Celebrity Husband

Celebrity Husband
Bertemu teman lama


__ADS_3

Bab 10.


Aruna masih terus melihat jam dinding di sudut kamarnya, detik demi detik terasa sangat lama untuknya, semenjak Akram mengajaknya pindah tak ada kegiatan yang berarti untuknya, hanya mengabisakan hari hari di dalam rumah menunggu suaminya pulang dengan wajah masamnya yang tak pernah menunjukan senyumnya pada Aruna.


“Sebaiknya aku masak untuk makan malam saja,” batinya, yang langsung beringsut turun dari ranjang menunju dapur. Tanganya terulur membuka lemari pendingin, terfokus pada isi lemari pending yang ternyata hanya terdapat softdrink kesukaan Akram.


“Tidak ada bahan makanan?” keluhnya, yang memang hanya membeli bahan makanan di toko dekat rumahnya, itu pun sudah tiga hari yang lalu.“Apa aku pergi ke suprmarker saja ya?” tanyanya pada dirinya sendiri.


Aruna kembali melangkah masuk ke kamarnya, membuka laci di kamar, tanganya meraih amplop coklat berisi uang dari Akram, beberapa hari lalu Akram memberikanya sebuah kartu kredit padanya tapi Aruna menolaknya dengan alasan polosnya yang memang tidak bisa menggunakan kartu kredit terseebut. Akram pun hanya merespon dengan tawa kecil yang terdengar merendahkan dan memberikan uang cash pada Aruna.


Aruna mengambil uang 500rb cukup baginya untuk membeli bahan makanan di supermarket, ia bergegas pergi tanpa mengganti pakaian ataupun berias diri terlebih dahulu. Aruna berdiri di depan kompleks perumahanya.“Taksi mbak?” tawar pak supir menurunkan kaca mobilnya.


Aruna terdiam bimbang, sepertinya akan mnghabiskan banyak uang jika ke supermarket menaiki taksi.“Mau naik enggak mba?” tanya kembali pak supir yang melihat Aruna hanya mematung.


“Mau pak,” jawbanya, setelah beberapa saat berkutat dengan fikiranya senediri yang akhirnya mau menaaiki taksi tersebut sekali ini saja. fikirnya.


Sampai tak beberapa lama taksi yang di tumpanginya berhenti di depan sebuah mall. Aruna segera masuk langkah kakinya menelusi mall tersebut terlihat macam macam barang yang harganya cukup menguras isi kantong. Aruna lebih memilih langsung menuju supermarker, mengambil keranjang belanja dan memilih beberap sayuran segar disana.


“Aruna?” terdengar seorang wnaita memanggilnya, Aruna menoleh tampak bingung pada wanita yang berdiri dihadapanya itu, wanita berkulit bersih dengan rambut sebahu.“Kamu beneran Aruna?” ucapnya antusias tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.“Kamu enggak ingat aku?” tanyanya lagi melihat Aruna yang masih terlihat bingung memandangnya.


Aruna mencoba lebih keras mengingat.“Siapa ya?” tanyanya menyerah setelah berusaha mengingat tapi otaknya tetap terasa buntu.


“Aku Hana, teman SMA kamu waktu di kampung,” jelasnya, berharap temanya itu mengingatnya.


“Hana?” senyum tersunging di bibir Aruna, mengingat teman dekatnya semasa SMA dulu , kabar terakhir yang di dengar Hana memang mengeyam pendidikan di salah satu universitas di Jakarta.

__ADS_1


“Iya, ya ampun Aruna aku enggak nayangka ketemu kamu disini,” Hana segera memeluk Aruna.“Kamu ngapain di sini? kamu kuliah juga?” tanyanya melepas peluknya.


Aruna menggeleng.“Tidak, aku berkerja disini,”


“Berkerja? kamu sudah berkerja di Jakarta, wah hebat sekali,” puji Hana dengan rasa kagum, meengira jika Aruana pastilah mendapatkan perkerjaan yang bagus di Jakarta.


“Tidak, aku hanya berkerja sebagai asisten rumah tangga,” lirihnya, seharusnya di usianya yang sekarang Aruna memang duduk di bangku kuliah tapi keadaan tidak memihaknya yang kini justru terjebak pada pernikahan yang terasa menyiksa batinya.


“Oh..” raut wajah Hana seketika menjadi iba, Hana tau Aruana bukanlah dari keluarga yang berada.“Tidak apa apa yang penting kan halal, oia gimana kalau kita makan ke cafe dulu, aku yang traktir deh,” tawarnya dengan nada ceria.


“Lain kali aja deh,” tolaknya, meliahat hari yang sudah semakin sore, takut jika Akram pulang lebih dahulu.


“Ya ampun Aruna, kapan lagi coba kita bisa makan bereng, aku kangen sama kamu,” rengek Hana yang ingin melepas rindu sekedar mengobrol ringan.


“Gitu donk,” Hana dengan semangat mengandeng Aruna menuju sebuah cafe dilantai empat. Makanan dan minuman melengkapi perbicangan mereka, senyum merekah di bibirnya, ia merasa tak kesepian hari itu.


“Loh itu bukanya Arga teman sekolah kita?” Hana memicingkan matanya melihat pria dengan kemeja formal yang dikenakanya tengah berjalan sendiri. Aruna mengikuti arah mata Hana tertuju, benar itu Arga.


“Arga!” seru Hana melambaikan tanganya, sesaat Arga terlihat bingung namun ia tersenyum tipis melihat wanita yang tak asing untuknya disana.“Lo beneran Arga kan? Ya ampun!” sambung Hana histeris.


“Aruna,” Arga justru memandang kearah Aruna yang hanya mematung.


“Arga, ini Hana teman SMA kita, ia dulu sekelas denganku,” terang Aruna melihat Arga yang tampak tak mengenali temanya itu.


“Iya Arga loe inget gue kan? adik kelas loe dulu,” timpal Hana.

__ADS_1


Arga memutar ingatanya seaat.“Iya gue inget kok,” ia tersenyum mengingat jika ia dan Hana dulu juga memang dekat.


“Syukurlah, sini makan bareng, kita ngobrol ngobrol,” tawar Hana semakin semnagat berlama lama di cefe tersebut ditemani dua teman sekolah yang baru di temuinya.


“Ok deh,” balas Arga tanpa ragu, langsung memlilih duduk di hadapan Aruna.


“Kayanya loe udah kerja disini ya?” Terka Aruna menelisik penampilan Arga seperti orang kantoran padau umumnya.


“Iya, kebetulan baru dapat kerjaan di sini,” Arga memberi isyarat pada pelayan di sana agar mendekat ke arahnya dan memesan segelas ice coffe.


“Oh gitu, terus kalian udah jadian?” Hana melirik Aruna dan Arga bergantian.


“Jadian?” Aruna mengerutkan kening tak mengerti.


“Iya, Arga kan dari dulu suka kamu Aruna,” goda Hana melirik ke arah Arga yang sontak saja sedikit terkejut Hana mengatakan hal itu karena memang dulu dirinya sering curhat pada Hana tentang perasaanya pada Aruna.


“Suka?” Aruna pun tak kalah terkejutnya karena selama ini ia hanya menggangap Arga sebatas temannya.


“Jangan dengarkan dia,” bantah Arga takut jika Aruna tak terima mendengarnya, Aruna hanya tersipu tak berkata apapun.


“Itu bukan kah Aktor terkenal Akram Nicol?” ujar Hana kemudian, yang sontak saja membuat jantung Aruna berdegup mendengarnya, manik mata Aruna Refleks mengikuti arah mata Hana tertuju, tampak Akram yang baru datang ke cafe tersebut bersama Liona dan dua orang temannya.“Dia benar benar tampan ya, beruntung sekali Liona jadi kekasihnya,” puji Hana yang terkesima pada paras Akram.


Di sisi lain Akram yang baru datang pun mengakap pemandangan tersebut, ekor matanya dengan sinis melirik ke arah meja Aruna yang tengah bersama Hana dan Arga.“Sayang, sini duduk,” ujar Liona yang melihat Akram masih berdiri dengan wajah masamnya.


Akram menarik ke kursi dihadapanya, duduk bersama dengan Liona, sesekali ia masih melirik Aruna yang tampak membuang pandangan seolah tak melihatnya, tapi Akram yakin Aruna pastilah melihat keberadaanya, sebab ke mana pun ia singgah selalu banyak mata yang yang memandanngya.“Apa dia benar benar tak melihat ku? Lihat saja nanti berani sekali ia keluar dari rumah tanpa seijin ku untuk menemui pria lain.” batin Akram, geram.

__ADS_1


__ADS_2