Celebrity Husband

Celebrity Husband
Menjadi lebih baik


__ADS_3

Bab 58.


“Astaga, kenapa aku mengirim obat itu kealamat rumah yang baru,” gerutu Akram saat meminta kurir mengantar obat penambah darah pesanan Aruna. Akram meraih ponsel disakunya.


[Hallo nak, ada apa?] terdengar suara lembut ibu Risna dibalik telepon.


[Mah, nanti akan ada kurir yang mengantar obat untuk Aruna, aku salah kirimkan alamatnya, mama bisa tolong antarkan ke Aruna,” pinta Akram.


[Antarkan? aduh mama sibuk hari ini,] tolak bu Risna yang enggan untuk bertemu dengan menantunya itu.


[Ayolah mah, Aruna sering pusing kalau tidak minum obat itu, aku masih harus syuting,] Akram memohon.


Ibu Risna bergeming.[Yasudah yasudah, mama antarkan,] balas bu Risna dengan berat hati.


[Terima kaih ya mah,] Akram tersenyum lega dan menutup teleponya.


Tak lama seoarang kurir datang kerumahnya, mengantar obat yang dimaksud.“Ya ampun males banget deh nganterin tuh obat, masa bodolah,” ibu Risna meletakan obat itu kemeja. ia hendak bnerbalik badan, namun ekor matanya kembali melirik obat tersebut, ia teringat perkataan Akram jika Aruna sering merasa pusing jika tidak meminum obat penambah darah tersebut.“Antarkan sajahlah, dia itu benar benar menyusahkan.” gerutu bu Risna yang akhirnya mau mengantarkan obat tersebnut pada Aruna walau dengan berat hati.


Ibu Risna segera mengganti pakaianya, bergegas keluar rumah menaiki taksi menuju rumah Aruna. Tak berapa lama taksi yang ditumpanginya berhenti ditempat yang dituju. Ibu Risna segera turun dan mengetuk pintu, berulang kali ia mengetuk pintu dan memanggil nama menantunya itu, tapi tak ada panggilan dari dalam.“Kemana sih nih anak, apa dia sedang keluyuran diluar rumah?” gerutu ibu Risna seraya mengintip dari celah jendela, tampak sepi.


“Aruna, Aruna,” panggil ibu Risna dengan suara yang lebih keras tetap tak ada jawaban. Ibu Risna mencoba membuka pintu.“Tidak terkunci?” ucapnya saat tau pintu utama itu tidak dikunci dan terbuka.


Ibu Risna perlahan melangkahkan kakinya kedalam rumah.“Aruna, Aruna,” panggilnya kembali, tetap tak ada jawaban, ia yakin Aruna ada didalam. Ibu Risan terus memanggil seraya menyusuri setiap ruangan sampai dirinya melihat pintu kamar yang tak terkunc, Ibu Risna bergegas berjalan kearah kamar.


“Aruna?!” pekiknya saat melihat Arunaa yang tergelat dilantai kamar, dengan setengah berlari ibu Risna menghapiri menantunya itu.“Aruna, bangun,” ia menepuk pipi Aruna berulang kali, Aruna tetap tak sadarkan diri.“Aruna kenapa? apa ada maling yang masuk?” ibu Risna memutar pandanganya, tak ada barang yang berantakan didalam kamar.“Aku harus membawanyan kerumah sakit.” ibu Risna yang panik segera berlari keluar rumah meminta bantuan tetangga untuk membawa Aruna kerumah sakit.


Beberapa tetangga datang, membantu mengantar Aruna kerumah sakit. Setibanya di rumah sakit Aruna segera ditangani oleh petugas medis disana, sedang ibu Risna hanya bisa menunggu dengan cemas diluar ruang IGD. Dengan tangan yang sedikit gematar ibu Risna meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Akram.


[Halo mah, ada apa?] ujar Akram saat menerima panggilanya.


[Akram, Aruna.. nak Aruna,] seru ibu Risna dengan suara paniknya.


Akram yang sedang duduk segera berdiri.[Aruna kenapa mah?] tanya Akram merasa cemas.


[Waktu mama mengantar obat tadi Aruna pingsan didalam kamar,]


[Apa? pingsan?] jantung Akram mendadak berdegup kencang, rasa takut menjalar dibenaknya, ia tak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi pada calon buah hati dan istrinya.

__ADS_1


[Iya, sekarang Aruna sedang ditangani dirunag IGD,]


[Aku kesana sekarang,] tanpa fikir panjang Akram menutup teleponya dan segera menuju rumah sakit.


Sekian menit Ibu Risna menunggu diluar ruangan IGD dengan cemas, sampai ia melihat seoarang perarwat keluar dari runagan tersebut, ibu Risna segera menghampiri peraawat tersebut.“Sus, bagaimana keadaan menantu saya? yang sedang hamil tadi,” tanyanya dengan nada panik.


“Oh, keadaan pasien sudah membaik, silakan masuk bu,” ujar ramah perawat tersebut.


Ibu Risna pun segera masuk kedalam.“Dok, bagaimana keadaan menantu saya?” tanya nya lagi pada seorang dokter pria yang hendak keluar dari ruangan tersebut.


“Pasien tidak apa apa, ia hanya kelelahan dan trombositnya rendah,” jelas dokter tersebut yang membuat ibu Risna menghela nafas lega.“Jangan sampai lupa meminum obat dan vitaminya ya, dan jangan terlalu lelah,” pesan dokter tersebut yang direspon anggunkan mengerti dari ibu Risna.


Aruna yang sebenarnya sudah siuman samar mendengar percakapan keduanya. Aruna tersenyum tipis tak dapat menyembunyikan rasa senangnya saat mendengar suara ibu Risna yang tampak panik dan mencemaskan dirinya.


“Mah, ” panggil Akram yang baru saja tiba dirumah sakit berbarengan dengan pak Setya.“Bagaimana keadaan Aruna?”


“Sayang,” panggil Aruna yang melihat kedatangan suaminya itu.


Akram segara mengahampiri sang istri.“Sayang, kamu enggak apa apa kan?” Akram menatap khawatir wajah Aruna yang sedikit memucat.


“Aku enggak apa apa kok,” Aruna meraih tangan Akram, meyakinkan jika dirinya baik baik saja.


“Sayang, maafkan aku ya, tadi aku kerana aku tadi telat mengirimkan obat kamu jadi begini,” sesal Akram.


Aruna menggeleng.“Ini bukan salah kamu,”


“Aruna kamu ini lain kali itu yang benar dong diminum obat dan vitaminya, merepotkan saja,” omel bu Risna dengan wajah masamnya, Aruna tak lagi merasa sedih dengan omelan ibu Risna karena ia tau ibu Risna sangat mencemaskanya tadi.


“Aruna, jika kamu kelelahan dirumah lebih baik kamu tinggal bersama kami saja,” usul pak Setya.


“Iya sayang, lebih baik kamu tinggal bersama orang tuaku dulu, aku khawatir kalau kamu sendirian dirumah,” timpal Akram.


Aruna terdiam bimbnag, ia melirik bu Risna yang berdiri disisinya.“Yasudah, Aruna kamu tinggal bersama kami saja, dari pada nanti merepotkan lagi.” ujar bu Risna masih dengan wajah masamnya.


Aruna tersenyum.“Baiklah, aku akan tinggal bersama dulu.” Aruna kini tak lagi takut menghadapi mertuanya itu, dibalik wajah masamnya dan kadang perkataanya yang tak menegenakan hati, ternyata ia masih perduli pada Aruna walau dengan caranya yang kaku.


***

__ADS_1


“Break,” seru seorang photografer pada Hellena yang sedang menjalani sesi pemotretan untuk cover sebuah majalah.


Hellena menghela nafas dan berjalan menuju toilet, belum sampai langkah kakinya menuju toilet tiba tiba ada yang menarik paksa tanganya.“Hey, lepaskan!” pekik Hellena melihat punggung seorang pria yang tengah menyeret tanganya dengan kasar.


 


“Shut up!” sentak pria tersebut memperlihatkan wajah sangarnya. Hellena terbelalak kaget ternyata Patrick lah yang tengah menarik kasar tanganya menunju sebuah ruangan, Hellena meronta tapi tenaganya tak cukup kuat. Patrick menarik paksa Hellena keruangan pribadinya, tempat mereka sering bercinta dulu. Patrick menghempaskan kasar tubuh Hellena ke ranjang king size dihadapanya.“Berani sekali kau pergi dariku!” Patrick mencengkram kasar dagu gadis itu.“Jika tidak ada aku mungkin kau sudah jadi gelandangan dijalan!” serunya kembali dengan sorot mata penuh amarah, ia merasa Hellena sudah mempermainkanya.


“Aku tidak ingin bergantung denganmu lagi!” balas Hellena dengan suara tercekat karena cengkraman tangan Patrick membuatnya kesulitan bernafas,


Plaak!!


Tamparan keras dilaayangkan pria itu.“Dasar wanita tak tau diuntung!” sentak Partrick dengan wajah bengisnya, amarahnya pada Hellena sudah sangat memuncak, ia mengangkat kembali sebelah tanganya hendak kembali menapar pipi gadis itu.


Buuukkh!!


Belum sempat menampar justru ada yang menarik paksa pakaianaya dari arah belakang dan memeberi pukulan telak diwajahnya, membuat tubuhnya terhuyung,“Kau?” Patrick melihat Arga yang sudah mengambil ancang ancang untuk kembali memukulnya.“Aku akan panggil security untuk menyeretmu keluar!” ancamnya pada Arga.


Arga tersenyum kecut, ia mengeluarkan ponsel dari sakunya.“Aku akan menyebarkan video ini,” ancamnya balik seraya memperlihat video yang sudah direkamnya diam diam saat Patrick memperlakukan Hellena dengan kasar barusan.“Namamu akan tercoreng dan mungkin agensi kebangaanmu ini akan hancur,” ujar Arga menatap tajam pria paruh baya itu.


“Kau!!” nyali Patrick menciut, ia takut nama baiknya tercoreng.“Kau menang, tapi tidak untuk gadis itu, jangan pernah lagi berkerja disini, kalian berdua benar benar memuakan!” ujarnya, menatap kesal dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Hellena mematung, ia hanya bisa duduk terkulai lemas dilantai, matanya yang memerah perlahan mengeluarkan cairan bening yang tak dapat lagi dibendungnya.“Apa dia melukaimu?” tanya Arga panik mendekat kearah gadis itu.


Hellena menggeleng, air matanya masih menetes.“Sudahlah, dia tidak akan menganggumu lagi,” Arga berusaha menenangkan, ia mengepal jemarinya hendak menyeka air mata Hellena tapi jemarinya terasa kaku, gengsi untuk melakukan itu.


“Aku tak punya lagi perkerjaan,” lirih Hellena.


Arga justru terkekeh mendengar ucapan gadis itu, ia tak menyangka perkerjaan lah yang membuat Hellena menangis.“Astaga, dunia ini luas, kau bisa berkerja di tempat lain,” ujar Arga dengan entengnya.


“Mencari paekerjaan tak semudah itu,” Hellena merasa menyukai perkerjaanya dan kini ia kehilangan itu.


“Kau bisa menjadi model diagensi lain,” ujar Arga.“Atau kau bisa menikah saja denganku jadi kau tidak perlu berkerja lagi,” sambung Arga dengan tawa kecilnya.


Hellena tertegun.“Kau sedang bercanda?” Hellena menatap Arga antusias.


“Aku..” Arga kikuk, melihat sorot mata Hellena yang menduhkan.“Jelas saja aku bercanda,” sambung Arga dengan tawa kakunya.

__ADS_1


Hellena berdiri dari duduknya.“Bercandamu sama sekali tidak lucu.” ketus Hellena sorot matanta kini menunjukan kekecewaan, ia bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Arga mengusap kasar wajahnya.“Astaga, kenapa tiba tiba aku mengatakan hal itu.” sesalnya, ia bergegas keluar, melihat punggung belakang Hellena yang berjalan cepat meninggalkanya.


__ADS_2