
Bab 26.
“Cerai? ia ingin bercerai?” Akram tersenyum lirih, bergumam tak jelas dengan gelas kristal berisi wine yang dipegangnya, ia memutar gelas bening itu, melihat pantulan wajahnya yang cukup terlihat jelas, wajah yang tampak kusut dan berantakan, dengan mata sayu yang hampir terpejam setelah tak terhitung berapa kali wine yang ditengguknya.
“Dia ingin bercerai? semudah itu ia mengingkanya, aku atau dia yang sedang mempermainkan pernikahan?” Akram bergumam lagi, suaranya semakin lirih nyaris tak terdengar, clubing tempat ternyaman saat ini untuknya, melepaskan semua kepenatan dikepalanya, ia bahkan tak dapat mengerti dirinya sendiri, seharusnya ia senang Aruna meminta bercerai, tak perlu lagi mneyembunyikan pernikahanya, tapi saat ini hatinya tak bisa menerima itu.
“Bro, sejak kapan loe disini?” sapa seorang temanya, mengahampiri Akram yang tengah menikmati winenya dimeja bar.
“Lucu,” ujar Akram masih dengan gumamanya.
“Lucu?” pria itu mengerutkan keningnya.“Gue lucu?” ia menujuk dirinya sendiri dengan wajah bingung saat Akram mengatakan hal itu.
Akram kini justru tertawa.“Lucu sekali, dia meminta berpisah, katakan apa kurangnya gue?” Akram menarik kerah baju temanya.
“Kurang? apa ya?” pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.“Enggak ada kayanya, loe banyak uang,” puji temanya.
Akram tersenyum puas.“Bagus bagus,” menepuk bahu temanya dan menyandarkan kepalanya dimeja bar, masih dengan gumamanya yang tak jelas tentang Aruna, ia terlihat seperti orang tak waras saat ini.
“Kram, loe abis putus cinta?” temanya menepuk nepuk bahu Akram yang sudah tak sadarkan diri, itulah aktifitasnya selama dua hari ini, mengahbiskan malamnya di club malam hingga pagi menjelang, sampai seorang bartender membangunkanya, ia terus melakuakan hal tak berguna itu.
***
Hari ini Aruna diperbolehkan pulang, tak pernah ada kehadiran Akram untuk sekedar menjenguknya, hanya pak Setya yang selalu rutin menjenguknya seraya membujuk agar Aruna mengurungkan niatnya untuk berpisah, tapi Aruna tetap pada keputusanya, berpisah dan tak ingin lagi berurusan dengan Akram. Hari itu Aruna pulang, ia tidak mmeberitahukan pak Setya tentang kepulanganya. Setelah mengurus admintrasi Aruna bergegas keluar dari rumah sakit dan menaiki taksi menuju rumahnya sore itu.
__ADS_1
Taksi yang ditumpanginya terhenti, Aruna segera keluar, ia memutar pandanganya terlihat mobil Akram yang terparkir dihalaman, suaminya ada didalam. Aruna mengehela nafas malas, padahal ia berharap Akram tak ada dirumah. Aruna membuka pintu yang tak terkunci terdengar samar suara televisi dari arah ruang keluarga, dari kejauhan ia melihat Akram yang tengah duduk disofa dengan sebotol wine yang menemeninya dimeja.
Bagaimana bisa ia duduk dengan santainya disofa tak menayakan apalagi menjenguknya dirumah sakit, prilakunya sangat jauh dar kata perduli.“Kau sudah pulang? Akram yang melihat kedatangan Aruna segera berdiri dari duduknya menghapiri istrinya itu.
Aruna tak menjawab, berjalan begitu saja melewatinya.“Apa karena terbentur kau menjadi tuli?” Akram menahan lengan Aruna.
“Apa kau perduli?” Aruna membalas tatapan tajam Akram.
“Aku harus berkata seperti apa untuk menujukan keperdulianku?”
Aruna tertawa lirih.“Apa kau tidak pernah menyukai wanita? kau tak mengerti cara memperlakukan wanita dengan baik?!” Aruna tampak kesal dengan pertanyaan bodoh Akram.
“Aku tidak pernah berpacaran, tidak mengerti seperti apa wanita ingin diperlakukan,”
Setelah selesai Aruna segera menyeret koper tersebut, ia ingin cepat cepat pergi dari rumah tersebut.“Kau akan pergi kemana?” Akram kembali menahan lengan Aruna yang hendak melewatinya.
“Kemana saja bukan urusanmu, sebaiknya kau cepat urus surat perpisahan kita,” tegas Aruna dengan nada ketus.
“Jika aku katakan aku mencintaimu, apa kau akan berubah fikiran?”
Aruna kembali tertawa lirih, ini terdengar lucu untuknya.“Aku akan tetap pada keputusanku, karena aku tak mempercayaimu,”
“Jika kau tak percaya pada suamimu lalu siapa yang kau percaya? apa lelaki yang mengajak tinggal bersama waktu itu?” Akram jusru menyinggung tentang Arga.
__ADS_1
“Aku tidak akan percaya padanya dan padamu, kamu memang suami ku tapi perlakuanmu tak seperti seorang suami,” balas Aruna tanpa menghiraukan Akram yang terus memandang kearahnya ia melepaskan tangan Akra dan bergegas pergi keluar rumah. Rok selutut yang dikenakanya tampak kusut kerana remasan tanganya, sepenjang perjalanan menaiki taksi ia hanya meremas roknya dengan gelisah, merasakan matanya yang semakin perih menahan air mata.
Aruna memberhentikan taksi tersebut disebuah loksai yang ramai dan cukup padat dengan penduduk, ia mencari tempat kos disekitar situ, sampai Aruna mendapatkan tempat kos kecil disana, ia menutup pintu kosnya seletah sang pemilik kos pergi. ia menatap nanar ruangan kecil tersebut, cukup pengap tapi setidaknya ini lebih nyaman daripada harus tinggal dengan Akram yang yang selalu menyiksa batinya.
Aruna duduk dilantai dingin tanpa alas, ia segera menyeka air matanya yang hampir terjatuh, tak ingin menangis saat ini. Aruna segera merapihkan pakaianya, sesaat kemudian matanya tertuju pada selembar ijazah SMAnya.“Aku harus segera mencari perkerjaan,” gumamnya, malam itu juga ia menyiapkan beberapa berkas untuk melamar perkerjaan, berbekal ijazah SMAnya.
Keesokanya harinya Aruna bangun lebih pagi, dengan kemeja formal dan make up tipis ia bersiap mencari perkerjaan hari itu. Aruna keluar dengan secercah harapan berharap tetap bisa bertahan tinggal dikota dan memberi uang untuk ibunya dari keringatnya sendiri. Sampai matahari meninggi dan teriknya cukup terasa membakar kulit Aruna tak juga menemukan lowongan perkerjaan.“Susah sekali mencari perkerjaan dikota besar seperti ini,” gumamnya, mengusap peluh yang membasahi kening mulusnya.
Aruna kembali berjalan menyusuri jalanan kota, matanya membulat membaca informasi lowongan perkerjaan disebuah toko baju yang tertempel dikaca.“Apa benar ada lowongan?” gumamnya ragu, Aruna pun memutuskan untuk masuk ketoko tersebut.
“Selamat siang,” sapa ramah pelayan wanita menyambut kedatanganya.
“Maaf, saya ingin bertanya, apa benar disini sedang membuka lowongan perkerjaan?”
“Oh ya, benar disini memang sedang membuka lowongan perkerjaan,” balas pelayan toko tersebut.
Aruna tersenyum, bak terkena angin segar mendengarnya.“Apa saya bisa melemar disini? walau ijazah saya hanya lulusan SMA?”
“Bisa, apa bawa lamaranya?”
“Bawa,” dengan antusias Aruna segera membuka tasnya mengambil berkas lamaran tersebut dan memberikanya pada pelayan wanita itu.
“Baik, saya akan memberikanya pada atasanya dia akan memriksanya terlebih dahulu jika sesuai kriteria dia akan menghubungimu,”
__ADS_1
“Oh, saya akan menunggunya, terima kasih.” senyum semakin mengembang dibibirnya, Aruna keluar dari toko tersebut denga perasaan senang, berharap bisa cepat berkerja ditoko itu.