aruana ini siapa?” Ibu memandang wajah asing pria tersebut.


“Aku,”


“Dia majikan ku,” sela Aruna cepat, sebelum Akram melanjutkan ucapanya.


“Majikan mu dikota?” Aruna mengangguk pelan.


“Tidak, Aruna sudah meminta ijin, saya hanya ingin datang kesini saja mengisi waktu luang,” ujar Akram, melirik Aruna yang terlihat bingung. Aruna hanya dapat membuang pandanganya dari pria yang dibencinya itu, ia tak mengerti kenpa pria menyebalkan itu justru menyusulnya kekampung, bukankah seharusnya ia senangh jika dirinya pergi.


“Terima kasih sudah berkunjung kesini, maaf keadanya rumahnya seperti ini,’ ujar ibu.


Akram memutar pandanganya pada rumah sederhana itu, terlihat bebrapa bagian rumah yang terlihat rapuh termakan usia.“Tidak apa apa, saya senng bisa berkunjug kesini,” Akram tersenyum tipis.


“Aruna cepat rapihkan kamar sebelah, tuanmu pasti lelah ingin istrahat,” titah ibu yang langsung dipatuhi Aruana berjalan menuju kamar kosong.


Aruna mengambil kain sprai dan memasangnya pada kasur tersebut, ia terlonjak kaget saat melihat Akram yang memasuki kamar. Buru buru Aruna memsang sarung pada kedua bantal dan bergegas hendak keluar kamar.“Apa kau tidak tidur disini juga?” goda Akram menatap penuh arti, seraya menahan lengan Aruna.


“Jangan berbuat yang macam macam, ini rumahku, dan ini kampungku,” Aruna membalas tajam pandangan Akram dengan penuh kebencian.


“Berbuat macam macam bagaimana? aku ini suamimu jadi wajar jika aku ingin sekamar dengan mu atau bahkan meminta hak ku,” Akram memperlihatkan senyum menyebalkanya membuat Aruna semakin geram.

__ADS_1


“Jangan pernah memberitahukan siapun jika kamu suamiku, terutama ibuku, aku tidak ingin ibuku tau jika aku mempunyai suami buruk sepertimu.” Aruna segera menepis tangan Akram yang masih menahan lenganya dan bergegas keluar kamar.


***


“Tuan Akram, bagun,” suara ibu terdengar lembut seraya mengetuk pintu kamar Akram.


Akram melenbarkan matanya dengan langkah malas ia segera membuka pintu.“Sarapan dulu tuan,”


“Sebentar ya bu saya mandi dulu,” balas Akram sopan. Selasai mandi Akram pun menuju meja makan melihat Aruna yang tengah sibuk menghidangkan sarapan pagi itu.


“Sarapan dulu tuan,” ibu mempersilakan Akram duduk disisinya dan Aruna duduk dihadapanya.


“Tidak usah panggil saya tuan, panggil saya Akarm saja,” ujar Akram merasa sungkan pada ibu Aruna.


“Tuan itu benar benar rendah hati, yasudah ibu panggil nak Akram saja ya,” puji ibu senang pada pria berparas tampan itu. Aruna mengaduk nasi dipiringnya dengan malas, pria itu benar benar pintar berakting bisa bisanya ia bersikap manis disini padahal dirumahnya ia terlihat sangat menakutkan seperi monster.


Aruan menutup mulut dengan kedua tanganya saat baru satu sendok makanan itu mendarat dimulutnya.“Uweeek,” Aruna bergegas kekamar mandi, berusaha memuntahkan isi perutnya yang terasa sangat mual pagi itu.


“Sayang, kamu sakit?” ibu mentap khawatir wajah pucat Aruna saat kembali kemeja makan.


Aruna menggeleng.“Tidak sepertinya aku hanya masuk angin,” Aruna kembali mencoba menyantap sarapanya, tapi baru saja makanan itu turun ditenggorakanya rasa mual kembali menghampirinya, Aruna kembali bergegas kekamar mandi, memuntahkan kembali isi perutnya.


“Sayang, tunggu sebentar ya ibu belikan obat diwarung,” ibu bergegas beranjak dari duduuknya


“Aku hanya perlu istrhat sebentar,” balas Aruna yang langsung masuk kedalam kamar, ia duduk termenung, mengusap pelan perutnya ia sadar kalau mualnya pagi ini pasti karena kehamilanya.


“Minumlah,” Akram masuk ke kamar yang terbuka itu dan meletakan teh hangat diatas meja.


Aruana mendongkakan wajahnya, melihat Akram yang sudah berdiri dihadapanya ia segera berdiri dari duduknya, ia ingin segara keluar kamar rasanya muak sekali melhat wajah pria itu.“Kau tidak ingin meminum teh buatanku” Akram menhan lengan Aruna, berharap wanita itu bisa menghargai teh buatanya.


“Untuk apa kau membuatnya?”


“Aku hanya merasa kasihan padamu, aku tau mualmu itu karena kehamilanmu,”

__ADS_1


Aruna tersenyum kecut.“Aku tidak perlu dikasihani, dan tidak usah memikiran janin yang tidak diakui olehmu,” ketus Aruna yang langsung bergegas keluar kamar meninggalkan Akram yang hanya mematung.


__ADS_2