Celebrity Husband

Celebrity Husband
Tawaran


__ADS_3

Bab 47.


“Belum tidur?” Akram yang baru keluar dari kamar mandi melihat Aruna yang masih bersandar diranjang.


“Belum,” Aruna mengambil obat merah mengoleskanya pada sudut bibir Akram yang tampak terluka.“Apa sakit?” Aruna dengan telaten megusap luka memar disekujur wajah Akram, ia mencoba tak bertanya lagi tentang apa yang telah terjadi pada suaminya itu. Akram tertegun, ia kembali merutuki dirinya sendiri dalam hati yang tak bisa medapatkan uang yang diinginkanya dan justru tersulut emosi.


Dering ponsel terus terdengar nyaring pagi itu, Akram meleberkan matanya, melihat Aruna yang masih terpejam dipeluknya, perlahan ia mengeser lengan Aruna yang masih melingkar di pinggangya, Akram tersenyum melihat tidur Aruna yang tampak lelap, kemudian jemarinya meraih ponsel yang masih berdering dinakas.


[Halo Akram, saya dari restoran XXX, apa kamu ada waktu hari ini?] ujar seoarang pria dari balik telepon.


[Restoran XXX?] Akram mengerutkan keningnya.


[Ya, jika ada waktu datanglah kesini kami sedang kekurangan pegawai disini,]


Kedua mata Akram yang tadinya masih menyipit seketika melebar mendengar kabar tersebut.[Tentu saya ada waktiu, saya akan segera kesana sekarang,] balas Akram antusias yang tak lama menutup teleponya.


Aruna yang medengar suara Akram perlahan membuka matanya.“Kamu mau kemana?” tanya Aruna saat Akram hendak turun dari ranjangnya.


“Barusan ada telepon dari restoran jika aku bisa berkerja disana sebagai prabntuan,” balas Akram.


“Benar? syukrlah aku senang mendengarnya,” Aruna tersenyum sumringah.


“Ya, aku harus berangkat sekarang,” Akram pun bergegas memberishkan dirinya, dengan sedikit tergesa gesa ia mengenakan pakainanya.“Aku pergi dulu ya,” Akram mencium kening dan perut buncit sang istri lalu beregegas pergi.


Aruna tersenyum tipis melihat Akram yang begitu semangat walaupun hanya berkerja sebagai prabantuan, rasanya ia pun ingin memabatu Akram mencari uang tapi siapa yang akan menerima wanita hamil sepertinya.


Tak beberapa lama sepeda motor yang dikendarainya terhenti restoran tersebut.“Sini,” sang menager restoran rupanya sudah menanti kehadiranya, ia melambaikan tangan agar Akram mendekat dan menuntunya kearah dapur.“Tolong bantu delivery ini, bisa kan?” pria itu menujuk beberapa box makanan yang sudah tersaji rapih dan meminta Akram untuk mengantarnya sesuai alamat yang di tuju.


“Tentu bisa,” dengan semangat Akram segera membawa box box makanan itu dan melajukan sepeda motornya sesuai alamat yang di tuju. Matahari sangat terik siang itu rasanya sangat membakar kulit, Akram masih terus melajukan sepeda motornya, meyalip beberapa kendaraan besar yang sangat padat merayap di tambah dengan asap kendaraan yang membuat udara semakin terasa sangat panas menyengat dengan penuh semangat Akram mengentarkan makanan makanan tersebut kepada pemesanya.


 Tak terhitung sudah berapa banyak pesanan yang sudah diantarkanya, pesanan sangat banyak hari itu sampai langit yang tadinya terik perlahan mengelap, Akram memberhentikan sepeda motornya di parkiran sebuah apartemen mewah, ia berharap ini pesanan terakhirnya rasanya ia sudah ingin cepat cepat merebahkan tubuh lelahnya dikasur yang empuk, merengangkan otot ototnya yang sudah terasa pegal. Akram pun perlahan masuk ke dalam gedung apartemen mewah tersebut, langkah kakinya terhenti di sebuah kamar dengan nomor 306, ia segera menekan bel.


Pintu apartemen itu terbuka.“Permisi , saya mengantarkan maka--” ucapanya tiba tiba berhenti.


“Akram?!” gadis cantik dengan rambut bergelombang itu lebih dulu memgucapkan matanya dengan ekspersi terkejut.


“Hellena?” Akram tak kalah terkejutnya, Hellena Snmith, gadis cantik teman semasa kuliahnya dulu.


“Akram aku enggak nyangka kita bertemu lagi, kamu?” Hellena menunjuk box makanan yang dipegangnya.


“Ya, aku berekerja sebagai kurir, dan ini makanan pesananmu,” Hellena pasti terkejut dengan perkerjaan yang dilakukanya sekarang , di usianya yang sekarang seharusnya dirinya semakin sukses dan mapan, tapi Akram tak pernah malu dengan perkerjaanya saat ini, ia berusaha menerima keadaanya, Akram pun memberikan pesanan tersebut pada Hellena.


“Terima kasih ya, tunggu sebentar,” Hellena segera masuk kedalam apartemenya dan mengembil sesuatu disana.“Ini untukmu,” Hellena memberikan uang tip pada Akram.

__ADS_1


“Tidak usah kamu sudah membayarnya bukan,” tolak Akram.


“Terima saja, bukankah wajar jika pelanggan memberikan uang tip,” paksa Hellena menyelipkan sejumlah uang ditelapak tangan Akram.


“Terima kasih ya,” Akram tersenyum tipis dan hendak beranjak pergi.


“Tunggu, kamu tidak ingin minum sebentar?” tawar Hellena yang melihat wajah Akram tampak lelah dengan peluh yang sedikit membasahi keningnya.


“Tidak usah, aku buru buru,” tolak Akram yang langsung bergegas pergi.


***


“Makanlah,” malam itu Akram pulang, ia segara masuk ke kamar dan menghampiri Aruna yang sedang bersandar diranjang.


“Banyak sekali, kenapa membeli banyak makanan seperti ini?” protes Aruna melihat bnayak makanan yang dibawa Akram.


“Itu gratis pihak restoran yang memberikanya, dan ini untukmu,” Akram memberikan sejumlah uang yang di dapatnya hari itu pada Aruna.


“Banyak sekali,” mata bulat Aruna berbinar senang menerima nafkah dari suaminya itu.


“Besok kita bisa perikasa kandunganmu,”


“Terima kasih ya,” Aruna pun memeluk senang tubuh Akram.


“Sekarang makanlah.” Akram menyuapi Aruna, ia sangat senang karena bisa menghasilkan uang hari itu walaupun mungkin pengahsilanya jauh lebih kecil dari honrnya sewaktu menjadi aktor dulu tapi Akram senang karena bisa selalu mendapatkan makanan enak dan uang untuk Aruna.


“Kita USG ya,” ujar ramah seorang dokter wanita disana, Aruna pun berbaring diranjang, seorang perawat menarik selimut dan mengusapkan gel diperutnya, sednag sang dokter menempelkan drop yang langsung memperlihatkan janin kecil itu dilayar monitor.“Usianya sudah 15 minggu ya, janinya sehat,” ucap dokter tersebut dengan penjelelasanya, Akram dan Aruna pun tersenyum sumrinagah. Setelahnya dokter tersebut menuliskan beberapa resep, mereka pun menebusnya dan pulang setelahnya, Akram sangat senang kerena bisa memastikan janin dalam perut istrinya itu baik baik saja.


***


“Ini antarkan makanan ini,” seorang reekan kerjanya memberikan beberapa box makanan pada Akram, kali ini ia kembali berkerja sebagai prabantuan di restoran tersebut.


“Baik,” dengan semangat Akram kembali mengantrkan makanan tersebeut yang beralamat disebuah apartemen mewah, Akram menekan bel setelah berdiri tepat di nomor kamar yang dituju.“Delivery,” ujar Akram setelah seorang pria membuka dan memperlihatkan wajahnya di balik pintu.


“Mana pesanan saya?”


“Akram pun memebrikan box makanan tersebut pada pelangganya.


“Hanya satu?” ujar pria tersebut.


Akram mengerutkan keningnya.“Ya satu, bukankah anda memesanya satu?”


“Tidak saya memesanya dua,” bantah pria tersebut.

__ADS_1


Akram pun bergegas mengecek kemabli pesanan pria tersebut.“Tapi disini anda memesanya satu,” Akram memperlihatkan layar ponselnya yang berisi pesanan tersebut.


“Tidak saya memesan dua, bagaimana ini pelayanan mu sangat buruk,” protes pria tersebut.“Sudah menunggu lama teranyata salah, buang buang waktu saja, aku tidak mau membayarnya!” pria itu justru meninggikan suaranya dan membanting pintu dengan keras.


Akram mengepal tanganya geram, ada saja pelanggan yang menguji kesabaranya.“Akram,” panggil seorang wanita yang mendengar keributan didekat apartemenya.


“Hellena?” Akram baru sadar jika kamar pelanggan tersebut bersebelahan dengan kamar Hellena.“Kamu baik baik saja?” Hellena mengahmpiri melihat wajah Akram yang sudah meradang.


“Aku baik baik saja,” balas Akram datar.


“Tunggu,” Hellena mencekal lengan Akram yang hendak meninggalkanya.“Bagimana kalau kita minum sebnentar,” ajak Hellena. Akram hanya terdiam.“Sebentar saja lagipula sudah lama kan kita tidak bertemu,” tawarnya kembali.


“Baiklah,” Akram pun mengiyakan ajakan tersebut setidaknya itu bisa mendinginkan kepalanya yang sempat memanas kerena pelanggan menyebalkan barusan, mereka pun berjalan beriringan menuju sebuah cafe di dalam gedung apartemen tersebu.


“Minumlah,” ujar Hellena yang kini sudah memesan makanan dan minuman untuk Akram, tanpa sungkan Akram pun langsung menyeruput ice coffe dihadapanya.“Bagimana kabarmu?” tanya Hellena memulai percakapan.


“Seperti yang kau lihat, kamu sendiri bagaimana?” balas Akram menatap gadis berdarah Prancis-Indonesia itu membuat gadis itu sangat terlihat mempesona.


“Aku melajutkan kuliah dan tinggal bersama papaku di Prancis,”


“Oh,”


“Setelah ibuku meinggal papaku tak lama meninggal juga, bisnisnya pun bangkrut,” lirih Hellena.


Akram tertegun, ternyata hidup Hellena semiris itu sekarang, dulu ia gadis yang paling beruntung semasa kuliah dimata Akram.“Tapi aku tidak terpuruk, aku menjadi model majalah disana,” sambung Hellena dengan senyum tipis berusaha menutupi kesedihanya.


“Baguslah,” Akram salah hidup gadis itu tetap lebih beruntung dari pada dirinya.


“Kau sudah menikah?”


“Sudah, aku akan segera mempunyai bayi,”


“Pasti istrimu senang mempunyai suami sepertimu,” Helellena kembali tersenyum.


“Sepertinya tidak, perkerjaanku sekarang hanya sebagai kurir,”


“Kau tidak menjadi aktor lagi?” tanya Hellena yang dulu memang tau jika Akram seorang aktor dari beberapa berita di sosial media.


Akram tersenyu kecut.“Aku sudah tersingkirkan,”


Hellena menatap iba pria dihadapanya itu, menurutnya Akram benar benar pria yang perkerja keras, ia sering melihat bagaimana pria itu langsung meunuju sebuah cafe sepulang kuliah untuk berkerja part time disana, tak ada yang berubah dari Akram ia tetap pria perkerja keras dimata Hellena.“Agensi yang menanungi ku baru saja mencoba peruntungan di dunia film, aku bisa saja menawarkanmu pada mereka,” tawar Hellena.


Akram tertaawa kecil.“Apa mereka mau memakai aktor yang banyak skandal sepertiku,” ucapnya tak percaya diri.

__ADS_1


“Aku rasa ini tidak masalah, mereka hanya melihat kemampuanmu, apa kamu tertarik?” tawar Hellena yang membuat Akram terdiam memikirkan tawaran tersebut.


Hellena disini peranya bukan pelakor ya .. jangan dulu emosi 😅😅😅


__ADS_2